
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Gista akhirnya menemui Heera di rumah Rania yang alamatnya ia dapatkan dari suaminya. Dengan menguatkan hatinya Gista ingin berbicara 4 mata dengan Heera, ia belum tahu jika Heera masih di rawat di rumah sakit.
"Kita sudah sampai, Bu!" ujar supir yang mengantarkan Gista ke rumah Rania.
Gista yang sejak tadi melamun akhirnya tersentak kaget mendengar ucapan sopirnya sendiri.
"Ahh.. Sudah sampai ya? Kamu tunggu di sini ya saya ingin menemui seseorang," ujar Gista dengan tegas.
"Iya, Bu!" jawab sopir Gista dengan sopan.
Sopir yang selalu menemani Gista keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Gista. Dengan langkah yang terasa berat Gista berjalan menuju rumah Rania tetapi ia langsung di sapa oleh beberapa penjaga di luar gerbang rumah Rania.
"Selamat pagi, Bu. Anda ingin bertemu siapa?" tanya Liam dengan waspada.
"Saya ingin bertemu dengan Heera? Apakah Heera ada di rumah?" tanya Gista dengan sopan.
"Maaf Bu, Ibu Heera berada di rumah sakit sudah seminggu ini ibu Heera belum sadarkan diri. Tapi saat ini nona Rania dan tuan Ferdians ada di dalam rumah. Apakah anda ingin bertemu dengan mereka?" tanya Liam.
"Heera di rumah sakit tidak sadarkan diri selama seminggu?" tanya Gista dengan syok.
Gista ingat semuanya seminggu yang lalu Heera dan suaminya ke makam Ferry dan di situ Heera pingsan saat mengetahui kebenarannya. Tapi apakah sampai separah itu? Bagaimana jika suaminya mengetahui Heera di rumah sakit pasti Eric akan langsung menemui Gista.
__ADS_1
"Boleh saya masuk dan bertemu dengan mereka? Sebelumnya saya adalah Gista Abraham, istri dari Eric Abraham," ujar Gista dengan sopan.
"Baik ibu Gista. Sebentar anak buah saya akan memberitahukan kepada nona dan tuan jika mereka kedatangan tamu.
Tak lama setelah Liam memerintahkan Ricard akhirnya pria itu berlari ke arah rumah Rania dan memberitahukan kedatangan Gista ke rumah ini.
Ferdians dan Rania keluar dengan menggendong anak mereka masing-masing. Keduanya menatap Gista dengan pandangan yang sangat sulit di artikan dan begitu banyak pertanyaan di benak mereka ketika Gista datang ke rumah ini.
Ada perasaan marah di hati Ferdians saat melihat kedatangan Gista ke rumah ini. Karena Gista adalah wanita yang sudah merenggut kebahagiaan mamanya, tapi Ferdians tidak bisa marah begitu saja karena ia yakin Gista juga tidak mengetahui semuanya.
"Selamat pagi! Maaf mengganggu kalian berdua sebenarnya kedatangan saya ke sini ingin menemui Heera tapi karena Heera masih berada di rumah sakit bolehkah saya berbicara dengan kalian berdua?" tanya Gista mencoba menguatkan hatinya walaupun sebenarnya perasaan dirinya tidak menentu sekarang, ia harus bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengan Ferry, anak yang sangat ia rindukan sampai sekarang walaupun Gista tahu jika Ferry bukanlah anak kandungnya, hal yang sangat menyakitkan untuknya tetapi ia harus berusaha tegar.
"Kita bicara saja di dalam! Silahkan masuk, Bu!" ujar Ferdians dengan tegas.
"Terima kasih," ujar Gista dengan tersenyum tipis walaupun dadanya terasa sesak.
"Baik, Nona!" jawab suster Putri dan Riri dengan serempak.
"Bi, tolong buatkan minum untuk ibu Gista," ujar Rania kepada pelayan.
"Baik, Nona!"
"Silahkan duduk, Bu!" ujar Rania.
"Iya," ujar Gista dengan canggung.
"Anda ingin membicarakan apa, Bu? Jika anda di suruh ke sini dengan tuan Eric maka saya tidak ingin mendengarkan apapun," ujar Ferdians dengan tegas.
__ADS_1
"Tidak! Ini keinginan saya sendiri Ferdians! Saya tidak tahu jika mas Eric menyembunyikan rahasia sebesar ini kepada saya sampai puluhan tahun. Saya ingin marah tetapi saya sadar jika kesalahan saya cukup besar di sini. Saya mohon maaf telah merusak kebahagiaan kamu dan ibu kamu, seandainya saya tahu mungkin saya tidak mau menikah dengan Eric. Tapi saat ini keadaan ayah kamu sedang tidak baik-baik saja, Ferdians. Dia sangat menyesal telah meninggalkan kalian, sebagai istri saya juga tidak bisa melihat suami saya sakit seperti itu dengan rasa penyesalan yang sangat luar biasa. Ferdians saya mohon temui ayah kamu karena kamu anak Satu-satunya yang dia miliki setelah Ferry meninggal," ujar Gista dengan sendu.
Gista rela bersujud di kaki Ferdians agar Ferdians sekaligus anak tirinya mau menemui Eric yang kondisinya sampai sekarang kurang baik. Suaminya itu sering sakit-sakitan selama seminggu ini dan itu membuat Gista tidak tega walaupun hatinya sudah di sakiti begitu dalam.
Ferdians mengepalkan kedua tangannya dengan menahan emosinya. "Sekalipun anda bersujud di kaki saya, saya tidak akan menemui Eric sampai kapanpun. Anda tahu? Karena dirinya hidup saya dan ibu saya menderita bahkan sampai saat ini keadaan ibu saya selalu menderita, karena dia ibu saya koma dan sampai saat ini belum sadarkan diri. Tidak ada yang dibicarakan lagi, kan? Semuanya sudah jelas sampai dia mati pun saya tidak akan menemui dia. Silahkan anda keluar dari rumah saya," ujar Ferdians dengan tajam.
"Tapi bagaimana pun dia ayah kamu, Ferdians! Saya mohon temui dia ya!" ujar Gista dengan memohon dan menangkup kedua tangannya bahkan matanya berkaca-kaca, entah karena memohon kepada Ferdians dengan cara seperti ini atau karena hatinya masih merasakan sakit yang teramat dalam.
Ferdians menggelengkan kepalanya. "Sekali tidak ya tetap tidak! Anda keluar sekarang atau penjaga di luar yang akan menyeret anda!" ujar Ferdians dengan tajam.
Rania yang tadinya hanya diam langsung terkejut dengan kemarahan Ferdians. Rania menggenggam tangan Ferdians dengan lembut bahkan pelayan yang baru saja datang mengantarkan minuman dan camilan juga terkejut dengan kemarahan Ferdians.
"KELUAR! KATAKAN PADA PRIA ITU SAMPAI KAPANPUN SAYA TIDAK AKAN MENEMUINYA!" ujar Ferdians dengan penuh amarah.
"Mas tenang!" ujar Rania dengan tegas.
"Sebaiknya ibu keluar karena suami saya sedang emosi," ujar Rania yang membuat Gista menatap sendu ke arahnya, sebenarnya Rania kasihan tapi Rania tahu jika suaminya sedang menahan amarah yang begitu besar karena Eric sudah membuat Heera tak sadarkan diri sampai sekarang.
"S-saya permisi. Tapi jika kamu berubah pikiran kamu bisa langsung ke rumah saya," ujar Gista dengan pelan.
Gista keluar dari rumah Rania dengan meneteskan air matanya. Entah kenapa bentakan Ferdians membuat dirinya begitu sakit, dadanya begitu sesak.
Sedangkan Ferdians menghembuskan napasnya dengan perlahan, ia memejamkan matanya untuk meredakan emosi yang menguasai dirinya saat ini.
"Sayang, Mas mohon jangan lagi biarkan wanita itu masuk ke rumah ini. Mas belum sanggup untuk memaafkan semuanya. Ibu sedang tidak baik-baik saja," ujar Ferdians dengan lirih.
"Iya, Mas. Aku paham! Sekarang tenangkan diri kamu dulu setelah itu kita melihat ibu ke rumah sakit," ujar Rania dengan lembut dengan mengelus dada bidang Ferdians dengan perlahan yang membuat Ferdians sedikit tenang.
__ADS_1
Ferdians belum bisa memaafkan Eric sama sekali, semua yang dilakukan Eric begitu sangat menyakiti hatinya. Ia tidak ingin bertemu dengan Eric lagi.