
***
Ketujuh calon murid baru terkejut saat melihat Fang An dan Yan Hang sudah berada di desa Hundi di pagi-pagi sekali, padahal mereka tidak melihat Fang An ataupun Yan Hang melewati mereka.
Mereka tiba di Desa Hundi saat hampir tengah malam, namun karena pintu gerbang desa di tutup, mereka dengan terpaksa menginap di luar Desa.
Saat pagi hari setelah memberikan biaya masuk kepada keempat penjaga gerbang, mereka dikejutkan dengan keberadaan Fang An dan Yan Hang yang sudah berada di Pintu Gerbang menuju ke Kota Funsu.
"Bagaimana cara kalian bisa memasuki pintu gerbang?" tanya pemuda calon murid akademi itu.
"Tentu saja masuk dengan cara membayar biaya masuk!" jawab Yan Hang yang sudah tidak suka atas sikap sombong pemuda tersebut.
"Memangnya sejak kapan kalian tiba disini?" tanya gadis yang biasa bersikap acuh kepada Yan Hang dan Fang An.
"Kemarin sore sebelum matahari terbenam!" jawab Yan Hang.
"Mustahil! Kalian berdua jelas-jelas berada di belakang kami, bagaimana bisa kalian tiba lebih dulu tanpa melewati kami yang ada di depan?" kata pemuda tersebut yang merasa merasa percaya.
"Yan Hang, sebaiknya kita lanjutkan saja perjalan kita, dan kalian semua! Kami pergi duluan ke Kota Funsu," kata Fang An yang sejak awal mengabaikan mereka.
Tindakan Fang An jelas membuat pemuda itu emosi, tidak hanya pemuda itu, bahkan gadis juga menatap Fang An dengan tatapan dingin.
Fang An hanya tersenyum melihat tatapan dingin mereka, namun saat akan berangkat, tiba-tiba saja Pemuda itu langsung mengeluarkan Kertas Mantra Sihir nya..
"Beraninya kamu mengabaikan ku, karena kamu telah lancang mengabaikanku, aku akan memberimu pelajaran!" kata Pemuda itu.
Belalang hitam langsung bereaksi saat merasakan ancaman dari pemuda itu, namun kupu-kupu bersayap capung itu menghadangnya sehingga kedua Spirit Beast itu saling berhadapan.
"Mau apa dengan Kertas Mantra Sihir buatan Klan Hun itu?" tanya Fang An yang mengenali Kertas Mantra Sihir buatan Klan Hun.
Pemuda itu terkejut kepada Fang An yang mengetahui Kertas Mantra Sihir nya yang dia beli di pasar Klan Hun, padahal Kertas Mantra Sihir terlihat sama bentuknya, warnanya, jenis serta tingkatannya, namun Fang An bisa mengenali pembuat Kertas Mantra Sihir tersebut hanya dengan sekali lihat.
"Kakak Tang Chin, kita harus memberi pelajaran kepada mereka, biar mereka tahu akan siapa kita ini!" kata gadis yang Spirit Beast nya sedang menghadang Spirit Beast milik Yan Hang.
"Adik tenang saja, aku pasti akan membuat mereka menderita sampai mereka tidak bisa masuk ke Akademi!" kata pemuda tersebut yang bernama Tang Chin.
"Tuan muda Tang, lebih baik kita lanjutkan perjalanan saja!" kata salah satu pria paruh baya.
"Kamu tidak perlu mengingatkan ku, tugasmu hanyalah menemani kami saja!" jawab Tang Chin lalu dia menoleh ke arah gadis itu seraya berkata, "Adik mundur saja, aku sendiri sudah cukup untuk memberi pelajaran kepada kedua anak ini!" ucap Tang Chin.
Fang An hanya tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya, walau Tang Chin tidak menjawab pertanyaannya, Fang An sama sekali tidak mengambil hati.
Berbeda dengan Fang An, Yan Hang justru menjadi serius, sebab kemampuan pemuda sombong itu berada di atasnya.
Tang Chin mengeluarkan senjata tombaknya dan kemudian dia menempelkan Kertas Mantra Sihir nya ke gagang tombaknya lalu melepaskan segelnya.
Tombak Tang Chin langsung diselimuti oleh Qi yang sangat tebal, aura biru juga terpancar dari tombak tersebut.
Melihat Tang Chin yang mengeluarkan senjatanya, Yan Hang benar-benar terkejut, sebab senjata milik Tang Chin bukanlah senjata Spiritual yang terbuat dari kayu, melainkan benar-benar senjata yang terbuat dari logam.
Di saat yang sama, Kupu-kupu bersayap Capung itu maju atas perintah Gadis yang menjadi tuannya, dia menggerakkan tangannya dan seketika itu juga Kupu-kupu tersebut langsung melesat ke arah Belalang.
Melihat Kupu-kupu milik gadis jutek itu akan menyerang Belalang milik Yan Hang, Fang An melirik ke arah Singa Es, begitu melihat isyarat mata Fang An, Singa Es langsung melepaskan auranya yang membuat Kupu-kupu dan Belalang Hitam serta Spirit Beast lainnya langsung mundur menjaga jarak masing-masing.
__ADS_1
Singa Es hanya melepaskan aura buasnya tanpa melepaskan Energi bertarungnya, hal tersebut hanya dapat di dirasakan antar sesama binatang, sedangkan para manusia tidak akan bisa mengetahuinya.
Tang Chin yang sudah siap dengan tombaknya langsung memutar tombaknya hingga hembusan angin kencang berhembus ke segala arah.
"Terimalah ini!" seru Tang Chin seraya melesat ke arah Yan Hang dan Fang An dengan tombaknya yang juga melepaskan energi kuat dari mata tombaknya.
"Teknik Tombak Air Mengalir."
Tang Chin dengan gesitnya bergerak dan kemudian dia langsung menghujamkan mata tombaknya ke arah Fang An, sedangkan Yan Hang yang panik langsung mengeluarkan goloknya yang sedikit melengkung, namun golok tersebut hanyalah sebuah senjata Spiritual.
Mata tombak yang melesat dan siap menghujam ke dada Fang An tiba-tiba saja membentur sebuah logam keras, suara dentangan serta energi angin langsung menyebar dan diikuti oleh percikan air seperti gerimis hujan yang pecah dari ujung mata tombak milik Tang Chin.
Tang Chin dan semuanya termasuk Yan Hang jelas terkejut saat melihat sebilah Pedang besar berwarna kebiruan sudah menahan tombak milik Tang Chin.
"Dia juga memiliki pusaka yang sama seperti pemuda itu?" Yan Hang jelas kebingungan sebab dirinya tidak pernah tahu akan kemampuan Fang An serta senjata apa yang dimilikinya.
Tang Chin menarik kembali tombaknya, dia kembali mengaktifkan kekuatan tombaknya, namun saat Qi nya kembali menyelimuti tombaknya, tiba-tiba saja mata tombaknya retak dan kemudian ujung mata tombaknya langsung pecah.
"Tidak..!"
Tang Chin berteriak saat mata tombaknya pecah, bagaimanapun juga tombak itu adalah pusaka paling berharga miliknya, sebab tombak tersebut adalah warisan dari ayahnya.
Bagi Tang Chin tombak itu sangatlah berharga, belum lagi tombak itu adalah pusaka terbaik yang menjadi pusaka andalan keluarganya secara turun temurun.
Namun pusaka yang dianggap pusaka terbaik itu kini harus pecah setelah berbenturan dengan Pedang Biru besar di tangan pemuda berambut putih, hal ini membuat dia syok dan amarahnya langsung menguasai pikirannya.
"Kau! Kau tidak akan aku lepaskan," kata Tang Chin seraya melepaskan energinya yang membuat hembusan angin kecil di sekitar tubuhnya.
"Anak itu memiliki Spirit Root Elemen Air dan Angin, jika dia terus berlatih, di masa depan dia pasti akan menjadi orang yang hebat!" kata Wang Lao Yi.
"Tapi sayang, dia terlalu angkuh dan sombong, baru berada di tahap Yu Zhi saja dia sudah se angkuh ini, apalagi jika semakin kuat lagi?" ucap Fang An yang menyayangkan bakat Tang Chin yang disalah gunakan.
"Mungkin sifatnya itu pengaruh dari didikan orang tuanya, bisa saja dia sangat dimanja sehingga dia merasa dirinya adalah orang yang paling terpandang dan memandang rendah orang lain! Untungnya kamu tidak seperti itu Fang An," kata Feng Huang.
Fang An hanya tersenyum menanggapinya, dia sendiri juga pernah dimanja oleh ibunya, hanya saja Fang An masih mendapatkan didikan moral dan sopan santun dari kedua orang tuanya.
Disisi lain Yan Hang juga tidak bisa berbuat banyak, sebab dia bukanlah lawan Tang Chin sehingga dia hanya bisa melihat Fang An serta Tang Chin yang sudah sangat marah karena tidak terima akan tombaknya yang pecah.
Tang Chin kembali mengeluarkan Kertas Mantra Sihir nya dan kemudian dia membuka segelnya seraya melesat maju menyerang Fang An.
"Teknik Tapak Air Hujan."
Butiran air yang berada di sekitar tubuh Tang Chin bergerak ke arah telapak tangannya disertai dengan aliran air yang keluar dari Kertas Mantra Sihir miliknya, hal itu membuat telapak tangannya terbungkus seperti sapu tangan namun terbuat dari air.
Fang An hanya menghela nafas panjang lalu dia menancapkan Pedangnya ke tanah kemudian dia menggenggam tangan kanannya dan menariknya ke belakang.
Telapak tangan Fang An langsung di selimuti oleh Elemen Api dan juga petir, hanya saja Fang An mengurangi energinya.
Ketika telapak tangan Tang Chin sudah berada cukup dekat dengan Fang An, dengan dorongan ringan, Fang An melepaskan pukulannya.
"Pukulan Inti Api dan Petir."
Suara ledakan ringan langsung tercipta dari benturan kedua serangan yang beradu, suara sebuah erangan sepintas terdengar, namun suara tersebut tertutupi oleh suara ledakan yang menciptakan asap tebal serta hembusan angin redam.
__ADS_1
Semuanya melihat ke arah asap tebal tersebut termasuk para warga desa yang menonton pertarungan dua pemuda di tengah-tengah desa Hundi, dan tidak berselang lama, sesosok tubuh keluar dari dalam kepulan asap dan terhempas beberapa meter.
"Kakak Tang..!"
Gadis muda itu langsung berlari setelah melihat sosok yang terhempas dan kini terbaring seraya meringis memegangi tangan kanannya.
Tidak lama setelah itu, Fang An berjalan keluar dari kepulan asap yang mulai menipis, kondisinya sangat baik-baik saja, hal itu membuat Yan Hang bersorak gembira karena Fang An sudah berhasil memberikan pelajaran kepada Tang Chin.
Fang An menatap Tang Chin dan dia berniat berjalan menghampiri Tang Chin, namun ketiga pria paruh baya langsung menghadang Fang An.
"Cukup anak muda!" kata salah satu dari mereka seraya melepaskan energinya yang ternyata kemampuan ketiga orang tersebut berada di tahap Yu Zha, satu berada di tingkat 7, dan dua lagi berada di tingkat 5.
"Kami tahu kamu adalah seorang praktisi Yu Zha, Tuan muda kami bukanlah lawan yang cocok untuk mu, jadi tolong jangan diteruskan lagi!" ucap salah satu dari mereka dengan bersikap ramah dan tidak seperti kedua rekannya yang melepaskan ancaman kepada Fang An.
Yan Hang, Tang Chin dan gadis yang ada di dekat Tang Chin serta calon murid lainnya terkejut saat pria itu mengatakan jika Fang An adalah seorang Yu Zha.
"Jadi teman baruku ini benar-benar memiliki kemampuan yang sangat tinggi, pantas saja dia terlihat santai saat anak itu melepaskan serangan ke arahnya!" gumam Yan Hang.
"Jika senior sudah mengetahuinya, kenapa senior tetap membiarkan tuan muda senior yang bersikeras ingin menyerang ku?" tanya Fang An.
"Begini, kami sebenarnya membiarkan Tuan muda melakukan itu karena kami ingin agar Tuan muda menyadari jika tidak hanya dia saja Pemuda yang paling berbakat, walau sebelumnya kami sempat terkejut saat mengetahui kemampuan mu yang berada di tahap Yu Zha di usia yang masih sangat muda!" kata pria yang berkemampuan Yu Zha Tingkat 7.
Ketika masih berada di perbatasan, tepatnya saat mereka menunggu Pintu Gerbang Tembok perbatasan di buka, ketiga pria itu sebenarnya sedang membicarakan Fang An yang masih sangat muda namun memiliki kemampuan Yu Zha.
"Tuan muda Tang adalah putra walikota di Kota Xinping, sedangkan gadis itu adalah adiknya."
Pria itu menceritakan kepada Fang An jika Tang Chin serta adiknya yang bernama Tang Yuyi tumbuh dengan cara dimanja, apapun yang mereka minta akan di turuti, ditambah lagi kedua kakak beradik itu memiliki bakat, hal itu membuat kedua orang tuanya merekrut katiga pria itu untuk menjadi guru sekaligus pengawal mereka.
Hanya saja tingkah laku kedua kakak beradik itu semakin tidak terkontrol, bahkan mereka berdua tidak menghormati ketiga pria paruh baya yang sudah melatih mereka dan menganggap jika ketiga pria itu adalah pengawal yang harus patuh kepada majikannya.
Hal itu membuat kedua orang tuanya merasa bersalah karena merasa telah salah dalam mendidik anak-anak mereka, setelah mendengar akan keberadaan Akademi di wilayah Benteng Putih, kedua orang tua Tang Chin langsung menyuruh ketiga gurunya mengantarkan kedua anak mereka untuk berlatih sekaligus belajar di akademi, dengan harapan agar Tang Chin dan Tang Yuyi bisa berubah ke pribadi yang lebih baik.
Fang An mengangguk dan mengerti akan cerita dari pria paruh baya tersebut, hanya saja dia tidak tahu dimana itu letak Kota Xinping sehingga Fang An menanyakannya.
"Kota Xinping berada di Benua Daratan Hijau bagian timur, perjalanan ke perbatasan saja membutuhkan hampir enam bulan, dan pasar disana dikuasai oleh Klan Hun!" jawabnya.
"Begitu, pantas saja dia memiliki Kertas Mantra Sihir milik Klan Hun!" gumam Fang An lalu dia menatap Tang Chin yang mulai berdiri dengan menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.
Untung saja Fang An menahan kekuatannya, jika sampai dia menggunakan kekuatan penuh, sudah bisa dipastikan jika Tang Chin akan langsung mati jika terkena pukulan Inti Api dan Petir nya.
"Kalian tidak perlu khawatir, dari awal aku juga tidak berniat untuk membuatnya terluka, karena itu aku ingin memberinya Pil agar pembuluh darahnya tidak pecah setelah menerima seranganku!" kata Fang An lalu dia menghampiri Tang Chin, sedangkan ketiga pengawal itu sama sekali tidak menghentikan Fang An lagi setelah mengetahui niat Fang An.
Tang Chin dan Tang Yuyi langsung bersiaga, bahkan Tang Chin terlihat sangat ketakutan saat Fang An menghampirinya.
"Aku minta maaf karena telah membuat tombak mu pecah, ini adalah Pil untuk meredakan rasa nyeri di tanganmu, setelah kamu meminum Pil Bunga Batu Jiwa, seharusnya nanti siang rasa sakitmu sudah hilang, dan Qi mu juga akan bertambah satu pusaran!" kata Fang An yang memberikan Pil kepada Tang Chin.
Pil Bunga Batu Jiwa adalah Pil pertama yang Fang An buat saat berada di tempat Gu Yao He, sekarang Pil itu sudah di sempurnakan sehingga Pil tersebut tidak hanya mampu memulihkan stamina setelah bertarung, melainkan juga mampu menyembuhkan luka dalam seperti yang dialami oleh Tang Chin.
Tang Chin yang ketakutan dengan tangan gemetar menerima Pil itu, hanya saja dia tidak mampu berbicara karena takut, bahkan untuk mengucapkan terima kasih pun terasa berat.
"Lain Kali bersikaplah lebih baik kepada orang lain, sebab tidak hanya kamu saja satu-satunya orang yang memiliki kemampuan Yu Zhi!" kata Fang An kemudian dia menghampiri Yan Hang.
"Ayo kita berangkat ke Kota Funsu, dan kalian, aku tunggu kalian di Kota!" ucap Fang An lalu dia dan Yan Hang bersama kedua Spirit Beast mereka pergi keluar dari Desa Hundi.
__ADS_1