Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 109 (Tinggal Terpisah?)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya...


...Happy reading...


****


Gista memandang suaminya yang akhir-akhir ini sangat sibuk sekali bahkan untuk tidur di rumah pun sudah jarang. Gista tak akan berpikir macam-macam tentang suaminya, tetapi perasaan takut kehilangan suaminya muncul seketika yang membuat Gista benar-benar gelisah dan tak bisa tidur dengan nyenyak.


"Mas!" panggil Gista kepada Eric yang baru saja pulang ke rumah.


"Kenapa?" tanya Eric tanpa melihat ke arah Gista.


"Akhir-akhir ini kamu sibuk banget Mas! Bahkan kita tidak ada waktu untuk berdua," ujar Gista dengan pelan.


Eric mendengar suara istrinya akhirnya menatap Gista dan menghela napasnya dengan kasar. "Maaf Gista, Mas benar-benar sibuk akhir-akhir ini. Kamu tahu perusahaan masih Mas yang pegang untuk saat ini. Untuk Alex, dia sudah mempunyai perusahaannya sendiri. Tidak mungkin Mas meminta bantuan dia terus apalagi sekarang dia sedang sakit karena perbuatan anak buah Ben," ujar Eric dengan dingin.


"Ya tapi weekend pun Mas tidak ada di rumah. Kalau begitu aku ikut saja Mas kerja ya?! Aku janji aku tidak akan ganggu Mas bekerja," ujar Gista yang membuat Eric terdiam.


"Sayang maaf! Bukan Mas tidak mau mengajak kamu tetapi pekerjaan Mas ini sangat penting kamu bakal bosan menunggu, Mas. Kamu di rumah saja ya," ujar Eric dengan tegas.


"Tapi..."


"Jangan bantah ucapan, Mas! Nanti kalau Mas sudah ada waktu kita akan libur berdua!" ujar Eric dengan tegas yang membuat Gista terdiam dan hanya bisa mengangguk patuh.


"Tapi Mas malam ini tidur di rumah, kan?" tanya Gista dengan panuh harap.


Bayangan wajah Heera membuat Eric ingin sekali kembali ke rumah sakit tetapi melihat wajah penuh harap istrinya membuat Eric akhirnya mengangguk dan senyum terbit di bibir Gista.

__ADS_1


"Ya sudah aku siapkan baju tidur kita dulu ya, Mas. Tunggu sebentar," ujar Gista dengan senang.


"Maafkan Mas, Gista! Sejak awal hati Mas hanya untuk Heera walaupun sekarang kamu juga sudah memiliki tempat di hati Mas tetapi Mas tidak bisa bohongi hati Mas jika Heera lah yang bertahta di hati Mas sampai saat ini," gumam Eric di dalam hati.


"Bahkan karena sangat takutnya Mas kehilangan dia, Mas belum berani mengatakan jika Ferry sudah meninggal akibat terjatuh di jurang karena kelalaian kita," gumam Eric dengan sendu dan sesak yang menghimpit dadanya. Eric belum mempunyai keberanian sama sekali untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Heera, ia tidak sanggup jika Heera membenci dirinya kembali.


"Mas ini bajunya!" ujar Gista memberikan pakaian tidur untuk suaminya.


Gista menautkan kedua alisnya saat melihat suaminya melamun.


"Mas!"


"Ahh... Iya, terima kasih!" ujar Eric dengan tersenyum dan menerima pakaian pemberian suaminya.


Gista melihat ke arah suaminya yang sedang berganti pakaian. "Sebenarnya apa yang mas Eric pikirkan hingga dia melamun seperti itu?" gumam Gista di dalam hati.


Gista langsung merebahkan dirinya di samping Eric. Ia ingin memeluk Eric tetapi tiba-tiba saja Eric memunggungi dirinya yang membuat wajah Gista kembali sendu menatap punggung Eric dengan menahan sesak di hatinya.


****


Ferdians naik ke brankar Rania setelah memastikan kedua anaknya sudah tertidur sedangkan Heera juga sudah tertidur di brankar yang memang di siapkan untuk Heera di dalam ruangan ini sebab Ferdians juga tidak tenang jika harus meninggalkan ibunya di rumah.


"Mas bagaimana kantor?" tanya Rania karena setelah Rania melahirkan semua yang mengurus kantornya adalah Ferdians.


"Ada Liam, Sayang!" jawab Ferdians dengan tenang.


"Liam? Kenapa harus dia? Liam dan yang lainnya sudah mengkhianati aku," ujar Rania dengan kesal.

__ADS_1


Ferdians tersenyum melihat kekesalan istrinya. "Kamu tenang saja Liam, Sastra dan yang lainnya siap di hukum. Sejak awal mereka memang bekerja dengan papa untuk menjaga kamu. Intinya mereka semua tulus bekerja dengan kamu tapi untuk Sastra mungkin akan mengundurkan diri dan mengurus bisnisnya sendiri karena keadaan Citra yang tidak baik-baik saja. Citra hampir bunuh diri jika Sastra tidak menarik tangan Citra waktu itu," ujar Ferdians yang membuat Rania terkejut.


"Sampai segitunya?" tanya Rania tak percaya.


"Iya, Sayang. Citra memiliki trauma yang membuat dia seperti itu. Sudah tidak usah bahas mereka dulu, sekarang kamu tidur dulu ya! Lihat mata kamu sudah menghitam seperti panda," ujar Ferdians dengan terkekeh.


Rania tertawa kecil. "Peluk!" rengek Rania yang membuat Ferdians langsung memeluk istrinya dan menjadikan lengannya untuk bantal Rania.


Ferdians mencium kening Rania dengan gemas. "Gimana kalau nanti kita tinggal terpisah, Sayang? Jujur Mas tidak akan sanggup tapi rencana kita harus berhasil membuat papa dan ayah kembali akur seperti dulu. Walaupun ayah tidak pernah memberikan kasih sayangnya dan menafkahi Mas tapi melihat dia memohon agar Mas mau memaafkannya membuat Mas iba apalagi saat ayah bilang dia di fitnah. Apakah ini juga ada kaitannya dengan Agni dan Clara? Jika iya, mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal," ujar Ferdians dengan lirih.


"Aku rasa papa dan ayah hanya salah paham, Mas. Dan benar ayah di fitnah dengan Agni maupun Clara. Mereka berdua sangat licik sekali," ujar Rania dengan tajam.


"Kamu mau kan berjuang bersama-sama untuk membuat dua keluarga kita kembali seperti dulu? Walaupun kita harus berpisah rumah untuk sementara?" ujar Ferdians dengan lirih.


"Iya, Mas! Kita harus bisa membuat kedua orang tua kita akur kembali," ujar Rania yang membuat Ferdians lega sekaligus tak rela jika setelah ini mereka harus tinggal terpisah karena keegoisan papa dan ayah mereka.


"Tidur, Sayang. Sebelum di ganggu dengan suara tangisan Faiz dan Frisa yang meminta susu," ujar Ferdians.


Rania mengangguk dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya dengan sangat nyaman. Padahal di hati keduanya tengah di landa kegelisahan karena mereka akan berpisah. Seandainya Ben dan Eric tidak saling membenci mungkin saat ini mereka adalah orang yang paling bahagia di muka bumi ini.


Ferdians mengusap punggung istrinya dengan lembut, ia masih memikirkan bagaimana cara membuat ayah dan mertuanya akur kembali dan mereka tidak perlu berpisah rumah.


"Bagaimana caranya aku membuat ayah dan papa kembali bersahabat setelah sekian lama mereka bermusuhan? Aku pikir setelah Rania menerima dan mencintai diriku ujian rumah tangga kami sudah terlewat tapi ternyata ini adalah ujian yang lebih berat saat dua keluarga yang dulunya bersahabat kini menjadi musuh," gumam Ferdians di dal hati.


Mendengar dengkuran halus istrinya membuat Ferdians tersenyum. Ferdians tahu bagaimana lelahnya Rania menjadi seorang ibu dengan anak dua sekaligus, dan Ferdians merasa kasihan dengan istrinya saat melihat mata panda istrinya yang begitu terlihat jelas.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih kamu sudah melahirkan kedua anak yang begitu sangat lucu sekali. Mas yakin dengan kehadiran mereka membuat papa dan ayah kembali akur seperti dulu," gumam Ferdians dengan lirih.

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu Ferdians juga merasa mengantuk dan akhirnya tertidur dengan memeluk istrinya berharap jika mereka tak perlu berpisah rumah setelah ini.


__ADS_2