
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Liam, Ricard, dan Nico melihat ke arah Ferdians dengan sangat aneh. Mereka saling pandang satu sama lain, ketiganya seakan bertanya kenapa dengan suami nona-nya ini? Sastra yang keracunan tapi kenapa wajah Ferdians yang memelas seakan tidak bersemangat sama sekali?
"Tuan Ferdians!" panggil Liam dengan hati-hati.
"Hmmm..." jawab Ferdians dengan berdehem.
"Kenapa Tuan Ferdians? Aneh banget! Ketularan virus nona Rania kali ya?!" bisik Ricard yang masih bisa di dengar oleh Ferdians.
"Coba katakan yang keras, Ricard!" ujar Ferdians dengan tajam.
"Hehe... Maaf, Tuan. Saya merasa anda malam ini begitu sangat aneh," ujar Ricard dengan terkekeh dan meringis ketika melihat wajah Ferdians yang menatap tajam ke arah Ricard.
"Yang belum menikah tidak akan tahu rasanya! Jadi, jangan banyak tanya!!" ujar Ferdians dengan ketus yang membuat Liam, Ricard, dan Nico menelan ludahnya dengan kasar.
"Iya sih Tuan kami memang masih jomblo," ujar Nico dengan sendu.
Ferdians mendengkus dengan kesal menatap ketiga pengawal Rania. Badan saja yang kekar tapi sangat takut dengan Rania!
Ferdians mendengar suara pintu terbuka, ia yakin pasti Rania yang keluar dari ruangan Sastra. Kenapa tidak di dalam saja menjaga Sastra hingga lelaki sembuh? Ferdians masih merasa jengkel dengan istrinya.
Rania menatap ketiga pengawalnya. Ia menyuruh ketiganya masuk ke dalam ruangan Sastra tanpa suara. Liam yang langsung peka langsung mengajak kedua anak buahnya untuk masuk ke ruangan Sastra.
Setelah ketiganya masuk Rania duduk di samping suaminya. "Sudah menelepon Papa?" tanya Rania dengan tegas.
"Sudah!" jawab Ferdians dengan singkat.
"Terus orang yang mau meracuni saya sudah ketemu?" tanya Rania.
"Belum!" jawab Ferdians.
Rania mencibik kesal saat jawaban Ferdians terlalu singkat untuknya. "Kamu kenapa sih?" tanya Rania dengan kesal.
"Tidak apa-apa," jawab Ferdians dengan cuek.
"Ini sudah malam kamu mau pulang atau tidak?" tanya Ferdians melihat jam di pergelangan tangannya.
"Iya!" jawab Rania dengan kesal.
"Oke!"
Ferdians berdiri dari duduknya di susul dengan Rania. Rania mengepalai kedua tangannya saat Ferdians mengabaikan dirinya, sangking kesalnya ia menabrak lengan Ferdians dan berjalan dengan cepat meninggalkan Ferdians begitu saja.
"Kenapa dia yang marah jadinya?" monolog Ferdians dengan menghela napasnya dengan pelan.
"Dasar wanita!" ucap Ferdians dengan ketus.
__ADS_1
"Cepatlah! Saya sudah sangat lelah!" ujar Rania dengan keras.
"Iya tunggu!" ujar Ferdians mengalah.
Ferdians menyusul istrinya, ia membukakan pintu untuk Rania yang terlihat sangat kesal sekarang.
"Dasar wanita tidak peka! Seharusnya wanita itu paling peka dengan perasaan pasangannya. Tapi ini? Huh... menyebalkan sekali! Tapi aku sayang," gumam Ferdians di dalam hati.
"Cepat jalan atau mau tidur di mobil?!" ujar Rania dengan tajam.
"Kenapa kamu jadi marah? Kamu memang tidak peka dengan perasaan suami kamu ya! Lebih khawatir dengan pria lain!" ujar Ferdians dengan datar.
"Yak berani sekali kamu berkata seperti itu kepada saya? Sastra itu orang kepercayaan saya yang sudah sangat lama bekerja dengan saya! Kamu cemburu sama Sastra?" ujar Rania dengan kesal.
"Wajar saja kalau saya cemburu karena saya cinta sama kamu. Sudah berapa kali saya katakan saya itu cinta sama kamu walaupun awalnya saya ini adalah suami bayaran kamu," ujar Ferdians dengan kesal.
"Cinta? Sudah saya katakan kita tidak boleh memakai perasaan dalam..."
Cup...
Rania terdiam saat Ferdians mengecup bibirnya dengan lembut. Ia menatap mata Ferdians dengan sangat dalam.
Ferdians melepaskan ciumannya. "Saya serius! Saya tidak ingin kita berakhir. Saya mencintai kamu, Rania!" ujar Ferdians dengan lembut.
"Untuk saat ini memang saya tidak memiliki apa-apa tapi saya sedang berusaha untuk membuat kamu bahagia dengan hasil kerja keras saya untuk mengidupi kamu, ibu dan kedua anak kita dengan uang saya!" ujar Ferdians dengan tegas.
"Buktikan saja!" ujar Rania dengan datar lalu setelah itu Rania menatap ke arah jendela karena saat ini hatinya bergejolak, entah mengapa ia sangat senang mendengar penuturan Ferdians yang sangat serius untuk membahagiakan dirinya Tetapi egonya masih terlalu tinggi untuk mengakui perasaannya saat ini kepada Ferdians karena sejujurnya Rania juga tidak tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya pada Ferdians, terkadang ia sangat senang dengan kehadiran Ferdians tetapi terkadang ia merasa pernikahan ini harus cepat berakhir. Tapi apakah dirinya akan sanggup kehilangan Ferdians dan Heera sekaligus di dalam hidupnya?
Rania tersentak saat Ferdians mengusap perutnya dengan perlahan. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi menikmati elusan lembut Ferdians pada perutnya, sepertinya kedua anaknya memang tidak bisa jauh dari papanya.
"Sastra bukan pria lain!" ujar Rania dengan datar.
"Aku tahu! Tapi rasanya begitu menyakitkan karena kamu lebih peduli dengan Sastra daripada aku," ujar Ferdians dengan menghela napasnya dengan pelan.
"Aku tahu ini aneh karena Sastra memang sudah bersama kamu sejak lama dibandingkan aku! Tapi tetap saja aku cemburu aku tidak mengendalikan rasa cemburuku!" ujar Ferdians dengan tegas.
"Kondisikan kecemburuan kamu dengan Sastra karena saya tidak mungkin menyukai Sastra!" ujar Rania dengan datar yang membuat Ferdians tersenyum.
"Itu artinya ada kemungkinan kamu menyukaiku, kan? Aku tahu maksudmu, Sayang!" ujar Ferdians terkekeh.
"Terlalu percaya diri sekali eh!" ujar Rania dengan menyeringai.
"Tentu saja! Karena bagaimanapun aku lah pemenangnya, di dalam rahim kamu benihku sudah tumbuh dengan sangat baik. Aku akan menjaga kalian dengan segenap jiwa dan raguku walaupun nyawaku adalah taruhannya," ujar Ferdians dengan kesal.
Rania tersenyum kecil mendengar ucapan Ferdians. "Saya lelah! Saya ingin tidur!" ujar Rania yang di angguki oleh Ferdians.
"Kita pulang!" ujar Ferdians dengan tegas.
Rania menatap Ferdians dan dengan perlahan ia merebahkan kepalanya di dada bidang Ferdians yang selalu membuatnya nyaman.
"Saya ingin rujak, Mas!" gumam Rania yang membuat Ferdians tersenyum.
__ADS_1
"Kita beli, Sayang! Apapun yang kamu mau aku berusaha membelikannya," ujar Ferdians yang membuat Rania tersenyum.
"Cepat aku ingin sekali memakannya!"
"Tidak jadi ngantuk?" tanya Ferdians dengan mengusap kepala Rania dan menciumnya dengan perlahan.
"Rujak dulu baru tidur!"
"Oke bumil cantik kita cari rujak dulu ya!" ujar Ferdians dengan senang hati.
Rania mengangguk dan ia mencari kenyamanan, selama Ferdians menyetir Rania memejamkan matanya untuk sejenak.
****
Pagi harinya....
Tanpa sepengetahuan Alex, Citra mengunjungi Sastra diam-diam ke rumah sakit. Bagaimanapun Citra juga merasa khawatir dengan mantan suaminya, ia tidak bisa berdiam diri saja di rumah, Citra harus memastikan jika Sastra baik-baik saja walaupun ia merasa cemburu dengan Sastra yang lebih mementingkan Rania dari dulu sampai sekarang.
Tubuh Citra mematung saat pintu yang ingin ia buka ternyata sudah di buka oleh seseorang.
"Citra!" gumam Sastra saat melihat mantan istrinya berada di hadapannya.
Awalnya Sastra hanya ingin ke luar sebentar untuk menghilangkan rasa suntuknya berbaring di dalam, dengan memegang infus miliknya Sastra ingin keluar ke taman.
"Saya ke sini habis melihat teman yang juga sakit!" ucap Citra dengan berbohong.
"Terus kamu kenapa berada di depan ruangan saya?" tanya Sastra dengan bingung.
"Pak Alex meminta saya untuk menemui anda karena bagaimanapun anda adalah rekan kerjanya otomatis rekan kerja saja juga," jawab Citra dengan datar.
Citra merasa lega saat melihat Sastra baik-baik saja walaupun wajahnya masih sedikit pucat.
"Lalu di mana Alex?" tanya Sastra dengan dingin.
"Pak Alex tidak bisa datang karena banyak pekerjaan di kantornya," jawab Citra.
Sastra menghela napasnya dengan perlahan. Ia merasa Citra berbohong kepada dirinya.
"Ayo masuk!" ujar Sastra dengan pelan.
"Tidak usah! Saya rasa anda sudah baik-baik saja kalau begitu saya pulang dulu," ujar Citra dengan tegas.
"Masuklah! Saya bosan di dalam," ujar Sastra.
"Ayo masuk! Anggap saja kita sedang bahas pekerjaan," ujar Sastra.
"Oke... Tapi hanya sebentar!"
"Iya!"
Citra akhirnya masuk ke ruangan Sastra. Sastra melihat punggung mantan istrinya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Sepertinya tubuh itu lebih kuat daripada dulu," gumam Sastra di dalam hati.
"Kenapa aku ke sini? Kenapa aku masih peduli dengannya?" gumam Citra merutuki dirinya sendiri.