
...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya dengan like, vote, dan komen kalian ya!...
...Happy reading...
***
Ferdians menghampiri anak buah istrinya dengan langkah tegas. Terlihat Sastra, Liam, Ricard, dan Nico sangat frustasi sekali. Gara-gara mangga muda anak buah istrinya yang biasanya gagah kini terlihat berantakan, Ferdians terkekeh di dalam hati karena takjub dengan istrinya yang bisa membuat lelaki tak berkutik termasuk dirinya.
"Akhirnya Tuan datang juga!" ujar Liam dengan perasaan lega karena dirinya menjadi bahan taruhan sekarang antara hidup dan mati karena nona mereka ingin melihat dirinya memanjat pohon mangga.
"Kenapa wajah kalian terlihat sangat tertekan sekali?" tanya Ferdians dengan terkekeh.
"Gara-gara mangga muda, Tuan!" jawab Ricard dengan lesu.
"Waktu tinggal satu jam sebelum jam 9 malam kita harus mendapatkan mangga muda itu," ujar Sastra dengan tegas.
"Mati!" umpat Liam dengan frustasi.
"Ayo kalian ikut saya, semoga saja mangga itu sudah berbuah sekarang," ujar Ferdians yang membuat ke-empat lelaki itu berdiri dengan tegak lagi, semangat mereka kembali membara setelah Ferdians mengatakan itu.
"Dimana, Tuan?" tanya Ricard dengan lega.
"Di rumah saya yang lama!" ujar Ferdians dengan tegas.
"Ayo kita ke sana sekarang, Tuan!" ujar Nico dengan semangat.
Ferdians mengangguk. Sastra mengendarai mobilnya sendiri, sedangkan liam bersama dengan Ricard dan juga Nico, begitu pun dengan Ferdians yang sudah masuk ke mobil milik Rania.
"Kamu mengidam sampai merepotkan mereka, Sayang? Untung saja mereka menyayangi kamu dan menganggap kamu adalah adik mereka," gumam Ferdians dengan lirih.
Drttt...drrttt...
Ferdians tersenyum saat melihat nama istrinya lah yang menelepon.
[Halo, Sayang!] sapa Ferdians dengan lembut.
[Pulang!] perintah Rania dengan datar.
[Pulang? Kenapa hmm? Rindu dengan suamimu ini ya?] tanya Ferdians dengan meng*lum senyumannya.
[Cepat pulang!] ujar Rania dengan kesal yang membuat Ferdians terkekeh.
[Sebentar ya, Sayang. Sebelum jam 9 aku sudah ada di rumah] ujar Ferdians memberikan pengertian.
[Iya] jawab Rania dengan singkat
[Rania!] panggil Ferdians dengan lirih.
[Hmmm...]
[I love you calon Mama!]
Ferdians menunggu jawaban dari Rania yang terdiam di seberang sana. Mungkin perempuan itu sedang mencerna kata-katanya.
[Rani...]
Tuttt...
"Yah dimatikan!" ujar Ferdians dengan lesu karena ia berharap mendapatkan balasan dari kata-katanya tadi.
Ferdians meng*lum senyumannya membayangkan wajah salting istrinya membuat Ferdians tidak sabar ingin segera sampai di rumah.
__ADS_1
****
Sastra, Liam, Ricard, dan Nico melihat pohon mangga yang sangat tinggi sekali di belakang rumah Ferdians yang sekarang sudah di urus dengan bibi Linda, tetangga yang sudah mereka anggap sebagai saudara.
"Tidak ada pohon yang lebih pendek, Tuan?" tanya Liam dengan menelan ludahnya dengan kasar karena ia yang harus menaiki pohon mangga ini hingga mendapatkan mangga muda yang diinginkan.
"Ada itu!" tunjuk Ferdians ke arah pohon mangga yang masih sangat kecil sekali yang membuat Sastra, Ricard, dan Nico menahan tawanya.
"Ck...Jangan tertawa kalian!" ujar Liam dengan tajam.
"Bos ayo naik! Takut nanti kita telat dan nona Rania akan marah. Saya sudah menyiapkan kamera untuk memvideokan Bos mengambil buah mangga muda," ujar Ricard yang membuat Liam menghela napasnya dengan pelan.
Awas saja Ricard berani sekali dia menyuruh Liam. Setelah misi mereka selesai Liam akan memberikan pelajaran untuk Ricard.
Liam mulai memanjat pohon mangga yang terlihat tinggi sekali, hanya ini pohon satu-satunya yang berbuah dan itupun tidak banyak mungkin hanya sekitar 5 buah yang paling banyak adalah bunganya.
Ricard sibuk mengambil video yang pas agar nona-nya melihat ketika Liam memetik buah mangga muda tersebut. Sedangkan Ferdians dan yang lainnya hanya sibuk menonton dan Ferdians menangkap mangga muda yang berhasil Liam jatuhkan.
"Berapa yang diambil?" tanya Liam yang mulai merasa tidak nyaman karena banyaknya semut hitam yang mulai berjalan di tangan dan kakinya.
"5 saja cukup!" sahut Ferdians yang di angguki oleh Liam.
"Baik, Tuan!"
"Sial! Semut ini menggigit tanganku!" ujar Liam dengan meringis menahan sakit sekaligus gatal terkena gigitan semut hitam dan merah.
Satelah 5 mangga ia dapatkan Liam dengan cepat turun dari pohon mangga yang tinggi milik Ferdians.
"Aduh-aduh!" ucap Liam dengan gelisah karena ternyata semut-semut sudah masuk ke dalam bajunya. Liam melepaskan bajunya begitu saja, ia mengibaskan bajunya agar semut yang menggigit dirinya pergi.
"Tolong bantu aku!" ujar Liam dengan meringis.
Sastra terkekeh tetapi lama-lama mereka kasihan dengan Liam dan membantu Liam menyingkirkan semut-semut tersebut agar tidak menggigit Liam.
"MANA? CEPAT AMBIL SEBELUM BADANKU GATAL-GATAL!" teriak Liam.
Sastra membantu membuang ulat bulu tersebut dengan hati-hati agar ia juga tidak terkena bulunya.
"Sial! Sepertinya aku sudah terkena ulat bulu!" ujar Liam menggaruk punggungnya yang sudah sangat gatal dan benar saja badan Liam sudah bentol-bentol karena ulat bulu dan juga semut.
"Yang sabar bos!" ujar Nico prihatin.
Sedangkan Liam hanya mendengkus kesal mendengar ucapan Nico.
"Kalian jangan berdebat! Ayo pulang, obati saja nanti di rumah, Liam. Rania sudah menelepon saya lagi," ujar Ferdians dengan tegas.
"Baik, Tuan!" ujar Liam dengan pasrah dan menahan rasa gatal di tubuhnya.
****
Rania menunggu kepulangannya suaminya dengan duduk di sofa. Padahal ia baru berjumpa dengan Ferdians dan entah mengapa ia sangat ingin melihat wajah Ferdians sekarang. Apalagi ketika mendengar perkataan Ferdians yang terakhir ketika mereka sedang berteleponan tadi.
I love you calon mama!
Perkataan Ferdians itu membuat Rania terus berpikir hingga tak sadar jika Ferdians dan yang lainnya sudah pulang.
"Sayang aku pulang!" ujar Ferdians memasuki rumah.
Mendengar suara Ferdians dan langkah kakinya membuat Rania langsung berdiri dan berjalan menghampiri Ferdians. Rania ingin sekali memeluk Ferdians tetapi egonya membuat Rania mengurungkan niatnya.
Rania melihat Ferdians pulang bersama dengan anak buahnya hanya memicingkan matanya. "Kamu membantu mereka untuk mencari mangga muda pesanan saya?" tanya Rania dengan datar yang membuat Liam dan lainnya ketar-ketir takut Rania marah besar.
__ADS_1
"Tidak membantu, Sayang. Tapi kebetulan di rumahku ada pohon mangga muda yang sedang berbuah walaupun tak banyak," ujar Ferdians menjelaskan.
Rania menganggukkan kepalanya. Ia menatap Ricard yang memegang kamera. "Berikan kameranya pada saya!" ujar Rania dengan tegas.
"Ini, Nona!" ujar Ricard memberikan kameranya pada nona-nya.
"Nona, saya permisi mau mandi sebentar karena badan saya sudah gatal-gatal terkena ulat bulu dan juga semut," ujar Liam yang mulai tak tahan dengan rasa gatal di tubuhnya.
Rania melihat ke arah Liam. Tubuh Liam sudah bentol-bentol bahkan terlihat sangat banyak. "Silahkan!" ujar Rania yang merasa ngeri dengan tubuh Liam.
"Selain Liam kalian semua ikut saya duduk di karpet itu," ujar Rania dengan tegas.
"Baik, Nona!" ujar Sastra, Ricard, dan juga Nico secara bersamaan.
Perasaan mereka menjadi tidak enak setelah Rania menyuruh mereka untuk duduk.
"Temani saya makan mangga muda sambil menonton video Liam!" ujar Rania yang membuat Ferdians dan lainnya menelan ludahnya dengan kasar.
Tentu saja kendalanya karena mereka tak suka rasa masam.
"Kenapa kalian? Mau protes?" tanya Rania dengan tajam.
"T-tidak, Nona!" jawab Sastra, Ricard, dan Nico dengan terbata.
"Sayang, ini sudah malam. Apa tidak sebaiknya kita istirahat saja dulu? Besok siang baru kamu memakan mangga mudanya ya," ujar Ferdians mencari alasan.
"Tidak mau! Saya ingin memakannya sekarang juga," ujar Rania dengan tegas.
"Pelayan!" panggil Rania dengan keras.
"Iya, Nona!"
"Bersihkan mangga ini dan berikan padaku lagi setelah sudah di potong-potong jangan lupa di kasih garam dan ulekan cabai sedikit ya! Oo ya gula sedikit," ujar Rania dengan tegas.
"Baik, Nona. Tunggu sebentar ya!" ujar pelayan dengan patuh.
Rania mulai memutar video Liam yang memanjat pohon mangga, ia menikmatinya seperti sedang menonton film dengan Ferdians yang memeluk dirinya.
"Kalau ibu sudah keluar dari rumah sakit saya mau menginap di rumah ini," ujar Rania dengan serius.
"Kamu yakin? Rumah ini tidak sebesar rumah milik kamu, Sayang!" ujar Ferdians melihat ke arah Rania.
"Pokoknya saya mau menginap di rumah ini!" ujar Rania dengan tegas.
"Baiklah kita akan menginap beberapa hari, Sayang!" ujar Ferdians yang membuat hati Rania senang.
"Nona, ini mangga mudanya," ujar pelayan dengan sopan.
"Letakkan di meja dan kembali ke dapur," ujar Rania dengan tegas.
"Baik, Nona!"
"Ayo makan!" ujar Rania kepada Ferdians, Sastra, Ricard, dan juga Nico.
Mereka tampak ragu mengambil mangga tersebut. Namun, dengan santainya Rania makannya bahkan ekspresinya biasa saja sedangkan ke-empat pria yang duduk bersamanya sudah tidak tahan dengan rasa masam saat mangga tersebut sampai di lidah mereka.
"Enak, kan?"
"I-iya enak, Nona!"
"Enak sekali, Sayang!"
__ADS_1
"Demi calon anak aku rela memakan mangga asam ini!" gumam Ferdians di dalam hati menahan rasa asam di mulutnya.