
...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Faiz dan Olivia sudah sampai di rumah kedua orang tua Faiz karena Faiz belum tenang jika belum memastikan Frisa sudah memaafkan atau belum. Dengan membawa es krim dan makanan kesukaan kembarannya, Faiz menggandeng tangan sang istri memasuki rumah.
"Assalamu'alaikum!" salam Faiz dan Olivia bersamaan.
"Wa'alaikumussalam!" jawab Rania dan Ferdians bersamaan.
"Olivia sini, Sayang!" ujar Rania dengan tersenyum.
Olivia langsung menghampiri mama mertuanya dengan senang hati. "Ma, aku bawa soto ayam. Enak banget loh ini, Ma!" ujar Olivia dengan berbinar.
"Oo iya? Mama mau coba," ujar Rania dengan tak sabaran.
"Sayang, kamu habis makan emang kuat makan lagi?" tanya Ferdians.
"Tadi kan baru dedek yang makan belum aku yang makan, Mas!" jawab Rania yang membuat Olivia dan Faiz tertawa sedangkan Ferdians hanya bisa menggelengkan kepalanya tersenyum karena semenjak hamil n*fsu makan Rania bertambah.
"Ma, Pa, aku ke kamar Frisa sebentar ya! Aku belum tenang kalau dia belum memaafkan aku," ujar Faiz dengan pelan.
"Iya sudah sana! Olivia biar bersama dengan Mama!" ujar Rania dengan tersenyum.
"Iya, Ma. Kami menginap di sini ya," ucap Faiz yang di angguki oleh Rania dan Ferdians.
"Ini kan rumah kalian juga. Sering-seringlah menginap di sini," ujar Ferdians dengan tegas.
"Iya, Pa."
"Sayang, kalau Mas malam ini tidur dengan Frisa tidak apa-apa, kan?" tanya Faiz menatap istrinya.
"Tidak apa-apa, Mas. Kalian juga butuh waktu untuk bersama, kan? Aku mengerti, Mas. Aku tidur sendiri tidak apa-apa," ujar Olivia dengan tersenyum hangat.
Inilah yang Faiz suka dari Olivia. Istrinya itu selalu mengerti keadaannya, Faiz bertambah cinta dengan Olivia setiap harinya yang membuat Faiz tidak bisa berpisah sejenak saja dari istrinya, tetapi untuk saat ini Faiz merindukan adiknya, bagaimanapun ia tak boleh lupa dengan Frisa yang sangat dekat dengan dirinya. Faiz tak mau kembarannya berpikir jika ia sudah tak menyayanginya lagi maka dari itu Faiz ingin meminta maaf dengan Frisa malam ini.
Tokk...tokkk...
"Siapa?" tanya Frisa dengan keras.
"Ini Kakak, Frisa. Kakak masuk ya?!" sahut Faiz dengan lembut.
Faiz menunggu dengan gelisah karena adiknya tak lagi bersuara, Faiz tersenyum saat akhirnya pintu kamar Frisa terbuka, adiknya terlihat sangat cantik sekali malam ini yang membuat Faiz berdecak kagum.
"Tambah cantik banget kembaran aku!" puji Faiz dengan tersenyum yang membuat Frisa mendengus kesal.
"Mau apa kamu Faiz?" geram Frisa dengan kesal.
"Kakak, Frisa! Ih gemes deh kalau lagi ngambek. Masuk yuk! Kakak bawa es krim dan banyak makanan ini," ujar Faiz dengan tersenyum merangkul kembarannya yang masih terlihat kesal dengan dirinya tetapi Frisa tak menolak ajakannya tersebut, gadis itu melirik makanan yang Faiz bawa.
Faiz meletakkan kantong kresek di kasur dan membuka kantor kresek tersebut mengeluarkan banyak makanan ringan dan es krim yang adiknya sukai.
"Mau makan sekarang tidak? Enak banget ini loh!" ujar Faiz terus memamerkan kembarannya dengan makanan yang ia bawa.
__ADS_1
Frisa menatap makanan itu dengan tatapan kosong, lalu matanya berkaca-kaca karena sudah lama ia tidak berdua dengan kembarannya. Seperti ada yang hilang namun Frisa mencoba untuk tetap biasa saja karena pada akhirnya mereka akan sibuk dengan keluarga mereka masing-masing nantinya.
"Hei, kamu nangis, Dek? Kakak minta maaf ya selama Kakak menikah kita jarang quality time berdua. Kamu pasti merasa Kakak sudah tidak peduli lagi dengan kamu, kan? Tapi semua itu tidak benar, Dek. Kakak masih sangat peduli dengan kamu. Tapi maaf Kakak sudah jarang ada waktu untuk kamu ya, Dek. Malam ini Kakak mau tidur sama kamu boleh, kan?" ujar Faiz dengan mengusap air mata kembarannya dengan lembut.
Frisa menubruk kakaknya dengan cepat yang membuat keduanya terjatuh di kasur berdua yang membuat Faiz terkekeh dan mencium kening adiknya dengan lembut.
"Kak Olivia gimana?" tanya Frisa menatap wajah Faiz dengan sendu.
"Dia juga menginap di sini, Dek. Dan tidur di kamar kami pastinya, mungkin akan tidur bersama mama. Malam ini Kakak mau tidur sama kamu," ujar Faiz memeluk adiknya dengan erat.
"I miss you, Kak!" gumam Frisa dengan lembut.
"I miss you too, Dek!" jawab Faiz dengan lembut.
Faiz bertambah bersalah dengan kembarannya, terlihat sekali Frisa sangat merindukan dirinya. Namun, Faiz yakin Frisa tak berani mengungkapkannya karena takut melukai perasaan Olivia nantinya.
"Es krimnya nanti cair, Dek!" ujar Faiz yang membuat Frisa terkekeh dan langsung bangun membuka es krim yang Faiz bawa.
Faiz juga ikut bangun, ia menatap adiknya dengan tersenyum saat Frisa begitu lahab memakan es krimnya.
"Makasih, Kak!" ujar Frisa dengan bahagia.
"Sama-sama, Dek!" jawab Faiz dengan lembut.
Faiz mengamati adiknya dengan perasaan lega karena ia bisa melihat kecerian adiknya kembali.
"Ngomong-ngomong bagaimana kamu dengan Gavin sekarang? Sebentar lagi kalian menikah Kakak senang mendengarnya. Kamu tahu tidak, Dek? Gavin sangat bertanggungjawab, dia minta restu langsung ke papa, mama, dan kakak. Gavin berjanji akan membahagiakan kamu nantinya," ujar Faiz yang membuat Frisa terdiam.
"Emang beneran Gavin ngomong gitu, Kak?" tanya Frisa tak percaya. "Gavin tidak ada ngomong yang lain?" tanya Frisa menatap kembarannya.
Jika di kilas balik, memang Gavin selalu ada untuk dirinya dalam keadaan apapun. Frisa menghela napasnya dengan kasar, ia semakin galau memikirkan Gavin.
"Kami akan tetap menikah, Kak!" ujar Frisa yang membuat Faiz tersenyum.
"Harus dong karena Kakak lihat dia orangnya setia," ujar Gavin dengan tersenyum.
"Mau kado apa dari, Kakak? Kakak akan belikan langsung saat kamu menikah dengan Gavin nanti," ujar Faiz dengan serius.
"Mau mobil, tas, rumah, perhiasan, apapun yang kamu mau Kakak langsung belikan," ujar Faiz dengan tangan memainkan rambut adiknya.
"Mau toko es krim!" jawab Frisa yang membuat Faiz tersedak air liurnya sendiri.
"Toko es krim, Dek?" ulang Faiz sekali lagi.
Frisa mengangguk dengan mantap. "Mau toko es krim yang besar, Kak. Siapa tahu nanti aku bisa banyak mempekerjakan karyawan di toko es krim nanti," ujar Frisa dengan tersenyum.
"Tidak mau yang lain? Mobil terbaru kek? Rumah mewah?" tanya Faiz meyakinkan.
Frisa menggelengkan kepalanya. "Aku mau toko es krim yang besar, Kak!" rengek Frisa yang membuat Faiz akhirnya mengangguk pasrah.
"Iya Kakak buatkan untuk kamu, Dek. Itu sebagai hadiah pernikahan kamu dengan Gavin nantinya," ujar Faiz dengan lembut yang membuat Frisa sangat senang sekali dan sedikit melupakan rasa galaunya tentang Gavin yang akhir-akhir ini tidak pernah menghubungi dirinya lagi.
Apakah ia sudah keterlaluan dengan Gavin? Entahlah malam ini Frisa hanya ingin menghabiskan waktu dengan kembarannya.
"Kak ayo tidur!" ujar Frisa yang sudah merasa kenyang setelah makanbes krimnya.
__ADS_1
"Sikat gigi dulu, Dek! Ini biar Kakak letakkan di kulkas," ujar Faiz dengan lembut.
"Iya, Kak!" sahut Frisa yang langsung bangun dan berlalu ke kamar mandi.
Faiz langsung membereskan semua makanan yang ia bawa dan ia letakkan di kulkas dapur setelah itu ia kembali ke kamar adiknya setelah memastikan istrinya nyakan di kamarnya.
Frisa langsung memeluk kakaknya dengan erat, keduanya saling tertidur dengan memeluk satu sama lain. Faiz berulang kali mencium kening adiknya dengan lembut dan menepuk-nepuk punggung Frisa dengan pelan agar sang adik semakin nyaman di pelukannya.
Faiz melihat Frisa yang sudah tertidur dengan pulas di pelukannya. "Kakak tahu kamu galau memikirkan Gavin, Dek. Tapi percayalah Gavin adalah orang yang tepat untuk kamu terlepas dengan perjanjian yang kalian buat," gumam Faiz dengan lirih.
Faiz kembali memeluk adiknya dan ikut memejamkan mata di samping Frisa yang sudah tertidur dengan sangat nyamannya di pelukannya.
****
Pagi harinya....
Anjani mengaduk makanannya dengan tidak berselera. Semenjak kedua anaknya menikah Anjani merasa kesepian.
"Sayang!" panggil Rio dengan pelan.
Anjani tersentak dan tersenyum menatap suaminya. "Mas rumah kita sepi banget ya sekarang. Olivia dan Cassandra sudah menikah. Olivia dan Faiz sering ke rumah ini tapi Cassandra belum pernah kembali ke rumah ini ya Mas semenjak dia menikah dengan Rajendra. Apa mereka sesibuk itu ya sampai tak pernah mengunjungi kita," ujar Anjani dengan lirih.
"Telepon saja, Sayang! Tanya Cassandra kapan dia sempat ke sini," ujar Rio yang sangat mengerti keadaan istrinya saat ini.
"Mas benar juga. Aku telepon Cassandra dulu ya!" ujar Anjani dengan tersenyum.
Anjani mengambil ponselnya dan menghubungi Cassandra, ia menunggu dengan tak sabaran dan setelah ponselnya terhubung dengan ponsel Cassandra barulah Anjani tersenyum.
"Halo, Sayang!"
[Halo, Bun. Ini Rajendra]
Wajah Anjani langsung berubah menjadi tak sesenang tadi, ia terlihat serius sekarang. "Oo iya, Rajendra. Bunda mau tanya di mana Cassandra? Kenapa kamu yang mengangkat telepon Bunda?" tanya Anjani dengan cemas.
[Cassandra ada, Bun. Dia sedang berada di dalam kamar mandi. Kami bangun kesiangan tadi. Ada yang mau Bunda bicarakan?]
Anjani tampak malu dengan ucapan Rajendra. "Maaf Bunda telah menganggu kalian pagi-pagi seperti ini. Kalau ada waktu bisakah kalian menginap di sini? Nanti Bunda akan mengajak Olivia dan Faiz juga. Bagaimana?" tanya Anjani dengan penuh harap.
[Tentu, Bun. Nanti atau besok kami akan menginap di rumah ayah dan Bunda. Maaf kami belum pernah menginap di sana setelah menikah karena pekerjaan saya sungguh sangat banyak, Bun]
"Tak apa Bunda mengerti, Rajendra. Kalau begitu Bunda tutup ya. Sekali lagi Bunda minta maaf telah mengganggu kalian berdua," ujar Anjani tak enak hati.
[Tidak masalah, Bun]
Anjani meletakkan ponselnya kembali.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Rio dengan menatap istrinya.
"Aku malu sekali, Mas. Aku telah mengganggu pengantin baru. Tapi Rajendra bilang mereka bisa menginap hari ini atau tidak besok karena pekerjaan Rajendra sangat menumpuk," ujar Olivia dengan memegang pipinya yang terasa panas.
Rio terkekeh. "Kenapa musti malu seperti itu? Kalau begitu kita juga harus seperti mereka, Sayang. Jangan mau kalah! Ayo ke kamar!" ujar Rio yang langsung bangun dari duduknya dan menggendong Anjani yang membuat wanita itu memekik tertahan.
"Mas harus ke cafe!" peringat Anjani.
"Itu bisa nanti, Sayang. Ada yang harus kita tuntaskan terlebih dahulu," ujar Rio dengan terkekeh yang membuat Anjani pasrah.
__ADS_1