Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 207 (Dingin)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


"Ya ampun Gavin itu tangan kamu berdarah lagi!" pekik Rania saat Gavin masuk ke dalam rumahnya.


"Hanya luka kecil, Nyonya. Nanti jika sudah di ganti perban tidak akan keluar lagi darahnya!" ujar Gavin dengan santai.


"Loh kok nyonya sih?" tanya Rania menatap ke arah anaknya yang terlihat diam sejak tadi.


"Frisa obati tangan Gavin sekarang!" ujar Rania dengan tegas.


"Aku capek!" jawab Frisa dengan cuek.


Frisa berlalu begitu saja meninggalkan Gavin dan Rania tanpa sepatah kata pun padahal di dalam hatinya sangat merasa khawatir dengan keadaan Gavin.


"Saya pulang dulu, Ma!" ujar Gavin tanpa melihat ke arah Frisa yang membuat Frisa kesal.


Frisa berharap Gavin akan memanggilnya untuk mengobati luka Gavin kembali. Namun, Gavin benar-benar pulang dari rumahnya yang membuat Frisa kesal dan membanting pintu dengan keras yang membuat Rania menghela napasnya dengan berat.


"Ngambeknya lama banget anak gadis satu itu," gumam Rania dengan lirih.


Dan Rania berpikir keras apakah dulu ia juga seperti itu? Sepertinya tidak! Mungkinkah suaminya yang seperti itu? Rania tidak sadar jika dulunya ia juga sama dengan Frisa bahkan ia mampu memusuhi papanya sampai bertahun-tahun lamanya. Lalu sekarang Frisa menuruni sifat Rania apakah itu tidak membuat Rania sadar?


Rania menyusul Frisa dengan pelan karena jika tahu suaminya ia naik tangga, Ferdians akan mengomel sepanjang hari yang membuat Rania kesal sendiri.


"Frisa, Mama boleh masuk?" tanya Rania dengan lembut.


"Enggak!" jawab Frisa dengan datar.


"Kamu tega banget sama, Mama. Adek kamu pengen ketemu, Sayang. Mama pengen di elus perutnya sama kamu, Mama masuk ya!" ujar Rania dengan merengek seperti anak kecil.


Ceklek...


Rania tersenyum senang saat Frisa mau membuka pintu untuk dirinya.


"Masuk, Ma!" ujar Frisa tak tega melihat mamanya yang terlihat sangat memelas.

__ADS_1


Rania masuk ke dalam kamar anaknya dengan hati yang sangat senang. "Elus dong perut Mama! Adek kamu kangen nih," ujar Rania dengan mengelus perutnya dengan lembut.


Frisa tersenyum tipis, ia mengusap perut mamanya dengan lembut dan mencium perut mamanya dengan gemas. "Maaf ya, Ma!" ujar Frisa dengan sendu.


"Kenapa kamu marah sama Gavin, Sayang? Padahal Gavin sangat mencintai kamu, dia rela melakukan apa saja agar kamu bahagia dan tidak terluka. Kamu sebenarnya mau menikah dengan Gavin atau tidak? Kalau tidak lepaskan Gavin," ujar Rania dengan lembut, ia juga ingin mengetahui apakah anaknya mencintai Gavin atau tidak.


"A-aku..."


"Kenapa hmm? Katakan saja dengan, Mama! Kenapa kamu marah dengan Gavin? Apa kamu rela Gavin dekat dengan wanita lain kalau kamu ngambek terus seperti ini?" ucap Rania mencerca anaknya dengan banyak pertanyaan.


"Aku tidak suka dia ngelunjak, Ma. Gavin banyak maunya," ujar Frisa dengan pelan.


"Wajar dong kalau dia bersikap seperti itu karena sebentar lagi kalian akan menikah. Pasti dia banyak impian yang akan ia realisasikan saat sudah menikah dengan kamu, Sayang. Emangnya kamu tidak mempunyai impian pernikahan bersama dengan Gavin?" ujar Rania menatap anaknya.


Frisa terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa sekarang. sebab pernikahan mereka terjadi karena Frisa yang memintanya, mereka tak saling mencintai hanya saja Frisa tak ingin Gavin menikah dengan wanita lain, ia juga ingin membuat Melvin cemburu dan agar tidak di ejek oleh keluarganya. Namun, Melvin tidak terlihat cemburu dan bahkan keluarganya sangat bahagia dengan pernikahan mereka nantinya.


"Pikirkan baik-baik, Sayang. Tidak ada seseorang yang sama seperti Gavin jika kamu melepaskan Gavin. Dia penyayang, dia baik, bahkan dia rela terluka untuk kamu agar kamu baik-baik saja," ujar Rania dengan mengelus rambut Frisa dengan lembut.


"Kalau begitu Mama keluar dulu ya. Jangan ngambek terlalu lama dengan Gavin," ujar Rania dengan tersenyum.


Frisa mengangguk dengan tersenyum. Ia melihat kepergian mamanya dari kamarnya dengan perasaan yang begitu sangat gundah. Ia melihat ke ponselnya dan ingin segera menghubungi Gavin. Namun, gengsinya masih sangat besar yang membuat Frisa memilih mandi dari pada menghubungi Gavin.


Pagi harinya Gavin sudah berada di rumah Rania dan Ferdians, ia melihat Frisa yang duduk berhadapan dengan dirinya. Tak ada senyuman di wajahnya, ia benar-benar mengikuti permainan Frisa dengan sangat baik.


"Ayo berangkat," ujar Frisa pada akhirnya yang di angguki oleh Gavin.


"Ma, Pa, aku berangkat dulu!" ujar Frisa dengan tersenyum.


"Iya, Sayang. Hati-hati," ujar Rania dan Ferdians secara bersamaan.


"Pa, Ma, saya pamit!" ujar Gavin.


"Iya, Gavin!"


Setelah mengucap salam Gavin dan Frisa berlalu pergi meninggalkan Rania dan Ferdians.


Gavin dan Frisa sudah masuk ke dalam mobil, tak ada yang bersuara hanya keheningan yang menyelimuti mereka berdua. Frisa melirik ke arah Gavin yang sama sekali tak melihat ke arahnya. Pria itu hanya fokus ke jalanan, biasanya Gavin akan mengeluarkan suaranya tetapi kali ini Gavin kembali seperti dulu, dingin dan tak berekspresi.


Drttt...drttt...

__ADS_1


Frisa menatap curiga saat ponsel Gavin berbunyi.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa Gavin dengan tegas dan Frisa menajamkan pendengarannya agar ia tahu siapa yang menelepon Gavin.


[Gavin, anak buah Roby sudah terbunuh oleh orang suruhan om Rajendra. Roby sedang ketakutan sekarang, kamu tetap awasi Frisa karena bisa saja Roby berbuat nekad kembali] ujar Faiz dengan serius.


"Iya, Tuan."


[Ya sudah saya hanya ingin memberitahu soal itu. Bagaimana kamu sudah bisa menaklukan singa betina keturunan mama?]


Gavin terkekeh dengan kecil bersamaan dengan Faiz di seberang sana. [Masih saya usahakan, Tuan] jawab Gavin dengan masih terkekeh.


Panggilan terputus dan Frisa tampak penasaran sekali. Ia ingi mengetahui siapa yang menelepon Gavin tadi.


"Gavin!" panggil Frisa pada akhirnya karena jujur ia tidak bisa berlama-lama ngambek seperti ini.


"Hmmm..."


"Tadi itu siapa?" tanya Frisa dengan penasaran.


"Tuan Faiz!" jawab Gavin dengan singkat.


"Kenapa kakak mengubungi kamu?" tanya Frisa menatap Gavin.


"Tidak ada!" jawab Gavin dengan datar.


"Ck... Katakan yang jujur, Gavin!" ujar Frisa dengan kesal.


"Saya sudah jujur, Nona!" sahut Gavin dengan dingin yang membuat Frisa akhirnya terdiam karena merasa Gavin benar-benar berubah sekarang.


Frisa melihat ke arah jendela. Ia menghembuskan napasnya dengan pelan berulang kali.


"Gavin tentang pernikahan kita..." Frisa melihat ke arah Gavin dengan serius. "Aku ingin tetap berlanjut," ujar Frisa dengan tegas.


"Iya, Nona! Saya akan mengikuti permainan Nona!" jawab Gavin tanpa melihat ke arah Frisa padahal di dalam hati ia sangat bahagia sekali karena Frisa tak jadi membatalkan pernikahan mereka.


Bukan itu yang ingin Frisa dengar dari Gavin. Frisa merindukan Gavin memanggilnya dengan sebutan 'sayang' tapi rasanya Gavin tak akan pernah memanggilnya sayang di saat mereka hanya berdua saja. Gavin akan mengikuti sandiwara dirinya. Entah mengapa memikirkan itu membuat Frisa menjadi sedih.


"Seharusnya aku senang Gavin mengikuti kemauanku tapi kenapa aku malah sedih?" gumam Frisa di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2