Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 49 (Rencana Licik)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Sastra mengikuti Citra sampai ke kamar mandi. Pria itu menunggu Citra di depan pintu toilet perempuan, tak peduli banyak wanita yang berbisik-bisik mengatai dirinya yang masuk ke dalam toilet perempuan. Sastra hanya ingin bicara dengan Citra, ia tidak suka dengan tatapan Citra yang seolah-olah tidak mengenal dirinya.


Ceklek....


Pintu terbuka yang membuat Sastra langsung menegakkan tubuhnya hingga Citra menatap dirinya dengan sangat aneh. Kenapa Sastra ada di depan toilet perempuan, begitulah pikir Citra saat ini.


Citra ingin berjalan. Namun, tubuh kekar Sastra menghalangi jalannya. "Anda bisa minggir, Pak? Saya mau lewat!" ujar Citra dengan datar.


"Tidak bisa! Kita harus bicara dulu," ujar Sastra dengan tegas.


"Jika ingin membicarakan soal kerjasama antara perusahaan bos saya dan bos snda sebaiknya jangan di sini karena ini toilet perempuan. Tidak pantas lelaki berada di tempat ini, anda bisa di anggap pria c*bul oleh wanita yang datang ke toilet ini," ujar Citra dengan tegas dan terkesan dingin berbicara kepada Sastra.


"Termasuk kamu, Citra?" tanya Sastra dengan menyeringai.


Citra terkekeh sinis. "Ya tentu saja!" ujar Citra dengan dingin.


Bukannya marah Sastra malah maju yang membuat jaraknya dan Clara semakin dekat tetapi dengan refleks Citra mundur ke belakang karena Sastra terus berjalan mendekati dirinya.


"Anda mau apa?" tanya Citra dengan terbata.


Jantung Citra berdetak dengan sangat kencang saat Sastra menatap dirinya dengan begitu dalam. Debaran jantungnya seperti debaran saat dirinya masih mencintai Sastra dan itu tidak boleh terjadi karena Citra tidak mau masa lalu yang menyakitkan terulang kembali di mana Sastra lebih mementingkan Rania dan keluarga Danuarta daripada dirinya yang notabenya adalah istri Sastra waktu itu, kehilangan anak yang baru ia ketahui kehadirannya membuat Citra masih merasakan sakit saat melihat wajah Sastra.


Karena Sastra mengabaikan dirinya Citra kehilangan anaknya! Karena Sastra selalu pulang malam Citra sendiri dan hingga akhirnya stres.


Sastra berjalan dengan perlahan mendekati Citra hingga keduanya berada di dalam toilet yang sama dan dengan cepat Sastra menutup pintu toilet hingga menguncinya agar Citra tak berlari keluar. Sastra butuh bicara dengan Citra saat ini.


"Apa mau kamu?" tanya Citra dengan kesal saat ia tahu pintu toilet sudah di kunci oleh Sastra.


"Kita butuh bicara Citra!" ujar Sastra dengan tegas.


"Tidak ada yang harus kita bicarakan karena kita sudah berakhir," sahut Citra dengan sangat dingin.


"Saya tahu kita sudah berakhir bahkan sudah beberapa tahun yang lalu. Sudah 5 tahun tepat saat kita berpisah, Citra. Tapi itu saya lakukan karena terpaksa! Saya tidak ingin berakhir dengan kamu," ujar Sastra dengan jujur.


Citra terkekeh sinis. "Terpaksa?" tanya Citra dengan senyuman yang sangat aneh.


"Citra dengarkan saya! Saya masih mencintai kamu sampai detik ini, saya masih terbayang-bayang kamu terjatuh hingga darah keluar dari sela-sela paha kamu yang menyebabkan kita kehilangan anak kita. Saya masih..."

__ADS_1


"CUKUP!" teriak Citra dengan keras dan ia menutup telinganya dengan kedua tangannya.


"Oke... Saya tidak akan membalas itu lagi. Tapi saya minta kamu menjauh dari Alex!" ujar Sastra dengan dingin.


"Apa urusan anda?" tanya Citra dengan tajam.


Sastra menatap tajam ke arah Citra. "Karena saya peduli dengan kamu! Alex pria jahat, Citra! Saya sudah mengenal Alex sejak kami duduk di bangku SMA!"ujar Sastra dengan tegas.


"Peduli katamu? Bulshit!" ujar Citra dengan tajam yang membuat Sastra menghela napasnya dengan berat. Harus bagaimana lagi membuat Citra percaya kepada dirinya?


"Anda sama sekali tidak peduli dengan saya! Anda selalu membuat saya menunggu dalam kesendirian! Anda selalu membuat saya menanti kepulangan anda tapi apa yang saya dapat? Saya sendirian! Saya mempunyai suami yang sama sekali tidak peduli dengan saya bahkan ketika saya mengidam pun anda tetap tidak peduli," ujar Citra dengan sinis.


"Pembicaraan kita sudah selesai saya mau keluar!" ujar Citra dengan dingin.


Citra menatap Sastra yang tampak diam. "Dan satu lagi yang harus anda ingat baik-baik, Alex lebih baik daripada anda," ujar Citra dengan tajam dan ia dengan cepat membuka pintu saat Sastra lebih banyak diam dan mungkin sedang merenungkan kesalahannya di masalalu.


"Maaf!" gumam Sastra yang terdengar sangat pelan tetapi Citra masih bisa mendengar.


Citra tak peduli dengan kata maaf yang terlontar dari mulut Sastra. Ia tetap meninggalkan Sastra yang masih diam mematung di dalam toilet. Bagi Citra, Sastra adalah masa lalu yang sangat menyakitkan untuk dirinya bahkan karena Sastra, Citra harus bolak-balik ke psikiater untuk memenangkan dirinya.


****


"Kenapa lama sekali?" tanya Alex dengan tajam.


"Saya sakit perut, Pak!" ujar Citra berbohong.


Ferdians dan Rania mengamati wajah Sastra dan juga Citra yang terlihat sangat berbeda. Rania mengira jika ada perdebatan sengit antara keduanya tadi yang membuat Citra dan Sastra sama-sama dengan ekspresi wajah yang tak bisa ia baca.


"Mas, aku mau minum itu!" tunjuk Rania dengan minuman yang sangat menggoda untuk dirinya.


Ferdians dan Sastra refleks melihat ke arah minuman yang di tunjuk oleh Rania dan kebetulan sekali pelayan datang ke arah mereka.


"Mau minumannya Tuan dan Nyonya?" tanya pelayan dengan ramah tetapi wajahnya amat terlihat tegang yang membuat Sastra tanggap.


"Ya saya mau!" ujar Rania dengan cepat.


Pelayan tersebut memberikan 5 minuman ke atas meja tetapi minuman yang diberikan cukup aneh bagi Sastra karena melihat tangan dan wajah pelayan tersebut.


"Silahkan di minum. Saya permisi," ujar pelayan tersebut dengan cepat.


Setelah kepergian pelayan hotel. Rania langsung mengambil gelas yang berisikan minuman yang sangat menggoda dirinya.


"Tunggu Nona! Anda jangan meminumnya dulu," ujar Sastra dengan tegas yang membuat Rania, Alex dan juga Citra menatap ke arah Sastra.

__ADS_1


"Saya menginginkannya!" ujar Rania dengan tajam.


"Saya yang akan meminumnya lebih awal!" Sastra merebut gelas tersebut dengan cepat.


"Sastra apa yang kamu lakukan?" tanya Ferdians dengan tajam.


Sastra tidak peduli, ia tetap meminum milik Rania yang membuat Rania menatap kesal ke arah Sastra.


"Berani sekali kamu meminum minuman saya Sastra?!" ujar Rania dengan geram.


Sastra tak menjawab karena setelah ia meminum minuman tersebut perut dan kepalanya langsung sakit. Ternyata benar yang ia curigai barusan.


"Sastra!" panggil Rania dengan panik saat melihat wajah Sastra begitu pucat.


Uwekkk...


Uwekkk...


"Apa yang terjadi?" tanya Ferdians dengan cemas.


Citra menatap Sastra dengan panik, ia ingin membantu Sastra tetapi tangannya di tahan oleh Alex.


"Bawa Sastra ke rumah sakit cepat!" ujar Rania dengan tegas.


Ben dan Doni datang menghampiri padahal mereka sedang asyik membahas bisnis bersama dengan para kolega mereka, dan mereka tadi ingin mengajak Ferdians tetapi karena Sastra seperti ini keduanya langsung menghampiri Sastra.


"Ada apa? Kenapa Sastra jadi seperti ini?" tanya Ben dengan tegas.


"Sastra muntah setelah meminum minuman ini!" ujar Rania.


Ben mencium minumannya, bau menyengat langsung tercium di hidung Ben.


"Bawa Sastra ke rumah sakit. Dia harus di tangani segera oleh dokter karena minuman ini mengandung racun," ujar Ben dengan tegas yang membuat Ferdians mendelik tidak percaya.


Ferdians mengepalkan kedua tangannya karena minuman itu diberikan untuk istrinya maka Rania lah yang awalnya menjadi target tetapi Sastra yang sudah paham dengan keadaan langsung dengan sigap menjadi tameng untuk Rania.


Keadaan Sastra sudah sangat lemas. Liam dan yang lainnya sedang berjaga di luar langsung membawa Sastra ke rumah sakit setelah di telepon oleh Rania.


"Bahkan sampai sekarang yang menjadi prioritas kamu adalah Rania!" gumam Citra di dalam hati.


Sedangkan Clara, Roby, dan Agni terlihat mengumpat dan panik.


"Bagaimana kalau kita ketahuan?" tanya Clara dengan panik.

__ADS_1


"Tenang, Sayang. Pelayan itu tidak berani berkata jujur jika dia dan keluarganya ingin selamat!" ujar Roby dengan menyeringai yang membuat Clara dan Agni sedikit lega.


"Kamu memang bisa di andalkan, Roby!" ucap Agni dengan bangga.


__ADS_2