Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 170 (Kecemasan Faiz)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Faiz menunggu dengan cemas kedatangan Rajendra dengan Olivia di depan rumahnya bahkan Rania, Ferdians dan juga Frisa ikut menunggu dengan cemas kedatangan Olivia.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Olivia, Nak?" tanya Rania dengan cemas.


"Aku pun tidak tahu, Ma. Om hanya bilang melihat Olivia berjalan sendirian di jalan yang sepi dengan wajah pucat," sahut Faiz dengan sangat khawatir.


"Ya sudah kita tunggu saja kedatangan Rajendra bersama Olivia ke sini. Nanti sesudah Olivia tenang baru kita tanya ke dia," ujar Ferdians menenangkan anak dan istrinya yang terlihat gelisah.


Dan benar saja setelah menunggu akhirnya Rajendra datang bersama dengan Olivia, Faiz yang sudah sangat khawatir dengan keadaan calon istrinya langsung menghampiri Olivia. Membuka pintu mobil penumpang, dan betapa hati Faiz begitu mencolos melihat wajah sembab, mata bengkak dengan tatapan kosong Olivia.


"Sayang!" panggil Faiz dengan lembut.


Olivia langsung merespon panggilan Faiz dengan menatap wajah tampan Faiz, bibirnya kembali bergetar menahan tangis yang membuat Faiz tidak tega, bahkan Rajendra yang hendak keluar pun menjadi berdenyut sakit karena ternyata Olivia hanya merespon panggilan Faiz bukan dirinya. Tetapi tidak mengapa yang terpenting ia sudah membawa Olivia ke tempat yang sangat aman sekarang.


Rajendra langsung keluar dari mobil karena ia berpikir Olivia butuh berbicara dengan Faiz sekarang.


"A-aku..." bibir Olivia tercekat yang membuat Faiz tidak tega.


"Tidak usah berbicara dulu, Sayang. Mas tahu kamu masih terlihat sangat syok. Sekarang ayo masuk ke rumah dulu ya," ujar Faiz dengan lembut memberikan waktu kepada Olivia untuk menenangkan diri terlebih dahulu.


Faiz merangkul Olivia dengan lembut seakan dengan rangkulan itu bisa menenangkan Olivia yang terlihat sangat kacau saat ini. Namun, belum sampai masuk ke rumah tubuh Olivia sudah limbung dan akhirnya pingsan di pelukan Faiz.


"Sayang!"


"Olivia!"


Faiz dan yang lainnya refleks berteriak, Faiz segera menggendong tubuh Olivia dan berjalan masuk ke rumah kedua orang tuanya. Rania, Frisa, Ferdians, dan Rajendra mengikuti langkah Faiz. Ternyata Faiz membawa Olivia masuk ke dalam kamarnya.


"Ma, tubuh Olivia sangat dingin sekali!" ujar Faiz dengan sangat khawatir.


"Kita panggil saja dokter Wisnu ke rumah ini biar memeriksa keadaan Olivia sekarang. Kamu selimuti Olivia dan berikan minyak kayu putih agar tubuhnya kembali menghangat," ujar Rania dengan tegas.


"Dek, tolong ambilkan minyak kayu putih ya," ucap Faiz kepada kembarannya.


"Sebentar, Kak!" ujar Frisa yang langsung keluar kamar kakaknya untuk mengambil minyak kayu putih.


Sedangkan Ferdians menelepon dokter Wisnu yang sudah beberapa tahun ini menjadi dokter keluarganya. Semua orang tampak panik. Namun, Rajendra hanya menatap Faiz yang sedang menghangatkan tubuh Olivia.

__ADS_1


"Om, Olivia tidak berbicara apapun tadi mengapa dia bisa seperti ini?" tanya Faiz dengan cemas.


"Tidak sama sekali. Sebaiknya kamu jangan menghubungi keluarganya terlebih dahulu karena aku yakin permasalahan yang Olivia hadapi saat ini ada pada keluarganya. Mungkin dengan kamu sebagai calon suaminya Olivia mau terbuka," sahut Rajendra dengan tenang walaupun dirinya sendiri juga merasakan kekhawatiran yang sama. Namun, tak mungkin ia tampakkan terlalu jelas karena ia tak mau Faiz dan kakaknya mengetahui jika ia memiliki rasa kepada Olivia.


"Ini Kak minyak kayu putihnya!" ujar Frisa memberikan minyak kayu putih kepada kakaknya yang langsung diterima oleh Faiz dengan cepat.


Faiz memberikan minyak kayu putih di hidung, tangan dan kaki Olivia yang sangat terasa dingin. Dan tak lama dokter Wisnu datang bersama dengan kedua orang tuanya yang tadi keluar dari kamarnya.


"Dok, tolong periksa calon istri saya. dia masih pingsan," ujar Faiz dengan gelisah.


"Sebentar Tuan Faiz," ujar dokter Wisnu dengan tegas.


Dokter Wisnu mulai memeriksa Olivia dengan Faiz dan yang lainnya melihat di sana.


"Bagaimana, Dok?" tanya Faiz tak sabaran.


"Sepertinya nona Olivia sedang tertekan dan sangat syok yang menyebabkan ia pingsan sekarang. Tidak ada penyakit yang serius, tetapi saya harap jangan memaksa nona Olivia untuk bercerita, biarkan dia saja yang bercerita nantinya," ujar dokter Wisnu dengan tegas.


"Terima kasih, Dok!" ucap Faiz dengan sedikit lega.


"Biar saya antar ke depan, Dok!" ujar Ferdians.


"Iya, Tuan!"


Sepeninggal Ferdians dan dokter wisnu akhirnya Olivia membuka matanya dengan perlahan. Ia sedikit terkejut yang membuat kepalanya pusing.


Melihat banyaknya orang di kamar ini membuat Olivia bungkam, tahu jika calon istrinya tidak nyaman. Faiz menyuruh mama, adik, dan om-nya untuk keluar sejenak.


"Kalau ada apa-apa panggil saja Mama," ujar Rania dengan lembut.


"Iya, Ma. Setelah keadaan Olivia membaik aku akan ke bawah juga," ujar Faiz.


Rania mengangguk, ia percaya dengan anaknya tidak akan melakukan sesuatu hal yang akan merugikan mereka nantinya. Akhirnya Rania, Frisa, dan Rajendra keluar meninggalkan Faiz yang memeluk Olivia yang terlihat masih sangat syok.


"It's okey, Sayang! Mas tidak akan memaksa kamu untuk bercerita. Sekarang tenangkan diri kamu dulu, kamu aman di rumah ini," ujar Faiz mengelus rambut Olivia dengan lembut.


Olivia membalas pelukan Faiz dengan erat bahkan isakan kecil mulai terdengar dari bibir Olivia kembali, Faiz hanya diam dengan mengusap punggung Olivia, menenangkan calon istrinya dengan caranya.


"A-ayah, B-bunda, jahat sekali!" gumam Olivia dengan lirih.


Faiz tidak membalas ucapan Olivia, ia membiarkan Olivia berbicara tanpa ia menyela sedikitpun ucapan kekasihnya itu.


"Ternyata sikap ayah dan bunda yang selalu membela Cassandra dari pada aku itu karena....."

__ADS_1


Olivia tak sanggup melanjutkan ucapannya, entah mengapa ia sangat takut Faiz akan marah dan pergi meninggalkan dirinya. Padahal pernikahan mereka sudah ia rencanakan agar membuat keluarga mereka kembali akur tapi mengapa Olivia sangat takut sekali sekarang?


"Tidak apa-apa kalau tidak mau cerita," ujar Faiz sekali lagi meyakinkan calon istrinya tersebut.


Olivia menggelengkan kepalanya, ia harus bercerita sekarang juga karena pada akhirnya semua orang akan tahu ia adalah anak haram karena nanti jika ia dan Faiz akan menikah bukan Rio yang menjadi walinya.


"A-aku akan bercerita tapi Mas jangan marah ataupun meninggalkan aku," ujar Olivia dengan berlinang air mata. "Janji?!"


"Iya janji, Sayang!" ucap Faiz yang membuat Olivia sangat lega seakan beban berat yang menimpa dirinya hilang begitu saja.


"A-aku adalah anak haram, Mas!" ucap Olivia dengan menunduk tak berani menatap wajah Faiz.


Jantung Olivia berdetak dengan sangat hebat melihat ke terdiam Faiz saat ini. Bahkan tangannya sudah berkeringat dingin.


"M-mas..."


Faiz meletakkan jari telunjuknya di bibir Olivia yang membuat Olivia terdiam. "Siapa yang mengatakan itu?" tanya Faiz dengan datar bahkan rahangnya mengetat menahan amarah.


"Siapa yang mengatakan itu Olivia? Katakan kepada, Mas!" ujar Faiz dengan begitu tajam yang membuat Olivia takut.


"C-cassandra, Mas! D-dia dengar dari pembicaraan ayah dan bunda? M-mas pasti sekarang sangat malu ya punya calon istri seperti aku? Calon istri yang menikah nanti tidak bisa di nikahkan oleh ayah sendiri. M-mas pasti malu, kan?" tanya Olivia dengan bibir gemetar menahan tangis karena ia melihat kemarahan di wajah Faiz saat ini.


"Kamu bukan anak haram, Sayang. Itu kesalahan ayah dan bunda bukan kesalahan kamu," ujar Faiz kembali tenang karena ia melihat ketakutan di wajah Olivia sekarang.


Faiz mengusap pipi Olivia dengan lembut dan mengecup bibir Olivia dengan singkat. "Jangan katakan lagi jika kamu itu anak haram ya. Mas tidak malu, Sayang. Mas sudah mengetahui sejak dulu tapi Mas tidak mengatakannya kepada kamu karena yang berhak adalah kedua orang tua kamu bukan, Mas!" ujar Faiz dengan tegas.


"T-tapi Mas..."


"Sssttt.... Jangan bicarakan itu lagi atau Mas akan marah!" ujar Faiz dengan tegas.


"Berarti mama dan papa sudah tahu?" tanya Olivia dengan lirih.


"Kamu lupa dulu ayah kamu siapa di keluarga mama? Dan bunda kamu adalah sekretaris terbaik mama mana mungkin mama dan papa tidak mengetahui peristiwa itu, Sayang!" ujar Faiz.


Entah harus merasa lega atau apa yang jelas Olivia masih merasa takut sekarang. "M-mas jangan bilang sama ayah dan bunda jika aku ada di sini. A-aku tidak siap bertemu dengan mereka," ujar Olivia dengan sendu.


"Tidak, Sayang!" sahut Faiz memeluk Olivia.


Olivia menatap Faiz dengan dalam, ia mendekatkan wajahnya ke arah Faiz. Memegang rahang Faiz dengan pelan dan bahkan ia berani mencium bibir Faiz saat ini yang membuat Faiz terkejut. Tetapi setelah itu Faiz tersenyum dan akhirnya membalas ciuman Olivia tak kalah mesranya tetapi ia masih waras, ia tidak ingin membuat kesalahan yang sama seperti kedua orang tua Olivia.


Napas keduanya terengah-engah, dan akhirnya Olivia bisa tersenyum menatap wajah Faiz yang sangat tampan.


"Sekarang tidur ya! Ini sudah mau hampir pagi, Sayang!" ujar Faiz dengan lembut.

__ADS_1


Olivia mengangguk, ia mulai memejamkan matanya kembali saat Faiz menyelimuti tubuhnya.


Setelah memastikan Olivia tidur rahang Faiz kembali mengetat. "Aku tidak akan membiarkan kamu hidup tenang, Cassandra. Tunggu saja nerakamu akan segera datang," gumam Faiz dengan dingin.


__ADS_2