
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Rio menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. Ia tak tega melihat tangan mungil anaknya harus di infus seperti itu, ia menyeka air matanya dengan kasar karena Rio tidak bisa menahan tangisnya sekarang. Ada rasa haru, kecewa, dan perasaan lainnya yang membuat hatinya begitu sesak sekarang.
"Siapa nama anak kita, Anjani?" tanya Rio dengan lirih dan mata tanpa berkedip menatap wajah anaknya yang masih terlelap sehabis minum obat yang diberikan oleh dokter.
"Olivia Permata," jawab Anjani dengan pelan.
"Olivia Permata, nama yang sangat indah. Tapi boleh tidak pakai nama belakang saya di belakang nama anak kita?" tanya Rio dengan pelan meminta persetujuan Anjani karena bagaimanapun Anjani berhak memutuskan semuanya karena dulu ia tidak menginginkan Olivia bahkan menganggap Olivia adalah anak haram yang tak pantas hidup tetapi sekarang ia menyesal, Olivia dan Anjani sangat berharga di dalam hidupnya.
Anjani tampak terkejut mendengar permintaan Rio. Lalu setelahnya ia terkekeh dengan pelan. "Gimana maksudnya, Tuan? Bukannya dulu Tuan tidak mau mengakui Olivia bahkan saat Olivia masih di dalam kandungan saya. Lalu sekarang Tuan meminta nama Tuan tersemat di belakang nama anak saya?" tanya Anjani dengan terkekeh bingung.
Rio menatap Anjani dengan perasaan yang begitu hampa. "Maafkan saya, Anjani. Tapi tolong jangan panggil saya Tuan!" ujar Rio dengan lirih.
"Saya bingung dengan anda, Tuan. Selama hampir 3 tahun kita tidak bertemu kenapa sikap anda seperti ini? Bukankah kepergian saya membuat anda bahagia apalagi sekarang anda sudah mempunyai putri dari wanita yang anda cintai bukan?" tanya Anjani dengan bingung.
"M-maksud kamu Cassandra? Dia anak-"
"Hiks...hiks..."
"Sayang sudah bangun?!" ujar Anjani dengan tersenyum.
"Alhamdulillah sudah keringatan," ucap Anjani menyeka keringat anaknya.
"Olivia ini Ayah, Sayang!" ujar Rio dengan terharu.
Olivia yang mengerti jika namanya di sebut langsung menatap Rio. Olivia langsung meminta gendong oleh Rio.
__ADS_1
"Mau digendong, Ayah? Sebentar ya!" ucap Rio dengan terharu karena anaknya langsung mau digendong oleh dirinya.
"Anjani boleh kamu menggendong Cassandra sebentar. Nanti akan saya jelaskan semuanya," ujar Rio dengan memohon.
Sebenarnya Anjani tidak mau memenuhi permintaan Rio tetapi melihat wajah Rio dan anaknya membuat Anjani tidak tega dan akhirnya menggendong Cassandra karena Olivia juga ingin di gendong oleh Rio sampai merengek yang membuat Anjani tidak tega.
"Ya Allah anak Ayah. Akhirnya Ayah bisa gendong kamu, Sayang. Jangan sakit-sakit lagi ya, kasihan Bunda kamu," ujar Rio dengan mata berkaca-kaca dan mencium pipi Olivia dengan menahan tangisnya.
"Awas infusnya!" ujar Anjani memperingati karena Anjani tidak mau terjadi sesuatu dengan anaknya.
"Iya, Anjani!" ujar Rio dengan menyeka air matanya dengan cepat.
"Maafkan Ayah ya, Sayang. Ayah salah sama Olivia dan Bunda!" ujar Rio dengan lirih.
Olivia terlihat nyaman di gendongan Rio bahkan bayi itu meletakkan kepalanya di bahu Rio.
"Anjani kita harus bicara biar semuanya selesai. Kamu bisa, kan?" tanya Rio menatap Anjani yang entah mengapa bertambah cantik setelah hampir 3 tahun lamanya mereka tidak bertemu.
"Jangan lama!" ujar Anjani dengan datar.
"Iya!"
Anjani duduk di sofa dengan menggendong Cassandra, sebagai seorang ibu ia juga gemas melihat Cassandra yang sangat anteng di gendong olehnya, ia tersenyum saat Cassandra menatap dirinya.
"Nda!" ujar Cassandra yang membuat Rio terkejut karena selama ini Cassandra hanya bisa memanggil ayah.
Anjani hanya tersenyum memainkan pipi Cassandra sedangkan Olivia tampak anteng di pangkuan Rio.
"Cepat bicara!" ujar Anjani.
Rio mengangguk dengan menghela napasnya perlahan sebelum ia menjelaskan semuanya kepada Anjani saat ini.
__ADS_1
"Saya sudah tahu kalau kamu itu Lili," ujar Rio yang membuat Anjani sedikit terkejut tetapi ekspresi wajahnya kembali normal dengan cepat.
"Saat kepergian kamu, saya sadar jika saya juga membutuhkan kamu dalam hidup saya, saya menyesal karena telah mengatakan tidak mau menganggap Olivia sebagai anak saya. Semua itu membuat saya sadar jika apa yang saya perbuat ke kamu begitu menyakitkan. Setelah saya mengetahui semuanya, saya mencoba mencari keberadaan kamu bahkan sampai sekarang tetapi saya tidak menemukan kamu sama sekali. Hingga kini dipertemukan kembali di supermarket, itu membuat saya begitu senang sekali. Anjani saya minta maaf atas apa yang saya lakukan di masa lalu sungguh saya sangat menyesal,* ujar Rio dengan sendu.
Anjani terdiam, ini sudah berlalu begitu lama. Ia harus bisa memaafkan Rio karena mantan suaminya juga sudah bahagia bersama dengan wanita lain bukan? Dan juga sudah ada Cassandra di kehidupan Rio.
"Saya memang kecewa dengan, Tuan. Tapi saya tidak mempunyai alasan untuk terus membenci Tuan karena bagaimanapun saya adalah manusia biasa begitu pun dengan Tuan. Saya sudah memaafkan, Tuan. Anak Tuan juga cantik, pasti wanita itu sangat beruntung bisa menikah dengan, Tuan!" ujar Anjani mencoba tersenyum tegar.
Rio menggelengkan kepalanya. "Kamu salah paham, Anjani. Saya tidak menikah dengan siapapun setelah kita bercerai dan anak ini adalah anak Clara dengan Roby bukan anak saya. Saya hanya mengurus Cassandra karena sekarang Clara depresi dan Roby menghilang sampai sekarang," ujar Rio yang membuat Anjani terkejut sekaligus lega karena ternyata Rio masih sendiri sampai sekarang.
Rio dengan ragu memegang tangan Anjani yang membuat Anjani menatap Rio dengan pandangan yang sulit di artikan. "Maafkan saya, Anjani! Saya menyesal!" ujar Rio dengan lirih.
"Saya sudah memaafkan, Tuan!" ujar Anjani dengan tegas.
"Tolong jangan panggil saya tuan lagi. Panggil saya Mas bisa?!" ujar Rio yang membuat Anjani terdiam.
"Bisa, kan? Tidak bisa ya? Apa karena Alex?" tanya Rio dengan kecewa.
"I-iya, Mas!" ucap Anjani dengan tersenyum canggung.
"Terima kasih! Saya boleh kan menjenguk Olivia kapanpun?" tanya Rio dengan penuh harap.
"M-mas ayahnya dan Mas boleh melihat Olivia kapan saja," jawab Anjani dengan tersenyum tipis.
Rio tersenyum bahagia ia melihat Olivia lagi yang berada di pangkuannya. "Panasnya sudah turun, Anjani!" ujar Rio dengan lega.
"Benarkah?" tanya Anjani memegang kening anaknya dan ternyata benar panas Olivia sudah turun. Apakah karena kehadiran Rio? Mungkin anaknya benar-benar merindukan ayahnya hingga panas Olivia cepat turun seperti ini?
"Alhamdulillah!" ucap Anjani dengan bersyukur.
Rio mengelus pipi anaknya. "Kalau diperhatikan Olivia mirip saya ya ternyata," ujar Rio dengan tersenyum.
__ADS_1
"Iya!" jawab Anjani dengan canggung.
Dan setelah itu mereka benar-benar terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Rasa canggung menguasai keduanya tetapi Rio berusaha tetap biasa saja dan mengajak Olivia untuk bermain dengan dirinya bahkan Olivia sudah bisa tertawa bahagia saat bercanda dengan dirinya yang membuat Rio merasa lega.