
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Melihat bagaimana keponakannya sendiri bertunangan dengan gadis yang ia cintai membuat Rajendra dilanda sakit hati yang tak ia bisa jelaskan sendiri bahkan setelah mengantarkan Cassandra pulang, Rajendra langsung pergi begitu saja yang membuat Cassandra heran namun tidak bisa berbuat apa-apa karena di rumahnya sedang ramai keluarga Danuarta.
Rajendra masuk ke kamarnya, ia duduk di atas kasur dan memperhatikan cincin yang ia beli untuk Olivia. Rajendra berulang kali menghela napasnya pelan, tentu saja hatinya merasa sakit dan patah hati. Namun, Rajendra masih bisa berpikir rasional untuk tidak membenci keponakannya sendiri dan mulai sekarang ia harus bisa melupakan rasa cintanya untuk Olivia.
"Nak, kamu di dalam?" tanya Ana dengan mengetuk pelan pintu kamar anaknya.
Rajendra sedikit tersentak ia menormalkan kembali ekspresi wajahnya. "Iya, Ma. Masuk saja, Ma!" sahut Rajendra dengan sedikit keras.
Rajendra membuka laci lemari kecil di samping tempat tidurnya, ia menaruh cincin yang ia pegang sejak tadi ke dalam laci tersebut. Rajendra menatap mamanya yang sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa, Ma?" tanya Rajendra.
"Kata Cassandra kamu tadi juga berada di rumah Rio? Kenapa kamu tidak masuk saja, Nak?" tanya Ana menatap anaknya dengan bingung pasalnya Rajendra juga bisa ikut bergabung di sana untuk menyaksikan pertunangan Faiz dengan Olivia.
"Aku masih ada urusan di luar, Ma!" jawab Rajendra dengan berbohong. "Lagi pula jika tidak ada aku acara tetap akan berjalan lancar, Ma!" lanjut Rajendra dengan tersenyum tipis.
"Bohong! Mama sangat paham bagaimana kamu, Rajendra! Kamu saat ini sedang berbohong kepada, Mama!" ucap Ana dengan tegas.
Rajendra mengusap wajahnya dengan kasar lalu ia terkekeh dan memeluk mamanya dengan erat dari samping. "Oke, aku nyerah, Ma. Memang aku tidak bisa berbohong di hadapan, Mama!" ucap Rajendra dengan tersenyum yang membuat Ana merasa lega karena pada akhirnya Rajendra mau jujur kepadanya.
"Cepat katakan, Nak. Mengapa kamu malah pulang ke rumah dan tidak ingin bergabung di sana. A-apakah kamu menyukai Olivia?" tebak Ana yang membuat Rajendra syok. Mengapa tebakan mamanya sangat tepat sekali sih?
__ADS_1
"Jawab Mama, Nak. Apa benar tebakan, Mama?" tanya Ana dengan penasaran.
Rajendra menghela napasnya dengan pelan, lalu mengangguk. "Iya, Ma. Sudah lama ini aku selalu mengawasi Olivia karena aku jatuh hati pada kelembutan hatinya. Tapi sebelum aku mengatakan cinta kepadanya ternyata dia sudah di lamar oleh Faiz," jawab Rajendra dengan terkekeh pelan.
"N-nak..."
"Aku tidak apa-apa, Ma. Mama tenang saja, aku tidak akan patah hati berlarut-larut," ucap Rajendra menenangkan mamanya. "Mama jangan khawatir ya," lanjut Rajendra mengelus pipi mamanya.
"Kamu sedang tidak berbohong kan, Nak?" tanya Ana dengan khawatir.
"Mama paham jika aku berbohong, kan? Aku serius, Ma! Aku tidak kenapa-napa, dan aku yakin Faiz adalah orang yang tepat untuk Olivia. Lagi pula kita sedang menyelidiki Cassandra, ini lebih memudahkan aku nantinya," ujar Rajendra dengan tersenyum.
"Ya sudah. Kalau begitu kamu tidur ya, Nak. Mama mau ke kamar papa pasti sudah menunggu," ujar Ana dengan tersenyum.
"Ma!" panggil Rajendra dengan pelan.
"Tentang perasaan Rajendra kepada Olivia jangan beritahu siapapun ya, Ma. Hanya kita berdua saja ya tahu. Janji?!" ucap Rajendra dengan menyodorkan jari kelingking kepada sang Mama.
Ana menggelengkan kepalanya. Tetapi ia tetap menautkan jari kelingkingnya kepada jari kelingking Rajendra. "Janji. Ya sudah sana tidur," ujar Ana dengan perhatian.
Rajendra mengangguk dengan tersenyum, setelah mamanya benar-benar keluar dari kamarnya. Rajendra akhirnya merebahkan dirinya di atas kasur miliknya.
"Sial! Ternyata patah hati sesakit ini!" umpat Rajendra memukul guling miliknya dengan keras.
Ooo ayolah Rajendra... Kamu tidak boleh selemah ini karena patah hati. Fokus saja dengan penyelidikan kamu kepada Cassandra, gadis itu tidak boleh dibiarkan begitu saja. pikir Rajendra.
****
__ADS_1
Rio tampak gelisah saat kepulangan keluarga Danuarta, hatinya benar-benar tidak tenang. Anaknya sudah sedewasa ini dan bahkan sudah di lamar oleh lelaki dari keluarga yang sangat ia hindari. Tapi bukan itu yang menjadi permasalahan utama di hatinya melainkan ia merasa sedih karena nanti ia tidak bisa menikahkan anaknya, ia tidak bisa menjadi wali dalam pernikahan anak kandungnya sendiri.
"Mas!" panggil Anjani dengan pelan saat memasuki kamar.
Rio menatap istrinya dengan sendu. "Sayang, Mas belum siap mengatakan yang sebenarnya kepada Olivia. Tidak lama lagi Olivia akan menikah, Mas sebagai ayahnya sendiri tidak bisa menikahkan anak, Mas. Itu sangat menyakitkan, Sayang!" ujar Rio dengan sendu.
Anjani ikut khawatir, benar kata suaminya. Anjani pikir Rio gelisah sejak tadi karena lamaran keluarga Danuarta yang sempat ia tolak tetapi bukan itu ternyata permasalahan utama yang sedang di hadapi oleh hati suaminya melainkan tidak bisa menikahkan Olivia nantinya.
"Benar kata, Mas. Lalu kita harus bagaimana? Aku tidak bisa melihat Olivia bersedih lagi," ucap Anjani dengan sendu.
Rio mengusap wajahnya dengan kasar. "Andai saja waktu itu kita melakukanya sesudah menikah atau Olivia hadir saat pernikahan kita sudah berjalan beberapa bulan mungkin itu tidak terlalu menyakitkan sampai sekarang," ucap Rio dengan sendu. "Tapi semuanya sudah terjadi. Mau tidak mau Olivia harus tahu jika Mas tidak bisa menikahkan dia suatu saat nanti karena..." Rio menggantungkan ucapannya, tenggorokannya tercekat ia tidak sanggup melanjutkan ucapannya sendiri.
Anjani menangis, ia tidak menyesal telah melahirkan Olivia tetapi ia menyesali di mana Olivia hadir di rahimnya sebelum ia menikah dengan Rio saat itu.
"Mau tidak mau, siap tidak siap, secepatnya kita harus mengatakan yang sejujurnya kepada Olivia, Sayang. Karena bagaimanapun ini demi kebaikan Olivia saat menikah nanti karena di dalam agama kita, aku tidak bisa menikahkan Olivia karena kamu hamil di luar nikah," ujar Rio dengan lirih.
"Tapi Mas aku tidak tega, aku belum siap mengatakan sekarang. Mas, Olivia bukan anak haram. Itu karena kesalahan kita berdua. Aku tidak rela jika ada orang yang mengatakan jika Olivia adalah anak haram, aku tidak sanggup jika di luar sana orang-orang pada tahu jika Olivia hadir karena kesalahan kedua orang tuanya, aku tidak mau Olivia bersedih, Mas. Kita sudah menutupi ini sejak lama," ujar Anjani dengan sendu.
Baik Rio maupun Anjani sama-sama begitu terlihat bingung. Mengapa waktu cepat sekali berlalu? Anaknya sudah tumbuh dewasa dan akan segera menikah. Jika dulu mereka sangat pandai menjaga rahasia agar Olivia tidak di bully di sekolahnya. Namun, sekarang rahasia yang mereka simpan seakan menjadi bumerang yang sangat besar yang pasti sangat menyakitkan hati anaknya nanti.
Tanpa mereka sadari sejak tadi Cassandra menguping pembicaraan Rio dan juga Anjani. "Ternyata kak Olivia adalah anak haram," gumam Cassandra dengan pelan.
Ada rasa sedih di hatinya saat mengetahui itu tetapi kemudian ia tersenyum dengan licik, karena status Olivia yang sebagai anak haram bisa ia manfaatkan dan juga ia bisa menguasai harta Rio tanpa Olivia ikut merasakannya.
Tidak ingin ketahuan oleh kedua orang tua angkatnya Cassandra segera melangkah pergi dan masuk ke kamarnya, satu rahasia besar sudah ia pegang dan ini sangat bisa menjadi senjata untuk terus memanfaatkan Olivia.
"Maafkan aku, Kak. Tapi ini demi sebuah dendam yang harus terbalaskan," gumam Cassandra dengan licik.
__ADS_1