SANG KAISAR PETIR

SANG KAISAR PETIR
Alam Jiwa


__ADS_3

"Apakah kalian tahu di mana markas mereka berada?" tanya Luo Ying.


"Aku tahu, markas mereka berada di dekat Bukit kecil di sebelah barat sana, dan di bukit itu juga mereka menambang!" kata seorang wanita tua.


"Apa yang ingin kamu lakukan anak muda?" tanya wanita tua lainnya.


"Nenek tenang saja, saya tidak bisa berjanji, tapi saya akan berusaha untuk menyelamatkan keluarga kalian!" ucap Luo Ying.


Fang An hanya bisa menghela nafas panjang, dia sendiri sebenarnya agak keberatan untuk ikut campur masalah itu, sebab masalah ini seharusnya menjadi urusan Pemerintahan Klan Chang, hanya saja Fang An tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti Luo Ying, sebab hanya dia satu-satunya orang yang tahu jalan menuju ke Gunung Hunsu.


"Fang An, malam ini mungkin kita akan bermalam disini sekaligus menyusun rencana untuk pergi ke markas para Pemberontak itu besok, kalau kamu juga memiliki ide, katakan padaku nanti!" kata Luo Ying.


Fang An mengangguk pelan namun dalam hatinya dia berkata, "Aku tidak memiliki ide apapun!" batin Fang An.


"Anak muda, menginaplah di rumahku, kebetulan aku hanya tinggal sendirian di rumah!" kata seorang nenek-nenek.


"Terima kasih nenek..ee!"


"Meng Po, namaku adalah Meng Po!" kata Nenek tersebut.


"Ah terima kasih Nenek Meng Po!" kata Luo Ying sembari menangkupkan tangannya dan diikuti oleh Fang An yang masih memasang wajah berat.


Luo Ying dan Fang An mengikuti Nenek Meng Po ke rumahnya, sedangkan yang lainnya membubarkan diri dan kembali ke rumah mereka masing-masing.


"Apakah keluarga nenek juga dibawa oleh mereka?" tanga Fang An yang berjalan di samping Luo Ying.


"Benar, cucuku yang bernama Meng Xialo dibawa oleh mereka untuk bekerja, dia berusia 18 tahun!" jawab Meng Po.


"Lalu dimana kedua orang tua Kakak Meng Xialo Nek?" tanya Luo Ying.


Meng Po menarik nafas dalam-dalam kemudian berhenti di depan rumah yang lumayan besar, "Selamat datang di rumah ku, mari silahkan masuk ke dalam!" kata Meng Po.


Luo Ying dan Fang An segera masuk kedalam rumah Meng Po yang lumayan besar, dari sudut pandang Fang An, Nenek itu sepertinya orang yang berkecukupan.


"Ini adalah kamar kalian, kamar ini adalah kamar khusus tamu!" ucap Nenek Meng Po sembari menunjukkan kamar yang akan ditempati oleh kedua pemuda itu.


"Sekarang mari kita ngobrol di ruang tamu!" ajak Nenek Meng Po dan mereka segera menuju ke ruang tamu.


"Meng Xialo adalah anak satu-satunya mendiang putraku, saat Meng Xialo berusia 5 tahun, ibunya meninggalkan Meng Xialo serta suaminya dan pergi dengan laki-laki lain, dan laki-laki yang membawa pergi ibu Meng Xialo adalah sahabat ayahnya Meng Xialo sendiri!"


"Jadi ibunya Saudara Meng Xialo bermain serong dengan teman suaminya sendiri?" tanya Luo Ying.

__ADS_1


"Iya, saat itu putraku sedang pergi menemui pedagang di luar untuk menjual hasil panen yang sudah dikumpulkan, setelah kembali, dia terkejut saat mengetahui istrinya telah kabur dengan temannya, hanya saja ayahnya Meng Xialo sudah tahu kemana mereka pergi sehingga dia mengejarnya saat itu juga."


"Apakah mereka ketemu?" tanya Fang An.


"Dua hari setelah itu, Ayah Meng Xialo akhirnya menemukan mereka berdua di sebuah penginapan di Desa Tinsang, mereka berdua berdebat hingga berujung perkelahian, Putraku berhasil melukai sahabatnya, namun istrinya yang tidak tahu malu itu justru menusuk Putraku dengan sebilah pisau, walau sudah terluka, putraku berusaha bertahan dan mencabut pisau yang menancap di perutnya lalu menusukannya ke pada wanita tidak tahu diri itu hingga wanita itu mati, putraku juga membunuh sahabatnya yang telah menghianatinya sebab dia juga sudah terluka sehingga tidak berdaya saat Putraku menghujamkan pisau itu ke perutnya, dan hari itu juga mereka bertiga sama-sama mati di penginapan itu!"


Nenek Meng menyelesaikan ceritanya dan matanya sedikit berair setelah menceritakan akan tragedi keluarganya.


"Sungguh tragis sekali, istri dan sahabat sama-sama berhianat!" kata Luo Ying.


"Kejadiannya itu di Desa mu kakak Luo, apakah kamu tidak pernah mendengarnya?" tanga Fang An.


"Jika soal itu aku tidak tahu, karena kemungkinan besar saat itu usiaku juga sama dengan Meng Xialo, jadi aku tidak tahu!" jawab Luo Ying.


"Apakah cucu nenek sejak kecil tidak pernah mempelajari sebuah ilmu atau Kultivasi?" tanga Fang An.


"Tidak! Dia lebih suka pergi ke ladang, dan kesehariannya hanyalah bertani, sisanya akan berkumpul dengan teman-temannya untuk bermain!" jawab Nenek Meng Po.


"Nenek, saya akan berusaha untuk menolong cucu nenek, doakan kami agar kami berhasil!" kata Luo Ying.


"Terima kasih banyak anak muda, kalau boleh tahu siapakah nama kalian berdua ini?" tanya Meng Po.


"Namak saya Luo Ying dari Desa Tinsang, dan ini temanku Fang An, dia berasal dari Kota Chang Lan!" jawab Luo Ying.


"Beliau adalah ayah saya!" jawab Luo Ying.


"Owh, jadi kamu anak kepala desa, maafkan atas ketidak tahuan ku yang tua ini!" kata Meng Po.


"Tidak apa-apa Nek!" jawab Luo Ying yang merasa canggung.


Nenek Meng menatap Fang An kemudian berbicara Padanya, "Fang An? Di Kota Chang Lan hanya ada satu nama Fang, kamu pasti adalah anggota Klan Fang! Apa aku salah?"


"Iya nek, saya berasal dari Klan Fang!" jawab Fang An.


"Owh dewa, tidak kusanka jika rumahku akan kedatangan dua pemuda yang baik serta sama-sama berasal dari keluarga terhormat, aku sungguh sangat malu!" kata Meng Po.


"Nenek tidak perlu memuji kami terlalu tinggi," kata Luo Ying.


"Aku tidak memuji, namun menyatakan sebuah Fakta yang kenyataan bahwa kalian adalah dua pemuda yang berasal dari keluar hebat, satu adalah putra Kepala Desa yang sangat baik, dan satu lagi adalah anak dari salah satu Klan besar, Klan Fang!" kata Nenek Meng.


"Kalian berdua jika mau beristirahat silahkan, aku mau pergi ke belakang!" kata Nenek Meng kemudian dia melangkah pergi ke belakang.

__ADS_1


"Apa yang kakak rencanakan sekarang?" tanya Fang An.


"Untuk sekarang masih belum ada, sebaiknya malam ini aku bermeditasi untuk menemukan pencerahan!" jawab Luo Ying.


"Aku juga!" Fang An juga menyampaikan niat yang sama.


***


"Fang An, malam ini kamu akan aku ajarkan bagaimana caranya agar jiwamu bisa memasuki alam Roh di saat tubuhmu sedang melakukan meditasi!" kata Feng Huang.


"Alam Roh?"


"Iya Alam Roh, namun itu hanyalah sebuah nama, sebab yang sebenarnya adalah Alam Jiwa, dan di sana kita bisa bertemu serta bisa mengajarimu beberapa teknik lainnya dengan leluasa!"


Alam Jiwa adalah sebuah dunia fana yang hanya di bisa dimasuki oleh jiwa yang masih hidup, sedangkan yang sudah mati tidak akan bisa memasuki Alam jiwa kecuali dia adalah seorang yang memiliki kemampuan Kultivasi tingkat tinggi.


"Baik guru!" kata Fang An yang sedang bermeditasi dengan Luo Ying, hanya saja Fang An berbicara dengan Feng Huang lewat pikirannya.


"Pertama-tama kamu harus mengosongkan pikiran lalu memfokuskan pikiran serta jiwamu menjadi satu!" kata Feng Huang.


Fang An segera menurut dan langsung melakukan akan apa yang diperintahkan oleh gurunya.


"Lebih Fokus lagi Fang An..!" kata Feng Huang.


Fang An kembali memfokuskan pikirannya, namun sulit untuk memfokuskan Jiwa agar bersatu dengan pikirannya.


"Sebelumnya kamu sudah mempelajari cara menggabungkan otot dengan otak, hal itu juga sama caranya Fang An!" Feng Huang terus memberikan bimbingan serta arahan.


Fang terus berkonsentrasi penuh, walau Feng Huang sudah memberikan penjelasan serta cara melakukannya, namun tetap saja tidak mudah bagi Fang An, sebab menggabungkan dua hal itu tidak semudah seperti menggabungkan antara Otot dan Otak.


Walau terasa sangat sulit dan hampir mustahil untuk bisa melakukannya, Fang An tetap tidak menyerah, dia terus dan terus berusaha tidak peduli jika dirinya sudah bermeditasi selama hampir tengah malam.


Feng Huang juga tidak bosan-bosannya memberikan arahan serta petunjuk kepada Fang An, dan ketika malam sudah melewati pertengahan, Fang An akhirnya bisa melakukan penyatuan antara Pikiran serta Jiwa nya.


Fang An yang awalnya masih mendengar suara serangga malam di sekitarnya tiba-tiba tidak mendengar suara apapun, semuanya terdengar sangat sunyi se hingga yang terdengar hanyalah suara nafasnya.


Fang An membuka matanya pelan-pelan dan begitu terbuka dia kaget saat melihat seekor burung raksasa yang berdiri di hadapan, belum lagi kondisi di sekitar Fang An yang sebelumnya berada di dalam kamar, tiba-tiba saja berubah menjadi sebuah alam luas dengan aura berwarna-warni yang menyerupai kabut tipis berwarna memenuhi seluruh area.


"Sudah kuduga jika kamu akan bisa melakukannya, walau kamu belum mencapai tahap Yu Zha, namun nyatanya kamu berhasil melakukan dengan kemampuanmu yang masih berada di tahap Yu Zhe," kata seekor burung raksasa hitam yang berdiri di hadapan Fang An.


"Apakah ini Alam Jiwa?" tanga Fang An.

__ADS_1


"Iya, ini adalah Alam Jiwa, dan kamu sudah berhasil mempelajarinya!" jawab burung Raksasa itu yang tidak lain adalah Feng Huang.


__ADS_2