
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini!...
...Happy reading...
...****...
Setelah menjaga anaknya Rio dan Anjani berniat menemui Clara, amarah mereka benar-benar sangat memuncak untuk Clara sekarang. Apalagi keadaan Agni yang tambah memburuk setelah tahu jika Olivia koma di rumah sakit akibat perbuatan Cassandra hingga Olivia du benci oleh Faiz. Agni juga ingin marah dengan Faiz tetapi ia berpikir ia tidak perlu marah dengan Faiz karena tidak hanya Faiz yang bersalah, mereka semua bersalah dan sumber awalnya dari Agni sendiri.
Rio menggandeng tangan Anjani dengan erat, wajahnya begitu sangat tampak datar saat semakin dekat dengan ruangan adiknya. Setelah di depan pintu ruangan adiknya, suster dan dokter yang sudah tahu jika Clara berpura-pura hanya ikut intruksi dari keluarga Rio karena mereka takut di pecat jika mereka tidak mengikuti perintah dari keluarga Danuarta dan keluarga Rio.
Rio dan Anjani masuk ke ruangan Clara. Tak ada lagi belas kasihan untuk adiknya karena Clara sudah melampaui batas kesabarannya, kesengsaraan yang adiknya rasakan saat ini adalah balasan semua perbuatan Clara selama ini.
"Clara!" panggil Rio dengan sangat dingin.
Clara yang merasa di panggil langsung mendongakkan wajahnya menatap kakaknya dengan sangat sendu. "Kak Rio!" gumam Clara dengan lirih.
"Tolong lepaskan aku dari sini, Kak!" gumam Clara dengan lirih seakan ia tidak mempunyai tenaga lagi untuk berbicara, tenaganya sudah terkuras habis karena ia terus mengamuk meminta di lepaskan hingga dokter menyuntikkan obat penenang untuknya.
"Melepaskan kamu dari sini?" ulang Rio dengan menyeringai sinis. "Jangan harap itu terjadi, Clara. Saya sudah berbaik hati kepada kamu dengan merawat Cassandra tetapi apa yang saya dapat? Saya menyesal telah merawat Cassandra dan menganggap kamu adalah adik yang saya sayangi. Sekarang nikmati kesengsaraan yang sesungguhnya Clara! Mulai sekarang kamu bukan adik saya lagi walaupun ikatan darah di antara kita sangat kental tetapi saya tidak akan peduli lagi dengan kamu. Mau kamu gila dan mati sekalipun saya sudah tidak peduli lagi," ujar Rio dengan tajam.
Anjani yang sejak tadi diam saja akhirnya membuka suaranya dengan menatap nyalang ke arah Clara.
Plak.....
"Akibat ulah kamu anak saya terkena imbasnya! Anak saya koma karena kamu yang pertama menyebabkan penderitaannya! Saya bersumpah kamu tidak akan bahagia sampai seumur hidupmu, Clara!" ujar Anjani dengan sangat dingin.
Clara memegang pipinya yang di tampar oleh Anjani, sangat jelas ia melihat kemarahan dan kebencian di wajah kakak dan kakak iparnya saat ini yang membuat Clara hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca karena ia tidak tahu harus berkata apa lagi saat ini. Begitu banyak kesalahannya hingga kakak kandung dan kakak iparnya sendiri sangat membenci dirinya.
"JANGAN MEMASANG WAJAH SEDIH! SAYA TIDAK SUKA, CLARA! KAMU ITU SUNGGUH PEMBAWA SIAL DI KEHIDUPAN KAMI! MATI SAJA KAMU!" teriak Anjani seperti orang kesetanan karena Anjani sudah benar-benar tertekan dan frustasi memikirkan anaknya yang tak kunjung sadar sampai saat ini.
__ADS_1
Rio juga terkejut dengan teriakan istrinya yang tak pernah di tunjukkan ke dirinya selama ini karena Anjani yang ia kenal adalah perempuan yang penuh kelembutan, tetapi hari ini Anjani sangat terlihat berbeda.
"MATI SAJA KAMU! KAMU BENAR-BENAR TIDAK BERGUNA DI DUNIA INI!" teriak Anjani dengan histeris bahkan menangis fi hadapan Clara saat ini.
Deg...
Jantung Clara seakan dipaksa berhenti mendengar perkataan Anjani yang sangat menusuk hatinya saat ini.
"K-kak..."
"Jangan panggil saya Kakak! Saya tidak sudi!" ujar Anjani dengan tajam.
"Dengarkan ucapan istri saya? Saya benar-benar sangat muak dengan kamu! Hiduplah di sini sampai kamu mati!" ujar Rio dengan tajam.
Rio membawa istrinya keluar dari ruangan adiknya tanpa menunggu Clara berbicara. Keduanya tak lagi melihat ke belakang yang membuat Clara hanya bisa menatap kepergian Rio dan Anjani dengan perasaan yang begitu sesak.
Clara menangis histeris, tak lama ia tertawa dengan kencang. "Hahaha aku wanita pembawa sial! Mati saja kamu Clara hahaha!" tawa Clara menggema dengan sangat kencang dan setelah itu ia menangis kembali.
"Depresinya kembali kambuh! Kita hubungi siapa? Pak Rio dan ibu Anjani terlihat sudah tidak peduli lagi dengan ibu Clara," ujar dokter dengan menghela napasnya dengan berat.
"Tuan Rajendra bagaimana, Dok?" tanya suster memberikan opsi.
Sebagai dokter dan suster, keduanya sangat prihatin melihat kehidupan Clara yang sejak dulu sudah berada di tempat ini. Rasa manusiawi mereka masih benar-benar ada walaupun keduanya tidak bisa berbuat apa-apa selain merawat Clara.
"Ya sudah nanti kita hubungi saja tuan Rajendra," ujar dokter dengan tegas.
*****
Rio dan Anjani buru-buru pulang ke rumah mereka setelah mendapatkan telepon dari pembantu mereka di rumah jika keadaan Agni kembali memburuk.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah, Rio dan Anjani langsung menuju kamar Agni. Hati keduanya mencolos melihat keadaan Agni yang sangat pucat.
"Mama kenapa?" tanya Rio dengan khawatir.
Agni hanya menggelengkan kepalanya tanpa mau berbicara, banyak beban pikiran yang ia rasakan sekarang dari Clara dan Cassandra sampai kepada Olivia yang belum sadarkan diri di rumah sakit yang membuat keadaannya semakin memburuk.
"Bawa mama ke rumah sakit, Mas!" ujar Anjani yang merasa cemas melihat keadaan mama mertuanya sekarang.
Pandangan kosong yang membuat Anjani begitu takut dengan keadaan mamanya sekarang. "Ma, bicaralah apa yang Mama rasakan sekarang?!" ujar Anjani dengan lirih.
Agni tetap diam tetapi matanya terus menatap Anjani dengan pandangan kosongnya, Rio yang merasa keadaan mamanya semakin buruk langsung membopong mamanya.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Bi?" tanya Anjani.
"Tiba-tiba ibu Agni lemas dan muntah-muntah tadi, Bu. Saya bawa ke kamar untuk beristirahat tapi ibu Agni tidak msu berbicara, Bu. Pandangannya begitu kosong hingga saya takut dan menelepon bapak," jawab pembantu Anjani dan Rio dengan jujur.
"Sayang, ayo cepat kita ke rumah sakit!" ujar Rio dengan cemas.
Anjani mengangguk dan mulai mengikuti langkah suaminya yang terlihat begitu cemas dan ketakutan. Sesampainya di mobil Rio meletakkan mamanya di kursi belakang bersamaan dengan Anjani yang masuk untuk menjaga mamanya. Baru saja duduk Anjani dibuat cemas melihat mertuanya yang sesak napas secara tiba-tiba.
"Mas, mama, Mas! Mama...." ujar Anjani dengan panik.
Rio yang baru saja masuk ke dalam mobil langsung merasa panik. "Ma, astaghfirullah Mama!" ujar Rio dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, jagain Mama ya! Mas akan ngebut ke rumah sakit!" ujar Rio dengan panik tetapi ia tetap harus tenang.
Anjani mengangguk, ia memegang tangan mama mertuanya yang sudah sangat terasa dingin seperti es.
"Ma, sabar ya! Kita sebentar lagi sampai ke rumah sakit!" ujar Anjani dengan lirih.
__ADS_1
Anjani sudah menangis melihat keadaan mama mertuanya yang semakin lemas setelah sesak yang ia alami tadi. Anjani memeluk mama mertuanya dari samping dengan menggenggam tangan mamanya, keduanya semakin terlihat sangat takut ketika melihat Anjani menutup matanya.