
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Frisa mengusap hasil USG miliknya dengan penuh perasaan. Frisa masih tak menyangka jika sekarang ia sedang hamil anak dari Gavin, bahkan Gavin tak henti-hentinya tersenyum bahagia, beberapa kali Gavin menyuruh dokter untuk mengulang USG agar mendapatkan foto terbaik anaknya.
"Dia masih kecil sekali ya, Mas! Tidak menyangka usianya sudah 6 munggu di rahim aku," ujar Frisa dengan terkekeh.
Gavin mengusap perut Frisa dengan sayang. "Mas juga tidak menyangka jika kita sebentar lagi akan menjadi mama dan papa, Sayang. Ingat kamu tidak boleh stres dan kecapean ya!" ujar Gavin dengan lembut.
"Kalau begitu aku mau di rumah saja. Makan, tidur, makan, tidur. Mas yang kerja di perusahaan ya!" ujar Frisa dengan terkekeh yang membuat Gavin menatap istrinya dengan geli.
"Iya nanti Mas cari sekretaris deh buat bantuin kerjaan Mas di kantor!" ujar Gavin dengan tertawa kecil.
"Awas saja kalau sekretarisnya perempuan! Aku sunat punya Mas!" ujar Frisa dengan cemberut.
Gavin tertawa geli sekaligus terkejut dengan ucapan istrinya. "Ya ampun, Sayang. Kasihan junior Mas tahu, kasihan kamu juga nanti tidak bisa puas," ujar Gavin dengan terkekeh.
"Ihhh pokoknya sekretarisnya jangan perempuan!" rengek Frisa dengan kesal.
"Iya-iya, Sayang. Nanti Mas katakan dulu sama kakek Eric," ujar Gavin dengan tersenyum yang membuat mood Frisa kembali membaik.
Frisa memeluk lengan Gavin, saat ini keduanya sedang menuju rumah kedua orang tua Frisa setelah keduanya selesai memeriksakan kandungan Frisa di rumah sakit.
"Aku beneran kan boleh di rumah saja, Mas?" tanya Frisa menatap Gavin dengan tersenyum sehingga memudahkan Gavin untuk mencium bibir istrinya dengan gemas.
"Boleh, Sayang. Yang tidak boleh itu kamu kecapean gara-gara bekerja terus kamu stres kasihan baby," ujar Gavin dengan lembut.
"Papa baik deh!" ujar Frisa menirukan suara anak kecil yang membuat Gavin terkejut setelah itu tertawa kecil.
"Buat Mama apa sih yang tidak!" ujar Gavin dengan tulus.
Frisa tak sabaran ingin segera sampai di rumah kedua orang tuanya saat ini. dan memperlihatkan hasil USG miliknya kepada mama dan papanya.
Tak ada keheningan di antara keduanya, mereka terus berbicara membicarakan masa depan mereka nantinya bersama dengan anak-anak mereka nantinya dan tak terasa keduanya sudah sampai di rumah Rania dan juga Ferdians. Penjaga langsung membukakan pintu untuk mereka, sedangkan Cakra, Agam, dan Melvin sudah bekerja di rumah mereka tetapi ketiganya belum tahu jika Frisa tengah mengandung, setelah ini Gavin akan memberitahu ketiga sahabatnya itu.
Gavin keluar dari mobil duluan dan setelah itu ia membuka pintu untuk istinya. Frisa keluar dari mobil dengan perasaan yang sangat bahagia, ia juga melihat mobil kakaknya ada di rumah ini.
"Mama, Papa!" teriak Frisa yang membuat Gavin menggeleng kepalanya.
__ADS_1
"Pelan-pelan jalannya, Sayang!" peringat Gavin yang di dengar oleh Frisa, wanita hamil itu seakan lupa jika dirinya sedang hamil.
"Iya, Sayang. Kenapa teriak-teriak seperti itu sih?" tanya Rania memegang perutnya yang sudah membesar itu.
"Aku ada kabar gembira, Ma!" ujar Frisa dengan tersenyum.
"Hei, adek. Makin besar aja nih!" ujar Frisa mengelus perut mamanya dengan lembut.
"Iya dong, Kak. Kabar gembira apa yang ingin kamu katakan, Sayang? Ya sudah ayo kita ke ruang tamu. Kakak dan kakak ipar kamu juga ada di sana bersama dengan papa," ujar Rania dengan tersenyum.
Rania melihat wajah Gavin dan Frisa. "Sepertinya kalian sangat bahagia sekali. Mama jadi tidak sabar kabar gembira apa yang ingin kalian sampaikan nanti," ujar Rania dengan tersenyum.
"Iya, Ma. Kami juga tidak sabar ingin memberitahu kabar gembira ini," ujar Gavin merangkul Frisa yang membuat Rania tersenyum sepertinya rumah tangga anaknya sangat terlihat harmonis sekali, mungkin Frisa sudah sadar dengan apa yang ia lakukan kemarin. Dan rumah tangga anaknya sudah berjalan normal seperti rumah tangga pada umumnya, Rania menjadi teringat dengan kisahnya dulu. Dan semua berubah ketika ia hamil Faiz dan Frisa. Mungkinkah? ahhh Rania tidak ingin berpikir terlalu jauh dulu, ia ingin mendengar kabar gembira terlebih dahulu dari Frisa dan juga Gavin.
"Makin embul pipi kamu, Dek!" ujar Faiz menatap Frisa dan memeluk adeknya dengan erat.
Ingin cemburu namun Gavin menahannya karena bagaimanapun Faiz adalah kembaran Frisa.
"Emang iya?" tanya Frisa memegang pipinya. "Biasa aja ih!" ujar Frisa tak terima yang mengundang gelak tawa Faiz dan yang lainnya.
"Tanya saja suami kamu kalau tidak percaya," ujar Faiz dengan terkekeh.
"Mas pipi aku tidak tembem, kan?" tanya Frisa dengan menatap Gavin.
"Dih! Mukanya biasa saja kali, Dek!" ujar Faiz dengan terkekeh.
"Sudah ahh... Aku ke sini bawa kabar gembira," ujar Frisa dengan tersenyum membuat Faiz dan yang lainnya menatap Frisa dengan serius.
"Kabar gembira apa, Sayang?" tanya Ferdians menatap anaknya.
Frisa mengambil sesuatu dari dalam tas miliknya dan memberikan kotak itu kepada Ferdians. "Buka, Pa!" ujar Frisa dengan tersenyum.
Ferdians menerima kotak dari tangan Frisa dengan bingung, setelah itu ia membukanya dengan perlahan. Matanya melotot saat melihat dua benda yang ada di dalam kotak tersebut yaitu testpack dan hasil USG.
Ferdians mengeluarkan dua benda tersebut dengan tangan gemetar. "I-ini!" ujar Ferdians dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu hamil, Sayang? Sebentar lagi Papa dan mama akan menjadi kakek dan nenek. Iya?" tanya Ferdians dengan terbata.
Frisa menganggukkan kepalanya hingga Ferdians memeluk anaknya erat. "Ya Tuhan... Baru kemarin rasanya Papa menggendong kamu. Sekarang kamu sudah mau menjadi mama," ujar Ferdians dengan meneteskan air matanya begitu pun dengan Rania yang memeluk anaknya bergantian dengan suaminya.
"Adek kamu dan anak kamu nanti akan jadi teman bermain bersama," ujar Rania dengan tersenyum yang di angguki oleh Frisa.
__ADS_1
Faiz menatap USG milik adiknya dengan tersenyum sedangkan Olivia juga tersenyum ikut merasakan kebahagiaan Frisa. Namun, ada kesedihan di sana karena ia dan Faiz yang duluan menikah tetapi ia tak kunjung hamil.
"Kakak akan jadi om nih! Selama adekku, Sayang. Kakak tidak menyangka jika kamu akan secepat ini menjadi seorang mama," ujar Faiz memeluk adiknya dengan erat.
"Selamat ya, Dek!" ujar Olivia dengan tersenyum.
"Terima kasih semuanya;" ujar Frisa dengan tersenyum.
Faiz terlihat sangat bahagia bahkan ia mencium kening adiknya dengan lembut. Tanpa sadar wajah bahagia Faiz sedang di sorot oleh Olivia yang membuat dada Olivia semakin sesak melihatnya. Jika nanti ia tidak kunjung hamil apakah kebahagiaan Faiz sekarang berubah menjadi kemurungan atau bahkan meninggalkan dirinya? Rasanya Olivia ingin menangis sekarang. Namun, ia tak mau membuat semua orang cemas karena dirinya, ia harus kuat menahan sesak di dadanya saat ini.
Bahkan Olivia seakan tidak terlihat lagi, semua orang sedang fokus kepada Frisa. Andai saja ia sudah hamil apakah reaksi suaminya dan mertuanya akan sama seperti ini?
"Ya Tuhan, aku juga ingin hamil!" gumam Olivia mengusap perutnya sendiri.
Olivia memaksakan senyumannya saat suaminya dan yang lainnya tertawa bahagia, Olivia juga merasakan kebahagiaan itu. Namun, kesedihan lebih mendominasi hatinya saat ini karena ia iri dengan kehamilan Frisa yang terbilang sangat cepat sedangkan dirinya sudah hampir setahun menikah Olivia belum juga merasakan apa yang namanya hamil.
****
Faiz melihat istrinya, sejak kepulangan mereka dari rumah orang kedua orang tuanya Olivia tampak sangat murung yang membuat Faiz berpikir keras apakah ia ada berbuat kesalahan? Seingat Faiz tidak ada sebab sejak tadi ia terus bercerita dengan kehamilan Frisa dan kado yang ingin ia berikan kepada calon keponakan pertamanya nanti.
"Sayang!" panggil Faiz dengan lembut yang membuat Olivia tersentak.
"Iya, Mas!" jawab Olivia dengan memaksakan senyumannya.
"Kamu kenapa? Mas ada buat salah sama kamu? Tidak biasanya kamu seperti ini!" ujar Faiz dengan bertanya kepada Olivia.
"Tidak apa-apa, Mas!" sahut Olivia lagi dan lagi terlihat memaksakan senyumannya.
"Bohong! Cerita sama Mas apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang!" ujar Faiz dengan tegas.
Faiz terdiam dengan memandang mata Olivia begitu dalam, Olivia berusaha menghindari tatapan Faiz tetapi tangan Faiz memaksa dirinya yang membuat Olivia mau tak mau juga harus menatap suaminya.
"Apa ini ada hubungannya dengan kehamilan Frisa? Benar kan tebakan, Mas?!" ujar Faiz dengan lirih yang langsung mengena di hati Olivia bahkan membuat mata Olivia langsung berkaca-kaca.
Air mata Olivia langsung terjatuh di kedua pipinya yang membuat hati Faiz sakit melihatnya. "Frisa sudah hamil dan aku sampai sekarang belum hamil juga, Mas. Kalian sangat bahagia dengan kehamilan Frisa, aku juga sama. Tapi di dalam hatiku yang paling dalam aku juga ingin merasakan hamil seperti Frisa. Hiks...hiks... Maafkan aku, Mas. A-aku tidak tahu mengapa aku menjadi cengeng seperti ini jika menyangkut kehamilan. Aku tahu banyak di luar sana yang juga sedang berjuang untuk bisa hamil dan aku juga merasakannya, Mas. Itu sangat sakit walaupun di dalam keluarga tidak ada yang mendesakku tentang kehamilan tetapi tetap saja hatiku sakit melihat orang lain sudah hamil sedangkan aku belum," ujar Olivia dengan terisak.
"Kalau aku m*ndul bagaimana, Mas?" tanya Olivia menatap mata Faiz dengan dalam dan penuh ketakutan.
"Hei... Kamu ngomong apa sih, Sayang. Apapun keadaannya Mas akan tetap bersama kamu. Sabar dulu ya jika dalam setahun ke depan kamu tidak hamil juga jika akan program bayi tabung sampai kamu hamil. Jangan sedih lagi ya Mas tidak suka melihat kamu nangis seperti ini. Mas yakin kamu bisa hamil, Sayang. Namun, untuk saat ini kita belum di kasih kepercayaan itu," ujar Faiz dengan lembut.
Olivia memeluk suaminya dengan erat. "Tapi aku takut, Mas!" lirih Olivia.
__ADS_1
"Ada Mas, Sayang. Kita berjuang bersama ya!" ujar Faiz menenangkan istrinya.
Olivia sudah sedikit tenang tetapi ia tidak mau melepaskan pelukannya pada Faiz dan Faiz tidak memaksa. Ia tahu istrinya sangat bersedih, Faiz terus mengusap punggung Olivia dengan lembut hingga tanpa sadar Olivia tertidur di pelukannya dengan jejak air mata yang membasahi pipinya.