Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 61 (Ferdians Marah)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Ferdians merasa di bohongi oleh Rania karena selama ini Rania terlihat menutupi masa lalunya dengan Rio. Ferdians sudah beberapa kali bertanya dengan Rania dan istrinya itu tidak mau jujur bahkan Ferdians sudah bertanya dengan Sastra tetapi lelaki itu juga tutup mulut yang membuat Ferdians kesal dan akhirnya tidak ingin mencari tahu tetapi setelah ia tahu dari Rio sendiri mengapa rasanya masih sesakit ini?


Ferdians mengusap wajahnya dengan kasar, ia sudah berada di dalam mobil untuk menjemput Rania. Ia menunggu dengan perasaan yang tak menentu. Bagaimana ia akan bersikap dengan Rania saat ini jika hatinya saja merasa sakit seperti ini saat mengetahui masa lalu Rania dari orang lain.


Rania menatap Ferdians dengan heran, biasanya Ferdians akan langsung membukakan pintu untuk dirinya tetapi mengapa kali ini Ferdians hanya diam tanpa melihat ke arahnya sedikit pun?


Rania menunggu sebentar mungkin Ferdians belum mengetahui kehadirannya tetapi setelah 5 menit berlalu Ferdians tetap pada posisinya yang membuat Sastra ingin memanggil Ferdians tetapi ditahan oleh Rania dengan tangan wanita itu yang membuat Sastra kembali diam di tempatnya.


Rania berjalan ke arah pintu penumpang, ia membuka pintu itu dan masuk tanpa sepengetahuan Ferdians, dengan perasaan kesal Rania menutup pintu mobil dengan sangat keras yang membuat Ferdians langsung terkejut dan menatap ke arah sampingnya ternyata Rania sudah berada di dalam. Kena ia tidak sadar dengan kehadiran Rania? Tidak hanya Ferdians yang terkejut Sastra juga ikut terkejut dengan apa yang Rania lakukan.


"Pulang!" ujar Rania dengan dingin.


Ferdians langsung menyalakan mobilnya tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, pikirannya sedang berperang hingga kepalanya saja terasa mau pecah.


Rania sedang berpikir apa yang terjadi dengan Ferdians sekarang. Apakah terjadi masalah di kantor hingga Ferdians mendiami dirinya saat ini? Ini bukan seperti Ferdians seperti biasanya, suaminya ini biasanya akan sangat banyak bicara jika sedang bersama dengannya.


"Kamu kenapa?" tanya Rania pada akhirnya karena ia tidak tahan saat Ferdians mendiamkannya seperti ini.


"Tidak apa-apa," jawab Ferdians dengan singkat.


"Kalau tidak kenapa-napa kenapa kamu diam saja? Tidak seperti biasanya kamu diam," ujar Rania dengan kesal.


"Aku banyak bicara salah, diam juga salah. Apa mau kamu sih?" ujar Ferdians yang mulai kesal dengan pertanyaan Rania. Padahal dirinya sedang berusaha agar tidak marah dengan Rania tetapi semakin melihat wajah Rania semakin Ferdians membayangkan masa lalu Rania dengan Rio.


Rania menatap Ferdians dengan tajam. "Tidak ada!" sahut Rania dengan dingin.

__ADS_1


Rania lebih baik melihat ke arah jendela. Selama perjalanan pulang keduanya hanya diam saja tanpa kata yang keluar sedikitpun akibat perdebatan yang baru saja mereka lakukan.


"Apa hubungan kamu dengan Rio di masa lalu?" tanya Ferdians pada akhirnya karena ia ingin melihat kejujuran Rania kali ini.


"Sudah berapa kali saya katakan saya tidak memiliki hubungan apapun dengan Rio!" jawab Rania dengan dingin.


Emosi Rania selalu memuncak jika Ferdians membahas tentang Rio, baginya masa lalunya dengan Rio tidak perlu di bahas kembali dan Ferdians tidak berhak bertanya itu kepada dirinya.


Ferdians menyeringai menatap dingin ke arah Rania. "Tidak ada ya? Bersahabat dekat lalu saling jatuh cinta dan menjalin hubungan kekasih itu yang tidak memiliki hubungan apa-apa?" tanya Ferdians dengan menyeringai sinis.


Deg...


Jantung Rania berdetak dengan sangat cepat kala Ferdians mengetahui semua masa lalunya dengan Rio.


"Siapa yang memberitahumu soal itu? Rio yang memberitahumu ya?" tanya Rania dengan sangat tajam.


"Kamu tidak perlu tahu aku mengetahui ini semua dari mana. Lebih baik kamu jujur dari awal daripada akhirnya aku merasakan sakit saat mengetahui ini dari orang lain," ujar Ferdians dengan datar.


Ferdians terkekeh tetapi dengan sorot mata yang penuh luka dan baru kali ini Rania melihat itu di mata Ferdians. Apakah Ferdians marah dan kecewa dengannya karena ia tidak jujur dengan Ferdians selama ini?


"Tidak penting membahas masa lalu saya dengan Rio!" ujar Rania yang semakin membuat darah Ferdians seakan mendidih.


"Tidak penting katamu? Bagiku itu sangat penting Rania! Kamu sengaja menutupi hubungan kamu dengan Rio karena kamu tidak ingin aku mengetahui jika kamu masih mencintai Rio, kan? Atau kamu sengaja membayar aku untuk menjadi suami kamu karena kamu ingin bersama dengan Rio kembali saat kita berpisah nanti?" ucap Ferdians dengan penuh penekanan, dadanya naik turun pertanda jika Ferdians benar-benar sedang marah sekarang. Ferdians terlalu cemburu dan takut jika Rania akan kembali kepada Rio.


"Pernikahan kita memang sudah saya rencanakan untuk merebut semua harta milik Danuarta dan itu tidak ada sangkut pautnya dengan Rio," ujar Rania dengan dingin.


"Dan pada kenyataannya kamu memang suami bayaran saya yang akan saya ceraikan ketika anak ini sudah lahir," ujar Rania dengan datar tanpa sadar ia semakin memantik amarah Ferdians.


"SEBEGITU TIDAK PENTINGNYA SAYA DI MATA KAMU? OKE... SEKARANG TERSERAH KAMU, AKU AKAN MENGIKUTI PERMAINAN KAMU!"


"KAMU BERTERIAK DI DEPAN SAYA FERDIANS?!"

__ADS_1


"TERSERAH KAMU, RANIA! SAYA SUDAH MUAK DENGAN SIKAP KAMU YANG TIDAK PERNAH MENGHARGAI SAYA SEBAGAI SUAMI KAMU PADAHAL SAYA SEDANG BERJUANG UNTUK PERNIKAHAN KITA AGAR TETAP BERTAHAN, SAYA SEDANG BERJUANG UNTUK MEMBAHAGIAKAN KAMU!" teriak Ferdians dengan penuh amarah bahkan lelaki itu memukul setir dengan sangat kuat.


"ARGGHH..."


Ferdians menambah kecepatan mobilnya yang membuat Rania sangat takut, wanita hamil itu berpegangan dengan sangat kuat.


"KAMU MAU MEMBUAT SAYA MATI MUDA? SAYA SEDANG HAMIL, FERDIANS!" teriak Rania dengan memejamkan matanya.


Seakan tersadar jika Rania hamil Ferdians mengurangi kecepatan mobilnya tetapi tidak dengan emosinya yang masih memuncak. Dengan wajah yang begitu dingin Ferdians menatap ke arah depan dan dengan tangan yang memegang setir mobil dengan kuat.


Rania merasa lega saat Ferdians mengurangi kecepatan mobilnya. Ia mengelus perutnya dengan lembut seakan menyampaikan kepada kedua anaknya jika mereka akan baik-baik saja.


****


Heera menatap Ferdians dan Rania dengan bingung, baru kali ini ia melihat Ferdians terlebih dahulu masuk ke dalam rumah bahkan sama sekali tidak menyapa dirinya. Sedangkan Rania baru saja masuk ke dalam rumah.


"Apa yang terjadi, Nak? Kenapa wajah Ferdians terlihat marah?" tanya Heera dengan cemas.


"Tidak apa-apa, Bu. Banyak pekerjaan di kantor sehingga membuat Mas Ferdians seperti ini," ujar Rania dengan tersenyum.


"Ibu sudah makan dan minum obat?" tanya Rania dengan lembut.


"Sudah, Nak. Ibu masih kepikiran dengan Ferdians karena selama ini Ferdians tidak pernah marah," ujar Heera yang membuat Rania semakin merasa takut.


Padahal sebelum-sebelumnya Rania tidak pernah takut jika Ferdians marah kepada dirinya, karena ia pikir Ferdians tidak akan pernah berani marah kepada dirinya. Tetapi hanya karena masa lalunya dengan Rio, Ferdians jadi marah seperti ini. Bukankah itu sangat berlebihan sekali?


"Mas Ferdians tidak pernah marah, Bu?" tanya Rania memastikan.


"Tidak, Nak. Marahnya Ferdians hanya sebentar saja dan setelah itu kembali biasa seperti tidak terjadi apa-apa tetapi kali ini Ibu lihat Ferdians sangat berbeda, raut wajahnya terlihat sangat kecewa. Apa pekerjaan kantor ada masalah?" tanya Heera dengan pelan.


"Bu, Rania ke kamar dulu ya. Ibu istirahat sama suster Ana dulu," ujar Rania yang ingin memastikan Ferdians masih marah atau tidak kepada dirinya.

__ADS_1


"Kenapa kali ini aku sangat takut dengan kemarahan mas Ferdians?" gumam Rania di dalam hati.


__ADS_2