Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 150 (Ketahuan Frisa)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Frisa memperhatikan Melvin yang sedang bercengkrama dengan Cakra, Agam, dan Gavin. Tawa Melvin yang keras membuat Frisa terpesona. Entah mengapa dari ke-empat pria yang selalu bersamanya itu hanya Melvin lah yang menarik hatinya sampai sekarang.


"Ekhem..." Frisa berdehem sedikit keras hingga ke-empat lelaki tampan yang selalu menjaganya itu menatap ke arah dirinya.


"Hei, Nona. Ada yang perlu kami bantu?" tanya Melvin dengan ramah.


"Iya, Nona. Kami siap membantu, Nona," sahut Agam dengan sopan.


"Kalian ikut ke perusahaan ya. Dan kali ini saya mau Melvin yang menjadi supir saya," ujar Frisa dengan tegas.


Melvin menatap nonanya dengan tidak percaya. Lalu ia menatap ke arah Gavin yang terlihat datar seperti tidak keberatan karena di antara mereka ber-empat Gavin lah yang mempunyai tanggungjawab yang lebih besar untuk menjaga Frisa seperti papanya dulu yang menjadi tangan kanan Rania.


"Maaf Nona tetapi biasanya Gavin yang selalu menemani Nona," ujar Melvin tak enak hati.


"Tidak ada bantahan. Melvin yang berada di depan bersama dengan saya dan kalian bertiga duduk di belakang!" ujar Frisa dengan tegas.


Gavin mengambil kunci mobil yang selalu di kantongi oleh dirinya dan memberikannya kepada Melvin. "Gantian!" ucap Gavin dengan datar.


Cakra dan Agam saling memandang? Ada apa dengan nonanya dan Gavin? Apakah mereka sedang berantem?


"Ayo! Jangan lama! Saya ingin membawakan makan siang untuk kak Faiz sebelum seminggu lagi saya harus bekerja di perusahaan kakek Eric," ujar Frisa dengan tegas.


Frisa melirik ke arah Gavin yang terlihat biasa saja. Entah mengapa ia menjadi kesal dengan Gavin yang terlihat biasa saja dengan muka datarnya yang tak pernah berubah. Manusia tembok seperti Gavin kenapa bisa menjadi orang yang paling di percaya oleh mama dan papanya bahkan untuk menjaganya saja Gavin lah yang mempunyai tanggungjawab paling besar. Padahal menurut Frisa, Melvin lah yang lebih cocok bersama dengan dirinya bukan Gavin si manusia tembok bermuka datar.


Frisa berjalan mendahului ke-empat lelaki tampan tersebut tetapi cepat-cepat Melvin membuka pintu untuk nona-nya. "Silahkan masuk, Nona!" ucap Melvin dengan ramah.


"Sayang!" panggil Rania sedikit keras yang membuat Frisa melihat ke arah mamanya bahkan ke-empat lelaki tersebut menunduk hormat.


"Selamat pagi menjelang siang, Nyonya!" sapa ke-empatnya dengan kompak.

__ADS_1


"Pagi menjelang siang juga. Kalian mau langsung pergi ke kantor?" tanya Rania dengan tegas.


"Iya, Mama. Mama mau ikut?" tanya Frisa menatap mamanya.


"Tidak, Sayang. Tapi setelah ini mama dan papa akan berlibur. Kamu tidak apa-apa kan kami tinggal? Sudah lama juga Mama dan papa tidak quality time," ujar Rania dengan tersenyum.


"Siang ini juga, Ma? Mau ke mana?" tanya Frisa penasaran.


"Hanya ke Bali, Sayang!" jawab Rania.


"Huh... Iya deh, Ma. Tapi jangan pulang bawa oleh-oleh adik ya! Frisa tidak mau!" ujar Frisa dengan cemberut yang membuat Melvin, Cakra, dan Agam hampir saja tidak bisa menahan tawanya sedangkan Gavin masih tetap seperti biasanya.


Wajah Rania terlihat memerah dan menahan kesal kepada anak bungsunya tersebut. Bisa-bisanya Frisa berbicara tentang adik dengan entengnya di depan ke-empat orang kepercayaannya dan kedua anaknya.


"Frisa sekali lagi kamu berbicara seperti itu Mama kirim kamu ke Jerman!" ujar Rania dengan tegas yang membuat Frisa langsung kicep.


"Ampun, Ma! Frisa tidak mau ke sana!" ujar Frisa dengan cemberut.


Rania menghela napasnya dengan perlahan. "Ya sudah kamu temui Kakak kamu sana. Mama sudah menelepon Kakak kalau Mama dan papa siang ini akan pergi," ujar Rania dengan tegas.


"Mengerti, Nyonya!" ujar Ke-empatnya dengan tegas.


"Dahh Mama. Hati-hati di sana jaga kesehatan," ucap Frisa melambaikan tangannya dengan tersenyum manis.


"Iya, Sayang. Kamu juga jangan nakal ya di sini!" ujar Rania dengan tersenyum.


"Kami pergi dulu, Nyonya!"


"Ya silahkan!"


Rania menatap kepergian Frisa dengan ke-empat orang yang sangat ia percayai. Setelah mobil yang di tumpangi anaknya sudah tidak terlihat Rania kembali memasuki rumah dan menemui suaminya yang ada di kamar. Sebenarnya mereka selalu bertemu di rumah dan menghabiskan waktu bersama tetapi Ferdians tetap memaksanya untuk pergi. Di usianya yang tak lagi muda, gairah Ferdians tidak ada habis-habisnya yang terkadang Rania kewalahan menghadapi suaminya di atas ranjang. Rania yakin di Bali nanti ia pasti tidak akan di lepaskan begitu saja oleh suaminya.


****


Faiz tidak tahu jika sang adik siang ini akan datang ke kantor. Ia masih bekerja bersama dengan Olivia di ruangannya, sejak kejadian makan siang bersama waktu itu Faiz selalu meminta Olivia untuk bekerja di ruangannya atau sekedar makan siang bersama di ruangan ini.

__ADS_1


"Ini sudah selesai, Tuan. Menurut Tuan ini sudah benar belum? Jika ada kesalahan biar saya selesaikan nanti sesudah jam istirahat," ujar Olivia yang berdiri di samping Faiz.


Faiz memeriksa berkas yang diberikan Olivia kepadanya dengan serius. "Di sini dan di sini kamu perbaiki. Ini masih salah sedikit," ujar Faiz dengan menunjuk kesalahan Olivia di berkas tersebut.


"Baik, Tuan. Saya mengerti. Nanti saya akan perbaiki secepatnya," ujar Olivia dengan tegas.


Faiz memperhatikan Olivia yang sedang membereskan berkas di atas mejanya. Olivia yang gugup di perhatikan Faiz menjadi salah tingkah sendiri, ia ingin melangkah keluar dari ruangan Faiz.


"Saya keluar sebentar, Tuan!" ujar Olivia dengan gugup.


Sangking terburu-burunya Olivia untuk keluar dari ruangan Faiz tak sengaja kakinya tersandung dengan kakinya sendiri yang membuat Faiz dengan sigap menarik Olivia agar tidak terjatuh dan pada akhirnya Olivia terjatuh di pangkuannya.


Kedua mata mereka saling beradu pandang dengan jantung yang berdetak sangat cepat.


Sedangkan Frisa yang baru saja sampai di kantor langsung menuju ruangan kakaknya. Tak melihat keberadaan Olivia di meja kerjanya membuat Frisa langsung membuka pintu ruangan kakaknya.


"Kakak aku da...tang...." Frisa tampak terkejut dengan apa yang ia lihat di depannya.


Kakaknya dan Olivia sedang bermesraan bersama bahkan Olivia duduk di pangkuan kakaknya. Gavin langsung menutup mata Olivia dengan tangan besarnya yang membuat Frisa mencibik kesal. Gagal deh melihat adegan live di depannya


"Anggap saja aku patung yang tak melihat apa-apa," ucap Frisa dengan jantung yang berdegup kencang dan masih kesal dengan apa yang dilakukan Gavin kepadanya.


Olivia langsung berdiri dengan cepat. "N-nona ini tidak seperti yang anda lihat. S-saya tersandung dan hampir terjatuh tetapi tuan Faiz membantu saya dengan mena..."


"Jika kalian mau bercium juga tidak jadi masalah. Saya saja yang datang kurang tepat waktu menganggu kemesraan kalian berdua," ujar Frisa dengan tegas menyingkirkan tangan Gavin yang masih menutup matanya.


"B-bukan begitu, Nona!"


"Kamu salah paham, Dek. Apa yang dikatakan Olivia benar! Kakak hanya membantu Olivia saja," ujar Faiz membela dirinya dan Olivia walaupun sebenarnya ia hampir saja kebablasan mencium bibir Olivia yang sangat menggodanya jika tidak ada Frisa dan yang lainnya datang mungkin Faiz sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium Olivia tadi.


"Mau kalian berdua jujur atau pun bohong tetapi apa yang saya lihat tadi meyakinkan saya jika kakak dan Olivia diam-diam memiliki hubungan," ujar Frisa terkekeh yang membuat Faiz menghela napasnya dengan berat sedangkan Olivia tampak gelisah.


"Emmm mumpung Olivia ada di sini bagaimana kalau kita makan siang bersama. Anggap saja pendekatan sebagai kakak dan adik ipar," ujar Frisa dengan entengnya.


"A-apa?" ucap Olivia dengan syok sedangkan Faiz dan Gavin hanya bisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2