Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 143 (Ulah Cassandra)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Cassandra tahu jika Olivia sudah membeli laptop baru, entah mengapa Cassandra sangat iri dengan apa yang Olivia punya. Setiap barang yang Olivia punya juga ingin ia miliki. Seperti laptop yang baru saja Olivia beli karena laptop sebelumnya sudah rusak.


Cassandra masuk ke kamar Olivia, ia melihat Olivia sedang mengetik di laptop barunya. "Kak laptop ini untuk akuu saja ya!" ujar Cassandra langsung mengambil laptop yang ada di atas pangkuan Olivia begitu saja yang membuat Olivia terkejut.


"Balikin Cassandra! Itu punya Kakak! Kamu sudah mempunyai laptop sendiri yang dibelikan ayah!" ujar Olivia mengambil laptopnya.


"Itu sudah lama, Kak! Aku mau yang baru. Aku baru pertama kaki bekerja dan aku ingin memberikan yang terbaik untuk perusahaan aku," ujar Cassandra tak mau mengalah.


"Tolong balikin Cassandra! Semua boleh kamu ambil tapi jangan laptop itu," ujar Olivia dengan memohon.


"Kakak jangan pelit kenapa sih! Kakak bisa beli lagi dengan uang Kakak sendiri," ujar Cassandra tak mau memberikan laptop milik Olivia.


Apa yang di miliki Olivia harus menjadi miliknya. Bahkan ayah dan bunda Olivia juga harus lebih menyayangi dirinya dari pada Olivia yang anak kandung Rio maupun Anjani, sikap serakah yang dimiliki Cassandra selalu membuat Olivia tertekan.


"Ada apa ini? Kenapa kalian selalu ribut? Besok kalian bekerja bukan?" tanya Rio dengan tajam.


"Yah, itu laptop Olivia diambil sama Cassandra! Tolong Yah bicara sama Cassandra kalau laptop itu harus di kembalikan ke Olivia," ujar Olivia memohon.


"Yah, laptop aku sudah jelek! Aku mau laptop yang ini! Kakak bisa beli lagi atau pakai laptopku saja," ujar Cassandra dengan memelas.


"Aku baru pertama kali bekerja, Yah! Jadi, aku ingin memberikan yang terbaik untuk perusahaan," ujar Cassandra dengan memelas.


"Yah kali ini saja tolong bujuk Cassandra. Laptop itu hasil kerja keras Olivia, Yah!" ujar Olivia dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa sih Kakak tidak mau memberikan laptop ini? Aku pinjam sebentar saja mau bekerja," ujar Cassandra langsung membawa pergi laptop milik Olivia.


"Cassandra kembalikan!" teriak Olivia ingin mengambil laptopnya kembali tapi tubuhnya di tahan oleh Rio.

__ADS_1


"Olivia sudah! Cassandra hanya pinjam sebentar saja pasti nanti di kembalikan," ujar Rio dengan tegas.


Olivia menatap ayahnya dengan pandangan yang sangat kecewa. "Pinjam, Yah? Barang yang sudah di ambil Cassandra dengan berdalih pinjam pasti tidak akan di kembalikan. Ayah tahu laptop Olivia rusak dan laptop yang baru saja Olivia beli itu adalah hasil kerja keras Olivia. Bahkan Ayah sendiri yang menemani Olivia beli dan sekarang saat Cassandra mengambilnya Olivia harus mengalah lagi. Kenapa Ayah dan bunda tidak pernah membela Olivia? Kata Ayah Olivia adalah anak kandung Ayah tapi mengapa Olivia merasa menjadi anak angkat di sini? Kenapa, Yah? Olivia kecewa sama, Ayah!"


"Sayang kenapa hmm? Kamu tidak pernah semarah ini dengan Ayah," ujar Anjani masuk ke kamar anaknya untuk menenangkan Olivia.


"Kenapa? Tanya saja sama anak kesayangan Bunda dan Ayah!" ujar Olivia dengan dingin.


Olivia berjalan keluar kamarnya dengan amarah yang tertahan di dada. Semua diambil oleh Cassandra kapan ia akan menikmati barang-barang miliknya tanpa di ganggu oleh Cassandra. Jujur Olivia menyayangi Cassandra seperti adiknya sendiri tetapi malam ini hatinya begitu sakit karena harus mengalah lagi dengan Cassandra.


"Olivia kamu mau kemana malam-malam seperti ini?" tanya Anjani dengan khawatir tetapi Olivia sama sekali tak menjawab pertanyaan bundanya.


"Olivia, maafkan Ayah. Ayo kita pergi beli laptop yang sama persis," ujar Rio membujuk anaknya.


Olivia sudah tidak mendengarkan ucapan kedua orang tuanya. Rasanya beda laptop yang di beli dengan uangnya sendiri membuat Olivia lebih semangat untuk bekerja, ada rasa bangga dengan dirinya sendiri dengan pencapaian yang ia beli dengan uangnya sendiri. Kenapa kedua orang tuanya tidak mengerti perasaannya saat ini? Tetapi sekarang laptop itu sudah dikuasai oleh Cassandra.


"Olivia ini sudah malam, Nak. Kamu mau kemana? Kita bisa bicara baik-baik dengan Cassandra, Sayang!" ujar Anjani dengan khawatir.


Olivia memasuki mobilnya dan menjalankan mobilnya tanpa mendengarkan ucapan orang tuanya. Ia ingin menenangkan dirinya walaupun ia sama sekali tidak mempunyai tujuan sekali pun.


"Biarkan Olivia menenangkan diri dulu, Sayang!" ujar Rio dengan tenang walaupun sebenarnya ia sangat khawatir dengan anaknya.


"Kenapa kamu setenang itu melihat Olivia pergi, Mas? Kamu sadar tidak sih Olivia memang selalu mengalah dengan Cassandra? Kali ini laptop Olivia harus dikembalikan, Mas!" ujar Anjani yang mulai menyadari sikapnya yang membuat anaknya terluka.


Rio menghela napasnya dengan perlahan. "Mas yang akan bujuk Cassandra, Sayang. Kamu jangan khawatir anak kita tidak akan melakukan hal yang nekad, dia pasti pulang setelah menenangkan diri," ujar Rio dengan tegas.


"Kita harus membujuk Cassandra, Mas! Ayo cepat!" ujar Anjani dengan tegas.


***"


Olivia menghentikan dirinya di sebuah taman yang jika malam di terangi dengan lampu yang sangat indah. Ia duduk di kursi taman dengan melamun, semua kejadian dimana Cassandra merebut semua barang-barangnya berputar di otaknya dan baru kali ini ia terlihat marah besar dan pergi dari rumah.


Olivia menyeka air matanya dengan kasar, ia menghembuskan napasnya dengan perlahan. Apakah tadi ia sudah keterlaluan kepada ayah dan bundanya? Olivia terlihat menyesal pergi dari rumah dan tak mendengarkan ucapan bunda dan ayahnya.

__ADS_1


"Olivia!" panggil seseorang dengan suara yang amat Olivia kenal.


Ya, di sana sudah ada Faiz yang tak sengaja melihat mobil Olivia terparkir di jalan. Faiz langsung menghampiri Olivia yang terlihat canggung dengan kehadirannya.


"Tuan kenapa ada di sini?" tanya Olivia dengan canggung.


"Ini tempat umum siapapun bisa ada di sini," jawab Faiz dengan tegas yang membuat Olivia hanya bisa tersenyum tipis.


"Lalu kenapa kamu ada di sini? Bukannya saya sudah mengirimkan email untuk kamu agar berkas yang saya kirim kamu kerjakan sekarang?" tanya Faiz dengan dingin.


"Ya Tuhan... Maaf, Tuan. Saya baru ingat tapi..."


"Tapi apa? Kamu mulai bermalas-malasan bekerja?" tanya Faiz dengan sarkas.


Olivia menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu, Tuan. Saya sudah mau mengerjakannya tadi, tapi laptop saya ambil Cassandra. Emm.... maksud saya di pinjam adik saya," ujar Olivia dengan terbata.


Faiz menatap Olivia dengan dalam. Ia melihat jejak air mata di kedua pipi gadis itu dan terlihat sekali jika mata Olivia sangat sembab. Apakah gadis itu menangis?


Ting...


Faiz mengambil ponselnya terlebih dahulu dan ia melihat jika Rajendra mengirimkan pesan.


[Aku menduga jika Cassandra tidak sebaik yang kita kira. Aku melihat ada sesuatu yang berbeda dari Cassandra yang di coba di tutupi oleh gadis itu. Aku harap kamu dan yang lainnya tetap waspada karena bagaimanapun Cassandra lahir dari seorang wanita yang gila harta]


"Sudahku duga sebelumnya," gumam Faiz dengan pelan.


"Hah? Tuan sudah menduga apa? S-saya tidak bermaksud seperti itu, Tuan. Apa yang saya katakan benar apa adanya," ujar Olivia dengan takut saat Faiz memecatnya karena sebuah kesalahan yang tak ia perbuat.


"Ikut saya!" ucap Faiz dengan tegas.


"K-kemana, Tuan? B-bagaimana dengan mobil saya?" tanya Olivia dengan takut.


"Anak buah saya yang akan membawa mobil kamu pulang ke rumah. Ikut saya saja dan jangan banyak bicara!" ujar Faiz dengan tegas.

__ADS_1


Dengan refleks Faiz menggenggam tangan Olivia. Olivia langsung melihat tangannya yang di genggam oleh Faiz. Dan tiba-tiba saja tubuhnya memanas seperti di sengat aliran listrik bertegangan tinggi.


"Ya Tuhan kenapa dengan diriku?" gumam Olivia di dalam hati.


__ADS_2