
***
Fang An dan Singa Es terus terbang ke arah Selatan, mereka hanya beristirahat saat malam, sedangkan siang harinya hanya beristirahat sebentar saja.
Tanpa terasa sudah sebulan mereka melakukan perjalanan tersebut, kali ini Fang An harus berhenti di sebuah kota untuk membeli kebutuhan seperti makanan serta ingin mencari beberapa tanaman obat.
Fang An meninggalkan Singa Es nya di luar karena takut akan menarik perhatian banyak orang, dan dia berjalan kaki memasuki kota yang Fang An sendiri tidak tahu nama Kota tersebut.
Saat dia menelusuri jalan kota, tiba-tiba saja ada gadis berusia 14 tahunan yang berlari ke arah Fang An, hanya saja pandangan gadis itu menoleh ke belakang.
Fang An langsung memegang kedua bahu gadis itu agar tidak menabraknya, hal itu membuat gadis itu kaget.
"Hati-hati Nona muda, ini jalanan kota yang dipenuhi banyak orang berlalu lalang!" kata Fang An.
"Ah, maaf-maaf!" ucap gadis berpakaian lusuh serta memiliki beberapa tambalan yang di jahit di pakaiannya.
Wajah gadis itu terlihat seperti ketakutan dan sesekali menoleh ke belakang, seolah-olah dia sedang dikejar oleh seseorang.
Melihat Fang An tidak ingin membicarakan apapun lagi, gadis itu langsung membungkuk dan kemudian dia kembali berlari dengan tergesa-gesa.
"Ada apa dengan gadis itu? Ah sudahlah!" ucap Fang An dan kemudian dia berniat melanjutkan perjalanannya untuk mencari rumah makan, namun baru saja dia berbalik, tiba-tiba saja ada tujuh orang pria dewasa berbadan kekar memegang palu besar berlari ke arahnya.
Awalnya Fang An tidak menghiraukan mereka, namun saat ketujuh pria kekar itu melewati dirinya, dia mendengar pembicaraan diantara mereka.
"Cepat sekali larinya gadis itu! Tapi dia tidak mungkin jauh dari sini, lihat saja jika berhasil ku tangkap, akan aku hancurkan tulang-tulang kedua kakinya itu!" kata salah satu dari mereka yang semakin menjauhi Fang An.
Dari yang terlihat sudah bisa ditebak jika mereka bukanlah orang baik, karena Fang An sudah tahu jika mereka sedang mengejar gadis yang tadi hampir menabraknya, Fang An tidak tega jika harus membiarkan gadis itu tertangkap oleh mereka, jadi dia berbalik arah dan kemudian segera mengikuti ketujuh pria kekar tersebut.
"Hahaha! Sekarang mau lari kemana lagi kamu? Ayo ikut kami jika kamu tidak ingin kakak mu mati."
Setelah berlari cukup lama akhirnya mereka berhasil menemukan gadis itu yang terjebak di gang buntu, anehnya semua orang yang melihat itu seperti tidak peduli sama sekali.
"Kakak Lang, tolong lepaskan aku! Aku tidak mau kerja menipu orang lagi, biarkan aku dan kakakku pulang," kata gadis itu dengan tangisannya.
"Baiklah, aku tidak akan menyuruhmu bekerja menipu orang lagi, namun sebagai gantinya, kamu harus memilih dua pekerjaan lainnya, yang pertama, aku akan mematahkan kedua kakimu dan kamu bisa kerja mengemis untuk kami, atau kami akan membelikanmu baju bagus dan kamu menjadi gadis penghibur! Jadi kamu mau pilih yang mana?" tanya pria yang dipanggil kakak Lang oleh gadis itu.
Tangisan gadis itu semakin pecah mendengar dua pekerjaan yang harus di pilih olehnya, sedangkan ketujuh pria kekar itu semakin tertawa terbahak-bahak mendengar tangisan gadis yang masih sangat belia itu.
__ADS_1
"Longli, sebaiknya kamu pilih yang kedua saja, kamu ini masih sangat muda dan segar, pasti tubuhmu itu langsung laku, tapi jika kamu bersedia memilih pekerjaan yang kedua, maka kami semua yang harus menikmati mu terlebih dahulu! Bukankah sayang jika tubuh segarmu didahului oleh orang lain. Daripada pilihan yang pertama, masak gadis muda yang masih segar harus cacat dan mengemis, bagaimana?" kata pria yang satunya.
"Bedebah!"
Kedua tangan Fang An mengepal erat hingga suara bunyi persendian jari-jarinya terdengar, hal yang paling Fang An benci adalah seseorang yang tidak menghormati wanita, baik itu wanita yang masih gadis, maupun yang sudah tua.
"Sudahlah kakak Lang, sebaiknya patahkan saja kedua kakinya, biar dia tidak bisa kabur lagi dari organisasi kita!" kata Pria kekar yang terlihat lebih muda.
"Hem, kamu benar juga!" ucap Pria yang dipanggil Kakak Lang itu lalu dia mengangkat palunya yang dia letakkan di bahunya kemudian menaruhnya di atas tanah.
"Sayang sekali waktu mu untuk memilih sudah habis, cepat pegang dia!" ucapnya.
"Tidak kakak Lang, aku mohon jangan patahkan kedua kakiku!" kata gadis itu yang sangat ketakutan.
Dua pria kekar segera memegangi gadis itu sehingga membuat gadis itu memberontak untuk meloloskan diri, dua pria lainnya langsung mengambil masing-masing satu kaki gadis itu dan kemudian tubuh gadis itu di terlentangkan di atas tanah sedangkan pria yang sejak tadi di panggil Kakak Lang mengangkat palu besarnya dan menghampiri gadis tersebut yang menangis sejadi-jadinya.
Baru saja pria itu berjalan tiga langkah, tiba-tiba saja sebilah pedang besar berwarna biru jatuh dari langit dan menancap tepat di hadapan pria yang berniat mematahkan kedua kaki gadis itu.
Pria tersebut langsung menelan ludahnya, di samping kaget, Pedang Biru besar itu hampir saja menancap di telapak kaki kirinya.
"Siapa yang berani ikut campur urusan Organisasi Palu Hitam kami? Cepat keluar dan tunjukkan dirimu!" kata Pria itu yang sudah mundur satu langkah.
"Siapa kamu, dan mengapa kamu ikut campur urusan kami, apa kamu tahu siapa kami ini?" kata Pria tersebut.
"Aku tidak tahu siapa kalian, dan juga tidak mau tahu akan siapa kalian, yang aku mau kalian harus melepaskan gadis itu, jika tidak maka aku akan memotong kedua kaki kalian semua!" kata Fang An.
Gadis itu terkejut setelah mengenali suara pemuda itu, walau dia tidak bisa melihat karena pandangannya terhalang oleh tubuh para pria kekar di hadapannya, namun gadis itu masih ingat akan pemilik suara itu, dia sangat yakin suara itu adalah suara pemuda yang tadi hampir ditabraknya serta menegurnya untuk berhati-hati.
"Hahaha! Kamu pikir kamu itu kuat dan mampu memotong kedua kaki kami semua? Perlu kamu tahu, kami adalah anggota Organisasi Palu Hitam, Organisasi paling ditakuti di Kota Tianyang ini! Apa kamu tidak takut setelah mengetahui akan siapa kami?"
Fang An hanya tersenyum dingin lalu dia mengarahkan tangannya ke arah Pedang Birunya yang masih tertancap di tanah, dan kemudian Pedang besar itu terbang dengan sendirinya dan kemudian melesat kembali ke tangan Fang An.
"Aku tidak peduli apakah kalian berasal dari Organisasi Palu Bangunan atau apapun itu! Aku paling tidak suka jika ada orang yang tidak menghormati seorang wanita, sebab itu sama saja kalian telah melecehkan ibu kalian sendiri, atas nama wanita dan juga kehormatan serta martabatnya, aku akan memberikan kalian hukuman agar kalian sadar!" ucap Fang An dan kemudian dia melepaskan energinya yang langsung menciptakan hembusan angin kuat yang menyebar ke segala arah.
"Seorang Yu Zha!"
Ketujuh pria itu terkejut saat mengetahui kekuatan pemuda tersebut ternyata memiliki kemampuan Yu Zha Tingkat 1, mereka bertujuh saling berpandangan sebab kemampuan mereka semua hanya berada di tahap Yu Zhe.
__ADS_1
Orang-orang yang berlalu lalang segera menjauh setelah Fang An melepaskan energinya, mereka semua yakin akan ada pertarungan antara ketujuh anggota Organisasi Palu Hitam dengan pemuda itu.
"Sejak kapan di Kota Tianyang ini ada seseorang yang memiliki kemampuan Yu Zha?" tanya salah satu dari mereka.
"Dia mungkin bukan berasal dari Kota ini!" jawab rekannya.
"Lalu bagaimana selanjutnya, kita tidak mungkin melawan pemuda ini bukan? Kekuatannya sangat jauh berbeda sekali dengan kita!" kata pria yang satu lagi.
Semuanya hanya diam karena tidak memiliki solusi lagi, mereka baru sadar jika mereka telah berusaha menendang sebuah gunung besar di hadapan mereka, apalagi melihat tatapan cahaya yang sangat marah itu jelas tidak akan mau berdamai.
Salah satu dari mereka menoleh ke arah gadis tersebut yang sudah berada di pojok tembok, dengan cepat dia menghampirinya dan kemudian dia langsung mendekap dengan meletakkan palunya di kepala gadis itu.
"Jangan coba-coba maju, jika berani melangkah satu langkah saja, maka kepala Longli akan aku pecahkan!" ucapnya dengan palunya yang siap untuk memecahkan kepala gadis tersebut yang ketakutan serta wajahnya menjadi pucat.
"Kalian benar-benar bedebah!" kata Fang An seraya menancapkan Pedangnya kembali ke tanah.
Mereka semua mengira pemuda itu tidak akan melakukan apa-apa, sebab pemuda itu sudah kembali menancapkan Pedangnya kembali ke tanah, hanya saja perkiraan mereka keliru.
Pemuda itu tiba-tiba saja menghilang dan hanya menyisakan Pedangnya serta sisa kilatan Cahaya di bekas pijakan kakinya, saat semuanya baru kebingungan, tiba-tiba saja suara benturan keras serta erangan dari belakang mengejutkan keenam pria lainnya.
Ketika mereka menoleh kebelakang, ternyata rekan mereka telah tewas dengan dadah hangus serta pakaiannya juga seperti telah terbakar.
"Apa yang telah terjadi?" tanya salah satu dari mereka.
Semuanya jelas tidak ada yang melihat serta tidak tahu akan apa yang telah terjadi, yang mereka lihat hanya rekannya yang sudah tak bernyawa, sedangkan gadis itu sudah berada di samping Pemuda itu yang sudah kembali lagi ke posisi pertamanya.
"Gerakannya terlalu cepat, sebaiknya kita pergi dari sini!" ucap salah satu dari mereka.
"Nona, tunggulah disini sebentar!" kata Fang An kepada gadis itu yang masih bingung akan apa yang telah terjadi pada dirinya, sebab hanya dalam waktu singkat saja, tiba-tiba saja dia sudah berada di samping pemuda itu yang sedang memegang tangannya.
Fang An mencabut kembali pedangnya sedangkan keenam pria yang tersisa langsung bergerak lari secepat mungkin menjauhi pemuda itu.
"Mau kabur dariku? Tidak semudah itu!" kata Fang An kemudian tubuhnya melesat secepat kilat mengejar mereka semua dan hanya dalam lima tarikan nafas saja, keenam pria itu sudah tergeletak dengan suara jeritan keras, sebab kedua kaki mereka benar-benar telah dipotong oleh pemuda tersebut.
Jelas mereka tidak bisa melihat akan gerakan pemuda itu yang melesat bagai cahaya petir, tiba-tiba saja mereka jatuh dan beberapa detik kemudian mereka merasakan dingin di kedua betis mereka sebelum akhirnya rasa sakit yang luar biasa mulai mereka rasakan, saat itulah mereka melihat jika kedua kaki mereka benar-benar telah dipotong, hal ini sama seperti rencana mereka yang ingin mematahkan kedua kaki gadis itu agar tidak bisa berjalan, sekarang justru mereka yang merasakannya.
"Ayo kita pergi dari sini!" kata Fang An yang sudah menyimpan kembali pedangnya di dalam Cincin Ruang dimensi portal.
__ADS_1
Gadis itu hanya mengangguk bingung, di samping kepalanya pusing dan ingin muntah melihat darah para anggota Organisasi Palu Hitam itu, dia juga masih belum tahu akan apa yang telah terjadi.