Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 74 (Kerinduan)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Rania dan Ferdians sudah berada di dalam ruangan Heera setelah bertemu dengan dokter yang menangani Heera. Keadaan Heera sudah semakin memburuk, walaupun Heera melakukan kemoterapi tetapi kanker leukimia yang di derita ibunya semakin parah. Dan dokter mengatakan jika usia Heera sudah tidak lama lagi.


Ferdians terlihat gelisah memegang tangan ibunya, ia semakin takut kehilangan ibunya. Karena saudara yang ia punya hanyalah sang ibu.


Rania seperti merasakan kegelisahan suaminya, wanita hamil itu mendekati suaminya dan mengelus punggung Ferdians dengan lembut.


"Kata dokter tadi ibu seperti ini karena banyak pikiran. Apa yang ibu pikirkan? Soal penyakit ibu?" tanya Ferdians dengan pelan.


Rania tahu Ferdians sedang curhat kepada dirinya karena sang ibu masih dalam pengaruh obat bius.


"Mungkin, Mas. Ibu terlalu memikirkan penyakitnya dan mungkin juga ibu terlalu memikirkan biaya rumah sakit padahal itu semua sudah saya yang menanggungnya," jawab Rania dengan pelan.


Ferdians menghela napasnya dengan pelan, ia merasa bukan hanya itu yang ibunya pikirkan ada yang lain yang ibunya pikirkan sampai ibunya drop seperti ini. Tapi apa? Mengapa ibunya mengatakan jika takut kehilangannya? Sebenarnya apa yang ibunya tutupi dari dirinya selama ini?


"Mas!" panggil Rania dengan pelan.


"Iya, Sayang. Kamu capek? Kamu mau pulang duluan bersama dengan Liam?" tanya Ferdians dengan pelan.


"Tidak mau! Saya mau di sini saja," ujar Rania yang membuat Ferdians tersenyum.


"Sini duduk!" ujar Ferdians menuntun Rania untuk duduk di sofa.


"Kaki saya pegel banget," ujar Rania yang sudah mulai merasakan pegel-pegel pada kakinya apalagi semakin bertambahnya bulan bertambah besar juga perutnya karena ia mengandung bayi kembar.


Ferdians meletakkan kaki Rania di atas pahanya, ia memijat kaki istrinya dengan pelan.


"Aduh!" teriak Rania dengan tertahan yang membuat Ferdians cemas.


"Kenapa, Sayang? Pijatan Mas sakit?" tanya Ferdians dengan panik.


Rania menggelengkan kepalanya dengan pelan. Rania mengusap perutnya dengan pelan. "Kedua anak kita bergerak, Mas!" ujar Rania dengan mata yang berbinar.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Ferdians dengan mata yang berbinar.


"Iya, Mas! Twins bergerak, saya merasakannya tadi!" ujar Rania dengan bahagia.


Ferdians mengelus perut istrinya dengan lembut. "Hai anak-anak Papa sedang apa kalian di dalam hmm? Sedang bermain ya? Mama sampai kesakitan loh," ujar Ferdians menempelkan telinganya di perut Rania.


Dug....


Ferdians terkekeh saat merasakan gerakan kedua anaknya seakan merespon ucapannya. "Anak-anak pintar," ujar Ferdians yang membuat Rania tersenyum.


"Rasanya aku tidak ingin pernikahan kami berakhir. Apakah aku harus mengatakan yang sejujurnya kepada mas Ferdians jika aku mulai mencintainya dan tak ingin berpisah darinya?" ucap Rania di dalam hati.


Rania mengusap rambut Ferdians dengan lembut. Ferdians mulai menegakkan tubuhnya kembali, ia menatap wajah Rania yang sedang melamun. Apa yang sedang istrinya lamun, kan?


"Sayang?" panggil Ferdians dengan melambaikan tangannya di depan wajah istrinya.


"Hah? Iya!" ujar Rania dengan terkejut yang membuat Ferdians mengerutkan dahinya.


"Kamu kenapa? Melamunkan apa sih?" tanya Ferdians dengan penasaran.


"Ibu pasti akan baik-baik saja, Sayang. Mas percaya itu," ujar Ferdians dengan twgas yang di angguki oleh Rania.


Rania terpesona dengan mata Ferdians yang begitu sangat memikat sekarang. "I-iya, Mas!" ucap Rania dengan gugup.


Kenapa Rania menjadi sangat gugup jika berdekatan dengan Ferdians seperti ini? Ahhh... Bisa-bisa dirinya pingsan jika terus menerus seperti ini.


****


Gista menggandeng tangan Eric, wanita itu sangat senang ketika Eric sudah bisa menemani dirinya bertemu dengan psikiater. Ya, selama ini Gista mengalami trauma hingga ia harus ke psikiater setiap bulannya untuk konsultasi, akibat meninggalnya anak yang baru saja di lahirkan oleh Gista membuat Gista menjadi depresi hingga Eric dengan sangat tega mengambil Ferry dari tangan Heera agar Gista kembali sehat. Dan benar saja Gista kembali sehat saat Eric membawa bayi ke hadapan Gista, sampai sekarang Gista mengira jika bayi tersebut adalah anak kandungnya hingga kematian Ferry membuat depresi Gista kembali kambuh, tetapi Gista mampu melewatinya walaupun setiap bulannya ia harus ke psikiater.


"Semoga saja keadaan ibu Heera baik-baik saja."


Eric menajamkan pendengarannya saat ada seseorang menyebutkan nama mantan istrinya.


"Mas, aku ke toilet sebentar ya!" pamit Gista yang di angguki oleh Eric.


"Mau aku temani?" tanya Eric.

__ADS_1


"Tidak usah, Mas. Aku bisa sendiri," ujar Gista dengan tersenyum.


"Baiklah. Aku akan menunggu kamu di sini saja," ujar Eric dengan tersenyum tipis.


Sejujurnya Eric sangat penasaran dengan perempuan yang bernama Heera itu. Apakah mantan istrinya atau perempuan lain yang namanya sama dengan mantan istrinya.


Setelah istrinya pergi Eric mencoba lebih dekat dengan wanita yang sedang berbicara dengan lelaki di sampingnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi kenapa ibu Heera bisa drop?" tanya Liam kepada suster Ana yang terlihat menghela napasnya dengan pelan.


"Awalnya ibu Heera dengan tak sengaja memecahkan gelas, lalu dia bersedih dan mengatakan tidak ingin kehilangan tuan Ferdians. S-saya juga bingung hingga akhirnya penyakit ibu kembali kambuh lagi," ujar Suster Ana dengan lirih.


"Heera? Ferdians? Apakah mereka adalah mantan istriku dan juga anak kandungku? Heera sakit? Dia sakit apa?" monolog Eric dengan banyak pertanyaan yang semakin membuat Eric penasaran.


Eric ingin sekali mendekat dan melihat Heera yang berada di dalam ruangan VVIP tersebut. Tetapi waktu yang tidak tepat membuat Eric kesal sendiri, jika benar itu adalah Heera mantan istrinya, Eric pasti sangat merasa bersalah dengan Heera dan ingin meminta maaf kepada mantan istrinya, ia masih mencintai Heera dan ingin kembali kepada Heera tapi apakah Heera mau memaafkannya dan Gista akan mengerti perasaannya?


Deg....


Eric mematung di tempatnya kala ia melihat seseorang yang sangat mirip dengan dirinya dan juga Ferry.


"Ferdians," gumam Eric dengan lirih.


Mata Eric berkaca-kaca karena akhirnya ia bisa melihat rupa anaknya. "Ternyata benar kamu sangat mirip dengan papa dan kembaran kamu, Nak. Papa ingin sekali menghampiri kamu dan memeluk kamu saat ini tapi ini bukan waktu yang tepat," monolog Eric menatap Ferdians dengan perasaan rindunya.


Lalu Eric menatap wanita yang berada di samping Ferdians, ia menyeringai menatap Rania.


"Ternyata benar kamu menikahi anak dari Ben, Ferdians! Awalnya papa ingin marah tetapi papa berpikir jika ini adalah rencana yang sangat bagus untuk menghancurkan keluarga Danuarta yang telah menghancurkan keluarga kita. Papa pastikan jika kamu juga akan membenci keluarga Danuarta setelah ini, darah Abraham yang ada di diri kamu papa yakin kamu adalah lelaki yang hebat walaupun tanpa papa mengajari kamu," ujar Eric dengan menyeringai.


"Ben, selama ini kamu bisa hidup tenang di atas penderitaan saya tetapi tidak lama lagi kamu juga akan merasakan apa yang saya rasakan bahkan lebih dari itu," ujar Eric dengan tajam bahkan tangannya terkepal dengan sangat erat saat melihat anaknya terlihat begitu mencintai Rania.


Eric tidak bisa membiarkan itu terjadi. Danuarta dan Abraham sudah lama terpecah, mereka tak boleh dekat seperti dulu lagi karena Danuarta adalah keluarga yang sangat licik dan picik.


"Mas ayo pulang!" ujar Gista menyentuh punggung suaminya.


Untung saja Eric tidak terkejut, ia tersenyum menatap Gista. "Ayo!" sahut Eric. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit, dan mungkin esok harinya Eric akan kembali lagi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Heera.


Eric belum tenang jika belum melihat keadaan Heera baik-baik saja atau tidak, rasa bersalah selalu menghantuinya hingga saat ini. Ia ingin memperbaiki semuanya yang sudah ia rusak, tetapi apakah itu akan mudah dilaksanakan?

__ADS_1


__ADS_2