Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 110 (Keputusan Berat)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Ferdians dan Rania saling menatap satu sama lain. Hari ini Rania dan twins F sudah diperbolehkan tetapi yang menjadi permasalahan keduanya adalah saat papa dan ayah mereka tetap pada keputusan awal di mana Rania dan juga Ferdians harus berpisah.


"Kalian sudah paham kan jika setelah Rania melahirkan kalian harus berpisah?" tanya Ben dengan tajam.


Rania dan Ferdians mengangguk. "Tapi Pa, Rania dan twins pasti membutuhkan saya," ujar Ferdians yang masih ingin membuat papa dan ayahnya tidak memisahkan mereka.


"Ingat janji kamu Ferdians! Sekarang Rania dan Faiz akan ikut Papa! Frisa akan ikut kamu, tapi kamu tenang saja setiap harinya ada orang yang akan mengirimkan asi untuk Frisa agar dia tetap merasakan asi mamanya seperti saudara kembarnya," ujar Ben dengan tegas.


"Kalian tidak bisa protes lagi! Awal pernikahan kalian emang seperti itu, kan? Setelah Rania melahirkan maka kalian akan bercerai," ujar Eric dengan dingin.


"Tapi..."


"Sudah bereskan semua pakaian kamu dan ikut Papa pulang! Kamu dan Ferdians tidak bisa bersama lagi," ujar Ben dengan tegas.


Rania menatap suaminya, ingin sekali ia menentang seperti dulu tetapi kali ini Rania harus bersabar karena ia dan Ferdians sudah merencanakan semuanya agar kedua papa mereka akur kembali walaupun ia dan Ferdians harus berpisah untuk sementara waktu.


Dengan menahan emosi dan kekesalannya akhirnya Rania ikut dengan Papanya. "Pa, Papa tega memisahkan aku dengan anakku?" tanya Rania dengan mencoba bersabar.


"Kalian masih bisa bertemu! Papa tidak melarang kamu bertemu dengan Frisa tetapi sekali papa tegaskan kalau kamu dan Ferdians tidak bisa bersama lagi!" ujar Ben dengan tegas.


"Sudah, Sayang. Tidak apa-apa, ikut Papa saja. Mas janji akan menjaga Frisa dengan baik," ujar Ferdians dengan lembut.


"Aku mau peluk Frisa dulu," ujar Rania dengan lirih.


Rania menggendong Frisa dengan perlahan, ia menatap wajah anaknya dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan Mama, Sayang. Mama janji suatu saat nanti kita akan kumpul kembali," gumam Rania mencium pipi anaknya dengan lembut.


Eric mengambil cucunya dengan cepat. Hati Rania langsung mencolos saat ia dipisahkan dengan anaknya begitu saja karena kesalahan kedua orang tua mereka. Ingin sekali rasanya Rania berteriak dengan kencang dan membawa anaknya Frisa kembali kepadanya tetapi lagi dan lagi ia harus bersabar demi kedamaian dua keluarga yang dulunya bersahabat kini menjadi bermusuhan.


Ferdians juga tidak tega melihat istrinya seperti ini. Ia ingin sekali menentang keputusan yang ia buat sendiri, tetapi demi keluarganya yang kembali seperti dulu Ferdians harus mengeraskan hatinya agar keluarganya kembali rukun walaupun keputusan ini sangat berst baginya dan juga Rania.


"Maafkan Mas, Sayang. Mas janji ini tidak akan lama," ujar Ferdians di dalam hati melihat kepergian Rania dengan Faiz.

__ADS_1


Berulang kali Ferdians menghela napasnya dengan berat. "Ayo kita pulang ke rumah kita yang baru!" ujar Eric dengan tersenyum tetapi baik Ferdians maupun Heera sama sekali tidak terlihat bahagia, keduanya tampak sedih tetapi Heera harus mengikuti sandiwara yang dibuat Ferdians maupun Rania walaupun sebenarnya ia sangat ingin marah dengan Eric saat ini.


"Heera kamu tidak usah membawa apapun ya. Frisa biar bersama dengan saya dan barang-barang Frisa biar Ferdians yang membawanya," ujar Eric dengan tersenyum.


Heera hanya memandang Eric dengan tatapan datarnya, ia berjalan mendahului Eric yang membuat Eric tersenyum kecut tetapi ia tidak akan menyerah untuk membuat Heera mau kembali kepadanya.


****


Doni menyambut kedatangan cucu dan cicitnya dengan senyuman yang lebar.


"Selamat datang kembali di rumah ini, Nak!" ucap Doni dengan sangat bahagia.


"Iya, Kek!" jawab Rania dengan pelan.


"Aku langsung ke kamar saja," ujar Rania membawa serta anaknya meninggalkan Ben, Doni dan juga Ana begitu saja.


Hatinya benar-benar terluka sekarang, ternyata dipisahkan dengan orang yang ia cintai seperti ini rasa sakitnya.


"Aku juga mau ke kamar, Mas. Lemes banget," ujar Ana dengan lirih.


Ana memegang perutnya yang tiba-tiba saja terasa kram, dan ia kembali mual seperti biasanya. Ana dengan cepat berjalan ke arah dapur karena jarak dari tempatnya sekarang ke dapur lebih cepat.


"Pa sebentar!" ujar Ben menyusul istrinya yang di angguki oleh Doni.


Uwek...uwek....


Ben mengurut tengkuk Ana dengan pelan, ia kasihan dengan istrinya saat ini. Bahkan Ana jarang sekali makan karena memasukkan makanan saja ke dalam mulut perut Ana sudah bergejolak.


"Sudah baikan?" tanya Ben dengan pelan.


"Pusing, Mas!" ujar Ana dengan lirih.


"Istirahat saja ya! Mas gendong ke kamar," ujar Ben dengan pelan.


Ana mengangguk, ia pasrah saat Ben menggendongnya ke dalam kamar. Ben melihat istrinya, ia mencium kening Ana dengan lembut.


"Jangan banyak gerak ya, Sayang. Ingat kata dokter kamu tidak boleh capek-capek," peringat Ben.


"Iya, Mas!" ujar Ana dengan lirih.

__ADS_1


Ben mengambil minyak kayu putih yang berada di atas meja dan mengoleskannya pada leher dan perut Ana dengan lembut.


"Makan ya habis itu baru istirahat," ujar Ben dengan lirih.


Ana menggeleng kepalanya. "Tidak, Mas. Mual banget!" ujar Ana dengan lirih.


"Mau kamu apa, Sayang? Mas belikan apapun yang kamu mau asal perut kamu terisi," ujar Ben dengan pelan.


"Tidak mau apapun!" ujar Ana dengan kesal.


"Tapi..."


"Ihh... Mas maksa banget sih! Aku jadi kesal lihat muka, Mas! Mas keluar sana aku mau istirahat," ujar Ana dengan cemberut.


Entah mengapa ia menjadi kesal melihat wajah suaminya. Ana tidak mau melihat wajah Ben untuk sekarang, dan dengan beraninya sekarang ia mengusir Ben dari kamar mereka.


"Sayang kamu ngusir Mas?" tanya Ben dengan tidak percaya.


"Aku kesal lihat wajah Mas! Sana ih!" ujar Ana yang membuat Ben melongo tak percaya.


"Sayang..."


"Hiks...hiks... Mas sana keluar! Kalau tidak aku yang keluar!" ujar Ana benar-benar kesal.


"Oke-oke Mas akan keluar. Tapi kamu harus janji untuk beristirahat ya," ujar Ben dengan lembut.


"Iyaaaa!" ujar Ana dengan kesal.


Ana menutup wajahnya dengan selimut agar tidak melihat wajah suaminya lagi. Hal ini membuat Ben hanya bisa menghela napasnya dengan kasar. Kenapa Ana menjadi tidak ingin di dekati oleh dirinya? Ben mengusap wajahnya dengan kasar lalu melangkah keluar kamar meninggalkan Ana yang sedang kesal karena kehadiran dirinya. Masa iya anaknya sendiri membenci dirinya?


****


Belum ada setengah hari Rania berada di rumah papanya tetapi ia sudah merindukan suami dan anaknya yang berada di rumah baru yang di beli Eric karena tak mungkin Eric membawa Ferdians, Frisa, dan juga Ana tinggal bersama Gista.


Setelah menggantikan popok anaknya Rania berbaring di samping Faiz yang tak mau tidur lagi. "Papa dengan adikmu lagi apa ya, Sayang? Kamu kangen tidak dengan Frisa? Kangen ya? Kan kalian terus bersama di perut Mama tapi saat sudah lahir kalian harus terpisah," ujar Rania dengan sendu.


"Kakek kamu jahat ya? Mama ingin memberontak seperti dulu bahkan Mama berpikir untuk pergi dari kota ini meninggalkan orang-orang yang jahat untuk kehidupan kita. Tapi Mama tidak mungkin melakukan itu karena keluarga Mama dan papa harus bisa kembali akur seperti dulu," ujar Rania dengan lirih.


"Sehat-sehat ya, Sayang. Bantu Mama untuk meluluhkan hati kakek kamu," gumam Rania menatap wajah anaknya.

__ADS_1


Seketika Rania merasa gemas dengan anaknya, ia menciumi Faiz dengan perlahan. "Mama kangen Frisa!" lirih Rania.


__ADS_2