Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 145 (Pencuri Es Krim)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Faiz dikejutkan dengan adiknya yang sudah tidur di kamarnya sedangkan dirinya baru saja pulang. Sehabis mengantarkan Olivia, Faiz tak terus pulang ke rumahnya, ia memilih untuk ke rumah kakeknya terlebih dahulu dan membahas tentang Cassandra bersama dengan Rajendra.


Faiz duduk di pinggir kasur menatap adiknya yang sudah terlelap, ia tersenyum geli saat melihat adiknya yang begitu sangat lucu sekali saat tidur.


"Frisa-Frisa, kamu sangat menggemaskan sekali, Dek. Kakak jadi tidak rela jika kamu nanti menikah terlalu cepat," gumam Faiz dengan mengusap rambut adiknya dengan lembut.


Frisa yang merasakan kepalanya di usap langsung membuka matanya dengan perlahan. "Kakak baru pulang?" tanya Frisa dengan suara seraknya.


"Iya, Dek. Kakak baru saja pulang dari rumah kakek," jawab Faiz dengan tersenyum.


"Dari rumah kakek atau rumah Olivia nih?" tanya Frisa dengan menaik turunkan alisnya menggoda sang kakak yang sepertinya sudah merasakan apa itu suka dengan lawan jenis.


"Dari mana kamu tahu kalau Kakak ke rumah Olivia?" tanya Faiz dengan memicingkan matanya menatap sang adik yang terlihat terkekeh.


"Kakak lupa kalau Cakra dan yang lainnya selalu bersamaku. Mereka tidak bisa berbohong kepadaku walaupun Kakak menyuruh mereka untuk berbohong," jawab Frisa dengan tersenyum menang saat melihat wajah kakaknya yang terlihat sangat lucu sekarang.


"Oo iya Kakak hampir lupa," jawab Faiz sekenanya.


Faiz berjalan ke arah lemari, ia sudah mandi di rumah kakeknya dan Faiz ingin berganti pakaian untuk tidur supaya nyaman.


"Kakak suka ya sama Olivia?" tanya Olivia menatap kakaknya berjalan ke arah ruang ganti.


"Kakak tidak sengaja bertemu dengan Olivia di taman. Dia terlihat sangat bersedih, sebagai atasan yang baik jadi Kakak menghampiri dia," jawab Faiz di dalam ruang ganti yang tak bisa Frisa lihat.


"Masa sih hanya sekedar sebagai atasan dan sekretaris saja? Kok aku tidak yakin ya, Kak?!" ucap Frisa sedikit mengeraskan suaranya.


Faiz kembali keluar dengan piyama tidur yang ia kenakan. Ia menghembuskan napasnya dengan perlahan. "Emang seperti itu kejadiannya tadi, Dek!" ucap Faiz dengan tegas.


"Masa sih, Kak?"


"Iyaa!" geram Faiz kepada adiknya.


"Hahaha... Wajah Kakak lucu tahu! Bilang saja Kakak suka sama Olivia nanti aku bisa bantu bicara sama papa dan mama," ujar Frisa yang membuat Faiz kesal.

__ADS_1


"Ya sudah kalau kamu tidak percaya! Sekarang Kakak mau istirahat! Kamu kembali ke kamar kamu sekarang, Dek!" ujar Faiz dengan kesal.


"Hahaha..." Frisa mencolek dagu kakaknya dengan pelan.


"Tenang, Kak. Aku bantu!" ujar Frisa turun dari kasur Kakaknya.


"FRISA!!" geram Faiz yang membuat Frisa semakin keras menertawakan kakaknya sendiri yang terlihat kesal dengan dirinya.


Bahkan sampai keluar kamar kakaknya Frisa masih tertawa dengan senang. "Kak Faiz, kak Faiz," gumam Frisa dengan terkekeh.


Frisa berjalan ke arah tangga ia ingin turun ke lantai satu menuju ke dapur, ia menjadi haus setelah menggoda kakaknya sendiri. Setelah sampai di dapur Frisa langsung membuka kulkas, ia menemukan es krim yang ia sukai di sana dan tanpa melihat jika ini sudah larut malam Frisa tetap mengambil es krim tersebut. Ia berjalan ke arah kursi pantry dan meletakkan es krim yang ia ambil di meja pantry.


"Emmm enaknya," gumam Frisa yang merasakan es krim tersebut masuk ke mulutnya.


Es krim rasa coklat yang membuat Frisa candu bahkan ia selalu menyetok es krim kesukaannya di kulkas tetapi karena beberapa waktu lalu ia jatuh sakit semua orang di rumah ini melarangnya untuk makan es krim. Alhasil stok es krimnya hanya tinggal satu.


"Ekhem..." Frisa terperanjat kaget saat mendengar deheman yang sangat ia kenal.


Suara bariton yang jarang sekali ia dengar itu sekarang berada di dekatnya.


"Anda seperti pencuri di malam hari, Nona!" ucap Gavin dengan datar.


Gavin duduk di hadapan nonanya. Ia menatap tajam ke arah Frisa yang membuat Frisa menelan ludahnya dengan kasar. Sial! Berani sekali Gavin menatap dirinya seperti itu! Tetapi mengapa Frisa terlihat sangat takut dengan tatapan tajam yang diberikan Gavin kepada dirinya? Batin Frisa saat ini.


"Enak ya makan es krim larut malam seperti ini? Saya kira ada pencuri ternyata ada pencuri es krim di sini," ujar Gavin dengan tajam.


"Ini es krim saya, Gavin! Saya bukan pencuri!" ujar Frisa dengan kesal.


"Tetap saja anda pencuri, Nona! Pencuri es krim lebih tepatnya. Bukankah anda sudah di larang makan es krim?" tanya Gavin dengan datar.


"Ya saya tahu. Tapi saya ingin memakannya, Gavin! Kamu bisa diam saja tidak? Kedua orang tua saya dan kakak saya tidak akan tahu jika kamu tidak memberitahu mereka," ujar Frisa dengan tegas.


Frisa tetap memakan es krim di hadapan Gavin. Sedangkan tatapan Gavin benar-benar dingin yang membuat Frisa sebenarnya takut karena tak biasanya Gavin menatap dirinya seperti ini.


Frisa tampak syok saat mangkuk es krim miliknya di ambil begitu saja oleh Gavin dan di buang di tong sampah secara sadis oleh Gavin.


"Gavinnn, es krim saya!" ujar Frisa dengan syok.


"Saya tidak sengaja membuangnya, Nona!" sahut Gavin dengan datar.

__ADS_1


"Frisa mengepalkan kedua tangannya menatap Gavin dengan sangar. " Dasar menyebalkan! Berani kamu sama saya? Mau saya hukum kamu?" ucap Frisa dengan menahan amarahnya.


"Lebih baik saya mendapatkan hukuman dari Nona daripada saya melihat Nona sakit seperti kemarin. Harga es krim itu tidak seberapa daripada kesehatan, Nona!" ujar Gavin dengan tegas.


"Itu mubazir, Gavin! Es krimnya masih banyak dan kamu membuangnya tanpa rasa bersalah! Benar-benar kamu minta di hukum ya," ujar Frisa dengan kesal.


"Apa kesalahan Gavin sehingga kamu ingin menghukumnya, Sayang?" tanya Ferdians kepada anaknya.


"Eh Papa... Kenapa Papa bangun?" tanya Frisa dengan terbata.


"Mama haus minta diambilkan minum! Jawab pertanyaan Papa! Apa kesalahan Gavin sehingga kamu ingin menghukumnya?" tanya Ferdians dengan tegas.


Frisa tampak terdiam dengan bingung, ia meminta bantuan dengan Gavin menggunakan gerakan matanya tetapi Gavin seakan terlihat tidak peduli yang membuat Frisa mengumpat di dalam hati.


"Dasar tidak peka!"


Ferdians mendekat ke arah anaknya, ia memicingkan matanya saat melihat sisa es krim di sudut bibir anaknya. "Kamu makan es krim tengah malam seperti ini, Frisa?" tanya Ferdians dengan tajam.


"Hehe Papa jangan marah ya. Awalnya aku cuma mau minum tapi melihat es krim di dalam kulkas aku jadi tidak tahan untuk memakannya, Pa!" ujar Frisa memasang wajah imut pada papanya tidak seperti saat bersama dengan Gavin tadi.


"Malam ini Papa sudah kecolongan. Kamu tahu tidak kamu baru saja sembuh dari demam! Seharusnya kamu yang Papa hukum bukan kamu menghukum Gavin!" ujar Ferdians yang membuat Gavin menyeringai senang melihat wajah Frisa seperti anak kucing sekarang.


"Papa jangan marah!" rengek Frisa memegang lengan papanya.


"Gavin kamu awasi terus anak bandel ini. Kalau dia diam-diam masih memakan es krim kamu lapor ke saya, tidak udah takut dengan ancaman anak ini," ujar Ferdians dengan tegas.


"Baik, Tuan!" sahut Gavin dengan tegas.


Frisa cemberut menatap papanya. "Papa tahu sendiri itu makanan kesukaan Frisa!" ujar Frisa dengan sendu.


"Kamu boleh memakan es krim tapi setelah sebulan kamu Papa dan mama larang makan es krim. Mengerti? Ini semua demi kesehatan kamu, Frisa!" ujar Ferdians dengan tegas.


"Sekarang kamu tidur! Papa juga mau kembali ke kamar!" ujar Ferdians dengan tegas.


Ferdians mengambil air minum untuk istrinya setelah itu meninggalkan Frisa dan Gavin begitu saja. Setelah papanya pergi Frisa kembali menatap tajam ke arah Gavin.


"Ini semua gara-gara kamu, Gavin!" ujar Frisa dengan tajam meninggalkan Gavin yang tampak menggelengkan kepalanya.


"Ya lelaki selalu salah di mata wanita," gumam Gavin dengan pasrah.

__ADS_1


__ADS_2