
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Olivia memasuki perusahaan R.A Grup dengan senyuman yang sangat mengembang bahkan membuat semua karyawan yang mengenal Olivia menjadi heran dengan kebahagiaan yang terpancar di wajah Olivia saat ini.
Bahkan Olivia menyapa seluruh karyawan dengan senyuman terbaiknya yang membuat Faiz menatap Olivia dari kejauhan dengan heran. Apa yang membuat Olivia sebahagia ini? Apakah Olivia sudah memiliki kekasih sehingga ia bisa tersenyum bahagia saat ini? Faiz terus bertanya dalam hati hingga langkahnya semakin dekat dengan sekretarisnya saat ini.
"Pagi Tuan Faiz!" sapa Olivia dengan senyuman yang paling manis.
"Pagi!" jawab Faiz dengan tersenyum tipis yang membuat Olivia salah tingkah.
"Satu lift bersama saya! Jangan membantah!" ujar Faiz dengan tegas.
"Baik, Tuan!" sahut Olivia dengan tersenyum.
Saat Faiz melangkah memasuki lift, Olivia mengikuti Faiz dari belakang yang membuat seluruh karyawan berbisik-bisik. Apakah bos mereka dengan Olivia memiliki hubungan khusus? Karena akhir-akhir ini mereka terlihat sering bersama.
"Apakah tuan Faiz sudah berpacaran dengan Olivia? Kenapa akhir-akhir ini mereka terlihat sangat dekat padahal sebelumnya tidak," bisik karyawan wanita kepada teman di sampingnya.
"Entahlah. Tapi jika dilihat-lihat Olivia mirip sekali seperti nyonya Rania waktu muda. Mungkin saja tuan Faiz dan Olivia berjodoh," jawab karyawan tersebut dengan entengnya.
"Ish... Bagaimana bisa mereka dekat? Karena setahuku ayah dari Olivia adalah mantan adik tiri dari nyonya Rania. Jikapun mereka memiliki hubungan apakah nyonya Rania dan tuan Ferdians akan setuju terlebih tuan besar Ben," ujar salah satu karyawan yang ikut nimbrung.
"Benar juga. Hubungan mereka terlalu sulit jika di bayangkan! Ya, sudahlah ayo kembali bekerja sebelum kita mendapatkan teguran dari tuan Faiz!"
__ADS_1
Para karyawan wanita tersebut kembali bekerja walaupun di benak mereka masih bertanya ada hubungan apa bos mereka dengan Olivia.
Sedangkan Faiz dan Olivia sudah sampai di lantai atas. Olivia menatap Faiz dengan tersenyum tipis lalu ia mendekat ke arah Faiz dengan perlahan yang membuat Faiz mematung saat Olivia membenarkan letak dasinya yang sedikit berantakan.
"Saya benarkan dasi anda, Tuan!" ujar Olivia yang berjinjit membenarkan dasi Faiz karena tingginya hanya sebatas dada Faiz saja.
Faiz menatap Olivia yang sedang membenarkan dasinya, harum parfum Olivia membuat Faiz menahan napas. Entah mengapa wangi parfum Olivia membuat dirinya sangat candu dan ingin mendekap tubuh mungil Olivia saat ini tetapi Faiz sadar jika Olivia dan dirinya tidak memiliki hubungan apapun. Tetapi entah mengapa perhatian Olivia kali ini sungguh membuat Faiz senang, moodnya begitu sangat bsik hanya karena Olivia membenarkan letak dasinya yang sedikit berantakan.
"Sudah, Tuan! Anda terlihat sangat tampan jika berpakaian rapih seperti ini," ucap Olivia memuji ketampanan Faiz.
"Terima kasih! Sebaiknya kamu langsung bekerja saja," ujar Faiz tak mau memperlihatkan kebahagiaannya karena di puji oleh Olivia.
Sedangkan Olivia tersenyum dengan sangat manis. "Iya, Tuan. Dan ini laptop anda! Terima kasih sudah mau meminjamkan saya jika tidak ada Tuan mungkin saya sudah tidak mengerjakan pekerjaan saya dan bisa-bisa membuat anda marah terhadap saya," ujar Olivia dengan tulus.
"Selamat bekerja, Tuan!" ucap Olivia dengan tersenyum.
"Jantungku! Kenapa reaksinya berlebihan seperti ini hanya karena Olivia membenarkan letak dasiku saja? Apakah benar kata Frisa jika aku mulai menyukai Olivia? Ahh... Tapi rasanya tidak mungkin," gumam Faiz mengelak.
Faiz berusaha mengenyahkan pikirannya tentang Olivia dengan mulai bekerja tetapi senyuman Olivia pagi ini membuat Faiz sama sekali tidak fokus. Mungkin benar jika ia sudah menyukai Olivia tetapi Faiz tetap saja mengelaknya karena ia ingin fokus ke pekerjaannya.
****
Jam istirahat sudah tiba. Olivia mengetuk pintu ruangan Faiz dengan beberapa kali ketukan hingga suara Faiz menyuruhnya untuk masuk barulah Olivia masuk ke ruangan Faiz.
"Tuan, apakah tidak beristirahat dan makan siang di luar seperti biasanya?" tanya Olivia dengan heran karena biasanya Faiz akan keluar untuk makan siang atau pulang ke rumahnya tetapi kali ini Faiz tidak keluar dari ruangannya dan tetap fokus pada pekerjaannya.
"Saya tidak lapar!" jawab Faiz dengan mata yang masih fokus ke laptop miliknya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pesankan makanan ya, Tuan!" ucap Olivia dengan sopan.
"Saya tidak lapar, Olivia!" ujar Faiz mengulang kata yang sudah ia ucapkan barusan.
"Kesehatan anda adalah hal yang paling utama, Tuan. Perusahaan butuh anda dan jika anda sakit semua akan kacau, Tuan. Kali ini anda tidak boleh menolak, Tuan! Saya lakukan demi kebaikan anda," ujar Olivia dengan tegas.
Faiz menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya, terlihat sekali ia menghela napasnya dengan perlahan, perhatian dari Olivia entah mengapa membuat Faiz tidak bisa menolaknya.
"Oke... Kalau begitu duduk dan temani saya makan," ujar Faiz dengan tegas.
"Dengan senang hati, Tuan!" jawab Olivia dengan tersenyum.
Faiz tampak heran karena sepertinya ada yang aneh dengan Olivia hari ini. Gadis itu tidak menolak perintahnya untuk makan siang bersama sedikitpun. Ada apa dengan Olivia? Kenapa perubahan Olivia hari ini membuat Faiz sama sekali tidak fokus bekerja?
"Makanan sudah saya pesan, Tuan. 15 menit lagi akan sampai," ujar Olivia.
"Baiklah!" ujar Faiz dengan pasrah.
Faiz menyuruh Olivia untuk duduk di sofa dan ia pun menyusul Olivia untuk duduk di sans agar mereka makan dengan tenang. Setelah 15 menit berlalu makanan yang mereka sudah tunggu akhirnya datang juga.
Olivia menyiapkan makanan tersebut dengan telaten seperti istri yang sedang menyiapkan makan siang untuk suaminya. Sedangkan Faiz hanya memperhatikan Olivia saja hingga gadis itu selesai menyiapkan makan siang untuk dirinya.
"Silahkan di makan, Tuan. Ini adalah makanan kesukaan, Tuan. Sengaja saya pesan agar Tuan selera makan," ujar Olivia dengan tulus.
"Terima kasih," ujar Faiz dengan pelan.
Faiz mulai memakan makan siang miliknya dengan mata yang tetap fokus ke arah Olivia yang terlihat lahap sekali dengan makanannya.
__ADS_1
"Kenapa perhatian Olivia kali ini membuat pikiranku kacau? Sial! Sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku sendiri?" umpat Faiz di dalam hati.