
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini dengan like, vote dan komentar yang banyak ya!...
...Happy reading...
***
Pagi harinya Ferdians sudah bangun terlebih dahulu, ia tidak membangunkan Rania karena Ferdians akan pergi ke apotek untuk membelikan testpack Rania.
Ferdians mengusap rambut Rania dengan sayang. "Aku pergi sebentar ya, Sayang!" gumam Ferdians dengan pelan takut membangunkan Rania.
Cup....
Ferdians mengecup kening Rania dengan lembut, lalu ia keluar kamar karena Ferdians sudah cuci muka terlebih dahulu.
"Tuan mau kemana?" tanya Liam yang wajah dan tubuhnya masih merah-merah karena gigitan semut dan terkena ulat bulu.
"Mau beli testpack sebentar. Kamu jaga rumah karena Rania belum bangun," sahut Ferdians dengan tegas.
"Siap, Tuan!"
"Dimana Ricard dan Nico?" tanya Ferdians dengan bingung mencari keberadaan kedua anak buah Rania itu.
"Mereka berada di kamar mandi, Tuan. Sejak semalam setelah selesai makan mangga muda dengan cabai perut mereka mules sampai sekarang, Tuan!" ujar Liam.
Ferdians terkekeh. "Katakan pada mereka mau tambah lagi mangga mudanya atau tidak," ujar Ferdians dengan terkekeh.
"Haha bisa-bisa mereka tak keluar dari kamar mandi, Tuan!" ujar Liam dengan tertawa.
Ferdians tertawa kecil. "Ya sudah saya berangkat dulu nanti jika Rania bertanya bilang saja saya ke apotek," ujar Ferdians.
"Siap, Tuan!" jawab Liam dengan tegas.
****
Rania menggeliat pelan dalam tidurnya, ia membuka matanya dengan perlahan dan Rania tidak mendapati Ferdians di sampingnya.
"Kemana lagi pria itu?" tanya Rania dengan kesal padahal ia sangat ingin melihat Ferdians ketika bangun tidur.
Seketika mood Rania menjadi sangat buruk. Ia ingin menangis sekarang tetapi dirinya juga bingung menangis karena apa. Masa karena tidak melihat Ferdians ketika dirinya bangun tidur? Itu tidak mungkin rasanya.
Rania mengambil bantal miliknya dan melemparkan ke sembarangan arah, dengan perasaan kesal Rania bangun dari kasurnya.
Ceklek....
Bukk..
"Sayang kenapa kamu melempar aku dengan bantal?" tanya Ferdians dengan bingung karena baru masuk ia sudah di lempar bantal oleh Rania.
"Dari mana?" Bukannya menjawab pertanyaan Ferdians, Rania malah balik bertanya dengan suara yang amat tajam.
"Beli testpack, Sayang. Kenapa wajah kamu terlihat sangat emosi hmm?" tanya Ferdians dengan lembut mendekati Rania dan memeluk istrinya dengan perlahan.
Ferdians mengusap punggung Rania dengan pelan. "Kenapa? Aku ada buat salah lagi? Atau ada masalah di kantor?" tanya Ferdians dengan pelan agar tak menyulutkan emosi Rania.
"Tidak tahu!" jawab Rania dengan ketus yang membuat Ferdians sangat heran.
__ADS_1
"Tidak tahu? Masa tidak tahu, Sayang?" tanya Ferdians dengan mengusap pipi Rania.
"Ya tidak tahu!" jawab Rania dengan dingin. Mana mungkin Rania mengatakan yang sejujurnya jika dirinya marah karena tak melihat Ferdians ketika ia bangun tidur, itu terlalu menggelikan dan pasti akan membuat Ferdians besar kepala setelah itu. Dan Rania tidak mau itu terjadi, dimana harga dirinya jika ia mengatakan yang sejujurnya kepada Ferdians.
Ferdians terkekeh, ia menyentil hidung mancung Rania dengan perlahan. "Kamu itu lama-lama lucu sekali," ujar Ferdians dengan terkekeh.
Ferdians menempelkan hidungnya ke hidung Rania. Rania menatap mata Ferdians dengan dalam, ia mendekatkan bibirnya ke bibir Ferdians hingga kedua bibir mereka menempel.
Di dalam hati Ferdians bersorak senang karena ini baru pertama kalinya Rania menciumnya terlebih dahulu. Sepertinya sinyal kehadiran anaknya semakin terlihat sangat jelas sekarang. Dan Ferdians sudah tak sabaran ingin melihat hasil testpack Rania.
"Sayang, kamu testpack sekarang ya! Biar kita mengetahui dia benar-benar hadir atau tidak," ujar Ferdians setelah ciuman mereka terlepas.
"Ini testpack-nya, Sayang!" ucap Ferdians memberikan testpack ke tangan Rania.
"Kamu beli ini pagi-pagi?" tanya Rania tak percaya.
"Iya, Sayang!"
Perasaan kesal Rania hilang seketika ketika menatap testpack yang berada di tangannya. Ternyata Ferdians sangat begitu perhatian dengan dirinya, bahkan rela pagi-pagi pergi ke apotek untuk membeli testpack.
"Sudah sana masuk!" ujar Ferdians kepada Rania.
Rania menganggukkan kepalanya. Ia menarik napasnya dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Apa iya aku hamil?" gumam Rania di dalam hati ketika sudah berada di dalam kamar mandi.
Rania mulai melepas celananya dan menampung air kencingnya di wadah kecil. "Semoga saja aku benar-benar hamil!" ujar Rania ketika meletakkan testpack di dalam wadah kecil tersebut.
Sambil menunggu hasilnya sesuai dengan petunjuk yang ia baca, Rania mencuci mukanya terlebih dahulu. Kebetulan sekali ini sudah hari weekend lagi dan Rania maupun Ferdians tidak bekerja hari ini.
Rania mencibik kesal mendengar teriakan Ferdians dari luar. Dia pikir Rania tidak deg-degan apa?
"Sebentar!" teriak Rania dengan keras.
Rania menghembuskan napasnya dengan pelan. "Ini sudah sesuai kan ya? Berarti sudah bisa diambil," monolog Rania.
Rania sama sekali tak berani melihatnya, ia langsung mengambil saja tanpa melihat hasilnya. Ketika Rania membuka pintu kamar mandi ternyata Ferdians sudah berada di hadapannya.
"Astaga kenapa kamu ada di sini sih? Mau jadi satpam kamar mandi?" tanya Rania dengan terkejut bahkan ia sampai mengelus dadanya.
Ferdians terkekeh. "Bagaimana hasilnya, Sayang? Kamu hamil?" tanya Ferdians dengan yak sabaran.
Rania terlihat diam menatap wajah Ferdians. "Kamu lihat sendiri!" ujar Rania yang tidak berani melihatnya.
Ferdians mengangguk, ia menerima testpack yang berada di tangan Rania.
"Rania Sayang!" panggil Ferdians dangdut pelan saat ia sudah melihat hasilnya.
"Rania!" panggil Ferdians sekali lagi karena tak dapat jawaban dari Rania.
"Hmmm..."
"Kalau garis dua hamil kan ya?" tanya Ferdians memastikan padahal sudah ada petunjuk di testpack tersebut.
"Kata petunjuknya sih iya!" jawab Rania.
__ADS_1
"Berarti benar dong kamu hamil, Sayang!" ujar Ferdians dengan berbinar.
"Kyaaa... Aku akan jadi Papa!" teriak Ferdians yang membuat Rania menutup telinganya.
"Ferdians jangan keras-keras telingaku sakit!" ujar Rania dengan ketus.
Ferdians kembali terdiam. "Tapi yang satu garisnya samar, Sayang!" ujar Ferdians sekali lagi.
"Mungkin saya tidak hamil," ujar Rania dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca.
"Tapi aku yakin kamu hamil!" ujar Ferdians dengan tegas.
"Hari ini kita ke dokter saja ya!" ujar Ferdians tak sabaran.
"Ini weekend Ferdians!"
"Emang kalau weekend tidak ada dokter ya?" tanya Ferdians dengan kecewa.
"Mungkin!" jawab Rania yang kurang memuaskan.
"Masa sih?" tanya Ferdians sekali lagi.
"Tidak tahu saya bukan pemilik rumah sakit!" ujar Rania dengan kesal.
Ferdians dan Rania saling terdiam. Lalu Rania mengusap perutnya yang masih datar. "Kalau dia ada, masih sangat kecil ya?" tanya Rania yang di angguki oleh Ferdians.
"Ferdians!" panggil Rania dengan pelan.
"Kita harus ke dokter sekarang!"
"Tadi kata kamu dokternya tidak ada karena weekend! Bagaimana sih?"
"Saya penasaran! Saya bayar berapa pun asal dokter obgyn periksa rahim saya benar atau tidak dia hadir di perut saya!" ujar Rania dengan tegas.
Ferdians menghela napasnya. Tadi dirinya yang sangat excited dan sekarang malah Rania. Bahkan istrinya berani membayar berapa pun asalkan dokter kandungan memeriksanya hari ini.
"Sastra harus membantu kita hari ini. Dia harus menghubungi pihak rumah sakit agar dokter kandungan yang terbaik datang hari ini juga untuk meriksa saya!" ujar Rania menggebu-gebu.
"Harus dokter perempuan!" ujar Ferdians dengan tegas.
"Kenapa kalau dokter laki-laki?"
"Ya aku tidak rela!" ujar Ferdians dengan tegas.
"Ya-ya terserah kamu!"
Ferdians berjongkok di hadapan Rania, ia membuka baju Rania dan menenggelamkan wajahnya di perut Rania.
Cup...cup...cup...
"Selamat datang jagoan Papa dan mama! Sehat-sehat di dalam sana ya! Papa dan mama menyayangimu," gumam Ferdians yang membuat Rania terdiam haru.
"Apakah Ferdians benar-benar tak mau melepaskan aku setelah ini?" gumam Rania di dalam hati.
__ADS_1