
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Hari ini Bunga sudah bersiap untuk pergi ke perusahaan besar Danuarta Grup untuk mengikuti wawancara, Bunga hanya mengikuti sahabatnya yang melamar bekerja di perusahaan Danuarta, mereka berharap akan di terima di sana sebab perusahaan itu adalah perusahaan besar yang sangat diinginkan orang banyak untuk bekerja di sana.
"Mau kemana kamu sudah rapi seperti itu?" tanya Sherly dengan curiga.
"Hari ini aku mau wawancara kerja, Ma. Do'akan aku di terima di sana ya, Ma!" ujar Bunga dengan tersenyum.
"Kerja di mana kamu?" tanya Sherly dengan nada yang begitu ketus.
"Ada, Ma. Pokoknya gajinya lumayan," ujar Bunga dengan tersenyum.
Bunga Tak ingin mengatakan di mana ia bekerja karena ia takut mamanya akan membuat onar seperti sebelum-sebelumnya di tempat kerja miliknya. Saat itu Bunga banyak hutang dengan bos di mana ia bekerja dan setelah gajian, uang Bunga yang paling sedikit karena uang gajinya di potong untuk membayar hutang. Tetapi mamanya marah-marah dan mendatangi bosnya, mamanya benar-benar tidak sadar jika Bunga sering hutang juga karena perintah dirinya. Maka dari itu kali ini Bunga tak mau jujur kali ini karena ia ingin bekerja dengan tenang tanpa adanya ikut campur mamanya yang sangat mata duitan.
"Aku sudah di tunggu sama Rini, Ma. Aku berangkat dulu ya, Ma!" ujar Bunga dengan cepat karena ingin menghindari pertanyaan mamanya yang pasti cukup banyak menyita waktunya, dan bisa-bisa ia telat untuk wawancara hari.
"Heh... Ihhh dasar anak itu!" gumam Sherly dengan kesal saat Bunga pergi begitu saja meninggalkan dirinya begitu saja. "Dasar tidak sopan. Semakin dewasa sikapnya sangat menyebalkan, selalu saja membantah dan tidak berpikir dengan logis, di dunia ini kita hanya butuh uang dan uang," ujar Sherly dengan kesal.
"Aahhh.. Dari pada aku kesal memikirkan sikap anak itu lebih baik aku mencari uang biar aku bisa shopping barang-barang mahal," ujar Sherly dengan menyeringai.
Mencari uang yang ia maksud adalah kembali menipu wanita-wanita yang suka berbelanja emas. Ia akan menjual emas imitasi dengan harga yang sangat mahal. Dan untung saja sampai sekarang kejahatan Sherly belum ketahuan sama sekali karena Sherly juga memalsukan surat-surat emas miliknya. Sherly merasa hidupnya masih sangat aman, tetapi Sherly akan memberikan alamat palsu untuk rumahnya agar nanti jika ia ketahuan dirinya tak akan di temukan.
****
Bunga menatap gedung menjulang tinggi itu dengan tatapan yang begitu sangat kagum, ia beberapa kali lewat di depan perusahaan Danuarta tetapi Bunga tak pernah terpikir jika dirinya mempunyai kesempatan untuk melamar bekerja di sini.
"Rini! Ya Tuhan... Aku tidak menyangka jika aku bisa berkesempatan melamar kerja di sini," ujar Bunga dengan sangat senang.
"Benar, Bunga! Ini adalah perusahaan yang sangat besar dan aku tidak akan menyangka bisa mengizinkan kaki di perusahaan raksasa seperti ini. Kamu tahu tidak perusahaan Danuarta sudah banyak cabang-cabang di luar sana bahkan sampai ke mancanegara. Pemiliknya tuan Doni Danuarta dan sekarang yang memegang perusahaan ini adalah cucunya Rajendra Danuarta. Bahkan kekuasaannya lebih di takuti dari pada almarhum tuan Doni Danuarta dan Ben Danuarta. Tak kalah mengagumkan lagi kakak dari tuan Rajendra juga mendirikan perusahaan sendiri yang bernama R.A Grup dan sekarang di pegang oleh anaknya Faiz Danuarta Abraham. Kembarannya juga memegang perusahaan kakeknya dari pihak papanya. Hebat bukan? Jika aku bisa bekerja di sini maka aku akan sangat bangga jika bisa bekerja di sini," ujar Rini dengan sangat antusias menceritakan siapa saja yang menjadi pemegang perusahaan ini.
"Ayo kita masuk! Sebentar lagi wawancara di mulai," ujar Rini dengan menggandeng lengan sahabatnya.
"Ayo!" sahut Bunga dengan tersenyum.
****
Bunga sudah melakukan tes wawancara dan hari ini juga pengumumannya akan segera di beritahukan. Entah mengapa pengumumannya diberitahu sekarang, Bunga tak tahu yang jelas ia akan tahu besok harinya. Tetapi semua itu dipercepat kata HRD yang mewancarainya tadi.
"Bunga Anastasya!" panggil HRD itu menatap Bunga.
"Iya, Pak. Saya sendiri," ujar Bunga dengan deg-degan.
__ADS_1
"Kamu di terima di perusahaan ini. Dan sekarang tuan Rajendra ingin bertemu dengan kamu," ujar HRD dengan tegas.
"Yang lainnya bisa cek melalui website Danuarta Grup. Sudah bisa di akses sekarang juga," ujar HRD tersebut dengan tegas.
"Terima kasih, Pak. Akan kami cek sekarang juga," ujar Rini dan para calon karyawan baru dengan tersenyum.
"Wah aku di terima juga!"
"Yah aku tidak di terima!"
Bunga melihat ke arah Rini dan calon karyawan baru dengan perasaan yang tak menentu di satu sisi ia sangat bahagia di terima di perusahaan ini, di sisi lain ia sangat takut karena ia CEO perusahaan ini ingin bertemu dengan dirinya langsung.
"Ayo ikut saya! Tuan Rajendra tidak suka menunggu terlalu lama," ujar HRD dengan sangat tegas.
"Sudah sana ikut saja, Bunga! Siapa tahu emang sangat penting," ujar Rini dengan berbisik.
"Tapi aku takut, Rin!" ucap Bunga dengan gelisah.
"Sudah sana nanti tuan Rajendra marah," ujar Rini membujuk sahabatnya.
Bunga menghela napasnya dengan kasar dan akhirnya ia mengikuti langkah HRD menuju ke ruangan di mana Rajendra berada. Selain ruangan kerja Rajendra, ada ruangan khusus di mana Rajendra bisa beristirahat dengan tenang di sana dan Cassandra sama sekali tidak mengetahui itu. Rajendra juga tidak ingin Cassandra tahu jika Bunga adalah anak dari Roby karena itu juga bisa membahayakan nyawa Bunga, jadi ia juga akan menyembunyikan pertemuannya dengan Bunga saat ini.
"Masuklah tuan Rajendra sudah menunggu anda di dalam," ujar HRD tersebut dengan tegas.
"Tapi apa tidak apa-apa saya masuk, Pak?" tanya Bunga dengan lirih.
Bunga mengangguk dengan pelan. Sebelum itu Bunga mengetuk pintu terlebih dahulu karena ia harus sopan dengan bos barunya tersebut. Setelah mendengar suara dari dalam barulah Bunga membuka pintu ruangan itu dengan hati yang sangat gelisah, takut, dan perasaan yang lainnya yang tak bisa Bunga jabarkan sendiri.
"Selamat siang, Tuan. Perkenalkan saya Bunga Anastasya," ujar Bunga dengan sopan.
Rajendra memutar kursinya menjadi menghadap ke arah Bunga. Baru kali ini ada wanita lain yang boleh ia izinkan masuk ke ruangan privat ini.
"K-kamu... Ehhh m-maksud saya, T-tuan," ucap Bunga dengan terkejut saat melihat wajah bos-nya yang ternyata pria yang hampir menabrak dirinya dan marah-marah kepadanya waktu itu.
Apa sekarang Rajendra akan meminta pertanggungjawaban dirinya? Misalnya uang ganti rugi? Mendadak Bunga sakit perut melihat tatapan Rajendra yang sangat dingin kepada dirinya.
"Duduk!" perintah Rajendra dengan datar.
"Iya, Tuan!" ujar Bunga dengan pelan nyaris tak terdengar.
Bunga mulai duduk di hadapan Rajendra. Ruangan ini sangat luas dan mungkin rumahnya saja tidak ada seluas ruangan ini.
"Bunga Anastasya," gumam Rajendra dengan menyeringai.
"I-iya, Tuan!"
__ADS_1
"Kamu tidak tahu mengapa saya memanggil kamu ke ruangan ini?" tanya Faiz yang membuat Bunga menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"T-tidak, Tuan!" jawab Bunga dengan terbata.
"Roby adalah papa kamu bukan?" tanya Rajendra yang membuat Bunga terkejut.
"D-dari mana anda tahu, Tuan? A-apa papa saya juga telah menipu, Tuan? S-saya minta maaf, Tuan..Sungguh saya sangat tidak suka dengan pekerjaan papa saya. Saya sudah melarang papa tetapi tetap saja papa tidak pernah mendengarkan ucapan saya," ujar Bunga dengan sangat takut.
"Lebih dari itu, Bunga! Dan jika kamu masih ingin hidup kamu aman maka turuti semua kemauan saya," ujar Rajendra dengan tajam.
"A-apa maksud anda, Tuan? S-saya sama sekali tidak mengerti," ujar Bunga dengan terbata.
"Roby adalah buronan selama ini. Dia sudah mencelakai keluarga saya dan hampir saja nyawa kakak saya melayang karena perbuatan Roby di masa lalu dengan istrinya yang terdahulu," ujar Rajendra dengan tajam.
"Istri? Papa saya cuma mempunyai satu istri yaitu mama saya, Tuan!" ujar Bunga terlihat syok. "Dan papa saya bukan buronan!" ujar Bunga dengan mata berkaca-kaca, walaupun papanya bekerja dengan cara tidak halal tetapi Bunga tetap saja sakit hati jika ada yang menjelekkan papanya sendiri.
"Lihat ini!" ujar Rajendra melempar majalah di depan Bunga yang membuat Bunga tersentak. "Baca baik-baik judul majalah di atas!" ujar Rajendra dengan sarkas.
"BACA YANG KERAS!" teriak Rajendra yang membuat Bunga terkejut dan akhirnya air mata yang ia tahan jatuh juga.
"Roby telah mencelakai nona Rania Danuarta dengan suaminya Ferdians dengan menyabotase rem mobil yang di bawa keduanya. Saat ini Roby telah resmi menjadi buronan para polisi," ucap Bunga dengan suara gemetar menahan tangis.
"Ini berita sudah sangat lama bukan? Itu artinya sampai sekarang papa kamu masih menjadi buronan polisi," ujar Rajendra dengan tajam.
"Papa kamu sebelum menikah dengan mama kamu. Dia sudah menikah dengan wanita lain yang menjadi adik tiri kakak saya. Mereka bekerjasama untuk mencelakai kakak saya dan keluarga saya. Tapi perbuatan mereka ketahuan dan akhirnya mama tiri kamu masuk penjara dan papa kamu berhasil kabur sampai sekarang," ujar Rajendra dengan tajam.
"T-tapi kenapa papa tidak memberitahu saya?" gumam Bunga dengan lirih.
"Kamu tahu kenapa? Karena kamu adalah anak yang pembangkang menurutnya. Kamu tahu akibatnya jika kamu menutupi semua kejahatan papa kamu?" tanya Rajendra semakin menekan Bunga.
Bunga menggeleng dengan pelan.
"Kamu juga bisa saja saya penjarakan karena kamu telah melindungi orang yang telah berbuat kejahatan," ujar Rajendra dengan sangat tajam.
"Hiks... Saya tidak mau di penjara, Tuan. Jangan penjarakan saya dan papa saya, saya mohon!" ujar Bunga dengan terisak.
"Kamu masih mau melindungi pria itu. Kamu mau banyak korban berjatuhan karena perbuatan papa kamu? Bukankah kamu sama saja menjadi pembunuh? Kamu juga menikmati hasil uang menipu!"
"Tidak, Tuan. Saya sepeser pun tidak ada mengambil uang papa!" ujar Bunga dengan tegas.
"Benarkah?"
"Benar, Tuan!" ujar Bunga dengan sendu.
"Selama kamu di sini. Saya akan terus mengawasi kamu. Dan saya tidak segan-segan memecat kamu jika papa kamu masih ketahuan mengganggu keluarga saya. Bekerjasama lah dengan baik, Bunga. Atau nyawa kamu akan menjadi taruhannya," ujar Rajendra dengan tajam yang membuat Bunga terdiam dengan perasaan yang sangat berkecamuk.
__ADS_1
Fakta jika papanya memiliki istri lain sebelum menikah dengan mamanya masih sangat mengguncang jiwanya dan sekarang Rajendra bisa saja menghilang nyawanya ketika ia berbuat kesalahan. Di satu sisi Bunga tak ingin papanya di penjara tetapi di sisi lain perbuatan papanya sudah sangat keterlaluan.
"Apapun tentang Roby dan Sherly yang kamu ketahui lapor ke saya dengan segera atau saya akan membuat kamu menderita. Anggap saja itu karma yang harus kamu tanggung karena perbuatan kedua orang tua kamu sendiri," ujar Rajendra dengan tajam yang membuat Bunga semakin menunduk dengan perasaan yang teramat sedih dan entah mengapa Rajendra jadi kasihan sekarang. Apakah ia sudah keterlaluan dengan Bunga?