Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 70 (Bumil Cantik)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini!...


...Happy reading...


***


Rania membuka matanya dengan perlahan karena ia merasa sangat haus sekarang. Rania menatap ke arah suaminya yang masih tertidur dengan memeluknya dengan erat.


"Mas!" panggil Rania dengan menggoyangkan lengan Ferdians dengan pelan.


Ferdians langsung membuka matanya dengan perlahan, ia menyentuh matanya untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih sangat terasa sekali.


"Kenapa, Sayang?" tanya Ferdians dengan suara seraknya.


Bahkan keduanya masih sama-sama polos tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka setelah percintaan panas yang mereka lakukan tadi.


"Haus!" jawab Rania dengan merengek manja yang membuat Ferdians gemas.


Kesambet apa istrinya bisa semanja ini? Ferdians semakin gemas dengan Rania.


"Mau Mas ambilkan?" tanya Ferdians menawarkan diri.


"Iya mau!" ujar Rania.


"Sebentar ya!" ujar Ferdians dengan mengecup kening Rania dengan lembut.


Ferdians menyibakkan selimutnya hingga juniornya terlihat oleh Rania.


"Yak... Cepat pakai celana kamu, Mas!" ujar Rania dengan kesal.


Ferdians terkekeh menatap istrinya. "Kamu sudah sering melihatnya, Sayang. Terus sekarang kenapa masih malu?" tanya Ferdians dengan terkekeh lucu melihat tingkah istrinya.


"Pakai celana kamu, Mas!" ujar Rania dengan kesal.


Dengan tertawa kecil Ferdians memakai celananya yang sudah tergeletak di lantai. Setelah selesai berganti pakaian Ferdians segera pamit untuk ke dapur karena stok minum Rania sudah habis.


"Mas tunggu!" ujar Rania dengan mengerjapkan matanya.


"Kamu mau apa lagi, Sayang?" tanya Ferdians dengan lembut.


"Tidak mau minum air putih," ujar Rania dengan pelan.


"Terus mau minum apa, Sayang?" tanya Ferdians dengan sabar.


"Air kelapa muda. Tapi harus di ambil langsung dari pohonnya, Mas yang manjat!" ujar Rania yang membuat Ferdians mendelik.


"M-manjat pohon kelapa? Yang benar saja, Sayang?" ujar Ferdians dengan syok.


"Kenapa? Kamu tidak mau?" tanya Rania dengan kesal bahkan matanya sudah berkaca-kaca sekarang.


Ferdians melihat ke arah jam dinding di kamar mereka. Ini masih jam 10 malam memang tetapi haruskah ia memanjat pohon kelapa malam-malam seperti ini?


Rania meneteskan air matanya. Ia benci dirinya yang menjadi melow seperti ini karena keinginannya tidak di turuti oleh Ferdians.

__ADS_1


Ferdians merasa hatinya teriris saat melihat Rania menangis. Dengan pelan ia mengusap air mata Rania dengan ibu jarinya. "Kelapa di belakang rumah ada. Mau melihat Mas manjat?" tanya Ferdians dengan lembut.


Rania mengangguk dengan semangat. "Mau!'" ujar Rania dengan mata penuh binar padahal tadi ia sudah sangat bersedih karena Ferdians tidak akan menuruti kemauannya tetapi pikirannya salah suaminya itu dengan sangat sabar menuruti kemauannya yang terkadang sangat aneh, semua lelaki di rumahnya pasti akan terkena kejahilannya ketika mengidam.


"Pakai dulu baju kamu ya!" ujar Ferdians dengan lembut.


Tak apa ia memanjat pohon kelapa asal ngidam Rania bisa ia turuti dan bisa membahagiakan Rania maka tak masalah baginya.


Ferdians mengambil piyama Rania yang tergeletak di lantai. Dengan sangat perhatiannya Ferdians memakaikan pakaian istrinya, sesekali ia gemas dengan perut istrinya yang membuncit.


Ferdians dan Rania keluar dari kamar mereka dan berjalan menuruni tangga dengan perlahan.


"Ibu!" panggil Rania dengan tersenyum.


"Kok Ibu belum tidur?" tanya Ferdians dengan lembut.


"Ini mau tidur, Nak. Kenapa kalian turun lagi?" tanya Heera dengan heran.


"Rania ngidam minum air kelapa muda, Bu. Dan Ferdians di suruh manjat malam-malam seperti ini," ujar Ferdians yang membuat Rania menatap Ferdians dengan kesal sekaligus malu.


Heera tersenyum senang. "Turuti saja kemauan istri kamu, Nak. Setelah dia melahirkan kamu tidak akan merasakan hal seperti ini lagi," ujar Heera yang di angguki oleh Ferdians.


"Iya, Bu!" sahut Ferdians dengan tersenyum tipis.


"Ibu mau melihat mas Ferdians manjat pohon kelapa tidak?" tanya Rania dengan begitu senang hanya karena Ferdians akan memanjat pohon kelapa untuknya.


Ferdians menggaruk keningnya yang tidak gatal, ia melirik ke arah ibunya dengan sekilas yang membuat Heera terkekeh.


"Iya, Bu. Mau ya, Bu!" bujuk Rania yang membuat Heera mengangguk dengan pelan yang membuat Rania memekik senang dan langsung memeluk ibu mertuanya.


Suster Ana juga ikut tertawa kecil dengan tingkah Rania yang semakin hari semakin terlihat berwarna, ekspresi Rania sudah banyak memancarkan kebahagiaan dan tidak datar seperti biasanya, suster Ana bersyukur akan perubahan Rania yang sangat signifikan.


Ferdians hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ternyata tingkah Rania yang seperti ini membuat Ferdians semakin gemas dengan istrinya.


"Bumil cantikku!" gemas Ferdians yang membuat Rania tersenyum.


Ferdians dan Rania berjalan beriringan menuju taman belakang di ikuti oleh Heera yang di temeni suster Ana. Tak lama Sastra dan juga Liam datang menyusul mereka, kedua lelaki itu heran dengan apa yang akan Ferdians dan juga Rania lakukan malam-malam seperti ini di taman belakang.


Rania dan Heera duduk di kursi kayu dengan memandang Ferdians yang hendak naik kelapa. "Ayo Mas! Aku haus," ujar Rania yang membuat Ferdians mengangguk.


Ferdians mulai memanjat pohon kelapa yang berada di belakang rumah Rania. Tidak terlalu tinggi memang, tetapi Ferdians juga harus hati-hati saat naik agar dirinya tidak terjatuh.


Sastra dan Liam tertawa kecil, kali ini mereka merasa senang karena Ferdians yang terkena kejahilan Rania.


"Sepertinya penerus Danuarta Grup bukan anak sembarangan. Saat keduanya lahir pasti mereka akan sering mengerjai kita, belum lahir saja sudah seperti ini," ujar Sastra dengan pelan agar tidak terdengar oleh Rania, bisa-bisa Rania mengamuk kepada dirinya.


"Benar! Kedua anak nona Rania pasti akan menjadi penguasa nantinya," sahut Liam dengan pelan.


Sedangkan Ferdians sudah berhasil menjatuhkan dua kelapa muda dan itu membuat Rania cukup senang bahkan langsung berjalan dengan cepat mengambil kelapa tersebut.


"Nona, biarkan kami saja yang membawa kelapa ini. Ini berat, Nona!" ujar Sastra dengan sigap.


Ferdians turun dengan perlahan, keringat sudah membasahi dahinya.

__ADS_1


"Biar mas Ferdians saja yang membawanya!" ujar Rania yang langsung memberikan kelapa itu kepada suaminya.


"Langsung di buka ya, Mas!" ujar Rania yang di angguki oleh Ferdians dengan senyuman manisnya.


Rania mengikuti Ferdians untuk membela kelapa yang sangat di inginkan olehnya mengabaikan Sastra dan yang lainnya yang menatap Rania dengan penuh rasa heran.


Rania sangat memperhatikan dengan serius saat Ferdians membuka kelapa seperti yang sering ia beli di pantai.


"Mau pakai sedotan, bumil?" tanya Ferdians dengan lembut.


"Iya, Mas!" ujar Rania dengan semangat.


"Pelayan!" panggil Ferdians yang membuat pelayan langsung menghampiri dirinya dsn juga Rania.


"Ambilkan sedotan untuk minum air kelapa ya!" ujar Ferdians dengan tegas.


"Baik, Tuan!" ujar pelayan dengan sopan.


Pelayan tersebut mengambil sedotan yang Ferdians inginkan. Rania sudah tidak sabaran ingin segera meminum air kelapa.


"Ini Tuan sedotannya," ujar pelayan memberikan dua sedotan yang ia letakkan di dalam nampan.


"Terima kasih," ujar Ferdians.


Ferdians dengan perhatian membuka plastik sedotan dan meletakkannya di dalam kelapa yang sudah ia buka atasnya.


"Di minum, Sayang!" ujar Ferdians dengan lembut.


Rania mengangguk dengan sangat bersemangat, ia langsung meminum air kelapa itu dengan sedotan. Rasa segar langsung menyapa tenggorokannya yang membuat Rania semakin bahagia, tak peduli malam semakin larut yang terpenting ia minum air kelapa sekaligus memakan kelapa muda yang diambilkan oleh suaminya malam ini.


"Sudah senang?" tanya Ferdians dengan lembut menatap istrinya yang masih menikmati kelapa muda bahkan dirinya sama sekali tak boleh meminumnya.


"Sudah!" jawab Rania dengan cuek karena masih menikmati.


"Ibu sudah boleh beristirahat?" tanya Heera yang sejak tadi memperhatikan anak dan menantunya.


Semakin ke sini Heera merasakan ketakutan, entah mengapa ia sangat takut Ferdians dan Rania berpisah. Heera tak ingin nasibnya terulang lagi pada anak dan menantunya.


"Boleh, Bu. Maafkan Rania yang sudah menganggu istirahat Ibu ya, tapi kedua cucu Ibu sangat menginginkan air kelapa muda," ujar Rania yang membuat Heera tersenyum.


"Tidak usah minta maaf. Mengidam adalah sesuatu yang wajar, Nak. Ya sudah Ibu istirahat dulu ya," ujar Heera yang di angguki oleh Rania.


"Iya, Bu!"


Sepeninggal Heera dan yang lainnya Ferdians menunggu Rania dengan sangat sabar. Ferdians terus mengusap perut istrinya dengan lembut.


"Masuk yuk. Kasihan kembar kedinginan," ujar Ferdians.


"Gendong! Saya malas jalan!" ujar Rania yang membuat Ferdians terkekeh.


"Siap bumil cantik!"


Akhirnya Ferdians menggendong istrinya menuju ke dalam rumah. Mereka harus beristirahat dengan segera.

__ADS_1


__ADS_2