Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 42 (Ulah Rania)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya....


...Happy reading...


****


Rania tersenyum tipis saat ia duduk di kursinya dan melihat isi dalam tas miliknya yang ternyata sangat lengkap. Ada vitaminnya, minyak kayu putih, dan juga beberapa permen untuk menghilangkan rasa mualnya.


Kalau kamu mual oleskan minyak kayu putih dan hisap permen kiss ini ya, Sayang. Semangat kerjanya, istriku! I love you bumil cantik!😘


Rania membaca memo kecil yang terselip di tas miliknya. Ia tersenyum kecil membaca memo tersebut, ternyata Ferdians mampu menyenangkan hatinya. Rania membuka permen kiss itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya, ternyata benar menghis*p permen membuat mulutnya terasa jauh lebih enak. Jadi, seperti ini menjadi ibu hamil? Tapi tak apa Rania sangat menikmati peran barunya sekarang.


Rania mulai fokus bekerja seperti biasanya, kedua matanya sudah fokus ke layar laptopnya, biasanya Rania akan tahan berjam-jam lamanya tetapi ini baru sejam saja Rania sudah tidak betah, ia lapar dan ingin memakan sesuatu.


Rania mengambil ponselnya dan menghubungi Sastra.


[Ke ruangan saya sekarang!] ujar Rania dengan tegas.


[Baik, Nona] jawab Sastra dengan tegas.


Di seberang sana Sastra sudah was-was dengan apa yang Rania inginkan kepada dirinya. Sungguh mendengar cerita Ferdians tadi membuat Sastra jadi takut menemui Rania tapi ketakutan itu ia kesampingkan karena ada tanggungjawab dan tugas yang ia harus kerjakan.


Rania mematikan ponselnya dengan cepat, ia bersandar di sandaran kursi dengan memegang perutnya. "Hei, anak Mama! Sedang apa kalian di sana, Sayang? Kalian lapar ya?" tanya Rania menatap perutnya.


"Enaknya kita makan apa ya? Hmmm coba Mama pikir dulu biar kita semangat bekerja hari ini," ujar Rania dengan ekspresi wajah yang sedang berpikir.


Tok...tokk...


"Masuk!" perintah Rania dengan tegas.


Sastra masuk ke ruangan Rania dengan langkah beratnya tidak seperti biasanya, melihat wajah Rania saja sudah membuat jantung Sastra berdetak dengan sangat cepat, bukan menyukai Rania tetapi ia takut dengan perintah Rania setelah ini.


"Ada apa, Nona?" tanya Sastra dengan pelan.


"Tiba-tiba saya lapar dan ingin memakan sesuatu," jawab Rania dengan tegas.


"Anda mau makan apa, Nona? Biar saya carikan," ujar Sastra dengan tegas padahal di dalam hati ia sudah was-was sendiri. Seharusnya untuk hari ini is tidak perlu terkena imbas dari mengidamnya Rania dan semoga saja do'a-nya terkabulkan.


"Nasi lemak dengan bebek goreng. Sambalnya harus banyak dan satu lagi jus buah naga masing-masing dua porsi," ujar Rania dengan cepat, terlihat sekali Rania sangat ingin memakannya.


"B-buah naga?" tanya Sastra dengan terbata.


"Iya, kenapa?" tanya Rania dengan sewot.


"T-tidak apa-apa, Nona!" jawab Sastra dengan terbata.

__ADS_1


Sebenarnya tidak ada yang salah dengan buah naga yang Rania inginkan tetapi Sastra pobhia dengan buah naga tersebut hingga keringat dingin mulai muncul di dahi Sastra. Haruskah ia mencarinya? Tapi jika Sastra tidak mencarinya Rania pasti akan marah dan ini akan berdampak dengan kehamilannya, Sastra tidak ingin terjadi sesuatu dengan kedua keponakannya nanti.


"Kenapa masih diam saja?! Ayo cari, Sastra! Kedua anak saya sudah sangat menginginkannya," ujar Rania dengan tegas.


"B-baik, Nona!" ujar Sastra dengan terbata.


"Sastra, Tunggu!"


"Ada apa, Nona?"


"Saya mau kamu yang mencarinya jangan menyuruh orang lain!" ujar Rania dengan tegas.


"B-baik, Nona!"


"Ya Tuhan... Kenapa nona Rania bisa mengatahui isi hatiku! Buah naga itu sangat menakutkan. Jika buah lain aku tidak masalah mencarinya tapi ini...." batin Sastra menjerit dengan pedih.


Sastra berjalan keluar dari ruangan Rania dengan langkah yang begitu berat. Anjani yang melihat wajah Sastra seperti tertekan membuat Anjani ingin tertawa.


"Tuan kenapa?" tanya Anjani dengan menahan senyumannya.


"Diamlah kamu Anjani! Penerus RA Grup dan Danuarta Grup sudah hadir. Keduanya sangat menakutkan sekali. Jadi, saya sarankan kamu jangan membuat masalah dengan nona," ujar Sastra dengan sarkas.


"I-ibu Rania hamil, Tuan. Itu berita yang sangat menyenangkan tapi mengapa anda terlihat sangat tertekan?" tanya Anjani dengan bingung.


"Jangan banyak bicara karena kamu tidak mengerti bagaimana di posisi saya " ujar Sastra dengan ketus fan meninggalkan Anjani begitu saja.


****


Sastra sudah mencari nasi lemak dengan bebek goreng yang Rania pesan. Kini, tinggal mencari jus buah naga yang Rania inginkan, membayangkan buah naga saja sudah membuat tangan dan kaki Sastra gemetar tak karuan.


"Karma apa ini sebenarnya Ya Tuhan?" gumam Sastra dengan lirih.


Sastra langsung memejamkan matanya dengan erat saat ia melihat pedagang es buah dan jus. Di sana terlihat buah naga yang berjejer di dalam tempat kaca.


"Sungguh ini sangat menakutkan sekali. Jika Liam dan yang lainnya tahu mereka akan menertawakan aku," gumam Sastra dengan lirih.


Mau tak mau Sastra keluar dari mobilnya untuk membeli jus buah naga yang Rania inginkan, Sastra menguatkan hatinya untuk berjalan ke sana.


"Mbak, jus buah naga-nya dua ya!" ujar Sastra menahan rasa takutnya berdiri terlalu lama dengan menatap buah naga.


"Iya, Mas. Sebentar saya buatkan dulu!" ujar penjual jus buah dan es buah itu dengan ramah.


Sastra ingin menunduk karena tak kuat melihat buah naga yang terlalu banyak. Namun, ia mendengar suara mantan istrinya yang tak jauh darinya.


"Citra!" gumam Sastra dengan pelan.

__ADS_1


"Itu Citra dengan seorang pria?" tanya Sastra di dalam hati.


"Ini jus-nya, Mas! total 10 ribu," ujar penjual jus tersebut dengan ramah.


"Ini ambil saja kembaliannya!" ujar Sastra dengan cepat.


"Ini banyak sekali, Mas. Terima kasih!" ucap penjual tersebut dengan senang dan Sastra mengangguk.


Sastra mencoba berjalan mendekat ke arah Citra dan lelaki di sampingnya tetapi Sastra harus menahan kekesalannya saat Citra dan pria itu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat ini. Ada rasa cemburu di hati Sastra saat mantan istrinya begitu dekat dengan pria lain bahkan tersenyum ramah ke pria tersebut.


Cemburu dengan apa yang ia lihatnya, Sastra sudah tidak sadar jika ia memegang jus buah naga. Sesuatu yang lebih besar akan menanti Sastra saat sudah sampai di kantor nanti, entah apa itu yang jelas akan membuat Sastra sangat tertekan.


"Kamu sudah melupakan aku, Cit?" gumam Sastra dengan sendu.


Perasaannya kacau sekarang. Sekelabat bayangan Citra yang sedang berjalan beriringan dengan pria tampan hatinya memanas bahka ia hampir menjatuhkan jus pesanan nona-nya tapi mengingat jus itu adalah jus yang diinginkan Rania membuat Sastra tersadar, ia tidak boleh menjadi lemah seperti ini. Lebih baik ia kembali ke kantor sebelum Rania menunggu dirinya.


"Sial! Buah naga!" ujar Sastra dengan bergidik ngeri membayangkan jus buah naga yang ada di tangannya. Cepat-cepat Sastra meletakkannya di kursi penumpang karena phobianya kembali datang.


***


Rania sudah menunggu dengan tidak sabaran di ruangannya, ia terus menghitung waktu dengan melihat ponsel miliknya hingga suara ketukan pintu membuat Rania sangat senang, karena ia yakin itu adalah Sastra yang datang.


"Om duda karatan itu sudah datang, Sayang. Mari kita ajak dia makan," ujar Rania dengan terkekeh dengan ucapannya yang mengatai Sastra adalah duda karatan yang belum bisa move on dari mantan istrinya sampai sekarang.


"Masuk!" ujar Rania dengan tegas.


Sastra masuk ke ruangan Rania dengan menenteng makanan dan jus yang diinginkan Rania.


"Ini pesanan anda, Nona!" ujar Sastra meletakkan makanan dan jus tersebut di atas meja.


"Kalau begitu saya permi..."


"Tidak! Siapa yang menyuruhmu untuk keluar dari ruangan ini. Saya selalu tidak suka makan sendirian semenjak hamil. Jadi, temani saya makan," ujar Rania dengan tegas yang membuat Sastra menelan ludahnya dengan kasar.


"M-makan, Nona?" tanya Sastra dengan terbata.


"Iya, kenapa? Kamu tidak mau menemani saya?" tanya Rania dengan tajam.


"M-mau, Nona. T-tapi pekerjaan saya masih banyak," ujar Sastra mencoba mengelak.


"Temani saya dulu! Apa pekerjaan itu lebih penting daripada saya?" tanya Rania dengan memicingkan matanya. Mengapa ia menangkap ketakutan di wajah Sastra?


"Kamu masih takut dengan buah naga?" tanya Rania.


"T-tidak, Nona!" ujar Sastra dengan terbata. Terpaksa ia berbohong agar nona-nya tidak berpikir macam-macam dengan dirinya.

__ADS_1


"Ya sudah, saya mau melihat kamu minum jus buah naga!" ujar Rania dengan entengnya.


"A-APA? T-TIDAK!"


__ADS_2