
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
[Sikap serakah di diri tante Clara ternyata juga menurun di diri Cassandra, Om. Olivia sedikit bercerita jika Cassandra sering sekali mengambil barangnya begitu saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun ketika Olivia membeli barang baru. Aku rasa Om harus berhati-hati dengan Cassandra karena bisa saja Cassandra melakukan sesuatu yang akan merugikan perusahaan]
Rajendra membaca pesan yang di kirimkan Faiz kepadanya, ternyata dugaannya selama ini tidak salah. Cassandra tidak secantik parasnya, sifat Cassandra sama saja dengan mama dan papanya yang sangat gila harta.
[Kamu tenang saja, Faiz. Jika dia berani menjebak keluarga kita maka aku akan membuat sesuatu jebakan yang tak pernah terpikirkan di dalam hidupnya sebelumnya. Untuk saat ini biarkan Cassandra menjalankan perannya menjadi gadis yang baik, setelah semuanya kelihatan kita akan membongkar kejahatannya hingga nanti dia akan menyesal. Jebakan di antara jebakan yang dia buat akan menghancurkan kehidupannya]
Rajendra tersenyum sinis menatap ponselnya setelah berhasil mengirimkan balasan pesan untuk Faiz. Hal itu diamati oleh Cassandra yang sejak tadi mencoba menggoda Rajendra agar tertarik dengan dirinya.
"Tuan kenapa? Kenapa senyuman anda terlihat sangat sinis sekali?" tanya Cassandra penasaran.
"Hmmm... Tidak apa-apa. Hanya saja ada yang sedang bermain dengan perusahaan. Jadi, saya tidak akan membiarkan orang itu menjatuhkan perusahaan saya. Sebelum saya yang jatuh maka orang tersebut yang akan jatuh duluan," jawab Rajendra dengan tersenyum sinis.
Cassandra tidak menyadari jika ucapan Rajendra tertuju untuk dirinya. Gadis itu bertepuk tangan dengan kagum karena Rajendra begitu sangat hebat.
"Anda sangat hebat, Tuan. Benar tikus seperti mereka harus segera dimusnahkan agar tidak berkeliaran," ujar Cassandra dengan tersenyum.
"Tentu saja. Nanti kamu akan melihat bagaimana saya memusnahkan tikus tersebut hingga tidak tersisa," jawab Rajendra yang di angguki oleh Cassandra.
Rajendra menatap Cassandra dengan pandangan yang tak bisa Cassandra artikan tetapi entah mengapa Cassandra menjadi salah tingkah dengan tatapan Rajendra.
"Apakah tuan Rajendra sudah mulai tertarik denganku?" ucap Cassandra di dalam hati.
"Sepertinya iya. Tuan Rajendra sudah mulai tertarik dengan diriku. Lagian siapa yang tidak tertarik dengan kecantikan yang Cassandra miliki?" batin Cassandra percaya diri padahal dirinya tidak tahu jika Rajendra juga sedang menjebak dirinya.
"Kamu tidak bisa bermain-main dengan Rajendra, Cassandra. Kedua orang tua angkat kamu boleh kamu kelabui tetapi saya tidak. Saya begitu tidak terima jika kamu mengambil barang gadis yang saya cintai," gumam Rajendra di dalam hati dengan tatapan yang begitu dalam kepada Cassandra.
__ADS_1
"T-tuan kenapa anda menatap saya seperti itu?" tanya Cassandra dengan terbata.
Rajendra terkekeh. "Ternyata kamu cantik sekali, Cassandra. Saya baru menyadarinya," jawab Rajendra dengan tersenyum.
"Tuan bisa saja," ucap Cassandra tersipu malu.
"Ya emang kamu cantik, Cassandra!" ucap Rajendra dengan tegas seakan meyakinkan Cassandra jika dirinya benar-benar serius mengatakan jika gadis itu cantik.
"Terima kasih, Tuan!" ucap Cassandra dengan pipi yang memerah.
Rajendra tersenyum manis. "Sama-sama!" jawab Rajendra dengan lembut.
****
Hari sudah mulai sore dan Cassandra sengaja tidak mau di jemput oleh kakak maupun ayahnya, ia sengaja menunggu Rajendra agar Rajendra mau mengantarkan dirinya untuk pulang.
Cassandra melihat ke arah pintu utama perusahaan Danuarta, sudah 15 menit ia menunggu kedatangan Rajendra tetapi pria itu tak kunjung keluar yang membuat Cassandra sangat kesal. Namun, pada akhirnya senyuman Cassandra mengembang saat melihat Rajendra keluar dari kantor dengan sangat gagah.
"Hehe aku tidak sabaran ingin menjadi nyonya Danuarta. Pasti semua yang aku inginkan akan terpenuhi dan setelah itu aku akan menghancurkan orang-orang yang telah menyiksa mama dan nenek," ujar Cassandra dengan tersenyum licik.
"Kamu pikir saya tidak tahu kamu sejak tadi ada di situ. Hmmm... Kita lihat saja permainan siapa yang akan menang," gumam Rajendra di dalam hati.
"Belum pulang?" tanya Rajendra yang sudah berada di samping Cassandra.
"Belum, Tuan. Saya tidak di jemput oleh ayah maupun kakak saya. Saya sedang menunggu Taxi," sahut Cassandra dengan tersenyum.
"Ini sudah hampir petang. Ayo pulang bersama dengan saya," ujar Rajendra dengan tegas.
"Tidak usah, Tuan! Saya takut merepotkan Tuan karena rumah kita beda arah," ujar Cassandra.
"Tidak apa-apa. Taxi jam segini sulit untuk di dapat. Saya tidak mau sekretaris saya kenapa-napa di jalan," ujar Rajendra dengan tersenyum.
__ADS_1
"Ayo ikut pulang bersama dengan saya!" ujar Rajendra dengan tegas.
"Ya sudah jika anda memaksa, Tuan!" ucap Cassandra dengan tersenyum.
"Cih mana mungkin aku memaksa kamu untuk pulang bersamaku. Jika tidak ingat permainan yang sedang aku lakukan, aku sudah membiarkan kamu berdiri di sini hingga esok," gumam Rajendra di dalam hati.
Cassandra masuk ke mobil Rajendra begitu pun dengan Rajendra hingga mobil Rajendra meninggalkan perusahaan besar milik keluarganya yang sudah di pegang oleh dirinya.
Keduanya hanya diam karena sebenarnya Rajendra sedang malas berbicara dengan Cassandra hingga pria itu berpura-pura fokus dengan jalana sedangkan Cassandra menikmati duduk di mobil mewah Rajendra, ia sedang membayangkan jika nanti kehidupannya akan seperti ini setelah berhasil menjerat Rajendra dan setelah itu ia akan menghancurkan Rajendra dan keluarganya.
"Saya tidak menyangka anda sangat baik terhadap saya, Tuan. Padahal saya baru saja bekerja di perusahaan anda," ujar Cassandra membuka percakapan.
"Saya baru kali ini mengajak seorang gadis menaiki mobil saya selain mama, kakak, dan keponakan saya," ujar Rajendra dengan tegas.
"Oo iya? Saya jadi merasa tidak enak hati, Tuan!" ucap Cassandra dengan pelan.
"Tidak masalah. Ini murni keinginan saya," sahut Rajendra dengan tersenyum menatap Cassandra.
Cassandra tersenyum dan akhirnya mereka berbincang di dalam mobil walaupun Rajendra sebenarnya sangat malas meladeni ucapan Cassandra yang menurutnya sedang berbohong. Gadis di sampingnya ini terlihat sekali sedang menarik perhatian dirinya.
Setelah kurang lebih menempuh perjalanan 30 menit lamanya akhirnya mobil Rajendra sampai juga di rumah Cassandra.
"Anda tidak mau masuk dulu, Tuan?" tanya Cassandra basa-basi.
"Lain kali saya, Cassandra. Salam untuk kedua orang tua dan kakak kamu ya," ujar Rajendra dengan tersenyum.
"Baik, Tuan. Sekali lagi terima kasih telah mengantarkan saya pulang," ujar Cassandra dengan tersenyum.
"Senang bisa mengantarkan gadis cantik seperti dirimu," ujar Rajendra dengan tersenyum manis.
Cassandra membalas senyuman Rajendra. "Senang juga bisa pulang bersama pria tampan seperti, Tuan! Saya masuk dulu, Tuan. Dan hati-hati di jalan," ujar Cassandra melambaikan tangannya setelah keluar dari mobil Rajendra.
__ADS_1
Rajendra membalas lambaian tangan Cassandra. Setelah itu Rajendra kembali menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumahnya.
"Ternyata segampang ini membuat seorang Rajendra menyukai aku haha," ucap Cassandra dengan sangat percaya dirinya.