
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Gavin dan Frisa sedang berada di dalam mobil berdua, mereka ingin melihat Bunga yang berada di rumah sakit. Kabar kehamilan Bunga membuat Frisa sangat bahagia sekali karena anaknya akan mempunyai teman bersama.
"Masss berhentii!" rengek Frisa yang membuat Gavin langsung melihat ke arah istrinya.
"Bentar, Sayang. Kita tidak boleh berhenti sembarangan!" ujar Gavin dengan tersenyum.
Gavin tahu pasti istrinya sedang ingin sesuatu, ia berusaha mewujudkan semua keinginan istrinya. Gavin menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Mau apa, Sayang?" tanya Gavin dengan mengelus pipi istrinya yang sudah terlihat lebih cabi lagi dari biasanya.
"Itu ada orang jual durian. Aku mau durian, Mas!" ujar Frisa dengan merengek mengelus peritnya dengan lembut.
Frisa benar-benar sangat menginginkan durian saat melihat pedagang durian yang berjejer di sana. Gavin begitu syok saat istrinya menginginkan durian karena selama ini Frisa sama sekali tidak menyukai buah yang berbau menyengat tersebut.
"Sayang, selama ini kamu tidak menyukai durian dan juga kamu sedang hamil, mana boleh ibu hamil makan durian, Sayang!" ujar Gavin mencoba memberikan pengertian untuk sang istri saat ini dengan nada yang begitu lembut agar tidak menyinggung perasaan ibu hamil yang lebih sensitif dari sebelumnya.
Benar saja, mata Frisa langsung berkaca-kaca karena suaminya sama sekali tidak mau menuruti keinginannya saat ini padahal ia sudah sangat menginginkan durian, membayangkannya saja sudah membuat air liurnya seakan ingin menetes sekarang juga.
"Aku mau durian Mas hiksss... Kenapa tidak boleh? Aku sangat ingin Mas!" ujar Frisa dengan menangis yang membuat Gavin bingung harus apa sekarang karena yang ia tahu ibu hamil tidak boleh makan durian.
"Mas sudah tidak sayang aku dan adek bayi hiks..." ujar Frisa dengan menangis yang membuat Gavin kelagapan.
"Sayang, bukan begitu maksud Mas! Mas hanya tidak ingin kamu dan dedek bayi kenapa-napa, Sayang! Ya sudah gini saja kita tanya mama Rania dulu ya. Tapi kalau tidak boleh jangan beli ya, Sayang. Ganti yang lain ngidamnya," ujar Gavin dengan lembut mencium kening Frisa dan kedua mata Frisa dengan lembut.
Frisa langsung berhenti menangis. "Iya coba langsung telepon mama, Mas!" ujar Frisa dengan sangat berbinar.
Gavin mengambil ponselnya dan mencari kontak mama mertuanya, setelah itu Gavin langsung menghubungi mertuanya itu dengan me-loudspeaker panggilannya agar Frisa bisa mendengarnya.
[Halo, Gavin. Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Frisa] tanya Rania yang tampak khawatir dari nada bicaranya.
__ADS_1
"Halo, Ma. Ini Ma, Frisa ngidam minta durian padahal Mama tahu sendirikan kalau Frisa tidak suka dengan durian. Setahu saya ibu hamil tidak boleh makan durian. Gimana, Ma? Saya bingung harus apa sekarang karena Frisa sudah menangis, Ma!" ujar Gavin dengan serius namun tawa Rania membuat Gavin benar-benar bertambah bingung.
[Hahaha.... Kenapa jadi suka durian anak mama ya? Boleh makan tapi hanya sedikit untuk menghilangkan rasa pengennya Frisa saja, setelah itu kamu langsung bawa Frisa pergi saja dari tempat itu] ujar Rania dengan tertawa kecil.
Jawaban dari mamanya membuat Frisa memekik kesenangan. "Makasih, Mama. Mama yang terbaik deh. Padahal cucu Mama sedang minta durian tapi di larang sama mas Gavin. Jahat banget Mas Gavin kan, Ma?!" ujar Frisa dengan cemberut walaupun mamanya tidak bisa melihat ekspresi wajahnya sekarang.
[Itu semua demi kebaikan kamu, Sayang. Kamu boleh makan durian tapi hanya sedikit saja, jangan berlebihan ya] ujar Rania dengan terkekeh.
"Iya, Ma. Tahu kok. Tapi aku tidak tahu kenapa sangat ingin memakan durian. Sudah dulu ya, Ma. Aku sudah tidak sabar ingin memakan durian," ujar Frisa dengan amat senang.
[Iya, Sayang!]
Panggilan sudah terputus, Frisa langsung melihat ke arah suaminya. "Tuh kan boleh makan durian asal tidak berlebihan. Ayo cepat keluar, Mas. Kita beli di sana, aku juga mau makan langsung di tempatnya," ujar Frisa dengan hati yang begitu gembira.
Gavin hanya bisa tersenyum mendengar omelan istrinya saat ini. "Tapi ingat loh ya jangan berlebihan!" peringat Gavin yang di angguki dengan kesal oleh Frisa.
Akhirnya Gavin dan Frisa keluar dari mobil, dengan menggandeng tangan istrinya Gavin mendekati pedangang durian tersebut. "Pak durian yang paling enak mana?" tanya Gavin.
"Ini yang paling enak Mas. Manis ini," ujar penjual durian menunjukkan durian pilihannya.
"Oo istrinya lagi hamil muda ya, Mas. Sebentar saya belah duriannya ya," ujar penjual durian tersebut dengan ramah.
"Iya, Pak!" sahut Gavin dengan singkat.
Gavin menatap istrinya. "Senang?" tanya Gavin dengan lembut.
"Banget, banget, Mas!" jawab Frisa dengan tersenyum bahagia.
"Ini, Mas! Mbaknya ambil saja," ujar penjual durian tersebut dengan memberikan durian yang sudah ia belah.
"Makasih, Pak!" ujar Frit dengan tersenyum.
Frisa mengambil buah durian, ia langsung memakannya dan ekspresi wajah Frisa begitu berbinar ketika merasakan durian itu masuk ke mulutnya padahal Gavin sudah sangat takut jika Frisa akan mual seperti biasanya.
"Enak, Sayang?" tanya Gavin menatap Frisa dengan ekspresi yang sama sekali tidak terbaca.
__ADS_1
"Enak banget, Mas! Adek bayi suka katanya," ujar Frisa yang sangat menikmati durian tersebut.
"Sudah jangan banyak-banyak. Kata Mama tadi tidak boleh berlebihan. Nanti kita beli yang lain saja, Sayang!" ujar Gavin dengan tegas.
Mau tak mau Frisa mengangguk dengan lesu karena ia harus sudah mengakhiri memakan durian sekarang.
"Berapa, Pak?" tanya Gavin.
"50 ribu saja, Mas!" jawab penjual durian dengan tersenyum.
"Ini, Pak. Kembaliannya untuk Bapak saja!" ujar Gavin yang memberikan uang seratus ribu.
"Terima kasih banyak, Mas. Semoga anak Mas lahir dengan selamat dan tidak kekurangan sesuatu apapun," ujar penjual durian dengan sangat senang.
"Aamiin... Kalau begitu kami permisi dulu ya, Pak!" ujar Gavin.
"Iya, Mas! Ini duriannya!"
"Bapak makan saja takutnya jika saya bawa istri saya masih mau memakannya," ujar Gavin.
"Ooo iya, Mas. Terima kasih banyak, Mas!"
Setelah membeli durian yang di inginkan oleh Frisa. Keduanya kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan untuk bertemu dengan Bunga di rumah sakit.
"Duh bahagia banget yang habis makan durian," ujar Gavin dengan terkekeh.
"Enak banget, Mas. Masih boleh makan tidak ya besok? Kenapa tidak di bawa pulang saja duriannya, Mas? Kan Mas suka durian!" ujar Frisa menatap suaminya.
"Jangan terlalu sering, Sayang. Mas bisa menahannya daripada nanti kamu minta lagi mending di kasih bapak itu saja," ujar Gavin dengan tersenyum.
"Perhatian banget sih suami aku!" ujar Frisa memeluk lengan Gavin dengan erat.
Cup....
"Karena Mas sayang sama kamu, Sayang. Mas tidak ingin terjadi sesuatu dengan kamu dan dedek bayi. Kalian berdua harus sehat terus," ujar Gavin yang membuat hati Frisa tersentuh apalagi di saat Gavin mencium keningnya dengan penuh perasaan.
__ADS_1
Bagaimana jika setiap harinya ia tidak mencintai Gavin sebab perlakuan suaminya benar-benar membuat Frisa meleleh. Gavin adalah pria yang selalu ada untuknya selain para keluarganya.