
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Untuk part Citra di part selanjutnya ya!🤪...
...Happy reading...
****
Ben tampak kepanasan, ia sudah tidak menahan sesuatu dalam dirinya. Ben tidak mau masuk ke dalam kamarnya dan juga Agni, ia tidak ingin melakukannya dengan wanita itu. Ben sama sekali tak punya gairah untuk bercinta dengan Agni lagi hingga ia melihat suster Ana yang keluar dari kamar hotel.
Entah apa yang di pikirkan oleh Ben, ia menghampiri suster Ana hingga wanita itu terkejut, padahal suster Ana keluar karena ia belum mengantuk sama sekali, suster Ana sudah terbiasa tidur larut malam hingga ia memutuskan untuk mencari udara segar sesudah ia memastikan Heera tertidur dengan nyanyak setelah meminum obatnya.
"Tuan Ben!" ujar Suster Ana dengan terkejut.
"Sus tolong saya!" ujar Ben dengan sangat tersiksa.
"Tuan Ben kenapa? Apa yang bisa saya bantu?" tanya Suster Ana dengan khawatir saat melihat wajah Ben yang memerah seakan menahan sesuatu.
"Jangan di sini ayo ikut saya!" ujar Ben yang menarik suster Ana begitu saja hingga wanita itu kebingungan tetapi ia tetap mengikuti langkah Ben yang menariknya entah kemana.
Ben membawa suster Ana ke dalam kamar hotel yang memang di khususkan untuk Ben. Kamar hotel Presidential suite yang Agni saja tidak pernah masuk ke kamarnya dan wanita itu tidak tahu menahu tentang kamar hotel ini, suster Ana lah wanita yang baru pertama kali ia ajak masuk ke kamar ini.
"T-tuan Ben kenapa anda membawa saya ke kamar ini?" tanya Suster Ana dengan terbata.
Ben menatap suster Ana dengan pandangan sayunya. "Seseorang telah mencampur obat perangsang ke minuman saya. Tolong saya! Saya sangat tersiksa dengan minuman ini, saya tidak bisa menahannya lagi!" ujar Ben dengan serak.
"M-maksud Tuan?" tanya Suster Ana dengan terbata. Ia mencoba berpikir posesif tetapi pikirannya terus mengarah kepada sesuatu yang membuat tubuh suster Ana merinding.
"Saya tidak ingin melakukannya dengan istri saya karena sesuatu hal. Bisakah kamu membuat saya tidak kesakitan lagi, ini sangat panas, Sus!" ujar Ben dengan memohon.
"M-maksud Tuan Ben saya harus melayani Tuan Ben untuk menghilangkan rasa panas akibat minuman itu?" tanya Suster Ana dengan menelan ludahnya dengan kasar.
Ben mengangguk dengan cepat. "Iya!" jawab Ben dengan tegas.
"S-saya tidak mungkin melakukan itu dengan anda, Tuan. Anda adalah papa dari majikan saya sendiri," ujar Suster Ana dengan tegas.
Suster Ana melepaskan genggaman tangan Ben, ia ingin beranjak pergi tetapi Nen kembali menahannya dan kali ini menarik tubuh suster Ana hingga kedua tubuh mereka saling menempel. Ben semakin mengerang saat merasakan kenyalnya gunung kembar milik suster Ana yang membuat darahnya semakin mendidih dan gairahnya semakin memuncak tinggi.
Kedua mata Ben dan suster Ana saling pandang hingga suster Ana tampak gugup sekarang karena ia dan Ben tidak ada jarak lagi.
"Saya mohon kali ini bantu saya! Saya akan bertanggungjawab, Sus!" ujar Ben dengan mengerang tertahan saat ia kembali merasakan tubuh suster Ana yang kembali membakar gairahnya.
__ADS_1
"Tapi...."
Cup....
Tanpa meminta izin Ben mencium bibir suster Ana. Suster Ana memberontak tetapi melihat kesakitan Ben membuat suster Ana tak kuasa menolaknya lagi.
"Tuhan apakah ini keputusan yang tepat? Kenapa aku kasihan sekali melihat tuan Ben sangat tersiksa seperti ini," ujar Suster Ana di dalam hati.
"Hmmm..." Ben sangat menikmati ciumannya walaupun suster Ana tak membalas ciumannya.
Suster Ana memejamkan matanya saat ciuman Ben membuat dirinya bergairah, ia adalah janda yang sudah lama tidak merasakan sentuhan lelaki. Malam ini suster Ana menyerah, entah mengapa ia sangat menginginkan sentuhan Ben hingga suster Ana tidak berpikir jernih. Mungkin setelah ini ia bisa meminum obat pencegah kehamilan, tetapi tidak meminum obat itu pun suster Ana merasa ragu jika dirinya bisa hamil lagi karena kata dokter ada masalah dengan rahimnya setelah beberapa kali keguguran.
Setelah merasa suster Ana sudah tidak memberontak. Ben membawa suster Ana ke kasur, entah mengapa ia sangat menginginkan suster Ana. Tentang ia yang akan bertanggungjawab itu benar adanya, ia akan mengatakannya dengan Rania tentang alasan ia menikahi Agni hingga pernikahannya nanti dengan suster Ana akan mendapatkan restu dari anaknya.
"Ahhh..." Tanpa sadar suster Ana mendes*h dengan tubuh bergerak dengan gelisah.
Ben tersenyum senang saat melihat suster Ana menikmati sentuhannya, ia semakin melancarkan aksinya membuat suster Ana pasrah di bawah kuasanya.
"Kenapa milikku bereaksi seperti ini? Bahkan bersama Agni tidak pernah seperti ini," ucap Ben dengan heran.
Ben tak kuasa menahan suaranya, tubuh suster Ana benar-benar membuat Ben sangat candu. Bahkan suster Ana sudah tidak sadar ketika tubuhnya sudah benar-benar polos tanpa sehelai benang pun yang menutupinya.
"Cantik!" gumam Ben yang membuat suster Ana tersadar.
"Maafkan saya, Ana!" ucap Ben tanpa memanggil suster Ana dengan kata suster Ana.
Ben melepaskan pakaiannya yang membuat suster Ana menelan ludahnya dengan kasar. Ternyata tubuh Ben masih sangat bagus sekali. Suster Ana langsung memejamkan matanya saat melihat junior Ben yang berdiri tegak di hadapannya.
"Besar sekali!" batin suster Ana.
Ben tersenyum. Ia kembali menindih tubuh suster Ana.
"Ahhh..."
Tubuh suster Ana bergerak gelisah. Sungguh sentuhan Ben membuat sekujur tubuhnya panas dan mendamba sentuhan Ben.
Sedangkan Ben, ia sudah sangat ingin memasuki suster Ana. Ia melebarkan paha suster Ana dan mengarahkan miliknya ke sana. Ben mengeram tertahan begitupun dengan suster Ana saat junior Ben memaksa untuk masuk hingga terbenam dengan sempurna di dalam sana.
"Ana milikmu membuat saya candu!" ujar Ben dengan mata menatap suster Ana dengan dalam.
"Buka mata kamu!" ujar Ben dengan lembut.
__ADS_1
Suster Ana membuka matanya dengan perlahan matanya berkaca-kaca karena ia sadar apa yang ia lakukan adalah salah. Ia sudah menjadi duri dalam pernikahan Nen dan juga Agni.
"T-tuan..."
Ben mengusap air mata suster Ana dengan lembut. "Saya tidak menyesal melakukan ini dengan kamu, Ana. Tentang tanggungjawab saya, saya benar-benar ingin melakukannya jadi kamu tidak perlu takut," ujar Ben dengan tenang.
"T-tapi Tuan sudah mempunyai istri," ujar Suster Ana dengan sendu.
"Saya terpaksa menikahinya karena sesuatu hal. Kita akan menikah dan saya akan membicarakan ini kepada Rania, untuk Agni biar menjadi urusan saya," jawab Ben dengan tegas.
"Tapi..."
"Ssstt... Jangan pikirkan itu! Semua akan baik-baik saja. Saya bergerak ya?!" ujar Ben meminta persetujuan.
"Ahhh..."
Ben dan suster Ana benar-benar melakukan hubungan suami istri. Keringat membanjiri tubuh keduanya. Terlihat sekali mereka sangat menikmati hubungan terlarang ini, Bahkan Ben tak pernah bersemangat seperti ini. Malam ini entah mengapa ia bersyukur telah meminum minuman yang sudah di campurkan obat perangsang karena ia dapat merasakan tubuh suster Ana yang senikmat ini. Bahkan beberapa kali suster Ana mendapatkan pelepasannya. Sedangkan Ben belum sama sekali, mungkin efek dari obat tersebut yang membuat dirinya seperti ini. Berbagai posisi sudah mereka lakukan hingga membuat suster Ana sangat lemas.
"Argghh..."
Ben berteriak begitu pun dengan suster Ana tubuh suster Ana bergetar dengan hebat saat merasakan rahimnya hangat oleh cairan Ben. Napas keduanya tersengal-sengal Ben ambruk di tubuh suster Ana. Ia mencabut miliknya dan berbaring di samping suster Ana dengan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang sama-sama polos.
Suster Ana tak dapat berkata-kata. Apa yang ia dan Ben lakukan benar-benar menguras tenaganya.
Cup...
Ben mengecup kening suster Ana dengan lembut. "Terima kasih telah membantu saya, Ana! Saya sudah benar-benar lega sekarang," ujar Ben dengan tersenyum.
"S-saya harus kembali ke kamar, Tuan!" ujar Suster Ana.
"Jangan! Tetap di sini temani saya! Besok pagi saja kembali ke kamarmu!" ujar Ben dengan tegas.
"Tapi ibu Heera..."
"Dia akan baik-baik saja, Ana! Saya masih menginginkan kamu!" ujar Ben dengan menatap suster Ana.
Ben mengusap pipi suster Ana. "Saya masih menginginkan kamu malam ini dan seterusnya," ujar Ben yang membuat suster Ana diam mematung.
Apakah ia tak salah mendengar? Suster Ana memekik saat Ben kembali memasukkan miliknya dari belakang.
"Ya Tuhan... Tuan Ben!" batin suster Ana keenakan.
__ADS_1
Keduanya kembali bercinta. Ben meninggalkan Agni yang menunggu kedatangannya dengan kesal, wanita licik itu sama sekali tidak tahu jika suaminya malam ini sedang bersenang-senang dengan wanita lain bahkan seakan terlihat pengantin baru yang sedang di mabuk asmara. Mungkin ini yang di namakan puber kedua yang di rasakan oleh Ben.