SANG KAISAR PETIR

SANG KAISAR PETIR
Benteng cabang


__ADS_3

"Petir Dewa Penghancur."


Sambaran petir Ungu langsung menyebar seperti sarang laba-laba menyambar apapun yang dilewatinya, tidak peduli apakah itu manusia atau pun benda, semuanya akan hancur jika terkena satu sambaran saja.


Tidak ada celah sedikitpun untuk bisa menghindari amukan Petir Dewa Penghancur yang dilepaskan oleh Fang An atau Feng Huang, sebab serangan itu begitu rapat seperti sebuah jaring laba-laba yang mengurung mangsanya.


Luo Ying dan Meng Xialo sendiri masih sempat menarik semua tawanan untuk berlindung di dalam pertambangan, saat melihat Chang Zhang menarik kembali pasukannya untuk berlindung, Luo Ying juga langsung melakukan hal yang sama.


Wen Xixie dan Fu Long serta Spirit Beast nya tidak bisa menghindari serangan penghancur yang sangat mengerikan itu, kedua mencoba membuat pelindung dari energi mereka sendiri berharap bisa bertahan, namun nyatanya semua itu sia-sia saja.


Wen Xixie, Fu Long, dan pasukan serta seluruh benteng hancur berantakan setelah terkena serangan Petir Dewa Penghancur dalam waktu yang tidak terlalu lama.


Banyak tanah yang rusak serta tenda yang terbakar, belum lagi bangunan tempat pembuatan senjata dan juga logam, semuanya hancur dan hanya menyisakan api serta puing-puing kayu yang tersisa.


"Guru, ajari aku Teknik Petir Dewa Penghancur ini nanti ya!" pinta Fang An.


"Itu pasti Fang An, namun untuk saat ini, Qi yang kamu miliki masih belum cukup, paling tidak untuk bisa menguasai Teknik Petir Dewa Penghancur ini, paling sedikit kamu harus memiliki Qi sebanyak 20 pusaran, dan setidaknya kamu sudah mencapai Puncak Yu Zhe Tingkat 9," jawab Feng Huang.


"20 pusaran ya? Andai tidak ada racun di dalam tubuhku, mungkin aku bisa mengumpulkan Qi sebanyak 20 pusaran itu dalam waktu dekat!" gumam Fang An.


"Sabarlah, nanti kamu pasti akan bisa mempelajarinya! Sekarang aku sudah mencapai batasanku, jadi aku akan kembali lagi ke dalam Spirit Root!" kata Feng Huang setelah itu aura ungu keluar dari dalam tubuh Fang An dan masuk kembali ke dalam bandul kalungnya.


Setelah beberapa saat, Chang Zhang dan Chang Meili serta Luo Ding datang kembali dengan para pasukan mereka, setelah itu Luo Ying dan Meng Xialo serta ratusan para tawanan kerja paksa juga keluar dari dalam pertambangan.


Semuanya memperhatikan situasi dalam benteng yang sudah hancur berantakan membuat mereka semua sama-sama menggulingkan tenggorokan menelan ludah masing-masing.


Semuanya sudah hancur seperti habis dihantam bencana alam yang sangat besar, mayat-mayat prajurit yang bergelimpangan mulai dari mayat prajurit Chang Lan, prajurit pemberontak, serta beberapa mayat para tawanan yang gugur.


"Adik Fang! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Meng Xialo.


"Aku baik-baik saja kakak Meng!" jawab Fang An namun dengan wajah terlihat sedikit memucat.


Fang An merasakan sedikit nyeri di jantungnya serta tubuhnya mulai merasakan dingin.


"Sepertinya racun itu mau kambuh lagi!" batin Fang An.

__ADS_1


Fang An sangat yakin jika racun itu akan kembali bereaksi, hanya saja rasanya tidak seperti sebelumnya, kali ini dia hanya merasakan sedikit nyeri dan juga hawa dingin yang mulai dia rasakan, hawa dingin itu tidak sekuat sebelumnya juga.


"Fang An, telanlah Pil Teratai Putih ini, Pil ini yang akan menahan racun itu agar tidak kembali kambuh!" kata Luo Ying yang menyadari jika racun di tubuh Fang An akan kembali pulih, hal itu bisa dilihat dari wajah Fang An yang sedikit memucat.


"Terima kasih Kakak Luo!" jawab Fang An lalu dia langsung menelan Pil Teratai Putih pemberian Luo Ying.


Fang An segera mencari tempat untuk menyerap khasiat Pil itu, sedangkan para tahanan bersorak-sorai penuh bahagia karena bebas, ada yang sampai menangis dan juga ada yang melompat-lompat sebagai penyampaian rasa bahagia mereka.


"Ying'er, apakah kamu baik-baik saja?" Luo Ding dan Chang Zhang serta Chang Meili datang menghampiri Luo Ying.


"Ayah..! Aku baik-baik saja," jawab Luo Ying.


"Kamu terlalu bertindak gegabah Ying'er!" kata Luo Ding seraya memeluk putranya lalu kembali berkata, "Tapi ayah sangat bangga padamu," ucapnya sembari memeluk Luo Ying dengan erat.


"Sudah ayah lepaskan pelukanmu!" kata Luo Ying yang merasa malu di lihat oleh kedua Panglima Chang.


"Jadi ini putramu itu Tuan Luo Ding?" tanya Chang Zhang.


"Benar Panglima, ini adalah putra hamba namanya Luo Ying!" jawab Luo Ding.


"Pemuda yang pemberani, karena keberanianmu Benteng para pemberontak ini berhasil dihancurkan!" kata Chang Meili.


"Ini semua hanyalah keberuntungan saja Panglima, namun yang lebih berhak mendapatkan pujian ini adalah adik Fang An!" jawab Luo Ying.


"Iya sebenarnya adalah kalian berdua! Tapi di mana anak dari Klan Fang itu?" tanya Chang Zhang.


"Adik Fang An sedang memulihkan diri!" jawab Luo Ying.


"Anak dari Klan Fang itu memiliki Teknik yang begitu mengerikan, dia adalah pemuda harapan masa depan Benua Daratan Hijau!" kata Chang Meili.


"Panglima, hamba serahkan semua pada tawanan ini kepada Panglima berdua, pulangkan mereka semua ke desa mereka masing-masing, sebab sudah lama sekali mereka menjadi tahanan di sini!" kata Luo Ying.


"Baik serahkan mereka semua pada kamu!" jawab Chang Zhang.


"Saudara Luo, apakah kamu tidak ikut denganku kembali ke rumah ku?" tanya Meng Xialo.

__ADS_1


"Tidak saudara Meng, sebenarnya kami berdua masih harus melanjutkan perjalanan kami yang tertunda selama 13 hari ini, jadi sampaikan terima kasih ku kepada Nenek Meng Po!" jawab Luo Ying.


"Seharusnya kami yang mengucapkan terima kasih saudara Luo, kami semua berhutang besar kepada mu dan juga adik Fang An!" kata Meng Xialo.


Chang Zhang dan Chang Meili memerintahkan sebagian pasukan untuk mengumpulkan semua mayat untuk dikremasi secara masal, dan sebagian pasukan lagi menolong para prajurit serta para tahanan yang terluka setelah itu para tahanan akan di pulangkan ke desa mereka masing-masing.


"Saudara Luo, apakah kamu tahu jika sebenarnya disini ini hanyalah sebuah benteng cabang saja?" tanya Meng Xialo.


Luo Ying dan Luo Ding sama-sama terkejut mendengarnya dan Luo Ying pun balik bertanya, "Tidak! Tapi jika ini hanyalah salah satu benteng cabang , lalu dimana Benteng mereka yang sebenarnya?" tanya Luo Ying.


"Kalau itu aku belum tahu, namun yang jelas mereka memiliki sekitar tujuh benteng cabang dan salah satunya adalah disini!" jawab Meng Xialo.


"Ayah, sampaikan berita ini kepada kedua Panglima itu agar Raja Chang juga tahu!" kata Luo Ying.


"Iya akan aku sampaikan nanti kepada mereka!" jawab Luo Ding.


Luo Ying memperhatikan seluruh benteng yang sudah hancur, dia pikir dengan kehancurnya Benteng Pemberontak, maka tidak akan ada pemberontak lagi, namun ternyata Benteng itu hanyalah salah satu cabang dari tujuh Benteng cabang yang ada.


"Apakah kamu akan pergi sekarang?" tanya Luo Ding.


"Kemungkinan begitu, mungkin setelah adik Fang sudah pulih kembali, kami akan langsung berangkat!" jawab Luo Ying.


"Baiklah jika memang seperti itu rencana kalian, dan untuk mu anak muda, aku akan mengantarmu ke Desa Yijing!" kata Luo Ding kepada Meng Xialo.


"Terima kasih Paman!" jawab Meng Xialo seraya menangkupkan kedua tangannya.


"Tidak perlu seperti itu, lagi pula aku cukup kenal baik dengan Nenekmu," kata Luo Ding.


Luo Ying melihat Meng Xialo sesaat, dia yakin ayahnya pasti tahu akan kejadian kematian ayah dan ibu Meng Xialo, sebab mereka mati di Desa Tinsang.


"Ayah, saudara Meng, aku mau menyusul adik Fang, mungkin kami akan langsung pergi tanpa memberitahu kalian semua, jika mereka menanyakan kami, bilang saja kami berdua sudah meninggal benteng ini!" kata Luo Ying.


Mereka yang di maksud oleh Luo Ying adalah kedua Panglima, dia tidak ingin perjalanan terhambat lagi, sebab dia sangat yakin jika kedua Panglima itu pasti akan mengajak mereka ke kota Chang Lan untuk menemui Raja Chang Hanzi sekaligus menerima penghargaan, oleh sebab itu Luo Ying berusaha pergi tanpa diketahui oleh Chang Zhang dan Chang Meili.


"Hati-hati di jalan saudara Luo," kata Meng Xialo.

__ADS_1


"Terima kasih, nanti kita pasti akan bertemu lagi! Aku pergi dulu, jaga diri kalian baik-baik," kata Luo Ying lalu secara diam-diam dia pergi dan menyusul Fang An yang sedang menyerap khasiat Pil Teratai Putih di tempat lain.


__ADS_2