
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Brakk....
"ARGHHHH....." Olivia berteriak dengan sangat kencang dengan menjambak rambutnya sendiri.
Kenyataan pahit begitu sangat menghantam perasaan dirinya. Anak haram? Olivia terkekeh lalu menangis kembali. Selama hampir 23 tahun hidupnya baru kali ini Olivia mengetahui kenyataan pahit ini, ternyata sikap kedua orang tuanya yang selalu membela Cassandra karena dirinya anak haram? Yang bisa saja kehadirannya tidak diinginkan, kan?
Sedangkan Rio dan Anjani begitu sangat terpukul dengan keadaan Olivia sekarang. "Sayang, Bunda masuk lagi ya!" ucap Anjani dengan lirih.
"Aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun, Bun! Aku ingin sendiri!" ucap Olivia dengan menahan tangisannya.
"Tapi Bunda tidak bisa melihat kamu seperti ini, Sayang. Bunda boleh masuk lagi ya," bujuk Anjani dengan lirih.
"Tidak! Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun! Aku tidak menyangka Bunda dan Ayah berbohong seperti ini. Apa itu juga sebagai alasan kasih sayang kalian berbeda kepada aku dan Cassandra? K-karena aku anak haram yang kehadirannya tidak diinginkan ya, Bun? Hiks...hiks... Makanya aku selalu di suruh mengalah terus?" tanya Olivia dengan terisak.
Rio dan Anjani yang mendengarkan ucapan anaknya tiba-tiba saja menggelengkan kepalanya walaupun Olivia tidak mengetahui ekspresi wajah mereka.
"Tidak, Sayang. Ayah sama Bunda tidak pernah beranggapan seperti ini. Ayah sama bunda masuk ya, Sayang!" ujar Rio dengan pelan.
"Ayah, Bohong. Pergi dari kamar aku atau aku akan membenci Ayah dan Bunda!" ucap Olivia yang membuat hati Rio dan Anjani tertohok.
"Ayah sama Bunda minta maaf, Olivia!" gumam Rio dengan lirih.
Anjani memeluk suaminya dengan menangis, akhirnya keduanya tak lagi memaksa Olivia. Rio membawa istrinya ke dalam kamar, ia memenangkan istrinya yang sudah terisak. Rio masih memikirkan siapa yang memberitahu anaknya soal ini. Apa Cassandra yang mengatakannya karena hanya ada Cassandra yang ada di kamar anaknya setelah ia mendengar teriakan Olivia.
Sedangkan Cassandra di dalam kamarnya sangat takut dan gelisah. Apa yang ia lakukan juga akan membahayakan posisi dirinya di rumah ini, jangan sampai kedua orang tua angkatnya mengetahui jika dirinyalah yang mengatakan kepada Olivia tentang Olivia sebagai anak haram dari Rio dan Anjani.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Bagaimana jika ayah dan bunda mengusir aku setelah ini? Aaaa.... Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, aku harus mencari alasan untuk itu agar aku tidak di usir dari rumah ini. Karena papa pun juga tidak bisa diharapkan," ujar Cassandra dengan gelisah, ia menggigit kuku jarinya dengan mondar-mandir di kamarnya.
Cassandra tidak ingin menjadi gelandangan sebelum rencananya berhasil. Ia tidak ingin di usir dari tempat ini, entah mengapa setengah hatinya mengatakan jika ia pun harus menguasai rumah ini karena Olivia juga tidak berhak mendapatkan warisan bukan? Bisikan licik di hatinya membuat Cassandra menjambak rambutnya sendiri. Alasan apa yang harus ia berikan jika Rio dan Anjani bertanya kepadanya besok? Cassandra harus mendapatkan alasan yang tepat, ya harus! Ia tidak boleh tersingkirkan dari rumah ini.
*****
Mata Olivia masih terbuka dengan mata yang sudah terlihat bengkak dan sembab padahal ini sudah tengah malam tetapi Olivia sama sekali tidak mengantuk. Dengan tatapan kosong Olivia mengambil buku miliknya, ia menuliskan sesuatu di dalam kertas putih tersebut dengan mata yang begitu perih, air matanya sudah tidak menetes lagi. Namun, sesegukan itu masih ada.
Pikiran Olivia begitu sangat kosong sekarang, ia tidak tahu harus melakukan apa. Yang jelas hatinya begitu sangat sakit sekarang, hingga dirinya tak bisa menggambarkan bagaimana ia sangat terluka sekarang.
Ayah, Bunda, aku tidak tahu ternyata kenyataan pahit menghantam hidupku. Pasti kalian tidak benar-benar menginginkan aku, kan? Sekarang aku paham apa penyebab ayah dan bunda selalu ingin aku mengalah dengan Cassandra karena kalian hanya menyayangi Cassandra bukan aku si anak haram ini. Ayah, bunda, walaupun begitu aku sangat menyayangi kalian termasuk Cassandra walau Cassandra sering membuat aku kesal. Aku ingin menyendiri untuk menenangkan diri sejenak, jangan cari aku Yah, Bun. Aku pamit.
Setelah menulis pesan untuk kedua orang tuanya. Olivia mengambil jaket dan tas miliknya, menaruh ponselnya di dalam sana. Olivia keluar dari kamarnya tanpa menimbulkan suara, ia hanya ingin menenangkan diri. Jika dirinya tetap berada di sini hatinya masih tak sanggup menatap kedua orang tuanya sendiri.
Olivia benar-benar keluar dari rumah orang tuanya tanpa menimbulkan suara yang membuat mereka curiga, bahkan Olivia tidak membawa mobilnya sendiri, ia terus berjalan kaki entah kemana, yang ada di hatinya ingin segera pergi ke tempat yang bisa membuat dirinya tenang. Matanya terus menatap ke depan dengan pandangan yang sangat kosong bahkan Olivia hanya diam membisu, suara panggilan telepon pun seperti tak ia kenal mungkin saja dari Faiz atau yang lainnya. Tetapi panggilan tersebut sama sekali tak Olivia gubris, ia terus berjalan menjauh dari rumah yang sudah membuat kenangan indah namun menyakitkan untuk dirinya.
Dinginnya malam tak membuat Olivia mengurungkan niatnya, hatinya begitu pedih hingga tak tahu bahaya malam bisa saja mengintai dirinya, ia terus berjalan tak tentu arah bahkan ia sudah berjalan sangat jauh dari rumahnya. Wajah pucat dan mata bengkak membuat beberapa orang yang masih berada di luar melihat dirinya iba bahkan ada yang berbisik-bisik menduga-duga apa yang terjadi dengan Olivia saat ini.
Anak haram
Anak haram
Dua kata itu terus terngiang di hati dan pikirannya membuat dada Olivia begitu sesak hingga sorot lampu mobil menyilaukan matanya. Namun, langkah Olivia sama sekali tidak terhenti.
"Olivia!" panggil seseorang dengan nada yang sangat khawatir.
Ya, seseorang itu adalah Rajendra. Ia tak sengaja melihat gadis berjalan sendiri, dan Rajendra seperti mengenali postur tubuh tersebut. Dan benar saja setelah ia mendekat ternyata Olivia lah yang sedang berjalan sendiri di tempat yang begitu sangat sepi.
Rajendra keluar dari mobilnya, ia berlari menghampiri Olivia. "Olivia, kenapa kamu berjalan kaki di tempat seperti ini? Kemana mobil kamu? Ya Tuhan... Wajah kamu sangat pucat sekali," ujar Rajendra dengan sangat cemas tetapi Olivia sama sekali tak menggubris pertanyaannya.
"Ayo ikut saya!" ujar Rajendra dengan tegas.
__ADS_1
Rajendra tentu saja sangat khawatir dengan Olivia karena Olivia masih menjadi gadis yang ia cintai di dalam hidupnya.
"Olivia, apa yang terjadi dengan kamu. Ayo ikut saya," ujar Rajendra dengan cemas.
Akhirnya Rajendra menarik tangan Olivia dengan paksa agar mau masuk ke dalam mobilnya walaupun gadis itu tidak mau berbicara sama sekali dengan dirinya. Olivia tak memberontak, tetapi ia hanya diam membisu saat Rajendra membawanya ke dalam mobil milik pria itu.
"Olivia!" panggil Rajendra sekali lagi tetapi sama sekali tak ada jawaban dari Olivia saat ini dan itu membuat Rajendra frustasi.
Ada apa dengan Olivia? Tidak mungkinkan ia sedang berantem dengan Faiz karena tadi mereka masih baik-baik saja dan terlihat sangat mesra.
Ponsel Olivia kembali berbunyi. "Olivia ponsel kamu bunyi angkat saja siapa tahu penting," ucap Rajendra dengan pelan.
Rajendra menghela napasnya dengan kasar, ia masih bingung dengan apa yang terjadi pada Olivia. Ponsel Olivia terus berbunyi hingga mau tak mau Rajendra mengambil ponsel dari tas Olivia tetapi Rajendra meminta izin telebih dahulu karena siapa tahu kedua orang tua Olivia lah yang menelepon.
"Faiz!" gumam Rajendra saat mengetahui siapa yang menelepon Olivia.
Tanpa pikir panjang Rajendra mengangkat telepon tersebut.
[Akhirnya kamu angkat telepon Mas, Sayang] ucap Faiz di seberang sama dengan lega.
"Faiz ini aku," ujar Rajendra yang membuat Faiz terkejut.
[Om... Kenapa ponsel Olivia ada di, Om? Mana Olivia, Om?] tanya Faiz dengan cemas.
"Aku tidak sengaja bertemu di jalan yang sangat sepi. Wajahnya begitu pucat, Faiz. Bahkan sekarang Olivia tak mau berbicara sedikitpun dengan aku. Akan aku jelaskan lagi nanti sekarang aku harus membawa Olivia kemana? Sepertinya sedang terjadi sesuatu di rumah om Rio," ujar Rajendra dengan tegas.
[Tolong bawa Olivia ke rumah mama saja, Om. Aku menunggu di sini, jangan lama ya, Om!] ujar Faiz dengan cemas.
"Baiklah tunggu di sana!" ucap Rajendra dengan tegas lalu panggilan terputus.
Rajendra kembali menyalahkan mesin mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya ke rumah kakaknya, ia melihat ke arah Olivia yang masih seperti tadi.
__ADS_1
"Jika mereka menyakitimu maka mereka akan berurusan denganku, Olivia!" gumam Rajendra dengan tegas.