
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Eric duduk di hadapan dokter yang menangani Heera dengan perasaan yang sangat cemas.
"Bagaimana dengan kondisi Heera, Dok? Kenapa dia mimisan? Bahkan saya melihat dia mengerang kesakitan," ujar Eric menceritakan apa yang ia lihat kepada dokter.
Dokter tampak menghela napasnya. "Anda siapanya ibu Heera ya? Saya adalah dokter yang menangani ibu Heera selama ini," ujar dokter dengan bertanya.
"S-saya adalah mantan suaminya Heera, Dokter. Katakan apa yang terjadi pada mantan istri saya! Kenapa dia bisa seperti itu?" tanya Eric dengan tak sabaran.
Dokter menatap Eric dengan serius. "Ibu Heera sudah lama mengidap leukimia, beberapa bulan ini keadaannya sudah terlihat membaik. Tetapi setelah saya melakukan pemeriksaan lagi kanker yang di derita ibu Heera semakin menyebar, bisa saja ibu Heera akan kehilangannya nyawanya karena sel kanker yang terus menyebar di tubuhnya," ujar dokter yang membuat Eric mengusap wajahnya dengan kasar.
Penjelasan dokter membuat jantung Eric seakan berhenti berdetak. Ya Tuhan, Heera... Semenderita itukah kamu? Batin Eric dengan lirih.
"Dok, lakukan apapun asal mantan istri saya selamat. Saya akan mengeluarkan uang berapa pun asal Heera sembuh," ujar Eric dengan tegas.
Dokter tersenyum tipis. "Semua biaya pengobatan ibu Heera sudah di tanggung oleh nona Rania sampai ibu Heera sembuh, Pak. Tapi kembali lagi, semua sudah ada yang menentukan. Saya hanya bisa membantu semaksimal saya selebihnya hanya takdir Tuhan yang menentukan," ujar dokter yang membuat Eric mengerti.
"Biaya rumah sakit alihkan saja kepada saya, Dok. Kalau perlu saya akan membawa Heera ke luar negeri," ujar,Eric dengan tegas.
"Itu bukan ranah saya, Pak. Sebaiknya anda bicarakan pada nona Rania dan keluarganya karena saya tidak bisa mengambil keputusan untuk soal siapa yang bayar biaya pengobatan ibu Heera," ujar dokter tersebut dengan tegas.
"Baik, terima kasih! Kalau begitu saya permisi, Dok!"
"Iya, Pak!"
Akhirnya Eric keluar dari ruangan dokter dengan perasaan hampa. Ia harus segera kembali ke ruangan Heera untuk menjaga mantan istrinya bahkan telepon istrinya ia abaikan begitu saja.
__ADS_1
"Astaga Heera... Kamu mau kemana? Ayo istirahat dulu ya," ujar Eric dengan panik saat Heera melepaskan selang infus di tangannya dan berjalan hendak keluar dari ruangan.
"Saya tidak bisa berlama-lama di sini. Ferdians dan Rania butuh saya," ujar Heera dengan pelan.
"Tapi kondisi kamu masih lemah, Heera. Istirahat sebentar saja ya," ujar Eric dengan lembut.
Heera menggelengkan kepalanya. "Saya tidak mau membuat kedua anak saya khawatir. Kamu jangan menahan saya," ujar Heera dengan tegas.
"Heera..."
"Eric, stop! Kita tidak memiliki hubungan apapun lagi. Jangan sok khawatir kepada saya," ujar Heera dengan tegas.
Eric menghela napasnya dengan pelan. "Baiklah saya tidak akan menahan kamu lagi. Tapi izinkan saya untuk ikut dengan kamu, saya khawatir dengan kamu dan Ferdians," ujar Eric.
Heera memejamkan matanya dengan pelan. Berdebat dengan Eric akan membuat dirinya lebih lama di sini dan pasti Rania akan mengkhawatirkan dirinya.
"Tapi izinkan saya juga bertemu dengan Ferry. Saya merindukan Ferry. Selama ini saya menahan rindu, bahkan saya berharap Ferry akan pulang ke rumah saya. Saya tahu jika kehidupan Ferry akan terjamin jika hidup dengan kamu dan Gista, saya mencoba ikhlas tapi sampai sekarang ketika saya mengingat itu semua hati saya masih sakit. Saya selalu berharap bisa bertemu dengan Ferry dan bisa berkumpul dengan Ferry. Saya, Ferdians, dan Ferry akan bersama lagi," ujar Heera dengan lirih.
"I-iya kamu sangat boleh bertemu dengan Ferry. Tapi setelah kondisi kamu membaik ya, kita akan bersama-sama menemuinya," ujar Eric dengan tersenyum pedih.
Heera menatap Eric tidak percaya bahkan matanya sampai berkaca-kaca sangking bahagia karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan anak pertamanya.
"Ya Tuhan... Aku tidak tega melenyapkan senyuman itu lagi. Maafkan aku, Heera. Jika kita masih bisa bersama, maka aku akan melakukan apa saja agar kita bisa bersama kembali untuk menghapus semua rasa bersalahku kepada kamu," gumam Eric di dalam hati.
"Heera, tapi kamu mengizinkan saya untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Ferdians jika saya adalah ayah kandungnya, kan?" tanya Eric dengan hati-hati.
Senyum Heera lenyap begitu saja. Ketakutan saat Eric akan mengambil anaknya membuat Heera bimbang tapi semuanya sudah terbongkar. Hanya Ferdians yang belum mengetahui jika Eric adalah ayah kandungnya. Jadi, untuk apa ia merahasiakan ini semua lagi?
"Biar saya saja yang mengatakannya dengan Ferdians," jawab Heera yang membuat Eric tersenyum.
"Terima kasih, Heera. Kalau begitu ayo kita ke ruangan Ferdians," ujar Eric dengan tersenyum.
__ADS_1
Heera mengangguk, ia lebih memilih jalan duluan meninggalkan Eric di belakangnya. Perasaannya masih sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan Ferry. Heera tidak tahu jika kebahagiaan yang ia rasakan ini akan berganti dengan rasa sedih yang sangat luar biasa ketika mengetahui fakta jika anak pertamanya telah meninggal. Dan ketika itu sudah tiba maka hati Heera akan kembali merasakan sakit yang luar biasa seperti dahulu setelah Eric mengambil Ferry di dalam hidupnya. Heera tidak tahu, jika berulang kali Eric menggumamkan kata maaf yang di sampaikan untuk dirinya.
***
Ferdians dan Rania melihat ke arah pintu yang terbuka, keduanya tersenyum saat melihat Heera datang dengan membawa makanan untuk Rania, karena sebelum Heera kembali ke ruangan Ferdians Eric telah pergi ke kantin terlebih dahulu.
"Kamu sudah sadar, Nak? Ya Tuhan... Terima kasih," ujar Heera dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah, Bu! Sini, Bu. Ferdians merindukan, Ibu!" ujar Ferdians dengan lembut.
Heera menghampiri anaknya dan memeluknya dengan erat.
"Ibu kok lama sekali? Ibu tidak apa-apa, kan?" tanya Rania dengan cemas.
Heera tersenyum menatap Rania. "Tidak apa-apa, Nak. Tadi Ibu mencari udara segar di luar sebentar, Ibu tidak tahu jika Ferdians sudah sadar. Maafkan Ibu ya," ujar Heera dengan lirih.
"Ibu tidak salah. Yang terpenting Ibu baik-baik saja," ujar Rania dengan tersenyum.
Ferdians menatap seseorang yang di tak jauh dari ibunya. Seseorang yang sangat mirip dengannya.
"Bu, kenapa pak Eric ada di sini?" tanya Ferdians dengan bingung.
Eric mendekat ke arah Ferdians, Heera dan Rania. Ia menatap wajah anaknya dengan penuh kerinduan.
Heera menatap Eric dan Ferdians bergantian, sudah saatnya Ferdians tahu jika Eric adalah ayah kandungnya.
"D-dia adalah ayah kandungmu, Nak. M-maafkan Ibu yang sudah merahasiakan semua ini kepada kamu," ujar Heera dengan lirih.
"A-ayah kandung?"
Ekspresi wajah Ferdians sangat terkejut mendengar ucapan ibunya, sangking terkejutnya Ferdians sampai terdiam. Bibirnya keluh untuk sekedar berucap kepada orang-orang yang bersama di ruangannya saat ini.
__ADS_1