
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...📌 Maaf dua hari gak update karna sibuk lebaran....
...📌 Mohon maaf lahir dan batin semua....
...Happy reading...
***
Hari terus berlalu kedekatan Faiz dan Olivia semakin mesra tetapi di antara keduanya belum ada yang berani untuk mengatakan jika keduanya memiliki hubungan lebih dari sebatas rekan kerja. Faiz dan Olivia butuh waktu untuk membicarakan kedekatan mereka kepada kedua orang tua mereka.
"Ke ruangan saya sekarang!" perintah Faiz kepada Olivia.
Faiz begitu sangat merindukan Olivia setelah beberapa jam berkutat dengan pekerjaannya. Entah mengapa setelah Olivia menjadi miliknya ia tidak bisa jauh dari Olivia.
"Baik, Tuan!" jawab Olivia dengan tegas karena ia ingin profesional dalam bekerja.
Faiz menatap pintu ruangannya yang berbunyi, ia tersenyum tipis saat melihat Olivia membuka pintu dan terlihatlah wajah cantik Olivia siang ini.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Olivia dengan berjalan mendekati Faiz.
"Sudah berapa kali saya bilang saat kita berdua saja kamu jangan memanggil saya tuan!" ucap Faiz dengan mendengus kesal.
Olivia terkekeh melihat wajah kesal kekasihnya. Sebulan menjadi kekasih dari Faiz ternyata Olivia baru mengerti jika Faiz adalah pria yang manja.
"Iya, Mas!" sahut Olivia dengan suara yang manja bahkan ia langsung duduk di pangkuan Faiz.
"Kenapa Mas suruh aku ke sini? Inginkan belum jam makan siang, Mas!" tanya Olivia dengan lembut.
"15 menit lagi juga istirahat. Sepertinya kamu tidak suka saya panggil ke sini," ujar Faiz dengan kesal.
"Kenapa marah-marah, Mas? Bukan maksudku seperti itu cuma pekerjaanku belum selesai," ujar Olivia mengusap rahang tegas Faiz dengan lembut.
Faiz menarik dagu Olivia dengan perlahan dan dapat dipastikan bibirnya sudah menempel di bibir Olivia. Awalnya Olivia terkejut saat Faiz selalu menyerangnya, namun setelah sebulan bersama akhirnya Olivia terbiasa dan menikmati ciuman Faiz walaupun ia mendekati Faiz karena sebuah rencana yang dilakukan Cassandra untuk mendekatkan keluarga mereka lagi yang sudah tak akur tetapi entah mengapa ia merasa nyaman dengan semua perlakuan Faiz kepadanya.
"Mmmphhh!" Olivia mendes*h dengan perlahan saat ciuman Faiz semakin menuntut.
Olivia mendorong dada Faiz dengan perlahan kala ia merasa sudah kehabisan napas, Olivia menghirup udara sebanyak-banyaknya yang membuat Faiz terkekeh, ia mengusap bibir Olivia yang sudah menjadi candunya.
__ADS_1
"Manis!" gumam Faiz dengan pelan.
Faiz kembali mendekat ke arah Olivia tetapi incarannya bukan bibir Olivia kembali melainkan leher Olivia.
"Eughhh.."
"M-mas jangan meninggalkan bekas!" ucap Olivia dengan terbata tetapi Faiz sama sekali tak mendengarkan ucapan Olivia, ia meninggalkan bekas di leher Olivia kembali.
"Mass!" rengek Olivia saat Faiz lagi dan lagi meninggalkan bekas kemerahan di lehernya.
Faiz menatap wajah Olivia setelah ia selesai dengan kegiatannya. Dengan kesal Olivia mengambil ponselnya dan membuka kamera, ia mendelik saat melihat ada dua bekas kemerahan di lehernya yang sangat jelas.
"Mas gimana aku tutupi bekas ini, Mas? Jam kerja masih panjang!" rengek Olivia mengusap lehernya dengan pelan.
"Tidak perlu di tutupi!" jawab Faiz dengan entengnya.
Olivia tampak cemberut tetapi Faiz terlihat gemas dan kembali mencium bibir Olivia.
"Pulang kantor ikut saya ke rumah," ucap Faiz dengan menatap Olivia.
"H-hah? K-ke rumah kedua orang tua, Mas?" tanya Olivia dengan terbata.
"Iya. Kenapa kamu takut?" tanya Faiz dengan menatap Olivia dengan dalam.
Olivia mengangguk dengan ragu. "H-harus sekarang? T-tidak bisa di tunda?" tanya Olivia dengan menggigit bibir bawahnya dengan meringis.
Olivia benar-benar merasa takut untuk bertemu dengan kedua orang tua Faiz. Olivia sangat tahu bagaimana mama dan papa Faiz yang sangat membenci keluarganya.
"Tidak, Olivia! Kamu jangan sampai ketakutan seperti ini karena ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk mendamaikan keluarga kamu dengan keluarga Danuarta seperti yang di harapkan Cassandra selama ini," gumam Olivia di dalam hati.
"Tidak bisa di tunda dan saya juga tidak mau menundanya," jawab Faiz dengan tegas.
"Kenapa kamu tidak mau menemui kedua orang tua dan adik saya?" tanya Faiz dengan tajam.
"B-bukan begitu, Mas. H-hanya saja saya deg-degan bertemu dengan nyonya Rania dan tuan Ferdians untuk pertama kalinya di rumah," sahut Olivia dengan terbata.
"Tidak ada penolakan. Malam ini kamu harus ikut dengan saya," ucap Faiz dengan tegas yang membuat Olivia benar-benar sangat pasrah dengan sikap Faiz yang tidak bisa diganggu gugat.
Namun, bagaimana ia menutupi bekas ciuman Faiz saat bertemu dengan kedua orang tua Faiz? Ini adalah bencana besar baginya tapi entah mengapa ia tidak bisa menolak sentuhan Faiz terhadap dirinya. Ia benar-benar gila karena merasa nyaman dengan semua sentuhan yang diberikan Faiz kepadanya.
__ADS_1
****
Olivia menatap rumah megah milik kedua orang tua Faiz dengan takjub tetapi langkahnya begitu sangat berat ketika Faiz menggandeng tangannya untuk segera berjalan masuk ke rumah mewah ini.
"Selamat malam, Tuan!" sapa Agam dengan menundukkan tubuhnya.
"Malam, Agam. Di mana papa dan mama?" tanya Faiz.
"Tuan dan nyonya baru saja pulang dari rumah tuan Ben, Tuan!" jawab Agam yang di angguki mengerti oleh Faiz.
"Silahkan bekerja kembali saya akan masuk ke dalam rumah," ucap Faiz.
"Baik, Tuan!" Agam segera menyingkir kembali dan bergabung dengan teman-temannya.
"Ayo masuk!" ucap Faiz yang membuat Olivia tersentak dan kembali mengikuti langka Faiz.
"Pa, Ma, ada yang ingin bertemu dengan kalian," ucap Faiz saat melihat kedua orang tuanya sedang bersantai.
Rania dan Ferdians yang sedang menikmati waktu berdua akhirnya menoleh ke arah Faiz dan menatap Olivia yang berada di sebelah Faiz. Dapat Faiz rasakan jika telapak tangan Olivia saat ini sudah berkeringat.
"S-selamat malam Tuan, Nyonya!" sapa Olivia dengan membungkukkan badannya.
Wajah Ferdians dan Rania yang tanpa ekspresi membuat Olivia semakin gugup bahkan ia menggenggam tangan Faiz dengan sangat erat, dirinya seperti sedang uji nyali sekarang karena Olivia benar-benar sangat takut dengan respon Ferdians dan juga Rania.
"Malam!" jawab Rania dan Ferdians tanpa ekspresi.
"Apakah yang ingin bertemu dengan papa dan mama adalah Olivia?" tanya Rania menatap tangan anaknya yang menggenggam tangan Olivia begitu erat, keduanya saling bertautan seperti tak ingin lepas satu sama lain.
"Iya, Ma!" jawab Faiz dengan tegas.
"Silahkan duduk!" ucap Rania dengan tegas yang membuat Olivia akhirnya mengangguk pelan.
"Sepertinya Mama dan papa tidak mengetahui sesuatu kali ini, Faiz. Apakah itu benar, Faiz?" tanya Rania yang merasa curiga dengan kedekatan anaknya dengan anak mantan sekretarisnya dan adik tirinya dulu. Walaupun begitu ia harus tetap waspada karena darah Rio mengalir pada Olivia.
Olivia dan Faiz saling tatap satu sama lain. Tampak sekali Olivia sangat gugup dan tidak bisa berkata-kata.
"Faiz membawa Olivia ke rumah ini karena Faiz dan Olivia sudah resmi menjadi sepasang kekasih sejak sebulan lalu Ma, Pa!" ucap Faiz dengan tegas.
"A-APA?"
__ADS_1