Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 199 (Tuan Putri)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya...


...Happy reading...


...****...


Gavin masuk ke kamar Frisa dengan perlahan, ia menggeleng kepalanya saat melihat Frisa yang masih tertidur dengan nyeyaknya mungkin gadis itu benar-benar kelelahan karena habis mengikuti acara pernikahan Rajendra dengan Cassandra.


Gavin duduk di pinggir kasur dengan pelan, ia menatap Frisa dengan tersenyum. Tangan Gavin menyingkirkan rambut Frisa yang menghalangi dirinya untuk wajah cantik Frisa. Gavin mengusap pipi Frisa dengan lembut.


"Hei, tuan putri ayo bangun!" ucap Gavin dengan lembut.


"Sebentar lagi!" gumam Frisa dengan pelan.


Gavin tersenyum. "Ini sudah pagi, Sayang. Katanya mau ke pantai," ujar Gavin yang membuat Frisa langsung membuka matanya.


Frisa melihat ke arah Gavin dengan masih memeluk guling kesayangannya. "Beneran ke pantai, kan? Kita tidak ke kantor, kan?" tanya Frisa dengan berbinar.


Gavin mengangguk. "Sudah sana siap-siap. Aku tunggu di luar," ujar Gavin dengan lembut.


"Ish... Kamu tuh aneh tahu! Di kamar ini tidak ada siapapun tetap saja panggil saya dengan sebutan 'sayang' dan biasanya nyebut diri sendiri 'saya' ini kenapa aku? Ayolah Gavin, hubungan kita itu hanya sandiwara di depan kedua orang tua kita dan orang lain jika kita berdua tidak perlu seperti itu," ujar Frisa dengan kesal.


Gavin menggelengkan kepalanya. "Biar terbiasa. Kamu mau aku keceplosan?" tanya Gavin dengan santainya.


"Ya, tidak. Tapi ini sangat terasa aneh," jawab Frisa dengan menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Maka dari itu biasakan, Sayang. Ya sudah kamu mandi sana! Aku tunggu di luar," ujar Gavin dengan lembut.


Cup....


Frisa terdiam saat Gavin kembali mengecup keningnya dengan sangat lembut. Desiran hangat selalu menyapa hatinya saat Gavin menciumnya seperti ini bahkan saat perlakuan lembut Gavin kepada dirinya.


Gavin keluar dari kamar Frisa, ia menunggu Frisa di bawah dan bergabung dengan Faiz dan juga Ferdians.


"Jadi pindah hari ini, Tuan?" tanya Gavin melihat banyak koper yang sudah berada di luar.


"Jadi dong, rumah kami sudah selesai di renovasi. Dan kami juga ingin mandiri secepatnya," jawab Faiz dengan tersenyum. "Dan jangan panggil saya dengan sebutan 'tuan' lagi karena sebentar lagi kamu juga akan menikah dengan Frisa, kan? Panggil saja saya Kakak, adik ipar bayaran!" ujar Faiz dengan terkekeh.


Gavin tersenyum mendengar penuturan Faiz yang memang benar adanya. "Iya, Kak. Hari ini saya izin untuk membawa Frisa ke pantai karena dari kemarin Frisa merengek ingin ke pantai," ujar Gavin.


"Setelah dari pantai langsung saja ke rumah Faiz dan Olivia ya. Papa sama mama akan ke sana duluan," ujar Ferdians.


"Iya, Pa. Nanti saya akan membawa Frisa langsung ke sana," ujar Gavin dengan tegas.


"Mas!" panggil Frisa yang terlihat menuruni tangga.


Gavin melihat ke arah Frisa yang terlihat sangat cantik sekali bahkan Gavin terlihat sangat mengagumi Frisa. Bahkan hati Gavin berdesir saat Frisa memanggilnya dengan sebutan 'mas' berharap panggilan itu akan permanen untuk dirinya.


Frisa melihat ke arah koper-koper yang sudah berada di bawah. "Kakak mau pindah sekarang? Yah, tidak jadi ke pantai dong!" gumam Frisa.

__ADS_1


"Kamu pergi saja dulu sama Gavin, Dek. Kalian nyusul saja nanti setelah pulang dari pantai," ujar Faiz dengan lembut.


"Emang tidak apa-apa? Kan hari ini kepindahan Kakak dan kak Olivia," ujar Frisa menatap kakaknya.


"Tidak apa-apa, Dek! Pergi duluan saja sama Gavin setelah dari pantai baru kamu ke rumah Kakak," ujar Faiz dengan lembut karena ia sangat tahu adiknya butuh hiburan.


"Yeee... Iya nanti aku akan langsung ke sana ya, Kak!" ujar Frisa dengan sangat bahagia karena ia sangat ingin ke pantai.


"Mama sama kak Olivia ke mana?" tanya Frisa yang tak melihat dua wanita kesayangan itu.


"Ada di dapur. Kak Olivia sedang membuatkan sarapan untuk mama karena mama hanya mau masakan Olivia," sahut Ferdians dengan terkekeh.


"Kalian pergi saja nanti Papa yang akan mengatakan dengan Mama. Nanti kesiangan ke pantainya," ucap Ferdians.


"Beneran ya, Pa! Kalau begitu Frisa pergi dulu," ujar Frisa dengan tersenyum.


"Pa, Kak, saya antar Frisa ke pantai dulu" pamit Gavin dengan sopan.


"Iya, hati-hati!" ucap Faiz dan Ferdians secara bersamaan.


*****


Gavin membukakan pintu untuk Frisa. Setelah Frisa masuk barulah Gavin masuk ke dalam mobil.


"Hari ini saya malas diikuti banyak bodyguard. Saya hanya ingin liburan tanpa ada banyak orang yang mengikuti kita," ujar Frisa dengan tegas.


"Cakra, Agam, sama Melvin saja deh yang ikut! Tidak usah banyak seperti itu," ujar Frisa dengan tegas.


"Tapi..."


"Cakra, Agam, dan Melvin yang ikut atau saya pergi sendiri!" ujar Frisa dengan tegas.


"Oke... Hanya mereka bertiga," ujar Gavin dengan pasrah yang membuat Frisa tersenyum senang.


Gavin melihat ke arah luar. "Cakra, Agam, Melvin! ikuti kami dari belakang yang lain di rumah saja," ujar Gavin dengan tegas.


"Siap!" ujar Cakra, Agam, dan Melvin secara bersamaan.


Frisa hanya butuh ketenangan dan selama ini dirinya sudah selalu diikuti dengan para bodyguard yang jumlahnya cukup banyak. Jadi, mungkin kali ini hanya Cakra, Agam, dan, Melvin yang ikut tidak apa-apa.


Gavin mulai menjalankan mobilnya dengan perlahan. Ia melihat Frisa yang tampak tersenyum senang, yang membuat Gavin juga ikut tersenyum.


"Nanti kita di pantai main air ya Gavin!" ujar Frisa yang seperti anak kecil.


"Emmm iya terserah kamu saja," jawab Gavin dengan lembut.


"Kamu bawa baju ganti, kan?" tanya Frisa melihat ke belakang. Ia tersenyum karena Gavin selalu siap untuk itu.


"Bawa karena nanti juga paling pulang agak sorean, Sayang!" ujar Gavin yang membuat Frisa terdiam.

__ADS_1


"Masih saja memanggil saya dengan sebutan itu," ujar Frisa dengan cemberut.


"Karena saya suka!" jawab Gavin dengan entengnya.


"Maksud kamu?" tanya Frisa memicingkan matanya. "Jangan-jangan kamu memang suka beneran sama saya ya?" tanya Frisa dengan memicingkan matanya.


"Saya hanya profesional saja, Nona. Sudahlah mending Nona ngemil dari pada bertanya kepada saya," ujar Gavin mengambilkan makanan ringan untuk Frisa.


Frisa menerimanya dengan suka hati, ia langsung membuka bungkus snack tersebut dan memakannya dengan lahap bahkan tak mempedulikan lagi Gavin yang sedang menyetir. Semenjak Frisa meminta Gavin untuk menjadi bayarannya Frisa lebih cerewet dari biasanya bahkan Frisa pernah marah-marah seorang gadis hanya karena gadis itu berbicara kepada Gavin yang membuat Gavin hanya bisa pasrah dsn menggelengkan kepalanya.


Setelah 2 jam perjalanan akhirnya keduanya sampai di pantai yang sangat Frisa inginkan karena di pantai ini sangat terlihat indah dengan pasir putihnya bahkan airnya saja sangat jernih.


Tanpa menunggu Gavin membukakan pintu untuk dirinya, Frisa langsung membuka pintunya dan berlari ke arah pantai. "Sayang jangan lari-lari!" teriak Gavin.


"Iya!" teriak Frisa tak mempedulikan larangan Gavin kepadanya.


Frisa sudah bermain air dengan sangat bahagia dan untung saja pantai ini tidak terlalu ramai. Jadi, Frisa bisa lebih leluasa bermain air.


"Lo beneran panggil nona Frisa dengan sebutan sayang gak hanya di keluarga saja?" tanya Melvin dengan sangat aneh.


"Hmmm iya kenapa? Lo cemburu?" tanya Gavin dengan terkekeh sinis.


"Gue gak cemburu cuma lo kelihatan banget suka sama nona Frisa," ujar Melvin.


"Kalau gue emang suka lo mau bilang apa?" tanya Gavin yang membuat Melvin terdiam sedangkan Cakra dan Agam menahan tawanya.


Gavin berjalan meninggalkan ketiga sahabatnya dan menghampiri Frisa yang sudah bermain air bahkan seluruh pakaiannya sudah basah.


"Gavin ayo sini!" ucap Frisa menarik tangan Gavin hingga akhirnya Gavin juga duduk bersama dengan Frisa menikmati deburan ombak yang menyapa tubuh keduanya. Frisa tertawa bahagia yang membuat Gavin melihat ke arah Frisa.


"Waah hahaha ombaknya datang Gavin!" teriak Frisa dengan sangat senang hingga membuat tubuh keduanya kembali basah.


Gavin tertawa pelan, ia tidak pernah bermain seperti ini lagi karena kesibukan mereka. Tawa keduanya membuat Melvin merasa aneh ketika melihat keduanya tampak bahagia.


"Terlihat sekali nona Frisa sudah move on dari kamu. Lihatlah mereka sangat romantis sekali! Kapan kita mendapatkan pasangan juga?" gumam Cakra dengan pelan.


Melvin hanya bisa menghela napasnya dengan pelan. Mungkin ini memang yang terbaik untuk semuanya karena Gavin memang lebih cocok menjadi pendamping Frisa dari pada dirinya.


"Gue lihat juga nona Frisa suka dengan Gavin ya walaupun nona Frisa hanya menjadikan Gavin suami bayaran tapi gue yakin lambat laun semuanya akan berbeda dan kisah mereka pasti akan happy ending," ujar Melvin dengan tersenyum.


"Yups... Pasti kalau itu mah!" jawab Agam dengan tegas karena ketiganya juga sudah mengetahui bagaimana kisah cinta Rania dan Ferdians dari orang tua mereka masing-masing. Hanya saja mereka tutup mulut dan tak membicarakan hal itu yang membuat Rania dan Ferdians marah nantinya.


Sedangkan Gavin dan Frisa sudah berlarian ke sana ke sini hingga Gavin berhasil menangkap Frisa yang membuat Frisa tertawa.


"Kamu tidak bisa lari tuan putri!" ujar Gavin dengan terkekeh.


Mereka asyik bermain air dan pasir hingga tanpa mereka sadari seseorang telah mengawasi kebahagiaan mereka.


"Lihat apa yang akan saya lakukan kepada cucu kesayangamu itu, Ben!" gumam seseorang itu dengan sinis.

__ADS_1


__ADS_2