
***
Panglima Chang Zhang adalah salah satu Panglima perang yang memiliki kemampuan Kultivasi cukup tinggi, total Panglima yang dimiliki oleh pihak pemerintah ada 4 orang dua laki-laki dan dua perempuan, mereka adalah Chang Whuxi, Chang Zhang, Chang Meili, dan Chang Qianyu.
Saat ini Chang Zhang dan Chang Meili sedang membawa pasukan sebanyak 1300 prajurit menuju ke arah Barat tempat Benteng pemberontak itu berada, diantara mereka juga ada Luo Ding.
"Siapa orang yang membentuk pasukan pemberontak ini sebenarnya?" tanya Chang Meili.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak bisa menuduh sembarangan, mau bilang salah satu dari Klan besar, itu masih belum tentu benar karena kita juga tidak memiliki cukup bukti!" jawab Chang Zhang.
"Tuan Luo Ding, apakah anda yakin jika benteng mereka berada di Bukit Batu Hitam?" tanya Chang Meili.
"Begitulah menurut informasi yang hamba terima Panglima, apalagi ini adalah pesan langsung dari Putraku yang saat ini berada disana bersama dengan Fang An!" jawab Luo Ding.
"Fang An! Anak ini sebelumnya terkena sebuah racun dari Kelompok Pembunuh Kepala Ular, tapi langit masih berpihak padanya, apalagi dia memiliki guru seorang Yu Jing, benar-benar calon generasi harapan masa depan!" ucap Chang Zhang.
Kabar penyerangan Klan Fang oleh Kelompok Pembunuh Kepala Ular sudah tersebar sangat luas serta membuat Klan Fang menjadi lebih terkenal, tentu saja kabar akan putra Fang Xian yang terkena racun ganas juga mereka dengar, dan yang lebih heboh akan guru misterius Fang An yang diduga adalah seorang Yu Jing.
"Sebenarnya kemana tujuan anak itu? Kenapa dia bisa berada di tempat para pemberontak itu?" tanya Chang Meili.
Luo Ding keheranan mendengar Chang Meili berkata seperti itu, padahal dia sendiri tahu tujuan Fang An yang akan pergi ke Selatan menuju ke Akademi Puncak Angin Surga.
"Mungkin dia akan berlatih dengan gurunya serta berpetualang walau usianya masih sangat muda!" jawab Chang Zhang.
"Panglima, setelah melewati Lembah itu, kita akan sampai di Bukit Batu Hitam! Apakah kita akan melanjutkan perjalanan ini atau menginap semalam lagi untuk mengisi stamina para prajurit agar lebih kuat saat tiba disana?" tanya Luo Ding.
"Kita akan menginap dulu di dalam Lembah itu, lagi pula disana tidak ada Anim Beast nya jadi sangat aman untuk beristirahat!" jawab Chang Zhang seraya memperhatikan para pasukannya.
Walau para pasukan tidak terlihat kelelahan, namun Chang Zhang tidak akan mungkin memasak mereka untuk terus berjalan, lebih baik beristirahat semalam agar besoknya mereka lebih kuat untuk bertempur.
"Semuanya, kita akan segera memasuki Lembah Hijau! Kalian semua nanti bermalam disana dan segera membuat tenda agar besok kalian sudah memiliki tenaga untuk berperang!" seru Chang Meili.
Para pasukan berkuda segera bergegas maju untuk mengamankan jalan serta melindungi perbekalan yang mereka bawa dengan kereta.
Setelah sore harinya, mereka telah berada di dalam Lembah Hijau dan langsung membuat tenda, hanya saja mereka hanya membuat beberapa api unggun agar tidak terlalu menarik perhatian, sebab bisa jadi akan ada mata-mata dari pihak Pemberontak.
Tidak ada acara pesta apapun, baik itu minum-minum atau menyanyi guna menghibur diri, mereka semua benar-benar beristirahat sebagian dan sebagian lagi berjaga dengan cara bergantian.
__ADS_1
Saat senja dari arah timur mulai terlihat, mereka bergegas membereskan semuanya lalu segera berangkat keluar dari Lembah Hijau dan mereka akan tiba di Bukit Batu Hitam sebelum siang.
"Ying'er, kami akan segera datang!" gumam Luo Ding seraya memacu kudanya dan mengikuti kedua Panglima serta 1300 prajurit untuk menyerang Benteng para Pemberontak.
***
Di dalam pertambangan sendiri saat ini, Luo Ying dan Fang An sedang memperhatikan para prajurit pengawas, total jumlah para prajurit itu ada 30 orang di area pembakaran, dan 27 di area pertambangan.
"Rata-rata mereka semua hanya memiliki kemampuan Yu Zao Tingkat 5 dan 7, selebihnya ada yang hanya manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan Kultivasi, ini akan lebih mudah setelah kita memulai rencana kita," kata Luo Ying.
"Aku mengerti kakak, hanya saja kita tidak tahu apakah di luar sana ada orang yang memiliki kekuatan lebih besar dari kita atau tidak, sebaiknya kita tetap harus berhati-hati!" kata Fang An.
Luo Ying mengangguk setelah itu dia melihat kearah para pekerja yang sudah siap menunggu rencana mereka berdua.
"Baik ayo kita mulai!" kata Luo Ying.
Fang An mengangguk kemudian dia mengambil beberapa batu lalu melemparkan batu itu ke arah Luo Ying.
"Kenapa kamu melemparku?" tanya Luo Ying.
"Memangnya kenapa? Bukankah sudah kubilang agar kita tidak perlu mengejar kelinci itu, lihat sekarang karena ulahmu kita jadi terjebak di tempat seperti ini!" kata Fang An dengan suara kesal.
"Kenapa aku harus takut? Apa kamu mau bertarung dengan ku?" ucap Fang An.
"Prajurit..! Prajurit..! Mereka mau bertarung di dalam, apa kalian tidak akan melerai mereka? Bagaimana kalau mereka merusak barang-barang di dalam?" kata seorang pria paruh baya kepada para Prajurit pengawas.
"Tidak perlu mengingatkan ku akan apa yang harus aku lakukan!" kata prajurit itu dengan nada membentak lalu mendorong pria paruh baya itu hingga terjungkal.
Luo Ying dan Fang An sendiri kini mulai saling serang di dekat tumpukan batu yang akan diproses untuk dipisahkan antara batu dan logam.
Keduanya saling adu pukulan lalu mulai menggunakan batu-batu itu untuk saling lempar hingga mengenai beberapa pekerja serta merusak beberapa alat lainnya.
Para pekerja yang terkena lemparan batu juga mengambil batu dan melempar kembali ke arah kedua, hanya saja yang kena justru para pekerja yang lain.
Akibatnya para pekerja saling serang sehingga keributan pun tercipta membuat para Prajurit pengawas yang awalnya ingin menangkap Luo Ying dan Fang An agar berhenti membuat keributan kesulitan karena para pekerja yang mulai saling serang.
Masalah yang awalnya saling serang terhadap sesama pekerja kini mulai berpindah, mereka mulai menyerang para Prajurit.
__ADS_1
Walau ada beberapa prajurit yang memiliki kemampuan untuk bertarung, dengan jumlah pekerja yang terlalu banyak, tentu saja para prajurit itu tidak akan sanggup menghadapi amukan para Pekerja hingga beberapa prajurit harus menerima nasib mereka yang menjadi sasaran amukan para pekerja hingga kehilangan nyawa mereka.
Keributan besar di dalam hingga luar pertambangan menarik perhatian seluruh para prajurit sehingga mereka semua langsung memfokuskan diri mereka untuk menghentikan amukan para pekerja.
Lima orang pria paruh baya serta tiga wanita keluar dari dalam tenda setelah mendengar keributan, kedelapan sosok itu bukan orang sembarangan, mereka adalah para pemimpin pasukan pemberontak yang dijuluki sebagai Delapan Serigala Hutan.
Dengan mendengar nama Serigala saja sudah sangat jelas jika mereka pasti berasal dari Kelompok Bayangan Bulan, dan salah satu wanita dari tiga wanita itu adalah Wen Xixie, hanya saja tidak semuanya berasal dari Kelompok Bayangan Bulan.
"Ada keributan apa di dalam?" tanya salah satu pria paruh baya.
"Fu Long, cepat kamu periksa dan cari tahu apa yang sedang terjadi!" kata salah satu pria yang lain.
"Aku akan ikut dengan Tuan Fu!" kata Wen Xixie.
Keduanya segera bergerak dengan berlari di atas kepala para prajurit yang menuju ke dalam, dan sesampainya di dalam tambang, mereka melihat ratus pekerja yang mengamuk dan menyerang para prajurit dengan alat seadanya.
"Hentikan semuanya..!" seru Fu Long dengan suara yang mengandung energi hingga menggema ke seluruh pertambangan.
Semua mata segera menoleh ke arah kedua sosok yang berdiri diatas sebuah papan kayu yang menjadi tampak para prajurit pengawas berada.
"Bukankah orang itu adalah orang yang menyerang Desa waktu itu?" Fang An langsung mengenali kedua sosok itu dan berbicara kepada Luo Ying.
"Tidak salah lagi, itu memang mereka! Tapi kenapa mereka berada disini, apakah mereka adalah kelompok yang membentuk kelompok Pemberontak ini?" kata Luo Ying.
Mata Wen Xixie menyapu semua orang dari atas dengan tatapan tajam, dan setelah itu kedua matanya melebar saat pandangannya jatuh kepada seorang bocah berambut putih yang agak jauh disana.
"Bocah itu…!? Kenapa dia juga berada disini? Jangan-jangan keributan ini ada hubungannya dengan kedua anak muda itu? Tunggu apakah wanita itu juga ada disini?" batin Wen Xixie dengan mata menjelajahi seluruh tempat pertambangan dengan ekspresi wajah sedikit tegang, jelas yang dicari oleh Wen Xixie adalah Wanita cantik berbaju putih yang memiliki Spirit Root Elemen Es serta memiliki kemampuan Yu Zhu elit.
"Wanita itu tidak ada disini, kalau begitu aku akan menangkap anak itu!" batin Wen Xixie setelah itu dia bicara kepada Fu Long.
"Tuan Fu, lihatlah kedua anak itu, kamu masih ingat mereka bukan? Sebaiknya kita tangkap kedua anak muda itu untuk membalaskan kematian Tuan Lan!" kata Wen Xixie.
"Iya itu memang mereka! Kebetulan mereka berdua ada disini, jadi aku bisa membunuh mereka berdua!" kata Fu Long.
Wen Xixie dan Fu Long saling mengangguk dan bersiap untuk melompat, namun belum sempat mereka bergerak, suara teriakan dari luar serta genderang menggema di seluruh bukit.
"Itu suara genderang perang! Siapa yang menyerang Benteng ini?" tanya Wen Xixie.
__ADS_1
Fu Long mengepalkan tangannya erat-erat menatap Luo Ying dan Fang An, namun mendengar suara peperangan di luar, akhirnya dia memilih untuk keluar dan di ikuti oleh Wen Xixie.