Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 103 (Ketakutan Sastra)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


📌 Siapa yang gak sabar ketemu baby twins. Bentar lagi mau lounching nih🎉🎉


...Happy reading...


****


Sastra mengelap tubuh Citra dengan handuk secara perlahan agar Citra kembali fresh kembali. Tetapi Citra belum mau merespon ucapannya sejak kemarin, bahkan Sastra kali ini rela di marahi oleh Ben demi untuk menjaga Citra.


"Sayang, kamu sudah segar kembali. Wangi lagi! Mas sudah memakaikan lotion favorit kamu," ujar Sastra dengan tersenyum.


"Kamu mau makan? Sejak kemarin kamu belum makan, Sayang. Lihat makanan yang di bawa suster selalu Mas yang memakannya, Bentar lagi sudah malam nanti kamu lapar," ujar Sastra memegang tangan Citra dengan lembut.


"Kamu mau makan apa? Biar Mas belikan? Ayo dong bicara, Sayang. Kalau perlu pukul Mas saja, marah sama Mas saja dari pada kamu diam seribu bahasa seperti ini. Ini lebih menyakitkan dari pada kamu marah sama Mas, Sayang!" ujar Sastra dengan sendu.


Hanya mata Citra yang berkedip dengan tatapan yang begitu kosong, seakan di dalam raga Citra sudah tak ada nyawa lagi padahal wanita itu masih hidup. Sastra menghela napasnya dengan pelan, entah sampai kapan Citra akan seperti ini. Tetapi Sastra tak akan menyerah sampai Citra mau berbicara kembali kepada dirinya.


"Sastra!" panggil Ferdians yang membuat Sastra terkejut.


"T-tuan..." ujar Sastra dengan terbata.


Ferdians mendekat ke arah Sastra. Keadaannya sudah mulai membaik bahkan Ferdians secara diam-diam pergi ke ruangan Citra agar ayahnya tidak tahu jika dirinya menemui Sastra.


"Bagaimana keadaan, Tuan?" tanya Sastra dengan pelan.


"Saya sudah membaik hanya hati saya yang tidak baik-baik saja sampai saat ini," jawab Ferdians dengan lirih.


Sastra tahu maksud dari Ferdians. "Maafkan saya, Tuan. Untuk saat ini saya tidak bisa berbuat apa-apa karena sejak awal saya memang di perintahkan tuan Ben untuk menjaga nona Rania," ujar Sastra merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Tapi jujur saya tidak bisa jauh dari Rania apalagi sebentar lagi Rania akan melahirkan. Bagaimana mungkin saya tidak menemani Rania? Pasti dia sangat ketakutan sekali. Saya ingin menghubungi Rania tapi ponsel saya di sita oleh ayah kandung saya. Situasi yang seperti ini sangat saya benci," ujar Ferdians dengan tajam bahkan matanya memerah karena menahan amarah.


"Sekali lagi saya minta maaf, Tuan. Sebisa mungkin saya akan membuat tuan dan nona bertemu tapi untuk saat ini saya tidak bisa melakukannya keadaan Citra sangat memburuk bahkan dari kemarin sampai saat ini Citra tak berbicara sedikit pun," ujar Sastra dengan pelan.


"Tuan ke sini apa tidak ketahuan tuan Eric?" tanya Sastra dengan khawatir.


"Dia sedang melihat Alex. Ayah terlihat marah sekali dengan kamu, waspada dia akan menemui kamu karena telah membuat keponakan tersayangnya masuk rumah sakit dengan tulang hidung yang patah," ujar Ferdians dengan menyeringai.


Sastra tersenyum sinis. " Saya tidak takut, Tuan. Karena Alex pantas mendapatkan itu, dia telah membuat orang yang saya cintai seperti ini. Ini belum seberapa, Tuan. Jika tidak mengingat Citra mungkin saya sudah menghajarnya sampai mati," ujar Sastra dengan sinis.


"Saya mengerti. Saya juga akan melakukan hal sama seperti kamu jika orang yang saya cintai dilecehkan seperti itu. Saya juga tidak menyangka jika saya dan Alex adalah saudara sepupu," ujar Ferdians dengan datar.


"Sastra, boleh saya pinjam ponsel kamu untuk menghubungi Rania?" tanya Ferdians kepada Sastra karena ini tujuan utamanya menemui Sastra.


Sastra terdiam. Lalu ia memberikan ponselnya kepada Ferdians. "Ini, Tuan!" ujar Sastra sambil memberikan ponselnya.


"Terima kasih!"


Ferdians langsung menerima ponsel Sastra, ia langsung mencari nama Rania di sana dan setelah menemukannya Ferdians langsung menelepon nomor Rania. Ferdians tampak gelisah hingga teleponnya di angkat oleh Rania.


[Masih berani kamu menghubungi saya? Kamu benar-benar pengkhianat, Sastra!]


[Sayang ini, Mas!] ujar Ferdians dengan sabar.

__ADS_1


[M-mas... Hiks...hikss...kangen!] ujar Rania dengan menangis.


[Sabar ya, Sayang. Mas akan berusaha untuk membawa kamu pulang ke rumah. Kita akan susun rencana untuk bisa bertemu. Sekarang kamu yang tenang ya. Jangan nangis terus kasihan twins. Ponsel Mas di sita sama ayah, selama Sastra di rumah sakit Mas akan pinjam ponsel Sastra, mungkin nanti Mas suruh Sastra beli ponsel baru untuk, Mas] ujar Ferdians menenangkan hati istrinya.


Tanpa di ketahui oleh Ferdians, Rania sudah berusaha menahan tangisnya.


[Perut aku sakit, Mas!] adu Rania yang membuat Ferdians panik.


[Kamu mau melahirkan?]


[Kedua anak kita juga mau di peluk papanya makanya perut aku sakit. Pokoknya aku mau melahirkan kalau Mas ada di samping aku hiks... Aku tidak bisa kabur dari sini banyak penjaga di rumah Papa!]


[Tunggu Mas, Sayang! Mas akan berusaha untuk membujuk Papa ya]


[Iya, Mas]


[Mas tutup ya, Sayang. Mas juga merindukan kamu. Jaga diri baik-baik ya, katakan sama kedua anak kita jika Mas juga merindukan mereka. Mas akan telepon lagi nanti. Mas harus kembali ke ruangan sebelum ayah kembali]


[Iya, Mas. Cepat sehat ya, Mas. Biar kita bisa kumpul lagi]


[Iya, Sayang. I love you!]


[I love you too]


Sambungan telepon terputus. Ferdians kembali memberikan ponsel Sastra.


"Terima kasih. Semoga Citra cepat kembali pulih. Sastra saya mau bertanya kepada kamu, kamu memihak Rania atau papa?" ucap Ferdians yang membuat Sastra menghela napasnya dengan pelan.


"Jujur hati saya mengatakan untuk memihak kepada nona Rania. Namun, keadaan yang memaksa saya menjadi tega seperti ini kepada anda dan nona, Tuan. Saya juga sepertinya akan keluar dari pekerjaan saya karena mental Citra yang menjadi prioritas utama saya saat ini. Saya sudah begitu jahat kepadanya sejak dulu dan saya tidak ingin kehilangan Citra untuk kedua kalinya. Tapi jika anda membutuhkan bantuan saya, saya dengan senang hati membantu jika Citra mengizinkan saya," ujar Sastra dengan tegas.


"Beli online saja, Tuan. Nanti kurir yang akan mengantarkannya."


"Apa prosesnya tidak terlalu lama?"


"Tidak, Tuan. Mungkin besok sudah sampai," ujar Sastra dengan tenang.


"Baiklah kamu urus saja! Saya menunggu kabar baik dari kamu. Saya permisi!"


"Baik, Tuan!"


Setelah kepergian Ferdians, Sastra kembali duduk di samping Citra. Dan menggenggam tangan Citra dengan lembut.


"I love you, Citra! I miss you!" gumam Sastra dengan lirih mengecup tangan Citra dengan lembut seakan Sastra takut tangan Citra akan lecet karena sentuhannya.


***


Ini sudah jam 3 pagi dan Sastra masih terjaga untuk menjaga Citra yang saat ini masih tertidur hingga Sastra merasakan kantuk yang begitu berat. Dengan meletakkan kepalanya di dekat tangan Citra, Sastra mulai memejamkan matanya dengan posisi tidur dalam keadaan duduk. Berharap beberapa jam ke depan keadaan Citra sudah mulai membaik.


Tanpa diketahui oleh Sastra tiba-tiba saja Citra membuka matanya dengan mimik wajah yang begitu ketakutan. Sepertinya Citra baru saja mengalami mimpi buruk, hingga Citra bangun dari tidurnya dan melepas selang infusnya dengan perlahan bahkan tidak menimbulkan suara sama sekali yang membuat Sastra tidak bangun dari tidurnya.


Dengan perlahan dan pandangan yang begitu kosong penuh ketakutan Citra keluar dari ruangannya.


"T-tolong!" gumam Citra dengan sangat pelan.

__ADS_1


Citra terus berjalan tak tentu arah dengan rasa takut dan cemas yang luar biasa, kakinya begitu terasa ringan untuk melangkah. Bahkan Citra begitu takut bertemu orang-orang, semua orang di matanya seperti Alex yang ingin memperk*sanya.


"J-jangan sentuh aku!" gumam Citra yang membuat orang-orang yang lewat menatapnya aneh.


Mungkin dipikiran mereka Citra adalah orang gila yang kabur hingga mereka tak menggubris Citra.


Setelah berjalan lumayan lama akhirnya Citra sampai di atas gedung rumah sakit. Bahkan Citra tidak tahu dirinya sampai di sini, ia hanya mengikuti langkah kakinya dengan rasa yang begitu ketakutan luar biasa.


Sedangkan Sastra yang berada di dalam ruangan Citra langsung terbangun dengan terkejut karena ia ketiduran.


"Citra!" panggil Sastra dengan khawatir.


Sastra langsung mencari keberadaan Citra di kamar mandi tetapi tidak ada Citra di dalam. Sastra langsung keluar ruangan Citra dan mencari Citra di sana tetapi tetap tidak ada Citra. Seharusnya ia tidak tertidur! Seharusnya ia menjaga Citra dengan benar! Sungguh Sastra begitu sangat khawatir dengan keadaan Citra.


"Citra dimana kamu, Sayang?" teriak Sastra sampai-sampai membuat perawat menghampiri dirinya.


"Maaf, Pak! Ini masih waktunya pasien untuk tidur. Jangan berteriak di sini, Pak!"


"Sus, calon istri saya tidak ada di kamarnya. Cepat kerahkan yang lain untuk mencari calon istri saya. Jika terjadi sesuatu dengan calon istri saya bagaimana, Sus?" ujar Sastra dengan cemas.


"Tenang, Pak. Kami akan bantu mencari," ujar suster tersebut.


"Cepat, Sus!"


"Baik, Pak!"


"Ya Tuhan... Sayang kamu di mana?" tanya Sastra begitu khawatir.


Sastra keluar mencari keberadaan Citra dengan di bantu para staf di rumah sakit ini. Mereka mencari keberadaan Citra di luar, tetapi tidak ada juga yang membuat Sastra bertambah khawatir.


"Ada orang yang mau bunuh diri di atas!" ujar seseorang yang membuat Sastra refleks melihat ke arah atas.


Deg...


"CITRA!" teriak Sastra dengan khawatir.


Dengan berlari sekuat tenaga Sastra berlari masuk ke dalam lagi untuk segera naik ke lantai atas. Sedangkan satpam di rumah sakit ini segera mencari sesuatu yang bisa menampung tubuh Citra agar tidak terluka saat terjatuh nanti. Mereka akan menggunakan matras yang besar untuk menyelamatkan nyawa Citra.


Sastra dengan wajah yang begitu khawatir menyusul Citra.


"Sayang, please jangan melakukan itu!" gumam Sastra dengan lirih bahkan napasnya terlihat tak beraturan.


Akhirnya Sastra sudah sampai di atas atap gedung rumah sakit. Ia melihat Citra terus berjalan ke arah pinggir atap. Sastra berlari dan menarik tangan Citra hingga mereka berpelukan. Orang-orang di bawah sudah bernapas lega saat melihat Citra berhasil di selamatkan.


"Hiks...hiks...." Sastra menangis dengan memeluk tubuh Citra sangat erat.


Sastra begitu takut jika Citra akan memberontak dan melepaskan diri. "Ada Mas, Sayang. Kenapa kamu lakukan ini hmm? Bunuh diri itu tidak baik, Sayang. Apa yang kamu pikirkan hingga kamu berani melakukan itu?" ujar Sastra menangkup wajah Citra yang begitu pucat.


"Lihat pipi kamu dingin sekali. Ya Tuhan... Mas tidak sanggup jika harus kehilangan kamu, Citra! Kita kembali ke kamar ya dan jangan pernah melakukan ini lagi," ujar Sastra sangat khawatir.


Tanpa di duga oleh Sastra, Citra memeluk Sastra dengan sangat erat. Bahkan menangis histeris di pelukan Sastra.


"Menangislah jika itu membuat perasaan kamu lega, Sayang. Jangan seperti tadi ya! Kamu tahu Mas sangat takut sekali tadi," gumam Sastra mengecup kepala Citra dengan sayang bahkan Sastra masih mengeluarkan air matanya mendengar Citra sesegukan di pelukannya.

__ADS_1


"Seberat itu beban kamu, Sayang? Lagi dan lagi Mas gagal menjaga kamu," gumam Sastra miris di dalam hati.


__ADS_2