Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 111 (Hampa)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Ferdians menggendong anaknya dengan menimang Frisa dengan perlahan. Frisa habis menangis yang membuat Ferdians panik, ia terus menenangkan anaknya hingga akhirnya Frisa kembali tidur di gendongannya. Ferdians sangat takut menidurkan Frisa di sofa, ia takut Frisa akan terbangun dan menangis lagi. Ferdians memijat pelipisnya yang terasa pusing, baru beberapa jam saja ia sudah kesalahan menjaga Frisa apalagi sampai lama.


"Gimana? Frisa sudah tidur?" tanya Heera dengan pelan.


"Baru saja, Bu. Sepertinya Frisa merindukan Rania, Bu. Aku tidak bisa seperti ini terus, Bu. Tidak hanya aku dan Frisa yang teriksa, Rania dan juga Faiz juga pasti tersiksa. Kami tidak akan berpisah, Bu!" ujar Ferdians dengan frustasi.


"Ayahmu benar-benar sangat egois. Ya sudah Ibu mau bicara dengan ayah kamu dulu," ujar Heera dengan tegas.


"Iya, Bu. Aku tidak bisa meninggalkan Frisa untuk saat ini karena Frisa terus rewel kalau aku turunkan," ujar Ferdians yang di angguki oleh Heera.


"Ibu keluar dulu ya," ujar Heera dengan pelan karena takut menganggu tidur cucunya yang baru berusia beberapa hari sudah harus berpisah dengan ibunya. Heera tidak bisa membiarkan ini terjadi terlalu lama, ia harus berbicara dengan mantan suaminya tersebut.


Heera berjalan ke ruang keluarga di mana Eric berada. Rumah ini memang sangat besar dan mewah, tapi Heera tidak merasa bahagia sedikitpun sekarang. Tak di pungkiri jika hatinya masih berdebar jika ada di dekat Eric, tetapi bukan itu lagi yang ia pikirkan melainkan kebahagiaan anak dan cucu-cucunya yang paling utama. Rumah mewah ini tak membawa kebahagiaan untuk hatinya melainkan hampa yang dirasakan oleh Heera.


"Mas Eric?" panggil Heera dengan pelan.


Eric yang tengah melihat televisi yang tengah menayangkan berita langsung tersenyum menatap Heera. Walaupun Heera sudah tidak berisi seperti dulu tetapi kecantikannya masih terlihat di mata Eric hingga dadanya berdabar seperti pertama kali bertemu Heera dulu.


"Sini duduk!" perintah Eric menepuk sofa di sebelahnya.


"Aku ingin berbicara, Mas!" ujar Heera tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Mau bicara apa hmm? Kamu sudah memikirkan niat baik Mas untuk kita rujuk?" tanya Eric dengan lembut.


Heera menghela napasnya dengan perlahan. Bisa-bisanya Eric masih berpikir ke arah sana setelah puluhan tahun mereka sudah berpisah dan Eric sudah mempunyai Gista.


"Mas kita sudah sama-sama tua. Bagiku melihat anak-anak dan cucu-cucu kita bahagia itu sudah dari cukup. Aku sama sekali tidak memikirkan pernikahan kembali," ujar Heera dengan tegas.


Senyum di bibir Eric langsung lenyap mendengar kata-kata Heera. "Heera, Mas masih mencin..."


"Mas stop mengatakan cinta! Aku sudah tidak memikirkan soal percintaan lagi. Bagiku suami terakhirku adalah mas Agus! Aku ingin bertemu dengannya suatu saat nanti," ujar Heera yang membuat hati Eric begitu sesak.


"Sudahlah, Mas! Lupakan masa lalu karena kamu sudah ada Gista. Kembali ke pembicaraan awal, Mas. Aku ingin berbicara mengenai Frisa," ujar Heera dengan tegas.


Eric menghela napasnya dengan pelan. "Ada apa dengan cucu kita?" tanya Eric.


"Frisa butuh ibunya. Kita tidak bisa memisahkan Frisa dengan Rania! Frisa harus bersama Rania," ujar Heera dengan tegas.


"Tidak bisa, Heera! Dia adalah cucu kita yang akan menjadi pewaris seluruh kekayaan Abraham," ujar Eric dengan tegas.


"Kenapa kamu diam? Benarkan yang aku katakan? Kamu harus adil, Mas!" ujar Heera yang membuat Eric semakin gundah.


"Iya benar Mas harus adil, Heera. Tapi Mas hanya ingin memberikan sesuatu yang belum Mas pernah berikan kepada Ferdians. Mas ingin menebus semua dosa-dosa Mas kepada Ferdians," ujar Eric dengan lirih.


"Setelah sekian lama kamu baru merasa bersalah, Mas?! Tapi Ferdians sudah mendapatkan semuanya dari ayah sambungnya walaupun ayah sambungnya tidak bergelimang harta seperti ayah kandungnya tapi untuk kasih sayang ayah sambung Ferdians tidak diragukan lagi hingga Ferdians tumbuh menjadi pria yang penuh tanggungjawab seperti itu," ujar Heera yang membuat hati Eric mencolos.


"Aku ingin Frisa dan Faiz nasibnya tidak seperti Ferdians dan Ferry, Mas. Frisa dan Faiz harus bersama dengan ibunya," ujar Heera dengan tajam.


"Heera..."

__ADS_1


"Mas, apa lagi yang Mas inginkan? Mas mau nasib cucu-cucu kita seperti kedua anak kita? Mereka harus tumbuh dengan kasih sayang keluarga!" ujar Heera dengan kesal.


"Aku tidak akan seperti ini jika Ben tidak membuat ulah!" ujar Eric dengan tegas.


"Kamu ingin menumbuhkan kebencian di hati Frisa untuk Ben? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Mas selama ini! Kenapa Mas merenggut semua kebahagiaan yang kami miliki?" ujar Heera yang membuat Eric tidak bisa berkata-kata.


"Setelah aku bertemu dengan Ferry, Frisa harus kembali kepada Rania!" ujar Heera dengan tegas.


"Aku ingin bertemu dengan Ferry sekarang, Mas! Telepon dia dan ajak bertemu!" ujar Heera dengan tegas.


"Besok saja ya!" ujar Eric terus mengulur waktu yang membuat Heera geram.


"Kenapa, Mas? Kenapa seakan-akan kamu ingin memisahkan aku dengan Ferry selamanya? Apa karena Gista? Gista bukan ibu kandungnya, aku yang ibu kandungnya! Apa salah jika aku ingin bertemu dengan putraku?" tanya Heera dengan menggebu-gebu dan mata yang berkaca-kaca.


"Bukan begitu, Heera! Frisa kan baru lahir dia tidak boleh di bawa berpergian dulu," ujar Eric mencoba mengelak.


"Ferry bisa ke sini! Kenapa begitu sulit bagi kamu untuk mempertemukan aku dengan Ferry, Mas? Apa sampai aku mati kamu tidak akan mengizinkan aku bertemu dengan Ferry? Tega sekali kamu, Mas! Aku yang sudah melahirkan Ferry tetapi dengan sangat tega kamu memisahkan aku dengan dia. Dan sekarang kamu juga akan memisahkan Frisa dari Rania begitu pun dengan Ferdians dengan Faiz," ujar Heera dengan marah.


Eric memejamkan matanya dengan perlahan. Apakah ini saatnya ia mempertemukan Heera dengan Ferry?


"Besok aku akan mempertemukan kamu dengan Ferry, Heera. Tapi kamu harus berjanji kepadaku. Apapun yang terjadi jangan benci aku lagi ya, dan jangan pergi dari rumah ini," ujar Eric dengan Eric.


"Kamu kenapa sih Mas?"


"Berjanjilah dulu, Heera! Baru aku akan mempertemukan kamu dengan Ferry! Aku janji besok kita akan bertemu dengan Ferry," ujar Eric dengan memohon.


"Aku bisa saja tinggal di sini tapi tidak dengan Frisa. Bagaimana setuju?" tanya Heera dan entah mengapa ia sangat gelisah.

__ADS_1


"Baik. Frisa akan kembali ikut dengan Rania tapi kamu dan Ferdians harus tetap di rumah ini ya karena ini rumah kalian," ujar Eric dengan wajah yang begitu ketakutan.


Heera bertanya-tanya dalam hati. Kenapa Eric terlihat gelisah dan ketakutan sekali? Apa yang terjadi sebenarnya?


__ADS_2