
***
"Fa Ling, jangan pedulikan kami, cepat kamu pergi ke Akademi Puncak Angin Surga untuk melaporkan semua ini, dan kamu Wen Li, bawa semua para murid baru pergi dari sini sejauh mungkin!"
"Tapi tetua, anda tidak akan mungkin sanggup melawan orang-orang dari Pita Merah itu, lebih baik kita bersama-sama menghadapi kelompok Pita Merah."
"Aku tahu, tapi jika kita semua berada disini dan kita sama-sama dibunuh, lalu siapa yang akan pergi melaporkan penyerangan Kelompok Pita Merah ini ke Akademi? Setidaknya mereka harus tahu agar bisa bersiap-siap untuk menghadapi pasukan dari Kelompok Pita Merah!"
Fa Ling hanya bisa menggertakkan rahangnya dengan keras, dia benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa, apalagi dia melihat para pasukan dari Kelompok Pita Merah yang berasal dari Wilayah Selatan datang untuk menyerang Akademi.
Kejadian ini jelas sangat mengejutkan, tidak ada yang menyangka jika ada sebuah kelompok di wilayah Benteng Putih yang memiliki Empat Praktisi Xu sekaligus, tiga di antaranya adalah pelindung, dan satu orang berada di tahap Ahli Xu Hun.
Ini adalah garis pertahanan yang sangat kuat sekali, walau dia tahu jika di dalam Akademi ada empat pelindung yang menjaga Akademi, namun pihak musuh memiliki banyak sekali orang-orang yang memiliki kemampuan Yu Jing hingga Yu Zhu, sedangkan ratusan yang tersisa kebanyakan berkemampuan Yu Zhi dan Yu Zhe. Ini mungkin akan mampu membuat repot keempat tetua di dalam akademi jika tidak segera diberi kabar akan informasi penyerangan yang mendadak.
Memang belum diketahui secara pasti alasan mereka datang untuk menyerang Akademi, namun sepertinya mereka menginginkan sesuatu yang belum diketahui oleh Fa Ling.
"Cepat pergi!" seru kedua tetua lainnya kepada Fa Ling dan Wen Li, dan kemudian kedua tetua gerbang luar itu segera melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh senior mereka.
"Shian He, cepat hentikan pria yang akan pergi ke dalam Akademi itu! Jangan sampai dia lebih dulu memberikan laporan kedatangan kita kepada para Tetua di dalam!" kata seorang pria sepuh kepada pria sepuh lainnya yang memiliki kemampuan Yu Zhu elit sama seperti Fa Ling.
Fa Ling yang menyadari jika dirinya sedang dikejar oleh salah satu anggota Pita Merah, dia segera mengeluarkan Qi nya lalu melepaskan elemen Angin yang mampu melepaskan badai ke arah anggota Pita Merah yang sedang mengejarnya.
Shian He yang mendapatkan tugas untuk mengejar Fa Ling juga mengulurkan telapak tangan nya lalu pusaran angin segera dilepaskan ke arah Fa Ling, serangan Pusaran Angin itu dengan sangat mudahnya menerobos badai angin milik Fa Ling sehingga Fa Ling terkena serangan yang sangat kuat.
Tubuh Fa Ling terlempar hingga ke gerbang masuk ke wilayah Akademi, dia memuntahkan seteguk darah setelah tubuhnya membentur patung yang menjadi tempat kunci Giok putih.
"Kemampuannya lebih besar dari kemampuan ku! Orang-orang dari Pita Merah ini memiliki kemampuan melebihi Tahap kekuatannya yang sesungguhnya," gumam Fa Ling lalu dia bangkit dan berniat untuk menempelkan Giok putih ke patung penjaga Gerbang.
"Jangan harap aku akan membiarkanmu pergi ke Akademi, kamu harus tetap berada disini hidup ataupun mati!" kata Shian He yang sudah berdiri di hadapan Fa Ling.
"Walau kemampuanmu sangat besar melebihi kekuatan yang kumiliki, namun jika hanya kamu saja tidak akan cukup untuk menghentikan ku!" ucap Fa Ling seraya mengeluarkan Pedang dari cincin penyimpanan bumi nya.
"Hahaha! Orang-orang dari akademi sungguh naif sekali, kalian terlalu berlebih-lebihan dalam membanggakan kekuatan diri kalian, padahal kalian sangatlah lemah," kata Shian He lalu dia juga mengeluarkan pedangnya.
Keduanya saling berpandangan untuk beberapa waktu dan kemudian Qi keduanya sama-sama meledak sekaligus membentuk Zirah Petarung mereka masing-masing.
Pertarungan keduanya akhirnya tidak bisa dihindari, belum lagi keduanya sama-sama memiliki Spirit Root Elemen Angin, hal itu membuat pertarungan mereka menimbulkan ledakan serta badai angin yang sangat besar.
Disisi lain, kedua tetua Gerbang luar yang rata-rata memiliki kemampuan Yu Jing melawan seorang Ahli yang bernama Fao Zunzi, dia memiliki kemampuan Xu Hun Tingkat 1, sedang tiga sosok yang sedang melayang dengan sayap Qi mereka di udara adalah para Pelindung hanya memperhatikan kekacauan yang disebabkan oleh pasukan mereka sendiri.
"Sebaiknya kalian berdua menyerah saja, kemampuan kalian tidak akan cukup untuk melawanku," kata Fao Zunzi dengan janggut putih panjangnya dan sebelah lengannya di simpan di belakang pinggangnya.
__ADS_1
"Walau kami bukan tandingan mu, kami tidak akan menyerah kepadamu, walau kami harus mati sekalipun, kami tetap akan bertarung demi melindungi Akademi Puncak Angin Surga!"
"Hem, benar-benar sekumpulan orang-orang yang tidak melihat besarnya gunung di depannya, kalau begitu aku akan membuat kalian merasakan rasa putus asa yang sesungguhnya!" kata Fao Zunzi lalu dia mengangkat sebelah tangannya dan kemudian sebuah gumpalan air muncul di telapak tangannya, namun air itu seperti darah dengan warna kemerahan.
Kedua tetua kebingungan melihat teknik aneh di tangan Fao Zunzi, mereka berdua saling berpandangan dan kemudian secara bersamaan melepaskan energi besar yang mereka miliki.
"Terimalah ini!"
"Teknik Darah - Air Darah Kematian."
Fao Zunzi melepaskan Teknik darahnya dan kemudian air darah itu berubah menjadi lekungan menyerupai bulan sabit dan melesat dengan cepat ke arah kedua Tetua di bawahnya.
"Teknik Api - Semburan Lava."
"Teknik Tanah - Jarum Tanah Hitam."
Dua teknik serangan kuat dari Api dan tanah segera melesat ke udara dan kedua energi dari kedua belah pihak saling berbenturan di udara sehingga menciptakan sebuah ledakan hebat yang menggetarkan seluruh Gerbang.
Fao Zunzi hanya tersenyum tipis dan kemudian sayap merah muncul di punggungnya lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah kedua tetua.
Kedua tetua segera mengumpulkan energi di kaki mereka lalu keduanya sama-sama terbang dan menyambut serangan Fao Zunzi di udara.
"Fao Zunzi! Jangan terlalu lama bermain-main, cepat selesaikan agar kita bisa secepatnya mengambil Inti Petir Merah di dalam Akademi!" kata sosok pria sepuh yang mengenakan baju merah.
"Baiklah Long Xang!" jawab Fao Zunzi.
"Inti Petir Merah? Jadi tujuan kalian akan menyerang ke Akademi untuk merebut Inti Petir Merah? Tidak akan aku biarkan!" ucap salah satu tetua dan kemudian dia melepaskan seluruh energinya sehingga seluruh langit menjadi gelap.
"Hem! Memaksakan diri untuk menembus batas kemampuan itu memang sangat menguntungkan, tapi semua itu tidak akan cukup mampu untuk mengalahkanku," kata Fao Zunzi dan kemudian dia menciptakan sebilah pedang dari Elemen Air darahnya dan kemudian dengan energi nya, Fao Zunzi mengeluarkan Qi yang sangat besar sehingga langit terasa mau runtuh akibat tekanan kuat dari aura yang terpancar bersamaan dengan Qi yang dia lepaskan.
"Pedang Darah Api Neraka."
Seluruh wilayah Gerbang luar mendadak sangat berat dan juga panas saat cahaya merah di pedang Fao Zunzi terpancar, hal itu membuat kedua tetua segera menciptakan segel tangan mereka masing-masing.
Ketika Fao Zunzi melepaskan tebasan pedang yang mampu menciptakan energi merah panas menyala melesat dengan suara gemuruh yang menggetarkan Kota Funsu serta Gerbang luar, kedua tetua dengan tubuh yang mulai membentuk Zirah Petarung mereka melepaskan gabungan dua segel mereka.
"Teknik Segel Pengurungan Alam."
Kedua-duanya sama-sama melepaskan segel gabungan yang hanya dimiliki oleh para tetua, dan sebuah gambar segel lingkaran besar muncul di hadapan mereka berdua lalu lingkaran Segel itu membesar lalu mulai bergerak menutupi seluruh Gerbang luar.
"Mereka berusaha melindungi Gerbang luar agar tidak hancur oleh serangan Fao Zunzi, jika tidak salah itu adalah Segel yang sudah mengurung Inti Petir Merah! Jika tidak segera dihancurkan, maka kita tidak akan bisa memasuki Akademi!" kata salah satu Pelindung.
__ADS_1
"Sepertinya mereka berdua berniat mengorbankan diri mereka sekaligus menyegel Gerbang agar kita tidak bisa masuk."
"Fao Zunzi, minggirlah!" kata salah satu wanita tua yang mengarahkan sebelah telapak tangannya ke arah segel.
Fao Zunzi segera menurut, sedangkan energi pedangnya tetap melesat ke arah kedua tetua yang masih berusaha menyelesaikan segel mereka.
"Kalian berdua berniat ingin mati? Akan aku kabulkan," kata wanita itu dan kemudian cahaya merah mulai terlihat di sebelah telapak tangannya.
"Panah Darah Penghancur Jiwa."
Cahaya di telapak tangan wanita tua itu tiba-tiba keluar membentuk sebuah lautan darah di langit dan kemudian lautan darah itu berubah menjadi serpihan anak panah yang tak terhitung jumlahnya, dan kemudian anak panah darah itu melesat dan menghujani kedua tetua hingga Zirah Petarung mereka hancur sekaligus menghentikan segel yang belum selesai sepenuhnya.
Disaat yang bersamaan, energi Pedang merah darah yang panas juga menghantam tubuh mereka sehingga ledakan besar di udara kembali terjadi, hal itu membuat para Pembimbing serta Fa Ling terkejut saat melihat kedua tetua yang terkena dua serangan kuat serta segel yang gagal tercipta.
"Ketua Ma, Ketua Yin!" teriak Fa Ling namun karena kelengahannya, Shian He berhasil menghujamkan Pedangnya ke arah dada Fa Ling.
Fa Ling terjatuh dengan darah yang keluar dari bekas tusukan pedang dan juga muntahan darah dari mulutnya, dia berusaha melihat ke langit dan melihat bekas ledakan yang sudah menghilang.
Fa Ling tidak melihat keberadaan kedua tetua yang terkena dua serangan penghancur yang mengerikan itu, dan tidak lama kemudian, tetesan hujan darah segara berjatuhan dari udara.
"Sekarang kedua tetua bodoh itu sudah musnah hingga jiwa Spiritual mereka sekalipun tidak akan bisa bangkit lagi!" kata Wanita tua itu yang sudah kembali ke posisi sebelumnya setelah selesai melepaskan hujan anak panah darah ke arah kedua tetua hingga tubuh kedua tetua hancur menjadi gumpalan darah.
"Ketua Ma, Ketua Yin!"
Fa Ling dengan sisa energinya bangkit seraya menahan pendarahannya dan kemudian dia melempar Giok putih itu ke arah patung penjaga Gerbang sehingga gerbang terbuka.
Shian He yang melihat itu langsung berusaha untuk membunuh Fa Ling sebelum Fa Ling berhasil kabur, namun siapa sangka Wen Li muncul dan menahan serangan Shian He.
"Wen Li! Kenapa kamu masih berada disini? Bagaimana dengan para calon murid?" tanya Fa Ling.
"Mereka sudah berada di tempat yang paling aman, sekarang cepat pergi, biar aku yang menahan mereka disini!" kata Wen Li.
"Tapi..!"
"Cepat pergi, dan sampaikan salamku kepada keempat Tetua di dalam, dan katakan kepada para tetua untuk membalaskan pengorbanan dan kematian kami ini!" kata Wen Li.
Fa Ling yang tidak ingin ada korban lagi ingin menolak untuk pergi, namun Wen Li menggerakkan tangannya lalu memukul Fa Ling hingga tubuh Fa Ling terlempar ke dalam gerbang, dan setelah itu Wen Li melepas serangannya ke arah patung sehingga Gerbang kembali tertutup.
"Wen Li!"
Fa Ling dengan sedihnya hanya bisa menatap Gerbang yang sudah menutup sehingga dia tidak bisa melihat sosok Wen Li lagi yang rela berkorban agar dirinya bisa pergi ke Akademi, dengan seluruh sisa kemampuannya, Fa Ling bergerak menuju ke Gerbang dalam secepat yang dia bisa, walau terkadang dia harus terjatuh karena luka-luka yang dialaminya sangat parah, namun Fa Ling berusaha untuk tetap bertahan agar pengorbanan para tetua Gerbang luar yang mati demi menahan serangan Kelompok Pita Merah tidak sia-sia.
__ADS_1