Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 66 (Calon Kakek)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Ben sudah berada di depan rumah anaknya, selama 5 tahun ini dirinya dan Rania semakin menjauh, dan ketika Rania menikah barulah Ben merasa ia semakin merindukan Rania.


"Selamat pagi Tuan Ben!" sapa Liam dengan ramah saat papa dari tuannya datang mengunjungi Rania.


"Pagi, Liam. Bagaimana keadaan di rumah Rania? Aman kan? Awas saja jika kamu dan semua anak buah kamu tidak becus menjaga anak saya. Saya sudah membayar kalian cukup mahal agar keadaan Rania baik-baik saja. Dan ingat kalian harus tutup mulut di hadapan Rania jika kalian adalah anak buah saya," ujar Ben dengan tegas.


"Siap, Tuan. Perintah Tuan akan kami laksanakan dengan baik," ujar Liam dengan tegas.


Ben mengangguk dengan tegas. Walaupun ia sudah jauh dengan anaknya tetapi keamanan Rania tetap ia jaga dengan sangat baik, ia tidak ingin kejadian pada Dewi kejadian pula pada Rania.


Liam menemani Ben masuk ke dalam rumah Rania dan ternyata di dalam sudah ada Heera dan juga suster Ana yang sedang menyuapi Heera.


"Ekhem..."


Heera dan suster Ana terkejut dengan kedatangan Ben. Suster Ana langsung menunduk dengan hormat.


"Selamat datang Tuan Ben!" ujar Suster Ana dengan ramah.


"Iya! Dimana Rania dan Ferdians?" tanya Ben dengan tegas.


"Nona Rania dan tuan Ferdians masih berada di dalam kamar, Tuan!" jawab Suster Ana yang di angguki oleh Ben.


"Tuan Ben silahkan duduk!" ujar Heera dengan ramah.


Ben mengangguk, ia manatap Heera. "Bagaimana keadaan kamu? Apakah sudah membaik?" tanya Ben dengan serius.


"Alhamdulillah sudah membaik, Tuan!" jawab Heera dengan tersenyum tipis.


Ben duduk di sofa, ia memandang suster Ana dan ternyata suster Ana juga sedang menatapnya. Suster Ana terlihat sangat malu dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, wajahnya juga sudah memanas karena dirinya kepergok memandang Ben dengan penuh puja.


"Ya ampun malu sekali aku ketahuan memandang tuan Ben dengan tatapan penuh puja," gumam Suster Ana di dalam hati.


"Wanita ini kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ben di dalam hati.


Tak lama Ferdians dan juga Rania turun ke bawah. Ferdians menatap papa mertuanya.


"Sudah lama, Pa?" tanya Ferdians dengan ramah.


"Belum, Fer!" sahut Ben.


Ben menatap Rania dengan pandangan yang sangat merindukan anaknya.


"Rania!" panggil Ben dengan sendu.

__ADS_1


"Hmmm..." Rania hanya berdehem, bahkan ia lebih memeluk Ferdians dengan erat.


"Sayang, temani Papa sebentar ya!" ujar Ferdians dengan lembut.


Rania menatap papanya, ternyata calon kakek tersebut sedang menatap dirinya dengan dalam. Terlihat sekali di mata pria itu sangat merindukan dirinya. Apakah benar apa yang ia lihat sekarang.


"Pa!" panggil Rania dengan pelan.


"Iya, Nak!" sahut Ben dengan pelan.


"Saya ingin makan nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya. Dan saya ingin papa dan suster Ana yang memasak!" ujar Rania yang membuat suster Ana langsung melotot dengan sempurna.


"S-saya, Nona?" tanya Suster Ana dengan terbata.


"Iya! Saya ingin kamu membantu papa saya memasak nasi goreng untuk saya," ujar Rania yang membuat suster Ana menelan ludahnya dengan kasar.


"Ya Tuhan... Apakah ini mimpi? Tapi kenapa juga nona Rania menginginkan aku membantu papanya untuk membuat nasi goreng?" gumam Suster Ana di dalam hati.


Ben berdehem dengan mengusap tengkuk lehernya dengan pelan. Masak? Seumur hidupnya Ben belum pernah memasak karena dulu Dewi tidak pernah mengidam seperti Rania.


Ben berdiri kembali dari duduknya. "Baiklah Papa akan berusaha memasak nasi goreng untuk kamu," ujar Ben dengan tegas walaupun sebenarnya ia ragu apakah ia bisa memasak untuk Rania atau tidak tetapi mungkin suster Ana bisa membantu dirinya.


Heera tersenyum melihat Rania yang mengidam seperti dirinya dulu. Mengingat kenangannya dengan Eric membuat dada Heera berdenyut sakit.


"Mas Eric, aku mau kamu memasak untukku ya! Kedua anak kita sangat ingin memakan masakan papanya!"


Hati Heera menjadi sesak saat mengingat kenangannya dengan Eric. Namun, kenangan manis itu berubah menjadi kebencian yang sangat mendalam di hati Heera karena Eric dengan tega mengambil salah satu anaknya dengan paksa demi menyelamatkan istri kedua Eric yang depresi karena kehilangan anak pertama mereka.


"Kenapa wajah Ibu terlihat bersedih?" tanya Rania dengan khawatir.


"Bu, apakah ada yang sakit?" tanya Ferdians dengan cemas.


Heera langsung mengusap air matanya dengan kasar. "Ibu hanya teringat sewaktu Ibu sedang hamil Ferdians, Nak. Kamu terlihat seperti Ibu yang sedang mengidam hamil Ferdians dulu," ujar Heera dengan tersenyum.


Senyum Heera seperti menular kepada Rania dan juga Ferdians. "Sepertinya kedua cucu Ibu sangat menyayangi Ibu," ujar Ferdians dengan tersenyum.


"Kapan kedua cucu Ibu akan lahir?" tanya Heera dengan tak sabaran.


"5 bulan lagi, Bu. Usia kandungan Rania sudah memasuki 4 bulan. Tidak terasa ya, Bu. Pernikahan Ferdians dan Rania sudah berjalan 5 bulan lamanya," ujar Ferdians dengan tersenyum tipis.


Rania melihat ke arah Ferdians. Tatapan Ferdians seakan membuat Rania bersedih. Rania tidak ingin berpisah dengan Ferdians, sangat tidak ingin. Kenapa semuanya terbalik begitu cepat? Dulu Rania hanya menjadikan Ferdians suami bayarannya dan setelah itu mereka akan berpisah sesuai dengan perjanjian yang mereka lakukan tetapi mengapa saat ini Rania tidak mau berpisah dengan Ferdians?


Tentu saja ini sangat aneh bukan?


***


Ben tampak bingung saat suster Ana mengeluarkan semua bahan dari dalam kulkas. Sebagai calon kakek yang baik Ben harus bisa menyenangkan hati anaknya, toh tidak setiap hari Ben bisa melakukan hal seperti ini. Anggap saja ini adalah awal untuk mendekatkan dirinya kepada Rania kembali.


"Sus, kenapa anda mengeluarkan bahan yang sangat banyak sekali?" tanya Ben dengan bingung.

__ADS_1


Suster Ana tersenyum. "Semua bahan ini adalah bahan untuk membuat nasi goreng kesukaan nona Rania, Tuan!" jawab Suster Ana dengan tersenyum.


"Oo begitu ya? Terus saya harus mulai dari mana?" tanya Ben dengan wajah yang sangat bingung.


"Anda harus memulai dari memotong bawang merah tetapi untuk bawang putih tidak usah ya Tuan karena nona Rania semenjak hamil tdak suka dengan bau bawang putih," jawab Suster Ana dengan sabar.


"Baiklah!" ucap Ben dengan singkat.


Ben tampak terlihat kaku sekali saat memegang pisau untuk memotong semua bahan sayuran yang akan menjadi bahan pelengkap nasi goreng.


"Sudah selesai. Terus apa lagi?"


"Panaskan minyak, Tuan! Dan tunggu sampai minyak panas baru masukkan semua bumbu ke dalam wajan" jawab Suster Ana mengintruksi.


Ben mencoba melakukan apa yang di intruksikan oleh suster Ana. Ia menuangkan minyak di dalam wajan dengan hati-hati. Ben menunggu dengan sabar hingga entah apa yang ia pikirkan tangan Ben menyentuh wajan.


"Awwww..." teriak Ben dengan keras yang membuat suster Ana dengan refleks mengambil tangan Ben.


"Hati-hati Tuan. Tangan anda bisa melepuh!" ujar Suster Ana meniup tangan Ben yang sudah memerah.


Deg...


Jantung Ben berdetak dengan sangat cepat saat apa yang suster Ana lakukan kepadanya membuat Ben terdiam.


"Kenapa dengan hatiku?" gumam Ben melihat suster Ana yang sedang meniup jarinya dengan perlahan yang menimbulkan sensasi dingin di tangannya.


Astaga ini sangat aneh sekali! Bisa-bisanya Ben merasa deg-degan dengan apa yang suster Ana lakukan? Tak mungkin kan Ben jatuh cinta kembali?


Sadar apa yang dilakukannya membuat Ben menatapnya suster Ana langsung melepaskan tangan Ben dari genggaman tangannya. Wanita itu tampak gugup sekarang.


"M-maaf, Tuan. S-saya tidak sengaja," ujar Suster Ana dengan terbata.


"Iya," jawab Ben dengan singkat yang membuat suasana saat ini menjadi sangat canggung.


***


Rania menatap nasi goreng buatan papanya dengan suster Ana. Tidak buruk dan Rania terlihat senang sekarang.


"Suapi, Mas!" pinta Rania yang membuat Ferdians tersenyum.


Semenjak kejadian semalam sikap Rania sedikit melunak bahkan Rania terlihat tidak ingin jauh darinya.


"Iya, Sayang!" jawab Ferdians dengan tersenyum.


Ferdians mulai menyendok nasi goreng buatan papa mertuanya dan ia suapi ke Rania.


"Bagaimana rasanya?" tanya Ben kepada Rania.


Rania hanya diam seakan menilai masakan papanya. "Tidak buruk," jawab Rania yang membuat hati calon kakek tersebut merasa lega.

__ADS_1


"Semoga saja hari ini adalah awal di mana kedekatan aku dan Rania terjalin kembali," gumam Ben di dalam hati sambil memandang wajah anaknya yang sedang menikmati nasi goreng buatannya.


__ADS_2