
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Ferdians menatap istrinya dengan sendu. Dokter kembali datang ke ruangan Rania, yang membuat Ferdians dan yang lainnya langsung menatap dokter tersebut dengan serius.
"Kenapa, Dok? Apakah operasi harus sekarang dilakukan?" tanya Ferdians dengan cemas.
Dokter tersebut tersenyum tipis. "Sepertinya pemeriksaan pertama kurang akurat, Tuan. Karena setelah di lakukan USG kembali ada dua kantong janin yang terlihat. Ini hasil USG nya. Di sini janin yang pertama memang tidak berkembang lagi. Namun, janin yang kedua terlihat sehat dan berkembang dengan baik. Tidak ada masalah dalam janin yang kedua, jadi nyonya Rania masih bisa mengandung tetapi harus di kontrol tiap bulannya untuk mengecek semua kesehatannya. Walaupun sangat beresiko tinggi hamil di usia nyonya Rania yang sekarang. Tapi, jika semua di kontrol dengan baik maka tidak akan terjadi sesuatu dengan ibu dan bayinya," ujar dokter yang membuat Ferdians sangat lega.
"Syukurlah kalau begitu, Dok. Jadi, bagaimana sekarang? Janin yang satunya di keluarkan sekarang juga?" tanya Ferdians dengan serius.
"Iya, Tuan. Agar nyonya kembali sehat kembali. Sebenarnya bukan nyonya Rania saja yang hamil di usia seperti ini, banyak wanita di luar sana yang mengalami nasib yang sama. Namun, itu semua tergantung kita menjaga ibu dan janinnya agar tidak stress yang berlebihan yang mengakibatkan sesuatu yang berbahaya terjadi."
"Kalau begitu saya dan suster yang lainnya akan membawa nyonya Rania ke ruang operasi. Kami akan mengeluarkan janin yang satunya," ujar dokter dengan tersenyum.
Ferdians dan yang lainnya tampak sangat lega. Ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan untuk Ferdians mempunyai anak kembali, ya walaupun awalnya kembar tapi hanya satu yang berkembang dengan baik. Itu tak masalah bagi Ferdians asal istri dan anaknya sehat.
****
Ferdians memegang tangan istrinya dengan lembut. Janin yang pertama sudah di keluarkan dengan lancar dan sekarang Rania sudah berada di ruang perawatan dengan keadaan yang belum sadarkan diri.
"Kok bisa Rania hamil kamu tidak tahu Ferdians? Dan sekarang janin yang satunya sudah tidak bisa di selamatkan bagaimana kita berbicara dengan Rania?" tanya Ben dengan pelan menatap anaknya yang terlihat begitu pucat.
"Aku juga tidak tahu, Pa. Karena Rania terlihat biasa saja. Namun, semalam memang Rania sedikit ganjil, dia gampang marah, merengek seperti anak kecil," ujar Ferdians memberitahukan sikap ganjil istrinya. "Aku sudah menduga juga Rania hamil. Tapi rasanya tidak mungkin karena usia kami tak muda lagi," ujar Ferdians dengan pelan.
"Ya sudah ini sudah terjadi bagaimanapun kita harus menerima semua ini. Yang terpenting sekarang bagaimana perasaan Rania agar tidak terpukul saat mengetahui anak yang di dalam kandungannya sudah tiada dan hanya tinggal satu janin saja di dalam rahimnya," ujar Ana dengan tersenyum.
"Papa bahagia dengan kabar kehamilan Rania, Ferdians. Jaga istri kamu dengan baik," ujar Ben menasehati menantunya.
"Iya, Pa. Akan Ferdians lakukan," ujar Ferdians dengan tersenyum.
"Jadi, kapan Olivia akan menyusul mama mertua kamu? Kakek juga ingin menimang cicit," ujar Eric dengan terkekeh.
"Tenang, Kek. Ini lagi proses pembuatan," ujar Faiz yang membuat semuanya terkekeh tetapi tidak dengan Olivia yang terlihat malu.
"Kalau adek sudah lahir pasti banyak yang bilang itu anak aku nantinya. Lucu tidak sih?" ucap Frisa dengan terkekeh. Walaupun terdengar sangat aneh tapi ini kenyatannya, ia akan mempunyai adik setelah 24 tahun menjadi anak bungsu.
"Tidak apa-apa ini rezeki, Frisa. Kamu bisa jaga adek kamu dengan baik nanti. Belajar juga jadi seorang ibu ya baik, mungkin saja tak lama pernikahan kamu dengan Gavin, kamu juga akan hamil," ujar Gista mengelus rambut cucunya dengan sayang.
"Nenek sudah mikir ke sana sih?" ujar Frisa dengan cemberut.
"Loh jadi kamu mau menunda momongan?" tanya Gista dengan memicing.
__ADS_1
"Tidak, Nek. Kami tidak akan menundanya nanti," jawab Gavin dengan tersenyum.
"Baguslah kalau begitu. Biar cicit Nenek banyak, rumah jadi ramai nantinya," ujar Gista dengan tersenyum.
Frisa melihat ke arah Gavin. Tatapannya begitu kesal tapi Gavin bertanya 'apa' tanpa suara yang membuat Frisa kesal.
"Eughhh...." Lenguhan Rania membuat semua orang terdiam menatap Rania dengan tersenyum.
"Sayang!" panggil Ferdians dengan lembut.
"Haus, Mas!" ucap Rania dengan lirih.
Ferdians dengan sigap memberikan minum untuk istrinya. Rania yang kelihatan sangat haus langsung meminum air itu hingga habis.
"Aku mau pulang! Kenapa aku di infus?" ujar Rania dengan lemas.
"Kamu harus di rawat dulu, Sayang. Agar badan kamu pulih," ujar Ferdians dengan lembut.
"Emang aku kenapa?" tanya Rania menatap suaminya. "Kenapa kalian semua menatapku seperti itu?" tanya Rania dengan heran.
"Mas jelaskan!" desak Rania yang membuat Ferdians menghela napasnya dengan pelan.
"Kamu hamil, Sayang. Sebenarnya ada dua janin yang tumbuh di rahim kamu, tapi janin yang satu tidak berkembang dan harus di keluarkan itulah kenapa kamu di rawat dulu ya," ucap Ferdians dengan lembut menjelaskan.
"Loh kamu sudah testpack?" tanya Ana kepada anaknya.
"Sudah, Ma. Karena aku merasa aneh pada tubuhku akhir-akhir ini tapi belum bicara saja sama mas Ferdians," ujar Rania dengan pelan.
"Seharusnya anak kita kembar lagi ya, Mas?" gumam Rania dengan sendu dan terlihat kecewa.
"Tidak apa-apa yang terpenting kamu sehat saja, Sayang. Mas takut kamu kenapa-napa karena hamil lagi," ujar Ferdians.
"Alu kuat kok. Ya walaupun memang terlihat aneh karena anak-anak kita sudah dewasa. Seharusnya kita yang mendapatkan cucu tapi malah mereka yang mendapatkan adik," ujar Rania yang membuat semua orang tertawa.
"Tidak apa-apa, Ma. Aku dan Frisa senang. Nanti kami bisa bermain dengan adek," ujar Faiz dengan tersenyum.
"Kamu tidak jadi pergi ke Lombok? Kenapa belum siap-siap?" tanya Rania.
"Tidak, Ma. Kami tunggu keadaan Mama membaik saja. Nanti tidak ada yang menjaga Mama karena papa sibuk bekerja. Mama tidak usah memikirkan kami, liburan bisa kapan saja nanti jika ada waktu senggang," sahut Olivia dengan perhatian.
"Tapi sayang tiketnya sudah di beli," ujar Rania.
"Tidak apa-apa, Ma! Mama lebih utama," ucap Faiz dengan tersenyum.
"Sudah sekarang kamu istirahat dulu ya. Jangan banyak bicara dulu, pokoknya setelah keluar dari rumah sakit kamu tidak boleh beraktivitas terlalu berat," ujar Ferdians dengan tegas.
__ADS_1
"Tuh kan keluar posesifnya," cibik Rania dengan kesal.
"Ini demi kebaikan kamu dan anak kita, Sayang!" ujar Ferdians dengan tegas.
"Iya, iya, Mas!"
*****
Frisa akhirnya pulang bersama dengan Gavin, semua orang memaksa dirinya untuk pulang karena sudah ada yang menjaga mamanya. Papa dan kakaknya tidak pulang karena menjaga mamanya, padahal ia juga tak ingin pulang tetapi semua memaksa dengan alasan kenyamanan.
"Gavin takut!" ujar Frisa saat Gavin hendak keluar dari rumah.
"Saya cuma ke luar sebentar, Sayang!" ujar Gavin dengan lembut.
"Sayang-sayang, di sini tidak ada mama dan yang lainnya," ujar Frisa dengan ketus.
"Tapi ada CCTV-nya. Jangan lupa itu," ujar Gavin dengan tersenyum menang.
Frisa menghela napasnya dengan pelan. "Mau ke mana?" tanya Frisa pada akhirnya.
"Jaga di luar sebentar," jawab Gavin.
Frisa menggelengkan kepalanya. "Tetap di rumah jangan kemana-mana!" ujar Frisa.
"Baiklah!" Gavin membawa Frisa ke dalam pelukannya.
"Jangan keluar sendiri ya jika saya masih belum datang," ujar Gavin pada akhirnya.
"Kenapa?" tanya Frisa.
"Ada bahaya yang bisa kapan saja datang, Nona. Pokoknya Nona harus menunggu saya sekali pun Nona mau ke depan gerbang," ujar Gavin dengan tegas.
"Iya!"
Kruk...kruk....
Gavin melihat ke arah Frisa karena mendengar perut Frisa berbunyi. "Lapar?" tanya Gavin yang di angguki oleh Frisa.
"Sebentar saya suruh pelayan buat makanan untuk kita makan," ujar Gavin dengan tegas.
"Nasi goreng dengan telur mata sapi," ujar Frisa.
"Iya, Sayang!"
Frisa melihat kepergian Gavin ke dapur. Ia memegang dadanya sendiri yang berdetak tak karuan setiap kali Gavin memanggilnya sayang.
__ADS_1