
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...***...
Menjadi CEO muda di perusahaan Abraham membuat Frisa benar-benar fokus dengan pekerjaannya. Dan sebulan terakhir ini Frisa terus bolak-balik ke luar negeri untuk meeting dan melakukan kerjasama dengan perusahaan luar negeri. Pendapatan perusahaan Abraham naik 70 % selama Frisa yang memimpin membuat sang kakek merasa bangga karena dirinya.
Bahkan saat ini Frisa dan Gavin sedang berada di Singapura. Mereka sudah tiga hari di sini dan ada waktu 2 hari lagi sebelum keduanya pulang ke tanah air. Frisa benar-benar membuktikan keahliannya dalam memimpin perusahaan walaupun Gavin sering kali mendengar Frisa mengeluh karena pekerjaannya yang banyak.
Malam ini setelah meeting selesai Frisa benar-benar kelelahan bahkan ia merasa badannya sudah sakit semua. Setelah sampai di kamar hotelnya, Frisa langsung merebahkan dirinya tanpa membersihkan diri terlebih dahulu karena Frisa sudah tidak sanggup untuk sekedar berjalan. Sedangkan Gavin sudah berada di kamar hotel yang bersebelahan dengan Frisa tetapi walaupun begitu ada dua orang yang selalu menjaga pintu kamar hotel Frisa guna untuk berjaga-jaga jika ada orang jahat yang akan melukai Frisa.
Gavin membersihkan dirinya terlebih dahulu. Tidak ada kata lelah dalam kamusnya karena bekerja dengan Frisa sudah kewajibannya sejak dulu. Gavin adalah pria yang selalu melindungi Frisa, menjadi temeng yang sangat kuat untuk Frisa selain keluarganya. Bahkan Gavin adalah orang yang pertama yang akan melindungi Frisa dari bahaya sekalipun nyawanya adalah taruhannya.
Walaupun mereka sering sekali berantem atau lebih tepatnya Frisa yang selalu kesal dengan dirinya tak membuat Gavin meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Gavin keluar dari kamarnya setelah ia membersihkan diri dan beristirahat sebentar. Ini sudah pukul 9 malam dan ia merasa lapar, Frisa juga pasti merasa lapar tapi tumben sekali gadis itu tidak mengetuk pintunya dengan kesal.
"Nona Frisa belum ada keluar dari kamar?" tanya Gavin kepada dua orang yang menjaga pintu kamar Frisa.
"Sejak tadi belum ada keluar, Tuan!" jawab dua orang tersebut dengan serentak.
Tentu saja Gavin merasa khawatir dengan Frisa karena tak seperti biasanya Frisa seperti ini atau Frisa ketiduran?
"Kalian minggir!" ucap Gavin dengan datar.
Kedua orang tersebut langsung minggir dari pintu kamar Frisa. Gavin dengan sangat mudahnya mengetahui password kamar Frisa, ia langsung mengetik password tersebut dan pintu kamar Frisa langsung terbuka.
Gavin masuk ke kamar Frisa dengan begitu saja, ia melihat Frisa yang tertidur dengan selimut yang menutupi tubuh Frisa. Gavin berjalan mendekati Frisa dan duduk di pinggir kasur dengan perlahan.
"Nona, ini jadwal kita untuk makan malam. Sejak meeting tadi Nona juga belum makan," ujar Gavin dengan tenang tetapi tidak ada sautan sama sekali dari Frisa.
"Nona!" panggil Gavin dengan pelan.
Gavin membuka selimut Frisa dengan pelan, ia terkejut saat melihat wajah Frisa begitu pucat.
__ADS_1
"Nona!" panggil Gavin menyentuh kening Frisa, ia meringis saat merasakan tubuh Frisa yang sangat panas.
Dengan cepat Gavin menyibakkan selimut Frisa, ia menggendong Frisa dengan pelan. Dapat Gavin rasakan tubuh Frisa yang begitu sangat panas dengan bibir yang menggigil dengan hebat.
"Siapkan mobil kita ke rumah sakit sekarang!" ujar Gavin pada kedua pria yang menjaga di depan.
"Baik, Tuan!" ucap kedua pria tersebut dengan tegas walaupun bingung apa yang sedang terjadi dengan nona mereka tetapi terlihat dari wajah Frisa yang pucat pasti nona mereka jatuh sakit.
Gavin melangkah dengan cepat, ia sangat khawatir dengan keadaan Frisa yang belum membuka matanya.
"Nona tolong buka mata anda sebentar. Katakan jika anda baik-baik saja," ujar Gavin dengan cemas.
Frisa yang mendengar suara Gavin dengan samar-samar mencoba membuka matanya dengan perlahan. "G-gavin," gumam Frisa dengan lirih.
Gavin tampak lega saat Frisa sudah bersuara namun kekhawatiran belum juga menghilang. "Iya, Nona. Kita ke rumah sakit sekarang ya," ujar Gavin dengan cemas.
"Badan saya sakit semua," adu Frisa dengan lirih.
Di saat yang seperti ini Gavin baru melihat sisi manja Frisa saat bersama dengan dirinya. "Anda demam, Nona. Tahan ya kita akan ke rumah sakit sebentar," ujar Gavin dengan lembut.
"Cepat jalan!" ucap Gavin dengan tegas kepada kedua orang yang sudah duduk di kursi bagian depan sedangkan dirinya bersama dengan Frisa yang berada di pangkuannya.
****
Gavin menatap air infus yang menetes sedikit demi sedikit dan mengalir ke tangan Frisa dengan hembusan napas yang begitu sangat pelan. Akibat kelelahan bekerja akhirnya Frisa demam dan harus di larikan di rumah sakit terdekat yang ada di dekat hotel ini.
Gavin belum mengabari Ferdians maupun Rania karena sejak tadi ia mengurus Frisa yang sangat tampak manja bahkan sifatnya jauh berbeda daripada ketika Frisa sehat.
Gavin mengambil ponselnya, ia akan menghubungi Ferdians sekarang karena Frisa sudah tertidur setelah mengeluh kepalanya sangat pusing.
"Halo, Tuan. Maaf malam-malam seperti ini saya menelepon, Tuan!" ucap Gavin dengan mata yang tak pernah lepas dari wajah pucat Frisa.
[Ada apa Gavin? Apa terjadi sesuatu dengan Frisa di sana?] tanya Ferdians dengan nada suara yang sangat begitu cemas.
"Nona Frisa deman, Tuan. Dan sekarang nona Frisa sedang dirawat di rumah sakit terdekat dari hotel X. Sekarang nona Frisa sedang di infus tetapi Tuan tenang saja saya akan menjaga nona Frisa dengan baik," jawab Gavin.
__ADS_1
[Saya akan segera terbang ke sana, Gavin. Jaga anak saya!]
"Baik, Tuan!"
Panggilan telepon terputus bertepatan dengan Frisa yang membuka matanya. "Kamu telepon papa?" tanya Frisa dengan lemas.
"Iya, Nona. Tuan akan segera terbang ke sini," sahut Gavin dengan tegas.
Frisa mengangguk dengan pelan. "Gavin, saya tidak bisa tidur kalau tidak di peluk," gumam Frisa.
Gavin tahu soal itu. Saat ketika sakit Frisa akan manja dua kali lipat dari biasanya tetapi Gavin tidak akan memeluk gadis itu jika tidak Frisa lah yang memintanya.
"Sabar Nona. Tuan Ferdians akan datang ke sini," jawab Gavin.
"Gavin saya benar-benar lemas apa kamu tega melihat saya yang seperti ini?" tanya Frisa dengan meringis.
"Lalu saya harus apa, Nona?" tanya Gavin.
Frisa berdecak kesal di tengah rasa pusing yang di rasakannya saat ini. "Berbaring di samping saya dan peluk saya!" ujar Frisa dengan sedikit kesal.
Gavin tersenyum tipis. "Baik, Nona!" jawab Gavin pada akhirnya.
Gavin mulai merebahkan dirinya di samping Frisa. Meletakkan kepala Frisa di lengannya, Frisa langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gavin.
"D-dingin," gumam Frisa dengan lirih bahkan Gavin merasakan dadanya basah.
Gavin mencoba melihat wajah Frisa. Hatinya mencolos melihat Frisa menangis di hadapannya sekarang. "Ssstt... Saya di sini, Nona. Kenapa menangis? Apa yang sakit, Nona?" tanya Gavin khawatir.
"Semua sakit, Gavin!" rengek Frisa dengan terisak.
Gavin memijat kepala Frisa dengan perlahan. "Jangan nangis lagi, Nona!" ucap Gavin dengan lembut.
Frisa memejamkan matanya saat merasakan pijatan Gavin di kepalanya. Gavin seperti mengurus anaknya saat ini, bahkan senyum Gavin terlihat geli namun juga merasa khawatir dengan Frisa. Karena kelelahan bekerja membuat Frisa akhirnya di infus.
Gavin mengusap air mata Frisa dengan ibu jarinya. Tanpa sadar ia mengecup kening Frisa dengan lembut bahkan Frisa juga tidak sadar, ia sudah terhanyut dalam pijatan Gavin.
__ADS_1
"Cepat sembuh, Nona!"