
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Frisa membuka matanya dengan perlahan, ia menatap sekelilingnya dan ia baru saja ingat jika ia menginap di rumah orang tua Gavin. Ingatannya kembali teringat dengan kejadian semalam di mana ia begitu sangat ketakutan saat petir datang dan pada akhirnya Gavin lah yang menemani dirinya.
Frisa mendes*h dengan lega saat kasur di sebelahnya sudah sangat dingin itu artinya Gavin benar-benar pergi saat ia sudah tertidur dengan nyenyak. Tak mau semakin kesiangan Frisa langsung bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Pakaiannya juga sudah ada di sini dan itu memudahkan Frisa untuk berganti pakaian.
Dalam keheningan yang Frisa rasakan ia kembali mengingat pelukan Gavin yang sangat membuat dirinya begitu nyaman. Bahkan Frisa masih bisa merasakan pelukan Gavin di tubuhnya.
"Kenapa kamu memikirkan Gavin, Frisa! Ini tidak benar!" gumam Frisa mengetuk kepalanya sendiri yang mulai terasa sangat aneh.
"Gavin kamu sangat menyebalkan sekali huhh!" gumam Frisa dengan kesal.
Frisa tak mau berlama-lama di dalam kamar mandi karena ia pikirannya benar-benar tidak sinkron sekarang. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian dan memoles wajahnya sedikit dengan pelembab. Dirasa sudah benar-benar sempurna Frisa keluar dari kamar dan menuju lantai bawah.
"Kakak!" teriak Frisa saat melihat Faiz ternyata ada di rumah ini.
Frisa langsung berlari menghampiri kakaknya dan langsung menubruk tubuh Faiz yang sedang duduk.
"Ya Tuhan... Pelan-pelan, Dek!" ucap Faiz dengan menggelengkan kepalanya saat Frisa memeluknya begitu sangat erat.
"Kangen!" rengek Frisa yang membuat Faiz paham dengan adiknya.
"Semalam hujan siapa yang menemani kamu tidur?" tanya Faiz menatap wajah adiknya.
__ADS_1
Frisa tampak gugup, ia melihat ke arah Gavin dengan ekor matanya yang membuat Faiz sudah paham jika Gavin lah yang menemani adiknya tidur karena selain dirinya, kedua orang tuanya dan keluarganya hanya Faiz yang tahu jika Frisa sangat takut dengan petir.
"Loh Frisa takut petir?" tanya Sastra dengan terkejut.
Frisa meringis dan menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Iya, Om. Suaranya serem banget," sahut Frisa dengan pelan.
"Ya Tuhan... Untung ada Gavin kalau tidak bagaimana keadaan kamu semalam, Nak. Karena Om dan tante benar-benar tidak tahu kalau kamu takut petir," ujar Sastra merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Om. Emmm Gavin sudah menemani aku tadi malam," ujar Frisa dengan menghela napasnya dengan pelan.
Gavin terkekeh di dalam hati melihat wajah Frisa yang begitu lucu, ia tahu Frisa sangat malu sekarang. Tetapi gadis itu berusaha terlihat biasa saja.
"Ya sudah ayo kita sarapan dulu!" ucap Sastra yang di angguki ketiganya karena sejak tadi mereka menunggu Frisa bangun tidur.
Frisa melirik ke arah Gavin lalu ia mendekat ke arah Gavin setelah Faiz dan Sastra berjalan duluan. "Jangan besar kepala dengan apa yang terjadi semalam. Saya memeluk kamu itu karena terpaksa, tapi saya tidak lupa berterima kasih kepada kamu. Terima kasih karena kamu sudah mau menemani saya," bisik Frisa dengan ketus.
"Dasar manusia tembok! Jika bukan karena takut aku tidak akan memeluknya!" gumam Frisa dengan kesal yang masih bisa di dengar oleh Gavin, sedangkan Gavin hanya bisa tersenyum sinis mendengar ucapan Frisa.
****
Gavin dan Frisa sudah berada di dalam sstu mobil yang sama, keduanya akan pergi ke perusahaan Abraham karena sebentar lagi Frisa lah yang memegang perusahaan tersebut. Gavin mendekat ke arah Frisa, dan dengan entengnya ia memasangkan seatbelt untuk Frisa yang membuat Frisa menahan napasnya, biasanya ia akan biasa saja tetapi pagi ini mengapa Frisa terlihat gugup.
"Nona sakit? Kenapa wajah Nona memerah?" tanya Gavin yang berpura-pura tidak tahu.
"Tidak! Jalan saja jangan pedulikan saya!" ujar Frisa dengan tegas.
Setelah Gavin menjauh darinya barulah Frisa bernafas dengan lega, ia melihat ke arah jendela dan tak menatap ke arah depan yang membuat Gavin terkekeh lucu melihat tingkah nona-nya yang terlihat seperti malu-malu.
__ADS_1
"Gavin!" gumam Frisa dengan pelan.
"Iya, Nona!" jawab Gavin dengan fokus menyetir.
"Menjadi anak orang berada ternyata tidak semudah itu ya. Kita harus di tuntut bisa bekerja di perusahaan, padahal itu sangat melelahkan. Jika saya menikah nanti saya hanya ingin di rumah dan suami saya yang bekerja," ujar Frisa dengan terkekeh padahal ia sendiri tidak tahu kapan ia akan menikah.
"Iya, Nona. Tapi saya akan membantu Nona selama di perusahaan sampai Nona menikah nanti," ujar Gavin dengan tegas.
"Iya saya tahu!" ucap Frisa dengan menghela napasnya dengan pelan.
Tak ada lagi pembicaraan yang Frisa dan Gavin keluarkan, hanya suara deru mesin mobil dan klakson yang terdengar sampai keduanya sampai di perusahaan Abraham milik kakek Eric.
Di dalam sudah ada Faiz dan Olivia serta kakek Eric dan nenek Gista yang sudah menunggu kedatangan Frisa. Bahkan Gavin sudah menyiapkan pakaian kerja untuk Frisa yang memudahkan Frisa saat ini.
Semua karyawan sudah menunggu kedatangan CEO baru mereka. Banyak para lelaki terpesona dengan CEO baru mereka yang sangat cantik sekali. Dan sayangnya di sini tidak ada Ferdians maupun Rania karena keduanya masih berada di Bali tetapi ketika pelantikan nanti keduanya sudah dipastikan sudah pulang dari Bali dan akan menyaksikan anak perempuan mereka akan memegang perusahaan Abraham.
"Selamat datang di perusahaan ini, Sayang!" ucap Kakek Eric dengan bangga saat cucu kesayangannya akhirnya mau memegang perusahaannya karena jika bukan Faiz ataupun Frisa yang memimpin perusahaan siapa lagi karena dirinya sudah sangat tua untuk memimpin perusahaan ini.
"Iya, Kek. Terima kasih!" ucap Frisa dengan tersenyum.
"Kita langsung ke ruang meeting saja, semua petinggi perusahaan ini akan berkumpul di sana!" ujar Eric dengan tegas.
"Ternyata CEO baru kita sangat cantik sekali. Aku pernah melihatnya di medsos dan aslinya lebih cantik sekali. Aku jadi betah kerja di sini kalau bos kita secantik itu," gumam karyawan lelaki yang masih di dengar oleh Gavin.
Gavin berbalik, ia menatap tajam ke arah karyawan tersebut entah mengapa ia tidak suka Frisa di puji lelaki. "Kerja yang becus karena nona Frisa tidak suka dengan pria yang suka bergosip!" ujar Gavin dengan tajam.
"I-iya, Tuan. M-maaf!" ucap karyawan tersebut dengan terbata.
__ADS_1
Setelah berucap seperti itu Gavin langsung kembali menyusul Frisa dan yang lainnya. Wajahnya begitu terlihat dingin, dadanya bergemuruh dengan hebat. Ingin sekali Gavin menghajar para lelaki yang menatap Frisa dengan penuh minat.