
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Faiz sudah menghentikan mobilnya di halaman lumah kakeknya, ia tersenyum menatap Olivia. "Sebentar ya Mas bukakan pintu untuk kamu," ujar Faiz yang di angguki oleh Olivia.
"Iya, Mas. Padahal aku bisa sendiri loh," ujar Olivia dengan terkekeh.
"Untuk tuan putri apa sih yang enggak!" ujar Faiz yang membuat Olivia tertawa kecil.
Olivia sangat bahagia karena ia selalu di ratukan oleh suaminya sendiri, ia juga bahagia karena berkat pernikahannya dengan Faiz keluarga mereka bisa menjalin hubungan kembali.
"Silahkan tuan putri!" ujar Faiz yang membukakan pintu untuk Olivia.
"Terima kasih pangeran tampanku!" ujar Olivia dengan geli yang membuat Faiz juga tersenyum geli.
Tak lama mobil Rajendra, kakek Eric, dan Rio juga datang berbarengan. Sedangkan Gavin, Frisa, Ferdians, dan juga Rania sudah ada di rumah ini sejak kemarin.
Faiz menatap Rajendra dengan serius yang di mengerti oleh Rajendra. Rio tampak bingung dengan Rajendra yang membawa wanita lain ke rumah ini bukan bersama Cassandra.
"Ini siapa, Rajendra. Di mana Cassandra?" tanya Rio yang tampak menahan emosinya tetapi mampu di tenangkan oleh Anjani.
"Dia Bunga. Dia adalah adik Cassandra. Saya akan berbicara serius dengan ayah dan bunda di rumah ini, untuk Cassandra dia ada," jawab Rajendra dengan tegas dan sama sekali tidak terlihat gugup tetapi di sini Bunga yang sangat terlihat gugup sekali karena Rajendra akan mengatakan semua dengan jujur hari ini.
"Adik Cassandra? Dia anak Roby?" tanya Rio kepada Rajendra.
"Iya, Yah! kita bicarakan ini di dalam mumpung semuanya kumpul," ujar Rajendra dengan tegas.
Bunga menatap Rajendra dengan takut, ia takut Rio dan Anjani akan marah dengan dirinya.
"Olivia temani Bunga masuk ke dalam! Om, Tante, temani Bunga juga ya, saya ingin berbicara dengan Faiz dulu," ujar Rajendra dengan tegas.
Rio dan Anjani menatap Bunga yang membuat Bunga menunduk takut dan sangat segan melihat ke arah Rio dan juga Anjani.
"Ayo masuk!" ujar Anjani dengan ramah.
"Iya ayo masuk Bunga!" ujar Olivia dengan tersenyum.
"I-iya," jawab Bunga dengan gugup.
"Masuk duluan ya!" ujar Rajendra dengan lembut yang membuat Rio, Anjani, dan Olivia bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa Rajendra sangat bersikap lembut dengan Bunga? Mengapa juga Rajendra datang bersama dengan Bunga bukan bersama dengan Cassandra? Kemana Cassandra berada sekarang? Apa mungkin Cassandra sudah berada di dalam? Banyak pertanyaan di benak mereka. Namun, semua pertanyaan itu tak mampu mereka ucapkan kepada Rajendra. Ketiganya hanya bisa diam mengajak Bunga untuk masuk bersama walaupun mereka juga sama canggungnya dengan Bunga saat ini.
Bunga tak tega rasanya nanti ketika Rio, Anjani, dan Olivia mengetahui semuanya. Ia merasa ikut menghancurkan ketiganya nanti mendengar jika Cassandra adalah wanita yang tak sebaik itu.
Setelah memastikan Bunga dan yang lainnya masuk ke dalam rumah Rajendra menatap keponakannya. "Jangan bicara di sini! Di sana saja!" ujar Rajendra yang seakan mengetahui sesuatu.
"Iya, Om!" jawab Faiz mengikuti langkah om-nya yang menjauh dari mobil mereka.
"Om Cassandra kabur dari rumah tadi dia sudah ke sini. Namun, tidak di izinkan masuk oleh penjaga," ujar Faiz to the point.
"Sudah tahu dan sekarang dia ada di bagasi mobilmu!" jawab Rajendra dengan datar.
"Di bagasi mobilku? Kenapa Om bisa tahu semuanya? Om ayo kita seret keluar!" ujar Faiz dengan menahan amarahnya.
"Faiz, aku tidak sebodoh itu meninggalkan Cassandra hanya menggunakan pengawasan melalui CCTV. Ada GPS yang aku letakkan di tas miliknya, dan ada satu GPS lagi yang aku letakkan di bajunya sebelum aku pergi ke sini," ujar Rajendra dengan tegas yang membuat Faiz tersenyum.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Om? Om memang pintar, aku saja sampai tidak berpikir ke sana," ujar Faiz dengan tersenyum.
"Usia saja yang lebih tua tapi otak tidak di pakai!" ujar Rajendra dengan mendengus yang membuat Faiz melotot.
"Enak saja ya, Om! Aku sedang pusing karena perusahaan ada masalah sedikit. Bukan karena otakku tidak di pakai!" ujar Faiz bersungut sebal.
"Apa yang harus kita lakukan, Om? Menangkap Cassandra sekarang atau bagaimana?" tanya Faiz dengan serius.
"Biarkan saja, kita lihat apa yang akan dia bicarakan nanti. Setelah itu baru aku tidak akan melepaskan wanita itu begitu saja!" ujar Rajendra dengan dingin yang membuat Faiz tersenyum.
"Tidak sia-sia aku memiliki Om seperti Om Rajendra!" ujar Faiz dengan terkekeh.
"Cih ada maunya saja memuji!" ujar Rajendra dengan sinis yang membuat Faiz terkekeh.
"Tidak Om, aku masih bisa mengatasi perusahaan sendiri," ujar Faiz dengan tegas.
"Baguslah ayo masuk!" ujar Rajendra yang di angguki oleh Faiz akhirnya keduanya masuk ke dalam rumah bersama.
"Kenapa kalian lama sekali? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ana menatap anak dan cucunya bergantian.
"Biasa, Nek. Bisnis!" jawab Faiz dengan tersenyum.
"Nenek makin cantik saja pantas duda di kompleks ini melihat Nenek tidak berkedip," ujar Faiz yang mengundang amarah Ben.
__ADS_1
"Duda mana yang kamu maksud, Faiz? Berani sekali dia menatap istri Kakek," ujar Ben dengan cemburu.
Faiz meringis melihat api kecemburuan di mata kakeknya. "Bercanda, Kek!"
Bukk...
"Ampun, Kek! Aduh sakit tahu, Kek!" ujar Faiz mengelus pahanya yang terkena pukulan tongkat sakti kakeknya, apa yang terjadi sekarang mengundang gelak tawa dari yang lain.
"Berani kamu sama Kakek, Faiz!" ujar Nen dengan gemas.
Faiz langsung berlari ke arah adiknya dan benar saja Ben berhenti memukulnya karena ia bersembunyi di belakang kembarannya.
"Kakak cemen hahaha.." ujar Frisa tertawa yang membuat Faiz cemberut.
"Lain kali kamu tidak akan lolos dari Kakek!" utjat Ben yang membuat Faiz menelan ludahnya dengan kasar.
"Sudah-sudah! Jangan berantem! Mas sudah tua tidak malu dengan anak menantu dan cucu?" tanya Ana menggelengkan kepalanya menatap Ben yang selalu cemburuan tidak jelas dan Faiz juga suka sekali menggoda Ben hingga Ben marah dan cemburu tidak jelas seperti ini.
Ben akhirnya duduk di samping istrinya, Faiz mengelus dadanya untuk saja pawang kakeknya cepat bereaksi. Jika tidak habislah dia.
"Kita di sini mau bersenang-senang bukan mau berantem," ujar Rania dengan cemberut yang membuat Faiz dan Ben kicep.
Akhirnya mereka semua menikmati makanan yang tersaji di depan mereka dengan sesekali mengobrol ringan.
"Oo iya saya sampai lupa? Di mana Cassandra?" tanya Rio menatap Rajendra dengan cemas karena sampai sekarang anak angkatnya itu tidak datang.
"Sebentar lagi Cassandra datang, Pa!" jawab Rajendra dengan tenang.
"Tapi kenapa dia berangkat sendiri? Kamu suaminya. Dan kenapa kamu berangkat bersama dengan Bunga? Jika Cassandra tahu bukankah dia akan marah?" tanya Rio yang membuat semua orang terdiam.
"Karena mas Rajendra lebih memilih wanita itu dari pada aku, Yah!" ujar Cassandra dengan tajam.
Cassandra menatap ke arah Bunga, ia berjalan dengan cepat menuju ke arah Bunga dan menarik rambut Bunga dengan kencang tanpa Rajendra bisa melindungi istrinya.
"Dasar pelakor! Kamu diam-diam menikah dengan suami saya! Aku tidak akan biarkan kamu hidup tenang, Bunga. Dasar adik tidak berguna!" teriak Cassandra dengan geram.
"Akkhhh lepas! S-sakit!" ujar Bunga dengan meringis.
Rajendra naik pitam, ia menyingkirkan tangan Cassandra yang sedang menjambak rambut istrinya. Rajendra mendorong Cassandra dengan kuat hingga Cassandra terjatuh.
"RAJENDRA APA-APAAN KAMU INI!" teriak Rio dengan tajam.
Rio ingin menolong Cassandra tetapi suara dingin Rajendra begitu menguntrupsi. Suasana yang tadinya hangat berubah menjadi sangat tegang, bahkan wajah Olivia ikut tegang, entah mengapa ia menjadi sangat takut sekarang.
"Yah, Mas Rajendra sudah menyakiti aku hiks.... Setiap harinya aku selalu di siksa, Yah!" ujar Cassandra dengan menangis yang membuat Rio semakin geram dengan Rajendra.
"Kamu..."
"Dengarkan dan lihat video ini baik-baik!" ujar Rajendra dengan dingin.
Video berputar di mana Rajendra sedang berbicara dengan Clara. Rio dan Anjani melihatnya dengan serius walaupun ada kemarahan di hati mereka dengan Rajendra saat ini, Rajendra menyeringai melihat perubahan raut wajah Rio dan Anjani.
"Ayah tidak menyangka kamu bekerjasama dengan mama kamu untuk menghancurkan keluarga Danuarta, Cassandra!" ujar Rio dengan sangat syok.
"Bunda kecewa sama kamu, Cassandra. Bunda dan ayah sudah membesarkan kamu dengan sepenuh hati tapi ini balasannya sekarang? Kamu mempermalukan keluarga kami," ujar Anjani dengan tajam.
Plak...
Anjani menampar Cassandra dengan dengan kuat yang membuat Cassandra memegang pipinya dan menangis. "Bunda!" gumam Cassandra dengan lirih. Namun, setelah itu Cassandra menatap tajam ke arah Anjani.
"KENAPA BUNDA HANYA MENAMPAR AKU? SEHARUSNYA BUNDA JUGA MENAMPAR OLIVIA KARENA OLIVIA JUGA IKUT DALAM RENCANA INI. PERNIKAHAN OLIVIA DAN FAIZ SUDAH KAMI RENCANAKAN UNTUK MENGHANCURKAN KELUARGA DANUARTA!" teriak Cassandra yang membuat semua orang mematung.
"Apa maksudmu?" tanya Faiz dengan tajam.
Cassandra terkekeh. "Kamu terlihat begitu bodoh Tuan Faiz. Istri yang kamu cintai itu juga bekerjasama denganku untuk menghancurkan keluarga ini, kamu tidak mengingat sikapnya yang selalu mendekati kamu dulu? Itu adalah bagian rencana kami. Haha seharusnya kalian tidak terlalu bodoh mempercayai wanita seperti Olivia," ujar Cassandra dang sinis.
Olivia menggelengkan kepalanya. "Mas, aku tidak bekerjasama dengan Cassandra untuk menghancurkan keluarga ini, Mas. A-aku hanya ingin membuat keluarga kita kem..."
"CUKUP!" teriak Faiz dengan tajam.
"Saya tidak menyangka jika kamu seperti ini Olivia? Apa yang kamu incar? Harta saya?" tanya Faiz dengan tajam.
Air mata Olivia mengalir dengan deras. Ia ingin memegang tangan Faiz tetapi Faiz menepisnya dengan kuat.
"Mas dengarkan penjelasanku dulu," ujar Olivia dengan lirih tetapi Faiz terlihat dingin kepadanya.
"Kamu pikir Olivia belum hamil sekarang karena apa? Karena dia tidak mau memiliki anak dari kamu!" ujar Cassandra yang membuat Faiz semakin mengepalkan tangannya.
"Kalian semua bodoh! Kalian mau sekali di bodohi dengan sikap Olivia!" ujar Cassandra dengan terkekeh.
"Mas, Ma, Pa, Kek, Nek, aku tidak seperti itu! Aku mohon percaya sama aku!" ujar Olivia dengan memohon.
__ADS_1
"Olivia..."
"Diam kamu Cassandra!" ujar Rajendra dengan tajam.
Cassandra menatap Rajendra dengan tajam. "Kenapa aku harus diam? Aku ingin keadilan di sini. Kamu terus menyiksaku tapi memperlakukan Olivia dengan begitu baik di keluarga ini tanpa kalian tahu jika Olivia ikut dalam kerjasama dan rencana ini, Mas!" ujar Cassandra dengan tajam.
"Aku tidak ada ikut dalam rencana menghancurkan keluarga ini, Cassandra. Aku hanya ingin keluarga kita kembali berbaikan dengan keluarga Danuarta!" ujar Olivia dengan berlinang air mata.
"Mas tolong percaya sama aku hiks..."
"Saya kecewa sama kamu!" ujar Faiz dengan dingin yang membuat hati Olivia berdenyut sakit.
"Mas..."
Faiz menghempaskan tangan Olivia dengan kuat yang membuat Olivia hampir terhuyung ke belakang. Sedangkan Cassandra terlihat sangat puas sekarang.
"Kamu benar mengacaukan semuanya, Cassandra!" ujar Rio dengan tajam.
"Mulai saat ini kamu bukan anak saya lagi!" ujar Rio dengan tajam yang membuat Cassandra menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Yah! Jangan seperti itu! Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain ayah dan bunda!" ujar Cassandra dengan histeris.
"Kamu saya ceraikan sekarang juga, Cassandra!" ujar Rajendra dengan tajam.
"KAMU TIDAK BISA MENCERAIKAN AKU KARENA AKU SEDANG HAMIL ANAK KAMU, MAS!" teriak Cassandra dengan histeris.
Ia tidak mau diceraikan oleh Rajendra, apapun yang terjadi ia harus tetap bertahan menjadi istri dari Rajendra, setidaknya ia masih punya rumah setelah ia di buang oleh ayah dan bundanya.
"APA?"
Semua orang terlihat sangat syok dengan ucapan Cassandra tetapi Rajendra sama sekali tidak percaya.
"Bagaimana bisa kamu hamil anak saya sedangkan saya tidak pernah menyentuhmu. Saya hanya satu kali saya menyentuhmu dan saya sudah memberikan obat pencegah kehamilan saat itu," ujar Rajendra dengan tajam.
"Kalau tidak percaya lihat ini!" ujar Cassandra dengan datar.
Cassandra memberikan testpack kepada Rajendra. Tetapi Rajendra sama sekali tidak percaya. "Dasar j*lang!" umpat Rajendra dengan sinis.
"Lihatlah anak yang kalian banggakan sama seperti mamanya. Menjadi jal*ng murahan!" ujar Rajendra dengan sinis.
"Aku bukan ******!" teriak Cassandra dengan tajam.
"Dia yang jal*ng murahan! Merebut suami orang dengan tak tahu malu!" ujar Cassandra dengan tajam.
Plak...
"Dasar pelakor!" teriak Cassandra dengan histeris.
"Brengsek! Sini kamu!" teriak Rajendra dengan murka.
Rajendra menarik Cassandra keluar dari rumah ini. Hanya teriakan Cassandra yang memekakkan telinga mereka.
Ana membantu menantunya yang menangis karena di tampar oleh Cassandra. "Mama hiks.." Bunga memeluk Ana dengan erat.
"Sudah tidak apa-apa. Rajendra bisa mengatasi wanita itu!" ujar Ana dengan lembut.
"Mas tolong percaya sama aku. Aku tidak seperti itu, Mas!"
"Ma, Pa, tolong percaya! Frisa tolong percaya sama aku hiks..."
Rania menatap menantunya dengan datar. "Mas aku lelah. Aku mau ke kamar!" ujar Rania dengan datar.
Ferdians membantu Rania untuk ke kamar yang membuat Olivia semakin frustasi.
"Mas aku juga capek!" rengek Frisa kepada Gavin.
"Sayang bawa Bunga ke kamarnya!" ujar Ben dengan tegas.
"Kek, Nek!" ujar Olivia menatap Eric dan Gista dengan sendu.
"Sudah jangan bicara lagi! Kamu sudah membuat kami semua kecewa!" ujar Eric dengan dingin.
"Yah, tolong bawa Olivia pergi dari rumah ini!" ujar Faiz dengan dingin tanpa mau melihat ke arah Olivia.
"Mas..."
"PERGI DARI SINI!" teriak Faiz dengan penuh emosi dan kekecewaan di hatinya.
"Sayang ayo pergi!" ujar Anjani dengan lirih.
"Tidak mau, Bun! Hiks... aku mau sama mas Faiz!" ujar Olivia menolak untuk pergi.
__ADS_1
"PERGI!" teriak Faiz dengan keras.
Olivia menahan isakan, mau tak mau ia ikut dengan kedua orang tuanya pergi dari rumah mertuanya dengan perasaan yang begitu hampa karena Faiz sama sekali tidak mau melihatnya mungkin suaminya itu sudah sangat kecewa dengan dirinya. Hati Olivia begitu sesak sekarang melihat suaminya sendiri sudah tidak peduli dengan dirinya.