
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya. Dukung cerita ini terus ya....
...Happy reading...
***
Ferdians membuka matanya dengan perlahan, ia tersenyum saat ternyata Rania tertidur dalam dekapan hangatnya, bunyi ponsel Rania yang membuat Ferdians berdecak kesal.
Ternyata Sastra lah yang menelepon Rania. Tak ingin menganggu tidur Rania yang tampak sangat pulas, Ferdians mengangkat telepon Sastra.
[Nona Rania belum bangun, Sastra!] ujar Ferdians tutup poin.
[Maaf, Tuan. Saya pikir nona Rania sudah bangun seperti biasanya. Ada meeting mendadak yang harus nona Rania hadiri] balas Sastra dengan sopan karena bagaimanapun sekarang Ferdians adalah majikannya juga.
Sastra langsung mengerti mengapa Rania belum bangun sampai sekarang, pasti Rania dan Ferdians sudah melakukan hubungan suami istri.
[Jika anda saja yang menghadiri meeting ini, Tuan? Saya percaya dengan kemampuan anda!] ujar Sastra pada akhirnya.
[S-saya? Yang benar saja?!] ucap Ferdians tak percaya.
[Iya, Tuan! Jika anda berhasil bisa saja nona Rania semakin kagum dengan anda]
Ferdians melihat ke arah Rania yang masih tertidur dengan nyenyak bahkan suaranya tak menganggu tidur istrinya.
[Baiklah saya akan datang ke kantor sebentar lagi] jawab Ferdians pada akhirnya karena ia tidak tega membangunkan tidur istrinya.
[Baik, Tuan. Saya tunggu di kantor]
Setelah selesai telepon sudah di matikan dan Ferdians kembali meletakkan ponsel istrinya di atas meja, dengan perlahan Ferdians menarik tangannya dengan pelan karena sekarang Rania tidur di lengannya. Ferdians tanpa sadar tersenyum menatap wajah Rania setelah Rania sudah kembali tidur dengan nyaman.
"Maaf ya, Sayang. Aku banyak meninggalkan bekas di tubuhmu karena tubuhmu begitu sangat candu untukku," ujar Ferdians dengan pelan.
Cup...
__ADS_1
"Tidur yang nyenyak, Sayang. Aku tahu kamu sangat lelah melayani hasratku semalam," ujar Ferdians dengan terkekeh.
Ferdians memperbaiki selimut Rania untuk menutupi tubuh polos istrinya. Ferdians turun dari kasur dan memakai boxernya lalu mengambil baju-baju mereka yang berserakan di lantai dan ia letakkan di keranjang baju kotor lalu ia masuk ke dalam kamar mandi.
***
Ferdians masih berada di dalam mobil setelah sampai di kantor Rania. Ia menunggu Sastra untuk menemuinya karena Ferdians belum memiliki pakaian kantor sehingga Sastra membelikannya terlebih dahulu.
"Ini, Tuan!" ujar Sastra memberikan jas kerja untuk Ferdians.
"Terima kasih. Kapan meeting akan dilakukan?" tanya Ferdians.
"15 menit lagi, Tuan. Anda bisa mempelajari berkas ini dulu sebelum anda persentasi di hadapan para kolega penting yang lainnya," ujar Sastra dengan tegas.
"Baiklah," ujar Ferdians dengan pasrah.
"Sebaiknya anda masuk ke ruangan nona Rania saja, Tuan!" ujar Sastra dengan sopan.
Ferdians tampak berpikir, ia takut Rania akan marah tetapi mengingat ini adalah meeting penting maka Ferdians harus fokus dengan dokumen yang sekarang ada si tangannya.
Sastra tidak meragukan kinerja Ferdians karena ia sudah melihat bagaimana kemampuan Ferdians dalam mempelajari dokumen-dokumen penting serta manganalisanya dengan sangat baik.
Ferdians dan Sastra berjalan masuk ke dalam kantor Rania dengan si pemilik kantor yang masih tertidur di kamarnya dalam keadaan polos dan hanya memakai selimut sebagai penutup tubuhnya. Keduanya sudah dapat memastikan jika Rania akan mengamuk pada mereka tetapi ini adalah meeting penting bahkan mertua dari Ferdians juga ikut serta di dalamnya, ini adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan jika Ferdians adalah menantu yang hebat walau kekurangan.
Ferdians teringat dengan ibunya saat Sastra berada di kantor. "Bagaimana dengan ibu saya?" tanya Ferdians dengan cemas.
Sastra tersenyum tipis. "Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Orang kepercayaan nona Rania tidak hanya saya, ada beberapa orang-orang khusus yang memang jarang menemani nona Rania namun mereka selalu mengawasi nona Rania dari jauh, semacam bodyguard khusus," ujar Sastra yang membuat Ferdians melongo.
"Harus pakai bodyguard, kah?" tanya Ferdians dengan tidak percaya.
Sastra mengangguk dengan tegas. "Dunia bisnis tidak selamanya baik, Tuan. Ada kalanya musuh yang ingin menjatuhkan kita dengan bertopeng sebagai teman bisnis. Danuarta bukanlah perusahaan atau keluarga sembarangan. Jadi, kita harus tetap waspada," ujar Sastra yang membuat Ferdians akhirnya mengerti jika kehidupan Rania sebenarnya tak seenaknya kehidupannya yang bisa bebas tanpa terbebani dengan banyak tugas dan pekerjaan.
Ferdians maupun Sastra sudah sampai di ruang meeting, kali ini meeting dilakukan di perusahaan Rania. Cukup membuat deg-degan untuk Ferdians memang tapi ia tidak akan membuat istrinya kecewa. Menikah dengan Rania itu artinya Ferdians harus menyeimbangi kepintaran istrinya.
__ADS_1
15 menit berlalu, semua berkumpul di ruang meeting termasuk Ben dan juga Rio. Kedua menatap Ferdians dengan bingung karena Rania tidak ada di sini, biasanya Rania akan datang tepat waktu.
"Ferdians, dimana Rania?" tanya Ben dengan datar.
"Istri saya sedang tertidur, Pa. Mungkin kelelahan," jawab Ferdians dengan tegas.
"Kelelahan? Ooo oke Papa mengerti," ujar Ben yang tak berpikir terlalu lama untuk berpikir arti kelelahan yang Ferdians maksud.
"Pengantin baru seharusnya memang masih libur. Iya tidak?" ujar salah satu rekan kerja Rania dan juga Ben.
Ferdians tersenyum tipis. "Karena ini meeting penting yang tidak bisa di tinggalkan maka saya yang akan menggantikan istri saya untuk persentasi di meeting ini," ujar Ferdians yang membuat Rio menatap Ferdians dengan dada yang teramat panas, ia cemburu karena ternyata Ferdians lah yang mendapatkan Rania.
"Anda yakin anda bisa?" tanya Rio dengan tatapan yang tak biasa, seperti merendahkan Ferdians yang hanya supir pribadi Rania dan kini menjadi suami Rania.
"Menikah dengan Rania itu artinya saya harus bisa dalam segala hal termasuk bekerja seperti ini, Tuan Rio. Oke... ayo kita mulai meeting ini dengan segera agar anda bisa menilai kinerja saya!" ujar Ferdians dengan tegas yang membuat Rio mengepalkan kedua tangannya.
****
Rania mengeliat dengan pelan, ia merasa otot-otot tubuhnya sangat kaku sekali. Setelah membuka mata dan mengingat semuanya semalam tanpa sadar kedua pipi Rania memerah, ia langsung melihat ke arah sampingnya ternyata Ferdians sudah tidak ada, kasur yang di tiduri Ferdians juga sudah dingin itu artinya Ferdians sudah bangun sejak tadi.
"Aww..." Rania meringis saat merasakan miliknya perih.
"Ini semua gara-gara Ferdians!" ujar Rania dengan datar.
"Astaga sudah jam 11 siang!" ucap Rania dengan terkejut.
Rania berusaha untuk turun dari kasurnya dengan perlahan, sungguh ini perih sekali dan membuat cara berjalan Rania terlihat sangat aneh. Tanpa di duga Rania melihat ke arah kaca rias, di mana memperlihatkan tubuhnya yang masih tanpa busana dan betapa terkejutnya Rania saat melihat tanda keunguan begitu banyak di leher dan tubuhnya.
"FERDIANS BRENGSEK! SUDAH SAYA BILANG JANGAN MENINGGALKAN BEKAS APAPUN DI TUBUH SAYA. TAPI MENGAPA BEKASNYA TERLALU BANYAK?!"
"FERDIANS, DIMANA KAMU, HAH? AWAS KAMU!"
"ARGHHH...."
__ADS_1
Rania berteriak dengan kekesalan yang sangat mendalam pada Ferdians. Apalagi ketika melihat bekas kepemilikan yang di tinggalkan Ferdians sangat banyak di tubuhnya. Rania begitu sangat kesal dengan sosok Ferdians sekarang, sayangnya orang yang ia teriaki sejak tadi tak kunjung datang karena Ferdians masih berada di di kantornya sekarang.