
...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Rajendra menyeret Cassandra keluar dari mobilnya yang membuat Cassandra berteriak histeris. Semua penjaga menatap takut dengan amukan Rajendra kali ini, karena Cassandra bisa kabur dari rumah ini. Sedangkan David menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat di depannya, Cassandra sangat cepat di bawa ke rumah ini lagi oleh Rajendra. Keringat dingin mulai muncul di dahi David, karena ia yakin Rajendra sudah tahu jika dirinya yang menolong Cassandra untuk kabur dari rumah ini untuk bertemu dengan Rajendra dan istri keduanya.
"Lepas Mas! Aku harus menghajar pelakor itu!" teriak Cassandra mencoba melepaskan diri dari Rajendra.
Namun, sekuat apapun ia menarik tangannya tenaganya tetap kalah dengan Rajendra yang terlihat sangat menyeramkan sekali saat ini. Rajendra sering mengamuk, tetapi amukan kali ini membuat Cassandra benar-benar merasa jika nyawanya dalam bahaya. Yang ada tangannya yang sakit karena Rajendra terus menariknya ke dalam rumah, Cassandra menggelengkan kepalanya saat Rajendra membawanya ke suatu ruangan yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.
"Dasar j*lang murahan! Jangan mengatakan Bunga pelakor. Kamulah yang seharusnya di musnahkan sekarang juga," ujar Rajendra dengan suara yang sangat menyeramkan sekali.
"Masuk!" ujar Rajendra dengan sangat dingin.
"Tidak mau, Mas!" teriak Cassandra dengan histeris.
Dengan geram Rajendra menarik Cassandra dengan begitu kuat hingga akhirnya wanita itu masuk ke dalam ruangan yang terlihat sangat gelap. Cassandra ketakutan, ia merasa tempat ini akan menjadi tempat terakhirnya untuk hidup.
Rajendra menghidupkan saklar lampu yang membuat Cassandra menelan ludahnya dengan kasar melihat tempat ini yang ada borgol besi menggantung di sana.
"J-jangan, Mas!" ujar Cassandra dengan takut.
Rajendra sama sekali tidak bergeming dengan wajah yang begitu sangat dingin Rajendra memborgol kedua tangan Cassandra hingga kedua tangan Cassandra terangkan ke atas.
"Mas aku mohon lepaskan aku hiks... Aku tidak mau di perlakukan seperti ini!" ujar Cassandra dengan menangis histeris tetapi Rajendra sama sekali tak bersuara ia malah bergantian memborgol kaki Cassandra yang membuat Cassandra tidak lagi bisa berkutik. Cassandra seperti tahanan, tetapi semua tangan dan kakinya tidak bisa bergerak dengan bebas karena Rajendra memborgol tangan dan kakinya dalam posisi ia masih berdiri, rantai di ikat dengan begitu kuat di sana yang membuat Cassandra hanya bisa menangis tetapi tidak bisa meloloskan diri.
"Kamu pikir saya tidak tahu apa yang kamu lakukan selama ini di rumah saya? Saya tidak sebodoh itu, Cassandra!" ujar Rajendra dengan menyeringai.
"Nikmati saya siksaan kamu hari ini dan sebentar lagi saya akan kembali memberikan kamu sebuah kejutan," ujar Rajendra dengan begitu sangat dingin.
"Tidak, Mas. Lepaskan aku hiks... Aku mau keluar dari tempat ini!" teriak Cassandra dengan histeris. "Jika kamu menyiksa aku, kamu juga harus menyiksa Olivia! Ini tidak adil!Argghhh..." Suara Cassandra terdengar sudah serak karena terus berteriak.
Rajendra sama sekali tidak peduli, ia kembali mematikan saklar lampu yang membuat ruangan ini kembali gelap, Cassandra terus berteriak ketakutan.
"Mas hidupkan lampunya aku mohon! Kamu brengsek, Mas!" teriak Cassandra dengan tajam.
Hening...
Cassandra benar-benar sendiri di tempat gelap ini, ia berusaha melepaskan diri namun borgol yang terbuat dari besi itu tidak bisa ia lepaskan.
"Hiks...hiks... Aku mohon lepas, Mas!" ujar Cassandra dengan melemah karena tenaganya sudah terkuras habis karena terus berteriak.
__ADS_1
Sedangkan Rajendra menyeringai, sebentar lagi ia akan memberikan kejutan kepada Cassandra yang membuat wanita itu tidak bisa berbicara, siapapun yang bermain-main dengan Rajendra tidak akan ia biarkan hidupnya tenang.
Rajendra berjalan ke luar rumah ia menatap seluruh penjaganya dengan tatapan yang begitu sangat dingin.
"Kalian semua kemarilah!" ujar Rajendra dengan dingin.
"Baik, Tuan!" ujar semua penjaga termasuk David yang sudah ketakutan jantungnya berdegup sangat kencang ketika Rajendra sudah memanggil semua penjaga di rumah ini.
"Ikut saya!" perintah Rajendra dengan tegas yang di angguki seluruh penjaga dengan penasaran tetapi tidak dengan David yang sangat merasa was-was begitu pun Seno, penjaga kedua yang sama-sama menikmati tubuh Cassandra kala itu.
"Aku merasa takut sekarang!" gumam Seno kepada David.
"Diamlah!" gumam David dengan sangat lirih, ketakutannya jauh lebih besar sekarang daripada yang Seno rasakan saat ini.
Rajendra kembali membuka ruangan di mana Cassandra berada. "Kalian semua masuk!" ujar Rajendra dengan dingin.
"Siap, baik Tuan!" ujar para penjaga dengan tegas.
Saklar lampu sudah di hidupkan kembali membuat semua penjaga terkejut dengan melihat Cassandra dengan tangan yang tergantung seperti itu. Begitupun dengan David dan Seno, tetapi yang lebih sakit hati David saat ini melihat wanita yang ia sukai sudah dalam keadaan tidak percaya.
"DIAM! DAN JANGAN ADA YANG BERBICARA!" ujar Rajendra dengan dingin hingga suasana kembali hening.
Cassandra berusaha membuka matanya dengan perlahan, ia sangat terkejut melihat banyak penjaga di ruangan ini. Pikirannya sudah sangat buruk sekarang melihat Rajendra berjalan di hadapannya dengan menyeringai.
"Di antara mereka semua siapa ayah dari anak yang kamu kandung sekarang?" tanya Rajendra dengan berbisik yang membuat Cassandra menelan ludahnya dengan kasar.
"Baiklah jika kamu tak mau jujur. Saya yang akan memberitahu ya!" ujar Rajendra dengan terkekeh.
"Kalian semua lihat ke televisi itu!" ujar Rajendra dengan tegas yang membuat semua mata penjaga langsung menatap ke arah televisi besar yang ada di dekat mereka.
Para penjaga sangat penasaran dengan apa yang akan Rajendra tunjukkan kepada mereka, Cassandra juga bingung, otaknya tak pernah berpikir sejauh mana Rajendra akan terus menekannya.
Rajendra mengambil ponselnya dan menghubungkannya ke televisi yang ada di hadapannya hingga televisi itu sudah menyala dan mempertontonkan kegiatan tiga orang dewasa yang sedang memadu kasih, semua penjaga melotot dengan menelan air liur mereka sendiri mendengar suara des*han Cassandra yang membuat gairah mereka meninggi.
Cassandra, David, dan Seno terlihat sangat pucat pasih melihat adegan mereka ternyata terekam di ponsel Rajendra.
Rajendra menatap tajam David dan Seno. "Jadi, benih siapa yang sudah tumbuh di rahim jal*ng ini?" tanya Rajendra dengan menyeringai.
"T-tuan ka..."
"DIAM!" ucap Rajendra dengan tajam yang membuat Seno langsung terdiam.
"Ternyata kalian bertiga sangat menikmati apa yang kalian lakukan ya. Saya tidak marah kalian menikmati tubuh jal*ng murahan ini tapi saya beritahu kalian semua jangan pernah main-main dengan saya!" ujar Rajendra dengan datar.
__ADS_1
Cassandra menggelengkan kepalanya, ia menangis melihat tubuhnya menjadi bahan tontonan banyak lelaki di ruangan ini. "KAMU BRENGSEK, MAS! MATIKAN TELEVISI ITU!" teriak Cassandra dengan histeris.
Sungguh Cassandra sangat malu, harga dirinya sudah tidak ada lagi sekarang karena Rajendra mempermalukan dirinya pada semua lelaki yang ada si ruangan ini.
Rajendra terkekeh. "Masih mau bermain-main dengan saya Cassandra? Ini masih kurang ada pertunjukan yang harus saya tunjukkan lagi pada kamu dan semua orang di sini termasuk dua lelaki yang menjadi budak pemu*s n*fsu kamu itu," ujar Rajendra dengan entengnya.
Cassandra tampak waspada ketika Rajendra semakin mendekati ke arah dirinya. Ketika Rajendra sudah di hadapannya lelaki itu mengeluarkan gunting yang ada di saku celananya dan dengan kasar menggunting pakaian Cassandra tanpa belas kasih karena Cassandra sudah sangat membuat dirinya geram.
"MAS HENTIKAN HIKS!" teriak Cassandra yang lagi dan lagi menangis karena perlakuan Rajendra saat ini.
"Sekarang kalian semua bisa menikmati tubuh ini secara langsung! Kalian mau merasakan tubuh Cassandra? Silahkan saya tidak akan melarangnya!" ujar Rajendra dengan datar.
"Beneran, Tuan?" tanya salah satu penjaga yang memang sudah bergairah.
"Tidak, tidak! Ampun Mas. Iya aku akui ini bukan anak kamu hiks... Ini anak David!" ujar Cassandra dengan ketakutan.
"Kalian semua nikmati saya tubuh Cassandra secara bergilir," ujar Rajendra tak bergeming walaupun Cassandra sudah mengakui semuanya
" J-jangan, Mas. Ampun hiks..."
David sudah tidak tahan lagi, mendengar jika Cassandra mengandung anaknya membuat David mempunyai keberanian untuk maju ke depan.
"Maaf Tuan saya lancang. Saya mengakui kesalahan saya yang sering berhubungan dengan nona Cassandra. Saya mohon jangan sakiti nona Cassandra karena bagaimana di dalam rahimnya ada anak saya, Tuan!" ujar David dengan tegas.
Rajendra menyeringai. "Apa yang Cassandra berikan hingga kamu begitu membelanya David?" tanya Rajendra dengan tajam.
"KATAKAN! JANGAN DIAM SAJA!" teriak Rajendra dengan murka.
"S-saya tertarik dengan nona Cassandra, Tuan. M-maafkan saya! Saya rela menggantikan hukuman nona Cassandra, Tuan!" ujar David dengan menundukkan kepalanya.
Tawa Rajendra menggelegar yang membuat Seno juga ketakutan.
"Kalian berdua kemari!" ujar Rajendra menatap kedua penjaga.
"Baik, Tuan!"
"Borgol David dan Seno! Cambuk mereka sampai pingsan!" ujar Rajendra dengan dingin.
"A-ampun, Tuan!" ujar Seno dengan berkeringat dingin.
Tetapi Rajendra tetap pada pendiriannya, ia duduk di kursi dengan melihat David dan Seno yang mulai di borgol sama seperti Cassandra. David melihat ke arah Cassandra yang sangat ketakutan bahkan tubuhnya sudah menggigil.
"Maaf!" gumam David yang masih bisa di dengar oleh Cassandra.
__ADS_1
"Cambuk mereka sekarang!" perintah Rajendra dengan santai.
Cassandra memejamkan matanya ketika mendengar suara cambukan itu dan jeritan kesakitan David dan Seno. Cassandra benar-benar sangat ketakutan, ia sudah terlihat depresi sekarang. Mentalnya sudah di rusak oleh Rajendra habis-habisan. Ia sangat takut sekarang, bahkan Cassandra sudah tak berani membuka matanya.