Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 19 (Tempat Ternyaman)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Ferdians dan Rania sedang menikmati sunset di desa sunset yang sangat indah sekali, keduanya sejak pagi menikmati liburan mereka dengan tenang dan tanpa ada suara ketus atau pedas yang keluar dari Rania.


Oiasunset, pesona senja penuh cinta dari semesta. Rania sangat menikmati bulan madu mereka dengan mengunjungi tempat-tempat yang sangat romantis sekali seperti tempat ini yang begitu sangat indah di kala senja datang menyapa.


Ferdians melihat ke arah Rania, ia mendekat ke arah Rania dan memeluk tubuh Rania hingga tubuh Rania dan dirinya begitu dekat tak ada jarak. Ferdians memiringkan wajahnya hingga ia berhasil mencium Rania dengan lembut, seakan Ferdians ingin mengatakan jika Ferdians sangat menyayangi Rania dan peduli tentang istrinya. Walaupun pernikahan mereka karena sebuah perjanjian dan dirinya adalah suami bayaran Rania, tetapi Ferdians menganggap jika pernikahanmereka tidak akan berakhir sampai kapanpun.


Rania membalas ciuman Ferdians dengan perlahan hingga keduanya melepaskan ciuman mereka karena membutuhkan oksigen yang memang sudah menipis.


"Berada di tempat ini kamu merasa bahagia tidak?" tanya Ferdians dengan pelan.


"Entahlah! Saya lupa bahagia itu apa," jawab Rania dengan pelan.


"Lupa? Bukan lupa hanya saja kamu terlalu membatasi diri padahal diri kamu juga butuh bahagia," ujar Ferdians dengan tersenyum sinis.


"Jangan sok tahu kamu!" ujar Rania dengan ketus.


"Bukan sok tahu tapi memang itu yang terjadi!" ujar Ferdians tak mau kalah hari ini.


"Rania!" panggil Ferdians dengan menangkup wajah Rania.


"Di dunia ini kita perlu pasangan untuk bahagia. Pasangan adalah pelengkap kebahagiaan kita. Jadi, sebelum kita memang benar-benar berpisah bisakah kamu menganggap saya adalah pasangan kamu?" gumam Ferdians dengan serius.


"Tidak bisa! Saya tidak ingin membawa perasaan dalam hubungan kita! Kamu adalah suami bayaran saya sesuai dengan perjanjian kita. Jangan menyalahi aturan yang sudah ada," jawab Rania dengan tegas.


"Jika saya tidak ingin melepaskan kamu. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ferdians dengan serius.


"Sudah saya bilang jangan menyalahi aturan yang sudah kita buat, Ferdians!" ucap Rania dengan tegas.


"Peraturan itu bukan kita yang membuatnya, Rania. Tapi kamu! Saya tanya sekali lagi jika saya tidak akan melepaskan kamu sampai kapanpun bagaimana?" ujjar Ferdians dengan tegas.


"Saya akan tetap mau berpisah dengan kamu!"

__ADS_1


"Dan membuat anak kita kehilangan sosok seorang papa begitu? Kamu tega membuat anak kamu kehilangan sosok papanya? Jangan menjerumuskan anak kita seperti kamu," ujar Ferdians dengan tegas.


"Kamu tidak bisa mengatur saya!" ujar Rania dengan dingin.


Ferdians menghela napasnya dengan pelan. Ternyata Rania masih sangat keras kepala. Ferdians mengelus rambut Rania dengan lembut.


"Kamu juga tidak bisa mengatur perasaan saya, Rania. Apapun yang terjadi nanti saya akan berusaha mempertahankan kamu. Jika pun nanti kita berpisah saya pastikan kita akan kembali bersama di waktu yang tepat," ujar Ferdians dengan tegas.


"Lelaki hanya sering berjanji tetapi tidak pernah menepati makanya saya tidak ingin berkomitmen dengan lelaki manapun. Jadi, jangan paksa saya untuk bersama ketika saya tidak ingin itu terjadi jika kamu tidak ingin sakit hati," ujar Rania dengan sarkas.


"Lelaki yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah melakukan itu," ujar Ferdians dengan pelan.


Rania hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Ferdians yang menurutnya bohong. Rania sudah terlanjur membenci, terlanjur sakit hati dengan sikap papanya yang terlihat terlalu cepat melupakan mamanya.


"Papa juga pernah mengatakan itu pada mama. Tapi apa? Perkataan itu hanya omong kosong! Dia sangat mudah menikah dengan sahabat mama sendiri dalam waktu yang sangat dekat setelah kepergian mama. Sahabat yang telah menusuk mama dari belakang," ujar Rania dengan dingin.


Ferdians tidak bisa berkata lagi, ia lebih memilih memeluk Rania dari samping yang membuat Rania menyandarkan kepalanya di dada Ferdians yang membuat dirinya tenang dan nyaman.


Apakah Ferdians memang tempat ternyamannya saat ini?


****


"Naik!" ujar Ferdians ketika berjongkok di hadapan Rania.


Rania mengeryitkan kedua alisnya tak mengerti dengan Ferdians yang sudah berjongkok di hadapannya.


"Ayo Sayang naik! Aku tahu kamu lelah karena kita sudah berjalan cukup jauh," ujar Ferdians dengan lembut.


"Tidak usah! Saya masih kuat!" jawab Rania dengan cuek.


"Ayo naik! Kali ini saja gak usah membantah suami bisa?!" ucap Ferdians dengan tegas.


"Ferdians kamu tidak lupa tentang perjanjian kita, kan?" tanya Rania dengan tajam.


Ferdians melihat ke arah Rania. "Tentu saja tidak lupa, Rania. Tapi saat ini kita sedang honeymoon aku mau kita seperti pasangan pada umumnya. Ini tidak berlangsung lama hanya tinggal beberapa hari saja kita di sini dan setelah kita kembali mungkin ini tidak akan terjadi lagi," ujar Ferdians dengan tegas.


"Ayo cepat naik!" ujar Ferdians memerintah Rania untuk naik ke punggungnya.

__ADS_1


Rania tampak bimbang tetapi karena kakinya memang sudah pegal akhirnya Rania naik ke punggung Ferdians. Kini, Rania sudah di gendongan Ferdians yang membuat Ferdians tersenyum bahagia saat Rania mengalungkan kedua tangannya di lehernya.


Rania tampak tenang saat kepalanya ia sandarkan di punggung Ferdians. Ia merasa Ferdians sama sekali tidak merasa keberatan dengan tubuhnya, terlihat Ferdians berjalan dengan santai sampai mereka masuk ke dalam kamar mereka.


Ferdians menurunkan Rania di atas kasur yang membuat Rania langsung merebahkan dirinya di kasur.


Ferdians langsung menindih tubuh Rania dengan pelan. "Kamu di sini lebih terlihat nyaman sekali. Apa kita tinggal lebih lama di sini?" tanya Ferdians dengan pelan.


"Tidak. Pekerjaan akan terbengkalai jika saya berlama-lama di sini," jawab Rania dengan tegas.


Ferdians menghela napasnya dengan pelan, ia menyingkirkan rambut Rania yang menutupi wajah Rania dan ia selipkan ke belakang telinga istrinya.


Ferdians merebahkan tubuhnya di samping Rania dan membawa kepala Rania agar tidur di lengannya.


"Selama kamu masih punya suami kamu harus memanfaatkan bahu, dada dan lengan suami kamu untuk bersandar terutama manfaatkan senjatanya untuk memuaskan kamu," ujar Ferdians yang membuat Rania refleks menatap Ferdians.


Tanpa di duga oleh Ferdians, Rania menggigit dadanya dengan kuat. "Argghhh...sakit, Rania!" ujar Ferdians meringis kesakitan.


"Semakin hari semakin mesum! Mau saya tendang masa depan kamu?!" ujar Rania dengan galak setelah melepaskan gigitannya di dada Ferdians.


"Kalau kamu menendangnya kamu juga yang rugi gak bisa rasakan dia masuk dan menghujam milik kamu dengan keras," ujar Ferdians dengan santai yang membuat Rania semakin geram.


"Ferdians...."


"Iya, istriku!"


"Menyebalkan!" ujar Rania dengan ketus.


Ferdians terkekeh saat melihat wajah Rania yang kesal kepada dirinya. "Daripada kamu kesal bagaimana kalau untuk malam ini kamu yang berada di atas?" tanya Ferdians dengan mengedipkan matanya.


"Tidak mau!"


"Ayolah ini posisi yang cocok agar anak kita cepat hadir," ujar Ferdians yang membuat Rania menatap tajam Ferdians.


"Dasar lelaki m*sum!" ujar Rania yang membuat Ferdians terkekeh.


Tetapi entah apa yang membuat Rania menuruti kemauan Ferdians kali ini. Keduanya benar-benar melakukan olahraga kembali, sudah entah berapa kali mereka melakukan itu di tempat ini. Penyatuan mereka Ferdians sangat berharap adalah simbol penyatuan cinta keduanya yang entah kapan hadir di pernikahan mereka.

__ADS_1


__ADS_2