
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
"Ini sangat dingin sekali, Nona!" ujar Ferdians dengan menggigil saat dirinya dan Rania sampai ke kamar.
"Ganti celanamu!" ujar Rania dengan datar.
Ferdians dengan wajah memelas menatap ke arah Rania yang seperti tidak simpati sama sekali terhadap dirinya. Ia harus mencari cara agar Rania peduli terhadap dirinya kali ini, walaupun harus berpura-pura sakit misalnya.
Ferdians berjalan dengan tertatih mencari pakaiannya yang memang sudah ada di lemari Rania.
"A-aku sudah tidak sanggup. Ini dingin sekali," ujar Ferdians tidak sepenuhnya berbohong.
"Jangan manja! Saya tidak suka lelaki yang menjadi suami sangat manja! Baru di hukum seperti itu saja sudah lemah," ujar Rania dengan sarkas.
Ferdians dengan wajah pucatnya akhirnya berganti celana langsung di hadapan Rania yang membuat wanita itu berteriak.
"Yakkk... Ferdians! Lelaki tak tahu malu! Ganti di kamar mandi," ujar Rania dengan kesal.
"A-aku gak sanggup berjalan lagi, Rania. Kamu sudah melihat semuanya. Jadi, kenapa aku harus malu di hadapan istriku sendiri," ujar Ferdians dengan bibir pucatnya.
"FERDIANS, KAMU MAU SAYA HUKU..."
Cup....
"Aku butuh kehangatan. Jangan marah-marah ya!" ujar Ferdians dengan mencium bibir Rania sekilas.
Dapat Rania rasakan jika tubuh Ferdians memang terasa sangat dingin. "Sana tidur!" ujar Rania dengan ketus.
"Temani aku, please!" ujar Ferdians dengan menggigil setelah berganti pakaian lengkap
"Ferdia..."
Ferdians langsung menarik Rania agat tertidur menemani dirinya. Kali ini tak peduli bagaimana marahnya sseorang Rania, ia harus melancarkan aksinya untuk menghangatkan tubuhnya yang seakan membeku karena berendam di air es 5 jam lamanya, sungguh tega memang istrinya.
Ferdians menarik selimut dengan cepat sebelum Rania kembali bangkit, ia memeluk Rania dengan erat hingga Rania kesulitan bernapas.
"Ferdians kamu mau buat saya susah bernapas, hah?" ujar Rania dengan kesal.
Rania ingin sekali bangkit dari tidurnya tetapi tangan kekar Ferdians menahannya begitu kuat. "Ferdians kamu mau buat saya marah lagi? Lepaskan pelukan kamu dari tubuh saya!" ucap Rania dengan marah.
"Kamu tega buat suami kamu kayak gini, Rania. Kalau masa depan suami kamu beku terus gak bisa berdiri lagi gimana? Bagaimana kita mau buat anak cowok? Dia gak mau bangun, Rania!" ujar Ferdians dengan memelas.
__ADS_1
"Jangan bohong! Awas saya mau mengecek hasil kerja kamu di perusahaan. Jika ada kesalahan siap-siap saja kamu saya hukum," ujar Rania berusaha melepaskan diri dari Ferdians.
"Aku gak bohong Rania. Coba kamu periksa dulu, dia gak mau bangun!" modus Ferdians agar Rania mau menuruti kemauannya dan setelah miliknya berdiri maka Rania tidak akan bisa lepas darinya. Anggap saja ini adalah sebuah pembalasan dari Ferdians.
Rania menatap wajah Ferdians. Wajah Ferdians terlihat sangat meyakinkan sekali, apalagi tangan dan kaki Ferdians terlihat sangat keriput. Apakah milik Ferdians juga keriput sekarang?
"Coba lihat dan kamu pegang bentar. Bantu dia buat berdiri, Rania!" ujar Ferdians dengan sendu.
"J-jangan jadi pembohong Ferdians. Mana mungkin hanya di rendam air es dia bisa tidak bangun lagi! Jangan mengada-ngada!" ujar Rania dengan dingin.
"Kalau tidak percaya bantu dia buat bangun! Di rendam beberapa menit emang gak apa-apa tapi kalau di rendam beberapa jam takutnya dia gak mau bangun," ucap Ferdians dengan wajah yang begitu sangat meyakinkan agar Rania percaya dengan ucapannya.
"Buka!" perintah Rania pada akhirnya.
Dalam hati Ferdians menyeringai puas karena akhirnya Rania termakan ucapannya. Wanita sepintar Rania masih bisa ditipu oleh Ferdians, hanya Ferdians yang boleh menipu istrinya, orang lain tidak boleh. Toh penipuan yang Ferdians lakukan nanti tidak akan merugikan istrinya melainkan menguntungkan Rania dan juga dirinya. Di suhu tubuh yang dingin seperti ini enaknya berbagi keringat dengan Rania. Haha... Rasanya Ferdians sangat senang mengerjai istrinya, ia bisa modus dengan beralasan seperti ini.
Ferdians membuka celananya hingga miliknya terpampang jelas di hadapan Rania. "Tuh kan gak mau berdiri," ujar Ferdians dengan sendu.
"Gimana cara buat dia berdiri lagi?" tanya Rania dengan ekspresi yang sangat aneh.
"Urut, Sayang!" ujar Ferdians dengan pelan.
"Jangan menyuruh saya yang macam-macam ya, Ferdians!" ujar Rania dengan tajam.
"Sumpah, Sayang. Gimana kalau dia gak mau bangun? Aku gak punya masa depan lagi dong! Ayolah bantu aku kali ini," ujar Ferdians yang membuat Rania menghela napasnya dan dengan ragu mengarahkan tangannya ke sana.
"Yak...kamu berbohong, Ferdians!" teriak Rania dengan wajah yang merah padam.
Rania langsung melepaskan tangannya dan ingin segera pergi dari kamar. Sungguh saat ini ia sangat malu karena menyaksikan langsung bagaimana benda itu berdiri di hadapannya tetapi Rania kalah gesit karena akhirnya Rania kembali jatuh ke lantai dengan Ferdians yang sudah mengurung tubuhnya dengan cepat.
"Kamu harus tanggungjawab buat dia tidur lagi! Suasana seperti ini sangat cocok agar tubuhku menjadi hangat kembali, Sayang! Aku tidak berbohong jika ini sangat dingin," ujar Ferdians yang sangat berani berkata tidak formal di hadapan Rania karena baginya saat mereka di kamar Rania adalah miliknya seutuhnya.
"Ferdians kamu itu penipu!" ujar Rania dengan kesal.
Ferdians terkekeh. Ia mengelus rambut Rania dengan lembut dan mencium kening Rania dengan sayang yang membuat Rania merasa ada gelenyar aneh di dalam dirinya saat Ferdians memperlakukannya dengan sangat lembut seperti ini.
"Tapi aku tidak merugikan kamu, Sayang. Kamu pasti marah karena aku banyak meninggalkan bekas di tubuh ya? Maaf ya, tapi jujur tubuhmu sangat candu untukku," gumam Ferdians dengan pelan.
"Untuk pekerjaan besok saja kamu lihat karena aku sudah membereskan semuanya," ujar Ferdians dengan mengelus pipi Rania.
"Beri aku kehangatan malam ini. Anggap saja apa yang kita lakukan agar anak kita segera hadir di rahim kamu," ujar Ferdians dengan lambut.
Dan seperti malam kemarin Ferdians melancarkan kembali aksinya, kali ini untuk mengurangi rasa dingin pada tubuhnya sekaligus ia memang sangat merindukan Rania. Sepertinya Ferdians semakin tertarik kepada Rania dan tidak akan melepaskan wanita yang berada di bawahnya ini, wanita yang sudah pasrah saat ia masuki karena bagaimanapun Rania menolaknya tetap saja miliknya yang menang karena berhasil meluluhkan Rania dengan suara yang amat sangat membuat Ferdians candu.
****
__ADS_1
Pagi harinya....
Rania terbangun terlebih dahulu karena merasakan jika pergerakan Ferdians menganggu tidurnya, benar saja lelaki itu masih menggigil kedinginan walaupun sudah memakai selimut tebal.
"Sstt...Jangan pergi!" gumam Ferdians memeluk Rania dengan erat.
"Saya mau mandi!" ujar Rania yang memang ketika sudah bangun tidak bisa tertidur lagi.
"Nanti saja mandi bareng. Saya masih kedinginan," ujar Ferdians yang kembali berkata formal.
"Saya nanti kesiangan gara-gara kamu," ujar Rania dengan kesal.
Ferdians menatap jam dinding di kamar Rania yang sekarang juga menjadi kamarnya. "Kamu lupa kita jemput ibu dulu di rumah sakit," ujar Ferdians yang membuat Rania tersadar.
"Oke..."
"Yang semalam enak gak?" tanya Ferdians dengan tangan yang usil.
"Biasa saja!" jawab Rania dengan cuek.
"Masa sih?" tanya Ferdians menatap Rania.
Bibir Ferdians tak lagi sepucat kemarin tetapi rasa dinginnya masih terasa, hingga Ferdians membelit kaki Rania.
"Jangan bahas itu! Dasar tak tahu malu," ujar Rania dengan ketus yang membuat Ferdians terkekeh.
"Iya-iya, maaf. Masih galak saja nih istri," ujar Ferdians mencium kening Rania dengan lembut.
"Coba cek ponsel kamu. Uangnya kata mereka akan masuk pagi," ujar Ferdians yang membuat Rania menaikkan kedua alisnya.
"Uang?" ulang Rania.
"Iya, Sayang. Perusahaan kamu menang tender, mereka bilang suka dengan persentasiku kemarin. Tapi ada yang terlihat tidak suka," ujar Ferdians dengan datar.
"Ooh..."
"Kamu tidak mau berterima kasih kepada suamimu? Dan kamu tidak mau bertanya siapa yang tidak suka dengan persentasiku kemarin?" tanya Ferdians dengan syok.
"Terima kasih!" ujar Rania dengan cuek.
"Ck... Dasar istri tidak peka. Lelaki itu adalah Rio, sepertinya hubungan kalian tidak hanya sekedar saudara tiri saja entah mengapa saya merasa jika kalian memiliki hubungan yang sangat dekat," ujar Ferdians.
"Tidak usah di bahas!" ujar Rania dengan datar.
"Kamu tidak mau memberitahu saya?" tanya Ferdians yang tampak kesal.
__ADS_1
"Tidak ada untungnya!" jawab Rania dengan datar.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau jujur temani aku tidur dulu!" ujar Ferdians mencoba mengalah tapi ia pastikan Rania akan jujur tentang semua hal kepada dirinya.