
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
"A-APA?" ucap Ferdians dan Rania dengan terkejut saat Faiz mengatakan jika Olivia adalah kekasih Faiz sekarang.
"Faiz kamu tahu kan kalau keluarga Olivia adal..."
"Ya tahu, Ma. Tapi Faiz yakin Olivia berbeda dari keluarganya. Biarkan Faiz bersama dengan Olivia," ujar Faiz yang membuat Rania dan Ferdians terkejut.
Tetapi setelah itu wajah keduanya tampak kembali normal. Rania menatap Olivia dengan tatapan yang begitu tajam hingga Olivia beringsut takut.
"N-nyonya, saya tahu keluarga saya telah membuat kesalahan besar di masa lalu tetapi izinkan saya untuk memperbaiki semua. S-saya tidak seburuk yang Nyonya dan Tuan pikirkan saat ini," ucap Olivia dengan terbata seakan pasokan udara di rumah ini kian menipis tatapan Rania begitu sangat tajam seakan dengan tatapan itu bisa membunuhnya saat ini juga.
Rania mendekat ke arah Olivia, ia memeluk Olivia hingga gadis itu menegang dengan sempurna karena pelukan Rania begitu sangat erat.
"Kamu yakin kamu mencintai anak saya? Saya tidak akan membatasi anak saya dekat dengan siapa pun termasuk kamu. Saya akan merestui kalian namun jika saya melihat atau mendengar keluarga kamu kembali ingin menguasai harta keluarga saya maka saya harap kamu segera pergi dari hidup anak saya dan keluarga saya, jangan pernah kembali jika tidak kamu tahu sendiri kan akibatnya," gumam Rania dengan pelan.
Gluk....
Olivia menelan ludahnya dengan kasar. Ancaman Rania begitu sangat menyeramkan karena nada suara wanita yang masih sangat terlihat cantik itu terdengar begitu sangat dingin. Olivia mengangguk dengan tegas karena tujuan awal ia mendekati Faiz karena ingin memperbaiki semuanya bukan? Seperti yang di inginkan Cassandra. Olivia tidak tahu jika Cassandra berbohong kepadanya, ia yang begitu mempercayai keluarganya mampu melakukan apa saja untuk membuat keluarganya bahagia dan tidak tahu jika ia sedang di manfaatkan sekarang.
Sedangkan Rania tetap seperti dulu menjadi wanita yang begitu tegas dan mengintimidasi setiap orang yang menurutnya dalam zona merah di hidupnya. Rania tahu jika Olivia adalah wanita yang sangat baik tapi sekeliling keluarganya bisa saja mempengaruhi Olivia. Jadi, Rania tetap waspada untuk menjaga keluarganya dengan mengancam gadis itu agar tidak macam-macam dengan keluarganya.
Rania melepaskan pelukannya pada Olivia dan wajah Rania kembali tersenyum ramah ya membuat Olivia sangat bingung. Seakan mama dari Faiz ini memiliki dua kepribadian di dalam hidupnya karena sangat gampang mengubah ekspresi dalam beberapa detik saja.
"Maaf Nyonya mengganggu makan malam sudah siap Nyonya," ujar pelayan dengan sopan.
"Iya, Bi!" sahut Rania.
"Olivia karena kamu sudah diperkenalkan Faiz sebagai kekasihnya malam ini kita makan malam bersama ya untuk merayakan hubungan kalian. Ayo kita ke meja makan," ucap Rania memeluk Olivia dari samping.
Faiz bukannya tak tahu jika mamanya telah mengancam Olivia tadi tetapi Faiz membiarkan saja karena ia tahu bagaimana mamanya.
"I-iya, Nyonya!" ucap Olivia dengan canggung.
Rania dan Olivia berjalan duluan di depan Ferdians dan juga Faiz. Ferdians menatap anaknya dan menepuk punggung anaknya dengan pelan yang membuat Faiz tersenyum tipis.
"Ma, di mana Frisa? Dia belum pulang?" tanya Faiz setelah mereka duduk berhadapan.
"Malam ini adik kamu pulang sedikit terlambat, Nak. Gavin sudah memberitahu tadi karena ada pertemuan yang seharusnya pagi tadi di undur," ucap Ferdians yang membuat Faiz mengerti pasti adiknya begitu sangat kelelahan sekarang.
"Ayo kita makan!" ujar Rania dengan tersenyum.
Olivia yang melihat Rania mengambilkan nasi untuk Ferdians berinisiatif ingin mengambilkan juga untuk Faiz. "Biar aku saja yang mengambilkan nasi untuk kamu, Mas!" ucap Olivia dengan tersenyum.
__ADS_1
"Iya, Sayang!" sahut Faiz yang membuat jantung Olivia berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya bahkan wajahnya memanas karena baru pertama kalinya Faiz mwmanggil dirinya dengan sebutan 'sayang'.
"S-sayang?" ulang Olivia dengan terbata.
"Iya kenapa?" tanya Faiz yang membuat Olivia memegang tengkuknya sendiri.
"Sudah-sudah jangan buat Olivia merasa canggung dan malu di hadapan Mama dan papa," ujar Rania dengan tersenyum geli melihat tingkah anaknya yang sudah mulai merasakan jatuh cinta.
Ke-empatnya mulai makan bersama tanpa Frisa yang ikut nimbrung di rumah ini hingga makan malam selesai dan mereka kembali ke ruang keluarga.
Olivia akhirnya bisa membiasakan diri bersama dengan kedua orang tua Faiz. Rasa canggung mulai hilang di dalam diri Olivia bahkan di dalam berbincang mereka sudah mulai terasa hangat. Hingga Gavin datang bersama dengan Frisa yang tertidur di gendongan Gavin, selalu begitu jika Frisa sudah selesai bekerja.
"Selamat malam Nyonya, Tuan!" sapa Gavin tanpa ekspresi.
"Selamat malam Gavin. Frisa tidur lagi?" tanya Rania menghela napasnya melihat anaknya. Rania merasa kasihan dengan anaknya namun bagaimana lagi perusahaan keluarga Abraham tidak ada yang memimpin selain Frisa.
"Iya, Nona. Pertemuan kali ini sangat menguras tenaga nona Frisa," jawab Gavin dengan tegas.
"Langsung tidurkan saja Frisa di dalam kamarnya. Nanti saya menyusul," ucap Rania yang di angguki oleh Gavin.
"Baik, Nona!" jawab Gavin.
"Permisi!"
Olivia menatap Gavin dan Frisa yang membuat Faiz kesal karena Faiz pikir Olivia sedang memandang Gavin.
"A-apa?" tanya Olivia dengan bingung.
"Mau mata kamu saya congkel karena melihat sesuatu yang membuat saya marah?" tanya Faiz dengan menahan amarahnya
"A-aku melihat apa, Mas? Aku hanya melihat nona Frisa dengan pengawalnya saja," ujar Olivia dengan bingung.
Faiz berdecak kesal lalu berdiri dan meninggalkan Olivia dengan kedua orang tuanya begitu saja.
"N-yonya, T-tuan. S-saya tidak mengerti apa yang dikatakan mas Faiz barusan," ujar Olivia dengan lirih.
Rania menghela napasnya dengan pelan. "Dia sedang cemburu karena kamu menatap Gavin. Oo iya mulai sekarang jangan panggil saya dan suami saya dengan sebutan nyonya dan tuan panggil saja mama dan papa karena kamu sudah menjadi bagian keluarga ini," ujar Rania dengan tegas.
"B-baik, Nyonya. Eh maksud saya Mama!" ucap Olivia dengan canggung.
"Bagus. Kalau begitu kamu susul Faiz sebelum dia bertambah marah. Saya mau melihat Frisa sebentar," ujar Rania dengan tegas.
"Biasanya dia ke kolam renang. Susul saja dia ke sana," ujar Ferdians yang di angguki oleh Olivia.
"Saya susul Mas Faiz dulu," ucap Olivia dengan sopan.
Setelah kepergian Olivia, Rania menatap suaminya. "Kenapa Faiz harus dekat dengan Olivia, Mas?" tanya Rania memijat kepalanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sayang. Dengan begitu kita bisa mengetahui dia tulus mencintai anak kita atau tidak dan dengan kedekatan Faiz bersama Olivia kita bisa juga mendapatkan informasi tentang Cassandra. Kita sudah bahas ini sebelumnya di rumah papa," ujar Ferdians dengan lembut.
"Iya aku tahu, Mas. Tapi tetap saja dia anak Rio walaupun dia juga anak dari sekretaris yang sangat aku percaya," ucap Rania dengan lirih.
"Sudah jangan terlalu di pikirkan. Mas yakin jika Faiz tidak akan bertindak gegabah dalam memilih pasangan," ujar Ferdians.
"Sekarang kita ke kamar Frisa saja. Semenjak bekerja Frisa sudah jarang bertemu dengan kita aku takut kesehatannya juga menurun," ucap Ferdians yang di angguki oleh Rania.
"Iya, Mas!"
****
Olivia melihat sekelilingnya dan akhirnya ia menemukan Faiz yang sedang duduk di pinggir kolam renang dengan kedua kaki yang sudah masuk ke dalam kolam. Olivia dengan pelan menghampiri Faiz dan ikut duduk di sana.
"Di sini dingin, Mas!" gumam Olivia mengusap lengannya.
Faiz melirik sekilas ke arah Olivia semarah-marahnya ia kepada Olivia entah mengapa Faiz tidak tega melihat Olivia kedinginan ataupun menangis. Faiz melepaskan jas miliknya dan ia pakaikan ke pada Olivia.
"Terima kasih, Mas!" ucap Olivia dengan tulus.
"Hmmm..."
Olivia bersandar di bahu Faiz dengan perlahan. "Maaf," gumam Olivia dengan pelan.
Faiz melihat ke arah Olivia yang ternyata juga Olivia sedang menatap dirinya.
"Maaf telah membuat Mas cemburu," gumam Olivia yang membuat Faiz terkejut.
"Mana ada saya cemburu!" elak Faiz dengan datar.
Olivia mengul*m senyumannya. "Kalau bukan cemburu kenapa Mas marah?" tanya Olivia yang semakin memojokkan Faiz.
"Saya..."
"Mas cemburu ya, kan?! Hihi... Aku suka Mas cemburu," ujar Olivia memeluk lengan Faiz.
"Saya tidak cemburu, Olivia!" ujar Faiz dengan geram.
"Apapun itu tapi saya suka melihat Mas seperti ini," gumam Olivia dengan terkekeh yang membuat Faiz semakin geram tetapi amarahnya tertahan saat Olivia mengelus dadanya dan bahkan amarah itu langsung menghilang tergantikan rasa hangat yang luar biasa saat tangan Olivia berada di dadanya.
"Malam ini aku bahagia banget Mas karena keluarga Mas mau menerima aku. Ketakutan yang aku rasakan tadi ternyata tidak benar adanya," gumam Olivia dengan pelan.
Faiz menahan tangan Olivia yang berada di dadanya dan membawa tangan Olivia ke bibirnya, mengecup tangan itu dengan pelan.
"Papa dan mama sudah percaya sama kamu jangan sampai kamu membuatnya kecewa," gumam Faiz yang membuat Olivia terdiam lalu setelahnya ia tersenyum.
"Iya, Mas! Aku janji!" ucap Olivia dengan tersenyum manis.
__ADS_1