
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Wajah Rania tampak sangat marah mungkin karena cemburu karena melihat suaminya di goda oleh wanita lain. Bahkan emosinya ingin sekali ia lampiaskan tapi entah mengapa matanya yang berkaca-kaca, ia sangat ingin menangis sekarang.
"Sayang tadi kamu keren sekali," puji Ferdians tetapi tak membuat hati Rania senang.
Ferdians mengerutkan dahinya dengan bingung saat melihat wajah Rania yang ditekuk seperti itu.
"Sayang... Hei kenapa?" tanya Ferdians duduk di samping istrinya.
"Ngantuk!" jawab Rania ngelantur padahal ia sedang cemburu karena wanita penggoda telah menggoda suaminya.
"Kok ketus gitu? Kamu cemburu dengan wanita tadi?" tanya Ferdians yang membuat Rania semakin kesal.
Ferdians sekarang paham apa yang terjadi dengan istrinya. Ia berjongkok di hadapan Rania dan mengelus perut istrinya dengan lembut.
"Anak-anak Papa kalian merasakan tidak kalau mama sedang cemburu karena ulat bulu tadi yang berusaha menggoda Papa?" tanya Ferdians mengajak kedua anaknya berbicara.
Ferdians menempelkan telinganya di perut Rania seakan kedua anaknya sedang menjawab pertanyaannya.
"Apa? Benar mama sedang cemburu ya? Pantas saja wajahnya di tekuk terus dan ngomongnya ketus banget sama Papa padahal Papa tidak salah kan ya?!" ujar Ferdians dengan terkekeh.
Dug...
Dug...
"Apa-apaan sih? Saya tidak cemburu!" ujar Rania dengan ketus.
"Masa sih? Tapi Mas merasakan anak kita menendang loh, Sayang. Itu berarti twins setuju dengan ucapan Mas kalau kamu itu cembu..."
"Tau ah!" ujar Rania dengan ketus.
Rania merebahkan dirinya di kasur dan menutup dirinya dengan selimut untung saja dirinya sudah membersihkan diri terlebih dahulu jadi Rania tak perlu bangun lagi untuk membersihkan muka.
__ADS_1
"Loh kok di tutup semua badannya? Kamu ngambek karena cemburu, Sayang? Ya Allah... Lucu sekali istriku ini padahal kamu tadi sudah sangat keren mengusir ulat bulu itu, Sayang! Hei... Mukanya jangan di tutupi juga, Sayang. Bagaimana Mas bisa melihat wajah cantik kamu yang sedang cemburu itu," ujar Ferdians dengan pelan berbisik di telinga Rania walaupun tertutup selimut.
Di dalam selimut Rania hanya bisa tersenyum tipis saat Ferdians memeluknya dan ia juga geli dengan ucapan Ferdians kepadanya. Apakah benar ia seperti ini karena sebuah rasa cemburunya? Tapi yang benar saja?
Ferdians tersenyum tipis saat melihat Rania cemburu. Tentu saja ia sangat senang dengan kecemburuan Rania, sebab itulah yang sangat ia tunggu-tunggu dari dulu.
Ferdians sedikit menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya, ia masuk dengan perlahan hingga dirinya dan Rania berada di dalam satu selimut yang sama. Ferdians memeluk perut Rania dengan pelan, dan meletakkan dagunya di bahu Rania yang membelakangi dirinya.
Rania tak mau goyah walaupun tangan Ferdians sudah mulai bergerak nakal di bawah sana untuk menggoda dirinya.
"Tahu tidak, Sayang? Mas kangen banget sama twins. Boleh tidak Mas menjenguk twins sebentar," gumam Ferdians di telinga.
"Tidak bole.. Ahhh!" Rania menutup mulutnya saat tangan Ferdians sangat jahil sekali masuk ke dalam celananya dan memainkan miliknya.
"Sayang boleh ya? Mumpung kita ada di hotel anggap saja ini babymoon," ujar Ferdians yang membuat Rania menghela napasnya dengan perlahan karena Ferdians seakan meminta izin tetapi tangannya tetap aktif di bawah sana yang membuat hasrat Rania datang dengan cepat bahkan badannya bergerak dengan gelisah dengan menjepit tangan Ferdians.
"Boleh ya? Kedua anak kita juga merindukan papanya," ujar Ferdians dengan merayu istrinya dengan tangan yang terus bergerak aktif di bawah sana bahkan Ferdians melihat kabut gairah di mata Rania sekarang, dan misinya untuk membuat Rania terangsang dan mau bercinta dengannya sepertinya sebentar lagi akan berhasil.
Melihat anggukkan Rania dengan pelan dan menahan suara desah*nnya membuat Ferdians merasa menang.
"Dari belakang saja ya? Kalau dari atas nanti takut menyakiti kedua anak kita," ujar Ferdians dengan tersenyum bahagia.
Rania mengangguk dengan pasrah karena ia juga sudah sangat menginginkan sentuhan Ferdians. Semenjak hamil Rania sangat sensitif sekali dengan sentuhan Ferdians.
"Ahhhh..." Rania mengeluarkan suara indahnya saat Ferdians menggigit daun telinganya dengan gemas bahkan tangan Ferdians memainkan bukit kembar Rania dengan lembut yang membuat Rania membuka mulutnya merasakan nikmatnya sentuhan Ferdians terhadap dirinya
Cemburu yang dirasakan Rania tadi seakan lenyap entah kemana digantikan dengan gairah yang begitu menggunung hingga ia tak sabar Ferdians memasukinya.
Keduanya bercinta dengan penuh kelembutan karena tak mau membuat kedua anak mereka tak nyaman tetapi walaupun begitu Rania tidak bisa mengontrol suaranya. Karena sentuhan Ferdians selalu bisa membuat dirinya sangat candu.
****
Pagi harinya......
Ben membuka matanya dengan perlahan, ia menatap sekelilingnya dan ia mematung saat melihat suster Ana tidur di sebelahnya bahkan ia memeluk suster Ana dengan erat tanpa sehelai benang pun yang mereka pakai hanya selimut yang bisa saja tertarik hingga memperlihatkan tubuh polos mereka.
Ben tersenyum, ia pikir ia sudah gila sekarang karena ia mengingat bagaimana dirinya begitu sangat bersemangat bercinta dengan suster Ana hingga Ben berulang kali melakukannya. Lihatlah wajah damai dan lelah suster Ana membuka hatinya berbunga-bunga pagi ini.
__ADS_1
"Ben kamu sudah tua tetapi kenapa kamu seperti anak muda yang sedang di mabuk cinta hanya karena wanita yang tertidur di sampingmu ini, Ben? Bahkan kamu sudah memperkosanya berulang kali semalaman," monolog Ben menatap wajah suster Ana yang masih damai dengan tidurnya tanpa terganggu dengan tangan Ben yang mengelus pipinya.
Suster Ana bergerak dengan perlahan dan memeluk Ben.
"Ouhhh... Ana kamu membangunkannya lagi," gumam Ben dengan lirih.
Tetapi Ben tidak ingin melakukannya lagi sebelum mereka benar-benar sah menjadi suami istri, cukup malam itu mereka melakukannya tetapi jika sudah sah mungkin Ben tidak akan bisa jauh dari Ana. Ada daya tarik sendiri pada suster Ana yang membuat Ben begitu dengan cepat membuka hatinya untuk suster Ana.
Suster Ana membuka matanya dengan perlahan, yang pertama kali ia rasakan adalah tubuhnya seakan remuk. Wajah suster Ana langsung memerah saat mengingat percintaan panasnya dengan Ben semalam.
Mata keduanya saling bertemu pandang yang membuat suster Ana kembali salting. "T-tuan Ben. S-saya harus kembali ke kamar ibu Heera," ujar Suster Ana dengan terbata.
"Awww... Sstttt...." Suster meringis sakit pada bagian bawahnya yang membuat Ben khawatir.
"Kenapa? Apa yang sakit?" tanya Ben langsung bangun.
"T-tidak ada, Tuan. Saya harus kembali secepatnya sebelum ibu Heera dan yang lainnya curiga," ujar Suster Ana.
"Ana jangan berbohong! Itu kamu sakit gara-gara saya terlalu bersemangat semalam ya? Maafkan saya," ujar Ben merasa bersalah.
"T-tidak apa-apa, Tuan. L-lupakan saja kejadian itu," ujar Suster Ana dengan hati yang berdenyut sakit karena tak sepenuhnya hatinya mengatakan itu, ia ingin Ben juga bertanggungjawab terhadap dirinya.
Ben menggelengkan kepalanya. "Kamu kembali ke kamar kamu dan setelah itu tunggu kedatangan saya di rumah Rania. Niat saya untuk menikahi kamu serius adanya saya tidak berbohong," ujar Ben dengan tegas.
"T-tapi Tuan bagaimana dengan nyonya Agni? Saya sudah menjadi orang ketiga di pernikahan anda dan nyonya Agni," ujar Suster Ana dengan lirih.
Ben tersenyum dan mengecup bibir suster Ana yang membuat wanita itu mematung. "Kamu bukan orang ketiga. Saya pastikan kamu yang terakhir setelah mama Rania, untuk Agni kamu akan tahu sendiri mengapa saya menikahinya nanti di rumah Rania. Kembalilah ke kamar kamu atau saya akan membuat kamu tidak bisa keluar lagi dari kamar ini," ujar Ben yang membuat suster Ana membelalakkan matanya terkejut.
"Tutup mata Tuan saya mau pakai baju," ujar Suster Ana yang membuat Ben terkekeh.
"Saya sudah melihat semua..."
"Tuannn..."
"Iya-iya saya tutup mata saya!" ujar Ben yang membuat suster Ana tersenyum lega. Bahkan Ben merasa jika dirinya seperti anak muda yang baru merasakan jatuh cinta dan ini membuat dirinya gila.
"Mimpi apa aku bisa bercinta dengan Tuan Ben? Tenaganya kuat banget lagi, tubuhku remuk semua," gumam Ana di dalam hati.
__ADS_1