
Gu Yao He menatap mereka semua dengan mata menyala merah, dia melihat lima ekor Spirit Beast Laba-laba yang berbaris dengan posisi siaga.
"Senior, saya harap senior tidak ikut campur urusan Kapak Kematian kami!" kata pria bertubuh besar yang masih berada di punggung Spirit Beast nya, namun tubuhnya juga tidak dapat digerakkan.
"Justru aku datang kesini untuk menghentikan aksi kalian yang keji ini!" ucap Gu Yao He lalu dia turun dengan tubuh yang memancarkan hawa panas.
Wajah semua kelompok Kapak Kematian yang ada dihadapan Gu Yao He memasang wajah buruk, mereka semua sadar jika kekuatan sosok pria tua di hadapan mereka itu memiliki kekuatan yang tidak akan mampu dilawan oleh mereka, bahkan para Spirit Beast Laba-laba sekalipun juga ragu berada di bawah tatapan pria tua itu.
Secara alami kekuatan Gu Yao He lebih dari cukup untuk melenyapkan mereka semua, hanya saja saat ini dia hanya menggunakan kekuatan setingkat Yu Zhu.
Andai dia menggunakan kekuatan puncaknya, hanya perlu satu kibasan bagi Gu Yao He untuk melenyapkan mereka semuanya.
"Katakan padaku dimana markas kalian berada dan berapa banyak anggota kalian?" tanya Gu Yao He.
Pria bertubuh besar itu menghela nafas lega, dia beranggapan jika Gu Yao He tidak akan menghabisi dirinya serta anggotanya jika memberitahukan keberadaan markas mereka.
Karena pria bertubuh besar itu adalah pemimpin kelompok tersebut, jadi dia mengangkat tangannya untuk menjawab pertanyaan Gu Yao He.
"Sa..saya yang akan menjawabnya Senior, tapi apakah jika saya menjawabnya senior akan membiarkan kami pergi?" tanya Pria tersebut.
"Akan aku pikirkan lagi, jika kamu menjawabnya dengan jujur, aku masih bisa mempertimbangkannya, namun jika berbohong aku pastikan kalian semua akan berakhir disini!" jawab Gu Yao He.
Walau jawaban Gu Yao He tidak bisa dipastikan, namun pria tersebut tidak bisa menjawab dengan asal-asalan, belum lagi dia juga melihat ke arah ketiga rekannya dimana salah satunya sudah mati membeku, dan sisanya sudah dihajar habis-habisan oleh seekor Spirit Beast Singa Putih yang memiliki kekuatan Bumi 3.
Saat ini Singa Es menyerang kedua Laba-laba sekaligus dengan penunggangnya, dan kedua Spirit Beast itu sama sekali tidak mampu melawan kekuatan besar dari Singa Es.
Fang An sendiri tidak ikut menyerang, dia hanya membantu Bai Xiang dan Bai Lang mengumpulkan kembali barang-barang yang di acak-acak oleh ketiga kelompok Kapak Kematian itu sebelumnya.
"Terima kasih teman, aku tidak tahu lagi jika kamu tidak jadi datang menolong kami dan desa ini!" kata Bai Lang.
"Kamu adalah temanku, mana mungkin aku tidak datang ketika temanku sedang terancam! Hanya saja aku datang agak terlambat, jika tidak mungkin tidak akan ada korban yang mati di tangan mereka!" jawab Fang An.
"Begitulah cara mereka menjarah desa-desa manapun, sekali beroperasi satu atau dua nyawa para penduduk pasti akan mereka ambil, hal itu mereka lakukan agar para penduduk yang lain tidak berani untuk melawan!" kata Bai Xiang.
Setelah selesai membereskan bahan-bahan obat yang berserakan, Fang An bangkit dan melihat Singa Es yang sudah menyelesaikan tugasnya dengan sangat mudah.
Kedua Laba-laba besar dan penunggangnya mati membeku, hal ini membuat rekan yang tersisa semakin ketakutan.
"Kalian berdua disini saja! Ayo Singa Es kita ke tempat guru!" ajak Fang An dan mereka berdua berjalan ke arah Gu Yao He meninggalkan Bai Lang dan kakeknya.
"Teman Penyelamat, aku pastikan akan selalu mengingat jasamu hingga tujuh turunan ku!" gumam Bai Lang yang semakin kagum kepada Fang An.
"Guru! Kenapa guru tidak langsung menghabisi mereka?" tanya Fang An saat dia sampai di tempat Gu Yao He.
Pria besar dan yang lainnya menelan ludah mereka mendengar pertanyaan Fang An, pemuda itu di mata mereka memiliki pemikiran yang lebih mengerikan daripada pria tua di hadapannya.
__ADS_1
"Tunggu dulu, aku harus mendapatkan informasi dulu akan keberadaan markas mereka! Jika mereka mau berkata jujur, aku akan mempertimbangkan keinginanku untuk melenyapkan mereka, namun jika mereka berbohong, maka mereka semua akan aku jadikan debu!" jawab Gu Yao He seraya memunculkan gelang apinya.
Fang An menatap jasad wanita yang sudah mati terbunuh itu, dia menghampiri jasad itu lalu menatap ke arah para penduduk yang masih duduk ketakutan.
"Tuan dan nyonya sekalian, sekarang kalian tidak perlu takut lagi, jadi bangunlah dan kalian tidak perlu berlutut di hadapan para binatang itu," kata Fang An.
Mereka semua saling berpandangan satu sama lain, dan setelah itu seorang pemuda bertubuh kurus segera bangkit lalu berlari ke arah jasad wanita itu.
"Kakak..!"
Pemuda itu langsung merangkul jasad wanita itu dengan tangisannya yang pecah, hal ini membuat hati Fang An terasa perih seperti tersayat oleh sebilah pedang melihat kesedihan pemuda itu.
Percikan petir mulai bermunculan di tubuhnya, dengan mata bercahaya dia menanyakan sesuatu kepada para warga itu.
"Tunjukkan padaku yang mana orangnya yang membunuh bibi ini?" tanya Fang An dengan suara berat.
Semuanya menatap ke arah seorang pria bertubuh tinggi dan agak kurus, pria tersebut masih memegang kapak yang dibuat untuk membunuh wanita itu, dan para warga langsung menunjuk pria tinggi itu secara bersamaan.
Pria kurus itu langsung menelan ludahnya saat melihat tatapan cahaya kemarahan Fang An yang menatapnya dengan aura yang membuat semua kelompok Kapak Kematian jadi gemetar.
"Kamu adalah orang yang tidak tahu diri, seorang pria yang berani membunuh seorang wanita bukanlah seorang manusia!" kata Fang An seraya melangkah ke arah pria itu.
Pria itu berkeringat dingin, dia melihat kearah pemimpin nya yang ternyata juga tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk meminta pemuda itu agar berhenti juga tidak berani.
"Seorang wanita adalah orang yang paling mulia, wanita adalah ibu seluruh manusia, siapapun yang tidak menghargai wanita, itu sama saja dia tidak menghargai ibunya, dan orang seperti itu tidak pantas untuk tetap hidup di dunia ini!" kata Fang An dengan kepalan tangan yang menyala merah serta kilatan cahaya petir biru mulai menutupinya.
"Sudah terlambat..!" kata Fang An lalu dia menarik kepalan tangannya untuk melepaskan serangan pukulannya.
Tidak satupun dari mereka semua yang berani menghentikan Fang An, walau jumlah mereka semua cukup banyak dan kuat, hanya saja ketiga sosok di hadapan mereka jauh lebih kuat daripada mereka.
Melihat Fang An yang tidak berniat memberikan pengampunan, pria tersebut akhirnya memilih untuk melawan Fang An.
Dia tahu jika kemampuan yang hanya seorang Yu Zhe bukanlah tandingan pemuda itu, namun dia juga tidak mau mati begitu saja tanpa perlawanan di tangan seorang anak muda yang ada di hadapannya.
"Sialan kamu..!" seru pria itu yang membuat semua rekannya termasuk pemimpinnya terkejut.
Pria itu berusaha bangkit dari tekanan Gu Yao He, hal ini membuat Gu Yao He terkejut melihat pria itu yang hanya seorang Yu Zhe mampu bangkit dari tekanan yang ia lepaskan.
Tentu saja itu adalah kekuatan murni dari bawah alam sadar yang ia lepaskan karena rasa takut dan juga panik, hal itu mampu memancing kekuatan alaminya dan tanpa pria itu sadari jika dia berhasil membangkitkan kekuatan murni dari kekuatan Muladra nya.
Pria tersebut langsung mengayunkan kapaknya ke arah Fang An, namun Fang An dengan sangat mudahnya menghindari serangan tebasan itu lalu dengan kepalan tangan yang sudah ditutupi oleh dua energi elemen Api dan Petir, Fang An langsung melepaskan tinjunya ke arah pria itu.
"Matilah..!"
"Pukulan Inti Api dan Petir."
__ADS_1
"BAM."
Ledakan pukulan keras langsung tercipta ketika pukulan Fang An langsung mengenai dada pria itu hingga tubuh pria itu menjadi cekung, suara seperti Guntur kecil itu juga melepaskan energi panas yang membentuk sebuah gelombang kejut sehingga tubuh pria itu terhempas jauh hingga menabrak rumah sampai hancur.
Pria itu langsung mati seketika itu juga dengan dada hangus serta percikan petir yang masih terlihat di bekas pukulan itu hingga darah juga keluar dari mulutnya.
"Aku beri waktu bagi kalian semua untuk menjawab pertanyaan guruku, jika kalian berbohong, nasib kalian semua akan lebih buruk dari teman kalian itu!" ucap Fang An sehingga membuat semua anggota Kapak menggulirkan tenggorokan mereka.
Semua warga akhirnya berani untuk bangun setelah melihat Fang An yang membunuh pria yang telah membunuh salah satu warga mereka, semuanya segera bersorak dengan penuh kebahagiaan, dan tanpa di perintah oleh siapapun, mereka langsung merampas kembali barang-barang mereka yang telah diambil oleh para perampok itu.
Sebagian orang juga membantu pemuda kurus itu untuk mengangkat jasad kakaknya, sedangkan sang pimpinan secara terpaksa menjawab pertanyaan Gu Yao He.
"Jadi markas kalian tidak jauh dari sini! Lalu siapa ketua utama kalian, dan yang paling kuat di sana ada berapa orang serta ada di tingkat apa saja?" tanya Gu Yao He.
"Ketua utama kami bernama Mai Xixi, dia memiliki kemampuan Kultivasi di tahap Yu Zha Tingkat 3, dan ada tiga orang lagi yang memiliki kemampuan Yu Zha, namun dia lebih lemah dari Ketua utama kami!" jawab Pimpinan itu.
"Mai Xixi? Apakah dia bukan berasal dari Benua ini?" tanya Gu Yao He.
"Benar sekali senior, dia berasal dari Benua Daratan Tandus, sedangkan ketiga orang kuat lainnya juga satu daratan dengan Ketua utama kami!" jawab Pimpinan tersebut.
"Benua Daratan Tandus? Bukankah itu benua tempat asalmu guru?" tanya Fang An kepada Wang Lao Yi.
"Iya, itu adalah Benua tempat ku berasal!" jawab Wang Lao Yi.
"Bagaimana senior? Saya sudah menjawab semua yang senior ingin tahu, apakah kami bisa pergi dari sini?" tanya pimpinan itu.
Gu Yao He ingin mengangguk namun tiba-tiba saja Fang An berkata sesuatu yang membuat Gu Yao He dan semuanya terkejut.
"Pergi dari sini? Iya, kalian bisa pergi dari sini, namun bukan meninggalkan Desa ini!" ucap Fang An lalu dia mengeluarkan tangannya dan seketika itu juga bola petir kecil pun tercipta.
"A..apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Pimpinan itu dengan wajah panik.
"Aku akan mengakhiri semuanya dan akan membebaskan jiwa kalian dari dunia ini!" jawabnya sehingga membuat semuanya panik.
Melihat keputusan Fang An yang ingin menghabisi semua kelompok Kapak Kematian itu, Gu Yao He sama sekali tidak menghentikannya, dia justru berpindah tempat ke para warga lalu membuat perisai pelindung untuk semua warga desa, sedangkan pimpinan kelompok Kapak Kematian itu yang merasa kecewa akhirnya menyuruh anggotanya serta Spirit Beast nya untuk maju menyerang Fang An.
"Sekali Binatang tetaplah binatang, walau kalian di bebaskan, kalian tidak akan lagi berubah ke sisi kemanusiaan kalian, dengan ini lenyaplah kalian semua," ucap Fang An lalu dia melemparkan bola petir dengan dua warna petir yang berbeda.
"Petir Dewa Penghancur."
Fang An langsung melemparkan bola petirnya ke arah mereka semua yang maju dengan kapak merah serta Spirit Beast mereka semua tanpa perduli aura mengerikan dari bola petir kecil itu.
Begitu Bola kecil itu mengenai salah satu dari mereka, bola kecil itu langsung berubah menjadi bola besar yang mengurung mereka semua di dalamnya.
Sambaran petir di luar serta di dalam bola membuat tanah bergetar dan retak, belum lagi sambaran itu membuat kehancuran ke beberapa rumah, andai bukan karena Gu Yao He yang membuat kurungan perisai pembatas, mungkin Desa Lianxai akan hancur tak tersisa.
__ADS_1
Bola itu mulai mengecil kembali dan kali ini semua para anggota kelompok Kapak Kematian sudah terbaring dengan tubuh yang terkoyak oleh sambaran petir, dan pada akhirnya bola kecil itu meledak dan menewaskan seluruh anggota kelompok Kapak Kematian.